Inspiring points

Reflective story from journey of life , Alam terkembang jadi guru

Integritas diri & visi kehidupan

” Aku diberitahu tentang sebuah masjid , yang tiang-tiangnya dari pepohonan di hutan, fondasinya batu karang dan pualam pilihan. Atapnya menjulang tempat bersangkutnya awan dan kubahnya tembus pandang, yang menara-menaranya menyentuh lapisan langit dan menyeru azan tak habis-habisnya, Aku rindu dan mengembara mencarinya.

Aku diberitahu tentang sebuah masjid, yang letaknya dimana bila saat azan zuhur engkau masuk kedalamnya walau engkau berjalan sampai waktu ashar, tak kan tercapai saf pertama sehingga bila engkau tak mau kehilangan waktu, bershalatlah di mana saja di lantai masjid ini yang sangat luas , aku rindu dan mengembara mencarinya”

Pada suatu hari, aku berjalan mengikuti matahari. Siang hari saat matahari telah tergelincir, terdengar merdunya suara azan di balik bukit, dan aku pun melayangkan pandangan mencari mesjid itu. Ketika itu seorang tak kukenal membawa sebuah gulungan, ia berkata “inilah dia masjid yg dalam pencarian tuan”. Dia menunjukkan tanah ladang itu dan diatasnya dibentangkan nya gulungan tikar tadi, kemudian dituntun nya aku ke sebuah pancuran. Pancuran yg bening airnya dan dingin mengalir beraturan, ia kemudian berwudhu duluan. Kemudian aku pun pergi ke pancuran, menampungkan tangan, ketika ku usap mukaku, kali ketiga secara perlahan, terasa hangat air dingin itu. Ternyata air pancuran menjadi hangat karena bercampur dengan air mataku yang jatuh bercucuran….

Demikianlah cuplikan puisi “Mencari sebuah mesjid” yang disampaikan dengan pengucapan intonasi suara yang tenang namun menggetarkan jiwa, langsung oleh penyairnya Taufik Ismail, selepas solat taraweh halaman di mesjid salman ITB, Bandung beberapa hari yg lalu. Syahdu sekali mendengarkan puisi2 beliau di halaman rumput samping mesjid, dalam temaram lampu cempor, bernaungkan langit penuh bintang, ditemani pisang rebus dan secangkir bajigur hangat, sebuah malam ramadhan yg penuh makna.

Selesai membacakan puisi tersebut Taufik Ismail berkata pula, bahwa mesjid Salman ini adalah salah satu mesjid yg masuk kriteria mesjid yang dirindukan tersebut, karena memang banyak kegiatan sosial budaya yg bersumber dari mesjid tersebut untuk kebaikan masyarakat banyak. Beliau bercerita pula, bahwa mesjid Salman, telah memberi inspirasi beberapa puisinya, antara lain yg dijadikan syair lagu religius grup musik Bimbo, yang tinggal di daerah Dago, tak jauh dari mesjid salman berada. Daan, komedian muda dari project pop yg menjadi pembawa acara, setelah pembacaan puisi tersebut begitu terhanyut juga sampai berkata pada dirinya sendiri, betapa lawakan nya selama ini tak lucu lagi, menyadarkan dirinya sendiri, betapa hidup ini harus diisi dengan penuh makna, daripada sekedar habis waktu oleh kelucuan yang sia sia…

Puisi yang disampaikan nya tersebut adalah sebuah puisi yg penuh makna, betapa sebenarnya tempat kita bersujud, beribadah, berbuat kebaikan adalah sangat luas, seluas alam terbentang. Bermakna juga itulah visi hidup kita di dunia ini, berbuat kebaikan ( ibadah dalam arti luas ), tak hanya terkungkung dalam ruangan sempit bangunan mesjid. tak hanya berbentuk pengabdian secara vertikal, pada Allah, tapi juga adalah menyebar kebaikan pada sesama manusia…

Hidup ini yg bagaikan sebuah perjalanan, memerlukan tujuan visi yg jelas, untuk apa kita hidup di dunia ini? Aristoteles filosof Yunani kuno, salah seorang guru Alexander the great, raja macedonia yang pernah menjelajahi sebagian besar penjuru dunia di masa lampau,  mengatakan bahwa ” Perjalanan hidup seorang manusia tanpa visi yg jelas, bukan lah hidup yg layak untuk dijalani “

Cobalah kita tanya diri kita sendiri, sudahkan kita tahu apa tujuan hidup ini ? sudahkah kita memiliki visi yg jelas dalam hidup ini ?

Kebanyakan orang saat ini, hidup bagaikan selalu dalam kondisi dikejar2 keperluan hidup mendesak, hidup dalam “survival mode” , menurut istilah teknik dari seorang teman. Yang artinya, kita hanya sibuk menyelesaikan masalah2 jangka pendek sehari2 yg menyita waktu. Kita hanya berusaha sekedar bisa survive hidup, setelah kebutuhan teraih, kemudian menghabiskan waktu menikmati hidup. Hal itu semua membuat kita malas untuk berpikir lebih tinggi lagi, seperti memikirkan tentang kehidupan ini, makna, tujuan dan visi hidup ini yang kita anggap sekedar “bahasa2 langit” , yang tak dibutuhkan dalam dunia riel. Tanpa disadari , kita tak mau beranjak untuk memasuki “peradaban berpikir” yg lebih tinggi lagi. Sadarilah manusia adalah makhluk mulia, ada tujuan mulia mengapa kita diciptakan oleh Allah.

Keesokan harinya, saya datang lagi ke mesjid Salman, menghadiri silaturahmi dengan para alumni mesjid tersebut. Senang sekali bisa bertemu lagi dengan kawan2 lama, di tempat yang penuh kenangan ini, tak terasa waktu telah bergulir 20 tahun lama nya, memang kalau kita sadari, hidup di dunia bagaikan sekejap berlalu. Tampak hadir pula beberapa alumni senior yg jadi tokoh nasional, seperti pak Muslimin Nasution ( mantan menhutbun, ketua ICMI ) , Hatta Rajasa ( mensesneg ) dan beberapa tokoh senior lain nya.

Selepas sholat zuhur,  di lorong mesjid, saya melihat seseorang yg rasanya saya kenal, ternyata beliau adalah pak Palgunadi T Setiawan, yg juga pernah mengajar saya di kampus dulu, beliau adalah mantan vice president  Astra Internasional di tahun 80-an. Sebenarnya saya jarang bertemu beliau, dan dari dulu ingin ngobrol2 dengan beliau, syukur bisa bertemu saat itu, ternyata beliau sangat ramah dan mau diajak ngobrol2, duduk santai di samping mesjid dengan beberapa rekan lain nya..

Setelah berhenti dari kegiatan bisnis, di usia tuanya pak Palgunadi banyak aktif di kegiatan sosial, antara lain mendirikan lembaga pembiayaan usaha kecil dg nama, BPR Parasahabat yg terinspirasi oleh Grameen bank di Bangladesh. Grameen Bank terkenal dengan kegiatan sosial ekonomi membantu rakyat kecil, sehingga pimpinannya, Muhammad Yunus, mendapat hadiah Nobel tahun 2006. Lembaga ini ia dirikan bersama dengan para mantan top eksekutif Astra Internasional yg ternyata juga adalah sahabat2 lama nya sejak kuliah di ITB dulu, TP Rahmat dan Beny Subianto. Dananya berasal dari mereka sendiri, dan lembaga tersebut bersifat non profit, tapi lebih bagaimana membantu sesama manusia, khususnya para pengusaha kecil. Walau berasal dari latar belakang dan agama yg berbeda, mereka berniat mulia membantu masyarakat kecil.

Di Bandung pak Palgunadi, tinggal di daerah Gegerkalong, dekat dengan pesantren Darut Tauhid , pimpinan Aa Gym. Secara pribadi pak Palgunadi banyak juga membantu pengembangan manajemen usaha unit bisnis pesantren tsb, MQ corp. Walau berlatar belakang teknik dan bisnis, beliau sempat juga menulis buku dg judul ” Daun berserakan” , sebuah renungan hati.

Terus terang saya jadi kagum pada beliau, betapa ia telah menjalani hidup dg bahagia, keluarga bahagia, tubuh sehat, secara materi tercukupi dan secara batiniah spiritual ia orang yg tenang, soleh dan taat.

Saya tanya, apakah karena telah usia tua, seseorang menjadi bijak dan soleh, Ia berkata bahwa semua ini telah dimulai sejak masa muda dulu, bagaimana membangun kebersihan hati, ketulusan jiwa dan kecerdasan. Dan dalam hal tsb, faktor keluarga sangat mendukung.

Banyak orang berharap, nanti sudah tua saja, jadi baik, banyak beramal, dan di masa muda biar foya2 dulu, menikmati hidup. Orang2 spt itu tak sadar bahwa sebenarnya ia telah dikelabui oleh logika yg salah. Kebaikan perlu dimulai sejak muda, malah dari masa kecil di keluarga. Adalah penting untuk membangun integritas diri dan memiliki visi hidup yg jelas, sejak awal.

Teman yg ikut duduk mendengarkan di sebelah tanya lagi, ngomong2 apa obsesinya pak Palgunadi saat ini ? Beliau bilang saya tak punya obsesi dalam hidup ini, tapi kita harus punya visi yg jelas tentang kehidupan ini, beliau bilang, visi hidupnya ingin mengabdi pada Allah yang antara lain terwujud dalam usaha berbuat kebaikan pada sesama manusia.

Perjalanan hidup ini dan apa yg berada di sekiling kita haruslah berkah. Berkah ialah tersebarnya kebaikan ilahiah ( ketuhanan ) dalam apa yg kita lakukan, dalam apa yg berada di sekitar kita. Kalau sudah penuh dengan kebaikan ilahiah, tak ada lagi yg lebih utama karena nya….

Banyak orang sering salah kaprah, hidupnya tergerak karena sebuah obsesi. Padahal obsesi yg bersifat jangka pendek dan cenderung materialistik duniawi, malah bisa membuat manusia seolah terpenjarakan karena nya. Visi hiduplah yg perlu kita punyai, bukan sekedar obsesi.

Tanpa disadari, keadaan di sekeliling kita saat ini, banyak membuat kita mengejar obsesi2 duniawi. Entah dari mass media, televisi, omongan teman, obrolan tetangga, atau orang2 di sekitar kita lainnya. Kita mengejar sebuah obsesi dari persepsi yg tanpa sadar tertanam pada otak bawah sadar kita. Semisal obsesi anak muda yg ingin  jadi orang kaya, punya istri cantik, mobil mahal, rumah mewah, jadi orang terkenal, dan setumpuk obsesi capitalism-consumerism lain nya. Obsesi dan ambisi hanya bersifat sementara, tak ada akhirnya, begitu sebuah obsesi/ambisi telah teraih, hanya terasa kepuasan sesaat, setelah itu kita akan terpacu mencari obsesi lain nya, hanya kebahagiaan sesaat yg didapatkan.

Untuk lebih menjelaskan apa yang disampaikan nya, pak Palgunadi kemudian, minta kertas kecil dan pulpen, untuk membuat coret2 skema dan pointers singkat, berusaha sedikit memberi penjelasan, sambil kita duduk2 santai di dekat mesjid.

Pengalaman hidup sehari2, dimasa lalu, saat ini, baik secara sadar atau tidak sadar ,  pendidikan yang kita dapatkan, ataupun perenungan diri, akan memberikan input terhadap pengembangan kompetensi seorang manusia dan membentuk integritas diri. Kompetensi diri seorang manusia, bisa pula dikelompokkan dalam dua kategori ;

kemampuan tampil ( pikiran dan fisik )     15 %                          :  Pengetahuan  &  keterampilan

kemampuan pembeda khas tiap individu / tak tampak ( budi pekerti ) , 85 % : Motivasi, bakat, konsep diri, peran sosial

Point2 self competence itulah yg membentuk integritas diri seseorang ( jati diri ), berdasarkan apa yg kita dapatkan selama pengalaman hidup. Apa yg kita pikirkan, kita rasakan, akan mengendap dalam memori bawah sadar kita. Alam bawah sadar bersikap pasif, tanpa bisa memilah input yg masuk, apakah baik atau jelek, senang atau sedih, perbuatan baik atau dosa, semuanya terekam. Agar integritas diri kita terbangun dengan baik, maka cobalah kita isi memori otak bawah sadar kita dengan kebaikan dan hal2 positif lain nya, hindari hal2 yg negatif dan perbuatan dosa, dalam perjalanan hidup sehari hari kita.

Seorang yg telah memiliki integritas diri, memiliki visi hidup yg jelas, akan bisa menapaki jalan hidup ini dengan baik , yang di istilah pak Palgunadi dg rumus 7 T  ; Tenang – Terencana – Tertib – Terampil -  Tangguh – Tegar – Tawadhu

Langkah dalam hidup ini dimulai dengan ketenangan hati dan pikiran , kita bisa membuat sesuatu secara terencana. Rencana di jalankan dengan tertib (aturan & prosedur yg jelas ). Bila sesuatu telah terencana dan tertib, maka kita bisa melakukan sesuatu secara terampil . Orang yang terampil ( terampil secara fisik dan cerdas secara akal ) akan menjadi tangguh karena nya.Orang yang tangguh, akan bisa tegar menghadapi berbagai masalah kehidupan. Dan ujung nya adalah tawadhu, rendah hati, kesalehan jiwa, menyadari bahwa walau bagaimana pun manusia tak berarti apa2 di hadapan Allah. Teringat pula pepatah ilmu padi, makin berisi makin merunduk. Kalau ada orang yg merasa cerdas, tapi makin sombong, itu sebuah tanda orang tersebut belumlah sebenarnya cerdas.

Dalam kaidah psikologi, ada beberapa tahapan kompetensi berpikir ; Cognitive ( knowledge ) -creative – reflective ( contemplation). Cognitive adalah pola berpikir linier ( berpikir lurus apa adanya ) , spt pola pikir eksakta atau matematik, sedangkan creative thinking adalah pola pikir yg bersifat circular-improve , melingkar tapi selalu berkembang. Reflective thinking adalah kompetensi berpikir yg lebih tinggi lagi yg bersifat integral, menembus berbagai sekat ; sekat waktu masa lalu dan masa depan, bahkan sekat  transedental. Bentuk sederhana nya adalah perenungan dari berbagai pengalaman hidup kita selama ini yang berujung pada sebuah konklusi kesadaran diri dalam kehidupan ini…

Orang yang tawadhu, rendah hati, tulus, merunduk bagaikan batang padi yg berisi , adalah mereka yg telah bisa mencapai proses berpikir yang lengkap tersebut.Orang yang tawadhu, akan banyak bersyukur dengan anugerah kehidupan ini, tambah banyak ia bersyukur akan bertambahlah pula kebahagiaan nya.

Tentang bersyukur, saya jadi teringat lagi dengan cerita dari pak Kosasih Soekma mantan dosen saya, yang teman pak Palgunadi juga. Selain mengajar, beliau banyak belajar agama dan ilmu tasawuf sampai menjadi salah seorang murid kepercayaan Abah Anom, pimpinan pondok pesantren suryalaya, Tasikmalaya. Abah Anom adalah juga guru mursyid, pimpinan  Tareqat Qadiriyah Naqsabandiyah di Indonesia. Setelah pensiun dari mengajar, pak Kosasih banyak aktif di kegiatan sosial keagamaan, dan menulis buku, antara lain buku berdasar pengalaman ruhaniah nya, yang berjudul,  ” Insinyur belajar tarekat”, menarik juga..

Abah Anom sering mengingatkan dalam ceramah2 nya untuk selalu bersyukur pada Allah, jadikanlah rasa syukur sebagai salah satu landasan dalam beramal. Sebagai manusia kita harus selalu bersyukur dengan keberadaan hidup kita di dunia ini. Banyak manusia yang tak mensyukuri betapa banyak nya rahmat Allah yg telah diturunkan pada kita.

Dengan berawal dari rasa syukur , kita menjalani kehidupan sehari hari ini, beramal dan berbuat kebaikan. Insya Allah hidup ini terasa indah dan penuh makna. Tambah banyak kita bersyukur akan tambah banyak lagi nikmat dari Allah.

Kembali ke obrolan santai dengan pak Palgunadi diatas, selesai menulis point2 ringkas dan penjelaskan di kertas kecil tsb, tiba rekan yang dari tadi ikut duduk mendengarkan juga di sebelah menyela lagi. Ia berpendapat bahwa dalam kehidupan ini tak selalu menghadapi jalan yg mulus2 saja atau jelas hitam putih, banyak hal yg bersifat abu2 ( tidak jelas benar salah nya, halal haram nya ), dan berbagai hambatan2 lain nya. Kita tidak memiliki kemampuan untuk menghadapi berbagai masalah saat ini, kita kurang kemampuan, kurang itu, kurang ini, tak punya itu , tak punya ini, dan beberapa keluhan lain nya.

Dengan bijaksana pak Palgunadi bilang, marilah kita selalu positive thinking dalam menghadapi segala hal, marilah mulai kita kurangi sikap mengeluh dan penggunaan kata2 negatif seperti ; kalau, andai, tidak dll. Sikap selalu berpikir positif akan membuat apa yg kita hadapi menjadi terang, walau hanya secercah sinar lilin kecil di tengah kegelapan malam. Ia bercerita salah satu hal yg menyebabkan persahabatan nya langgeng dengan kawan2 lamanya dan luas silaturahminya ialah karena selalu berpikir positif dan mengedepankan ketulusan hati , menjauhi pikiran2 dan perkataan negatif

Kita pun perlu positif thinking juga terhadap Allah swt, mengenai jalan nasib kita. Kita yakin bahwa Allah akan memberikan yang terbaik bagi kita . Itu juga adalah salah satu sikap tawadhu dan berserah diri pada Allah, setelah semua usaha yg kita lakukan. Kita sadari bahwa manusia hanya bisa berusaha sebaik mungkin, Allah yg Maha Kuasalah yg menentukan semuanya.

masya Allah, sebuah perbincangan ringan yg mencerahkan, di siang hari bulan suci ramadhan…

13 comments on “Integritas diri & visi kehidupan

  1. chusni mubarok
    18/09/2007

    Terima kasih, Uraian dari suatu obrolan di atas sangat membantu saya dalam merefleksikan kembali siapa sih sebenarnya saya, semoga dapat memberikan pencerahan di dalam diri saya dan rekan-rekan lain yang telah membaca uraian singkat ini.

  2. Hendra Messa
    18/09/2007

    sama2 Chusni,

    syukur, tulisan tsb bisa memberikan sedikit pencerahan..

    salam

  3. Agung Terminanto
    18/09/2007

    Assalamu’alaikum

    Saya tertegun,,, dan menangis…
    Ingat puisi itu, – ketika itu Taufik Ismail menghadiahkan ketika masjid Salman, berusia 25 thn.
    Ingat Salman,
    Ingat SKAU
    - ketika dari Lt 2, Gd Kayu, kulihat anak2 berjingkat-bercengkrama di halama masjid.
    - Ingat Pak Palgunadi – krn saya pernah jadi asisten dosen Beliau-

    Terima kasih atas tulisan Anda yg sangat inspiratif,
    -menggugah dan merenung ttg keberadaan saya-

    Sekali lagi, terima kasih,
    Semoga Rahmat Allah selalu bersama Anda..

    Wassalamu’alaikum
    Agung Terminanto
    TI 1986, ITB

  4. asep ramdlan
    19/09/2007

    nuhun kang! tulisannya membuat saya semangat lagi di akhir minggu pertama ramadhan ini!

  5. Hendra Messa
    19/09/2007

    sama2 mas Agung dan kang Asep,

    saya hanya berusaha menyampaikan nya saja

    syukur lah, bisa memberi sedikit pencerahan

    salam

  6. omdien
    19/09/2007

    Sebagain coretetan pak Palgunadi T Setiawan bade di dokumentasi kang, perlu sedikit mengernyitkan dahi untuk memahaminya :) .

    sekalian mo sharing juga, Visi VS Obsesi, boleh ngak memiliki obsesi untuk mendukung Visi, atau…. apakah obsesi merupakan komponen dari visi, di henteu-henteu oge obsesi teh penting. Minta pendapat Kang Hendra

  7. Hendra Messa
    19/09/2007

    Thanks, kang Dien, coment nya.

    Saya kira, bisa saja spt apa yg disampaikan kang Dien, bahwa Obsesi menjadi bagian dari visi, seolah2 obsesi adalah tujuan jangka pendek / sementara.

    yang banyak terjadi ialah orang tak punya visi ( jangka panjang ) dan hanya mengejar Obsesi ( jangka pendek ).

    Memang seringkali kita salah menterjemahkan makna suatu kata dari bahasa inggris.

    Berikut terjemahanan bahasa inggris utk Obssesion ;

    - a compulsive or irrational pre occupation
    - an unhealthy fixation
    - to pre occupy the mind of excessively

    contohnya ;
    To have the mind excessively preoccupied with a single emotion or topic: “She’s dead. And you’re still obsessing”.

    Jadi sebenarnya dalam makna aslinya, obsesi , bukanlah suatu hal yg bermakna positif

    Tapi saya faham, obsesi yg dimaksud kang Dien, adalah sesuatu harapan, hal yg di idam2 kan, yg bersifat jangka pendek / sementara.

    Sepanjang itu dalam rangka pencapaian suatu pandangan / pengharapan yg lebih tinggi lagi ( visi ) , saya kira masih rasional.

    demikian pendapat saya , mohon koreksi pula

  8. taumacca
    16/07/2008

    Sangat inspiratif dan menggugah tulisannya pak.Terimakasih

  9. hdmessa
    16/07/2008

    sama2,
    terima kasih juga kunjungan dan komen nya

    salam

  10. ABI
    12/03/2010

    Manstap…

  11. hdmessa
    12/03/2010

    terima kasih

  12. Harry Kusna
    14/03/2010

    Sebagaimana biasa, tulisan kang Hendra ini enak dibaca. Salute Kang, dan terimakasih atas tulisan2nya.

  13. hdmessa
    15/03/2010

    sama2 , kang Harry

    salam

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on 18/09/2007 by in Contemplation.
Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 37 other followers

%d bloggers like this: