Di negeri gurun pasir ini, musim panas hadir di pertengahan tahun,
Seperti siang ini yg suhu udara sampai 42 derajat,
Aku pun duduk berteduh di bawah pohon kurma,
dalam naungan 42 helai daun kurma, yang melambai2 tertiup angin kencang dari gurun pasir, berkecepatan 42 km/jam.
Di atas tampak 42 buah kurma berwarna coklat tua, tanda hampir matang
jauh di depan hamparan gurun pasir luas terbentang, tampak fatamorgana, bagai kolam yg bergejolak air nya,
Saat ku tengok ke belakang sana, 42 batang pohon kurma tegap berbaris sepanjang jalan,
daun nya melambai2 tertiup angin kering, seolah membuka kembali 42 lembaran kenangan buku kehidupan masa lalu, lembaran buku kehidupan yg penuh gambar rupa warna….
Barisan 42 batang pohon kurma itu mengingatkan ku ;
pada jejeran tiang melengkung bercorak kaligrafi indah di dalam mesjid nabawi, Madinah ,
pada jejeran 42 gedung tinggi pencakar langit, sepanjang pulau palm jumeirah Dubai,
dan juga pada jejeran 42 batang pohon pinus yang tegak berdiri di sepanjang pinggiran kebun teh Malabar, yang menjadi batas alam dg hutan pinus di lereng gunung wayang windu, Bandung selatan.
Dalam perjalanan dari Bandung ke atas gunung wayang windu sana, kulalui jalanan pegunungan yg penuh kelokan,
ada sampai 42 kelokan jalan yg dilalui sepanjang jalanan mendaki dari kota Bandung ke atas gunung sana.
Dari lereng gunung Malabar, 42 derajat ke arah timur , tampaklah menjulang tinggi gunung Papandayan, Garut. Dalam perjalanan lintas alam bersepeda dengan teman2 dari wayang windu, kami sampai ke puncak gunung nya.
Di dalam kawah besarnya, ada 42 buah kubangan kecil yg menghembuskan asap panas, menakutkan sekali melintasi di dalam kawah besar tsb, bagai berjalan di neraka yg bergejolak…
Di sebalik gunung Papandayan, sampailah di daerah Garut, dimana dulu sempat bertemu dg kang Ade, petani kentang, yg hampir bangkrut terlilit hutang 42 juta rupiah, pinjaman mencekik dari tengkulak. Alhamdulillah, kami berhasil membantu nya keluar dari jeratan hutang lintah darat tsb.
dengan uang 4,200 rupiah, bis mekar jaya, membawa kami dari garut pulang ke bandung
Di Bandung dekat kampus gajah duduk, jam 11.42 adzan dzhuhur berkumandang dari menara mesjid salman , tapi diacuhkan saja oleh 42 ekor kuda bercelana karet ban bekas, yang terus berjalan mengitari taman ganesha , disaksikan patung gajah duduk, yang tak pernah marah walau tempat belajarnya jadi ribut oleh suara ringkikan kuda dan suara knalpot angkok warna pink trayek no 42.
Di Jakarta, trayek no 42, itu adalah Metro mini, T-42, trayek pulogadung – pondok kopi,
yang walaupun penuh berdesak, & banyak pencopetnya,
tetap dikejar banyak orang untuk bisa sampai ke tempat mencangkul di kebon pabrik pulogadung
Di jalanan menuju pabrik, berjejerlah 42 motor ojek dan 42 orang mulai tukang nasi uduk, pengamen, anak jalanan & pengemis kucel, yg mengais rezeki dari org yg lewat.
Waktu kuliah di kampus gajah duduk, 42 sks nilai nya rantai karbon melulu, hanya C, C dan C lagi nilainya, sungguh suatu karunia Illahi yg menakjubkan, bisa selesai juga
4,2 nilai ujian kimia di esema, sehingga warna raport pun bisa merah, tak naik kelas, syukurlah pulpen yg menulisnya salah memberi warna hitam , sungguh terasa memalukan kalau sampai tak naik kelas di sekolah gedung tua peninggalan, belanda, esema tilu bandung.
Sungguh beruntung, walau hanya dg modal pas pasan, bisa lewat juga di kedua perguruan silat kahot yg masih jadi kejaran kaporit orang sekolahan sampai saat ini…
4-2 adalah score angka kemenangan, saat main bola di lapangan tegalega, antara teman2 ku smp pasundan, lawan tetangga sekolah anak smp 3, di akhir pertandingan, hampir saja terjadi perkelahian tawuran , untunglah sempat dilerai oleh tukang becak & pemulung yg ikut menonton bola…
4 org anak kecil, berlarian mengejar 2 buah layangan yg tersangkut di atas pohon jambu air dekat sekolah esde ku dulu…
40 anak tangga di pasar atas Bukittinggi, adalah jalur lintasan yg begitu riang kulalui saat berjalan di pagi hari dengan ayahanda tercinta, saat masih kecil dulu, berjalan melintas menuju taman bunga 42 rupa warna di dekat jam gadang
Bukittinggi, kota sejuk yg asri, indah permai dikelilingi 4 bukit yg tinggi menjulang dan 2 lembah dalam menghunjam.
Di kota indah inilah jam 4 pagi lewat 2 menit, ibunda tercinta melahirkan ku….
Alhamdulillahi rabbil alamin, terima kasih atas nikmat Mu selama ini,
Ya, Allah, limpahkanlah kebaikan pada kedua orangtua ku, maafkanlah kesalahan2 mereka
Saat menengok ke belakang, betapa lembaran perjalanan panjang ini serasa sekejap saja berlalu
Saat ku tengok ke depan, tampak terhampar luas gurun pasir kosong,
empty quarter desert, salah satu gurun pasir terluas di dunia, terhampar di 4 negara; UAE, Oman, Yaman & Saudi.
tak terbayangkan, hamparan gurun pasir kosong melompong tanpa kehidupan,yg kira2 seluas pulau Kalimantan…
Saat berteduh, di bawah pohon kurma ini ,hanyalah istirahat sejenak, karena perjalanan harus berlanjut,
seperti kata orang jawa, wong urip iku, mung mampir ngombe, perjalanan hidup ini bagaikan istirahat minum air sejenak saja.
sejauh mata memandang hanya hamparan pasir membentang sampai ke kaki langit di ujung cakrawala sana, rasanya bagaikan hamparan tak bertepi, begitulah juga masa depan, walau penuh rencana, tak bisa dipastikan, masa depan adalah rahasia Illahi, manusia hanya berusaha dan berdoa…
teringat pesan tetua di ranah minang dulu, Alam terkembang jadi guru, dari alam kehidupan kita bisa mengambil pelajaran, dari masa yg telah berlalu pun kita bisa pula mengambil pelajaran,
hanyalah keledai yg terjatuh lagi ke lubang yg sama, tak mau mengambil pelajaran perjalanan kehidupan…
Filed under: Contemplation





Benar Kang, ketika merenungi usia terasa sekejap saja masa lalu meninggalkan kita. Selamat milad ke 42 ya Kang.
terima kasih Irfan,
sama2, semoga sukses pula bisnis nya
salam
Selamat Hendra, semoga mendapat kelapangan rejeki dalam usaha di 4 penjuru angin dan bahagia di 2 kehidupan, dunia dan akhirat, sehat selalu (4) dan selalu dikabulkan 2 (doa) nya
Salam
Rully Charis
Jakarta
sama2,
terima kasih Rully, semoga sukses pula..
salam
Alhamdulillah…
Sampai juga di hitungan ke 42 ya
Semoga makin bertambah hitungan usia makin meningkat ‘kedekatan’ Hendra dengan Sang Pencipta dan makin luas tebaran rahmatnya pada semesta. Amien
Yanti,
SMile with KerLiP
The best Interest for children and women empowerment
Jakarta
sama2,
terima kasih Yanti,
semoga sukses juga utk Yanti dg Kerlip nya, salut dg kegiatan sosial nya
salam