waktu kecil saya sering bepergian ke daerah bandung selatan, diajak menengok keluarga, atau sekedar main ke daerah wisata pegunungan bandung selatan. Melewati daerah sekitar dayeuhkolot, banjaran, Kopo, sering kagum melihat pabrik2 tekstil besar yg spt berjejer di pinggir jalan, melahap lahan2 subur pesawahan, jalanan pun sering macet saat para karyawan berangkat atau pulang kerja.
Selang 20 tahun berlalu, beberapa waktu yg lalu saya melewati lagi jalanan tersebut, namun keadaanya telah berubah. banyak pabrik2 besar yg telah ditutup dan ditinggal bagaikan menjadi rumah hantu besar, rumput dan alang2 menutupi lahan sekitarnya. Daerah majalaya dan cibaduyut yg jaman dulu, sering dibangga2kan pemerintah sebagai Sentra industry kecil kebanggaan, lebih mengenaskan lagi keadaan nya. Industri tutup, pengangguran bertambah, namun alam sekitar tak bisa pulih kembali, tanah pun jadi tak subur, sungai2 jadi kotor, keadaan alam jadi rusak, banjir di musim hujan dan kekeringan di musim kemarau.
Itulah kondisi bandung selatan, namun akan berbeda sekali keadaan nya saat kita berjalan ke daerah bandung utara, yg sekarang jadi magnet bisnis baru, dimana berbagai pusat perbelanjaan, factory outlet dan wisata belanja lain nya, begitu dipenuhi org2, jalanan pun jadi macet setiap hari libur, sungguh sebuah ironi.
Kondisi lokasi kawasan industry di Bandung selatan, hanyalah gambaran kecil dari berbagai kondisi umum pada kawasan2 industri di Indonesia saat ini, yg menyepi, namun pada sisi lain, pusat2 kota yg penuh pusat perbelanjaan dipenuhi orang. Kata orang bisnis, lebih menguntungkan berbisnis jasa perdagangan ( wisata belanja) daripada bisnis di bidang produksi ( pabrik) yg banyak resiko namun profit rendah.
Bila kita berjalan ke berbagai kawasan industri lain nya di Indonesia, semisal kawasan2 industri besar di sepanjang jalan tol jakarta cikampek, kita mungkin akan kagum, lihat pabrik2 besar dg nama2 yg terkenal pula , tapi kalau ditilik lebih dalam lagi, pabrik2 tersebut tak lain sekedar jenis industri tukang jahit, dalam arti hanya sekedar fasilitas produksi dg memanfaatkan biaya murah pekerja indonesia, karena teknologi, bahan baku dan komponen2 utama nya berasal dari luar negeri, sampai uang nya berasal dari luar negeri pula, ke luar negeri pulalah sebagian besar keuntungan terbang, indonesia hanya kebagian bagian kecil keuntungan.
Industri2 besar yg dulu dibangun kerjasama dg pihak asing, dg ide awal utk alih teknologi dan keahlian, hanya jadi isapan jempol belaka, sebab mana mau pula, negara2 maju begitu baiknya, membagi teknologi nya pada indonesia, sehingga hakikatnya tak terjadi alih teknologi, semua rahasia desain & teknologi masih di principal pabrikan luar negeri, karena itulah disebut industri yg sekedar jadi tukang jahit doang.
Secara umum dalam istilah sosiologi industry nya, ialah bahwa industri2 indonesia sedang menghadapi kondisi de-industrialisasi, kemunduran industry. namun pada sisi lain, wabah konsumerisme yg menjangkit, telah membuat banyak pusat2 perbelanjaan dipenuhi orang. Seperti sesuatu yg absurd, saat pusat2 produksi (pabrik-kawasan industry ) jadi sepi, tapi pada sisi lain pusat2 perdagangan ( mall, factory outlet dll) jadi ramai ?, darimana barang2 , produk tsb diproduksi ?.
sungguh mengenaskan ; baju2, sepatu sampai barang2 kecil yg dijual di pusat2 perbelanjaan di daerah Bandung utara tsb, bukan berasal dari pabrik2 di bandung selatan, tapi jauh dari seberang laut sana, made in china, tragis saat industry Indonesia perlu market yg kuat utk bisa maju, barang2 dari luar negeri yg membanjiri negeri ini.
Secara ekonomi, utk kondisi saat ini, berbisnis di bidang produksi tak begitu menarik dibanding berbisnis di bidang jasa perdagangan. Kata tman saya, si ngko yg dulu ayahnya buka pabrik kue di dekat rumah. Kalau buat pabrik, banyak masalah, tapi untung nya dikit & lama balik modalnya, mendingan dagang saja, resiko kecil, tapi untung besar dan cepat balik modal.
karikatur parody menarik bisa dilihat pada pusat perbelanjaan yg memampang besar, iklan dg gambar kisah lama industry garam di pulau jawa ( gudang garam), namun hakikatnya gudangnya pun tak ada lagi, industry garam telah hampir punah pula, tapi lambang gudang garam ( rokok) ada dimana2.
Dalam sosiologi masyarakat Indonesia saat ini berada dalam keadaan ; pada sisi produksi mengalami gejala de-industrialisasi, namun dalam sisi konsumsi para masyarakatnya terjangkit wabah konsumerisme yg parah.
Akibatnya, Indonesia sebaga bangsa jadi tak mandiri, karena tak punya basis produksi yg kuat namun pada sisi lain sangat rakus dalam konsumsi. Dampak jangka panjangnya berakibat hilangnya kemandirian bangsa dan ketergantungan pada asing,mulai dari modal uang sampai barang. Padahal pada sisi lain, kita dikarunia alam yg kaya, sungguh mengenaskan, jadi ingat pepatah lama ; “bagai tikus mati di lumbung padi”.
Filed under: Essay - concept





Pengamatan yang tajam Hen, menarik.
Pertanyaannya : siapa ya yang (seharusnya) care ?
Iftikar Sutalaksana,
dosen TI- ITB
Sebenarnya, utk menjawab kenapa kondisi ini terjadi, musti kita
bertanya dulu begini:
Dgn kondisi de-industrialisasi saja di Indonesia, ekonomi kita tetap
positif. Darimana kegiatan ekonomi ini terjadi? Dari jasa dan retail
kah? Lalu kalau kita hanya bisanya import, darimana kebutuhan bayar
komoditas import ini didapat? Bukankah Indonesia bisa defisit? Apakah
hanya dari hutang luar negri? Mana mau negara asing kasih hutang
seandainya Indonesia tidak punya “aset” yg menarik?
Hmm… bisa jadi jawabnya adalah …. Karena alam kita yg kaya ini yg
menyebabkan tidak dibutuhkannya industri utk bisa survive. Cukup
jualan isi alam saja, sudah bisa menutupi kebutuhan dalam negeri.
Kalau seekor tikus punya lumbung padi besar, utk apa dia cari2 beras
ditempat lain, paling dia akan kulakan jualan beras Ke tikius2 yg
lain. Bahkan tikus2 lain pun mau ngutangin si tikus ini
Jelas bangsa yg kaya alam dan iklimnya sangat ramah, menjadikan
manusia2 nya “malas” … Tidak ada insentif utk berupaya yg susah2
…. Lha wong bengong aja juga hidup kok
Pernah menghitung berapa pendapatan pengemis di kota2? Bisa kaget
nanti … . Jadi pengemis bisa jadi lebih menguntungkan daripada jadi
buruh pabrik … Bedanya hanya masalah malu atau tidak saja. Dengan
budaya malu kita yg sudah terkikis habis … cari uang dgn cara apapun
sepertinya sudah menjadi budaya baru. Tinggal hitung2an mana yg cost
benefit nya paling besar ….
Tidak mandiri? Sedikit sekali hr ini negara yg bisa mandiri … Paling
hanya RRC, US, dan mungkin Rusia. Sisanya …. semua saling
tergantung.
Bisa jadi … Karena alam kita yg sangat ramah dan kaya …. jenis2
pekerjaan tertentu menjadi “kurang menarik”. Salah satunya adalah
industri manufaktur ini. Bisa jadi, nanti jurusan2 dalam kelompok
Teknologi Industri akan punah atau banyak ditinggali peminatnya.
Sudah masuknya susah, sekolahnya susah, ongkos pendidikannya mahal
karena ada labnya, lulus juga susah jadi kaya. Kalah dgn lulusan
keuangan atau bisnis. Dimana-mana …. orang teknis itu jadi
bawahannya orang bisnis dan keuangan …
Kalau dikaitkan dgn pendidikan … lulusan IPA yg konon pintar2 itu
… menjadi bawahan lulusan IPS yg kalau di SMU pilihan kedua…. .
Ironis?
Di negara maju, yg berminat di bidang engineering kebanyakan masih
orang2 imigran atau foreign student. Lokalnya milih keuangan dan
bisnis. Gampang, bisa mudah kaya
Nah … dgn kondisi alam kaya (SDA, hasil tambang, agro), apa strategi
Indonesia dalam bidang industri? Ini adalah PR para lulusan bidang
Teknologi Industri (bukan hanya Teknik Industri, tp termasuk Teknik
Elektro, Mesin, Kimia, Fisika, Informatika) .
Pemerintah kita saat ini jelas butuh masukan, terlepas dr inefisiensi
dalam masalah koordinasi antar Departemennya. Apa masukannya?
Apa perlu para alumni bidang Teknologi Industri buat pertemuan besar
utk membicarakan apa strategi yg cocok bagi Indonesia? Ya … mulai dr
seminar dulu lah … hal yg paling gampang dilakukan … hehehe
(seminar2 deui) …
salam,
Adi Indrawanto , EL 82
Jakarta
-masih bermimpi ada industri Elektronika yg berkembang di Indonesia-
Inilah gurita penjajahan ekonomi yg jauh menyengsarakan dibandingkan Perang Dunia I dan II.
Selama orang hidup beririsan dgn supply demand, finance sector, market speculation … setiap orang membuat andil membuat lubang di dasar kapal. Jurang antar miskin dan kaya makin lebar, eksploitasi natural resources, inflasi, semuanya konvergen disebabkan oleh ekonomi berbasis riba.
Bukan ekonomi riil yg berjalan, namun ekonomi yg diatur oleh segelintir 20% manusia yg punya uang.
Mengapa inflasi menggila ?
Apa wajar harga rumah saat ini ?
Mgkn yg nggak wajar memang harga henpon yg koq bisa murah banget
Apa mau kembali ke kampung ngangon kambing utk memutuskan jerat gurita ini
Imanudin Amril
Jakarta
Sekedar komentar dari istilah konsumerisme kelihatannya agak rancu
tentang perbedaan pengertian konsumerisme dengan konsumtivisme.
Konsumerisme adalah suatu gerakan atau faham yang membela dan memperjuangkan
kepentingan pembeli/pengguna/pelanggan terhadap kepentingan pengusaha
industri. Sebagai contoh adalah YLKI.
Konsumtivisme adalah kelakuan yang gemar membelanjakan atau menggunakan
sesuatu (termasuk uang) secara besar-besaran bahkan sering kali tanpa
manfaat yg berarti, umumnya disebut boros.
Maaf bukan menggurui, cuma setiap baca e-mail jadi tergelitik.
salam;
Kusno Wahyono
Untuk kata yang multi-makna seperti “consumerism” (consumer + ism), selalu bijak kalau kita menegaskan arti mana yang dimaksud dalam konteks. Karena itulah beberapa tahun terakhir –jadi belum masuk di kamus– orang menggunakan bentukan kata baru consumptionism (consumption + ism, BUKAN consumptive + ism) sebagai pengganti kata “consumerism” yang punya konotasi negative, terutama untuk menggambarkan pola konsumsi bangsa Amerika …
spend, spend, spend … buy, buy, buy those cheap China-imported gadgets (yang kelihatannya sudah menular dan mewabah di negeri ini juga
Moko Darjatmoko