Inspiring points

Reflective story from journey of life , Alam terkembang jadi guru

Alam terkembang jadi guru

Gemericik air bening mengalir di sela2 bebatuan sungai jernih yang tepian nya ditutupi kerimbunan pohon bambu. Sungai kecil yg berkelok2 ini berhulu dari hutan di atas gunung  sana. Sebagian airnya dibelokkan utk mengairi sawah yang seperti piring bertumpuk2 menuruni bukit di tanah yg subur ini. Suara kicauan burung menambah ceria suasana pagi saat matahari sepenggalahan naik, semburat sinarnya memancar dari balik ranting pepohonan tinggi menjulang di kaki bukit. Nun jauh dibalik kerimbunan sana, tampak sekumpulan rumah2 kayu tersempil diantara ladang dan sawah. Demikianlah sekelumit suasana khas kampung  ranah minang di dataran tinggi Sumatera barat.

Alam ranah minang subur dan indah,  menjadi sumber penghidupan bagi masyarakat nya, alam menyediakan berbagai keperluan hidup sehari2nya, tanah yg subur menghasilkan makanan,  air yang mengalir sepanjang tahun mengairi sawah ladangnya. Kedekatan dengan alam, juga  membuka  pikiran untuk belajar dari alam, membaca tanda2 alam, kapan saat bercocok tanam, kapan pergantian musim, kapan turun hujan dll. Salah satu yg masih teringat saat masa kecil di ranah minang dulu, tinggal  di rumah nenek yang berada di dusun kecil pinggir hutan, bilamana kita mendengar suara monyet siamang bertalu2 dari balik hutan di atas bukit sana, kata orang itu adalah pertanda akan turun hujan deras, entah darimana orang2 tua dulu belajar tapi memang selalu terjadi spt itu, sehingga bila mendengar suara tsb, org2 yg sedang berada di perjalanan mempercepat langkahnya atau siap2 mencari tempat berteduh bilamana hujan besar turun.Banyak tanda2 alam lain nya yg difahami dengan baik oleh masyarakat disana. Saat kecil saya tak faham hal tsb, sekarang saya bisa mengerti, mereka telah terbisa membaca tanda2 alam, belajar dari alam.

Dalam budaya masyarakat yg terus berkembang, akhirnya berkembanglah pula, pemahaman akan tanda2 alam, ketentuan2 mengenai alam, pelajaran ttg alam yg antara lain diwujudkan dalam bentuk pepatah dan pantun dg mengambil pelajaran dari alam sekitar, yang kemudian oleh orang Minang dinyatakan dalam ungkapan  Alam terkembang jadi guru. Dengan berguru pada alam kita bisa memperlakukan alam dg baik, mengambil pelajaran dari alam untuk memahami perilaku manusia dan masyarakat, semisal mengambil analogi dari perilaku binatang dan lain sebagainya. Alam terkembang jadi guru, adalah salah satu falsafah hidup etnis minang yg cukup terkenal sejak lama. Salah seorang sastrawan dari ranah minang yg mempopulerkan kembali istilah tersebut ialah A.A. Navis.

Kalau kita membaca sastra2 lama minang, mempelajari budayanya, seperti peribahasa dan cerita2 lama kita bisa menemukan banyak ungkapan dan kaidah yg didasarkan dari pemahaman ttg alam.  Sebagai contoh berikut beberapa buah konsep mengenai alam yg menjadi salah satu dasar pokok adat etnis minangkabau.

Semisal tata aturan pemanfaatan lahan tanah, yang biasa dijadikan acuan masyarakat minang dalam mengatur tata letak perkampungan nya. Dengan berbagai kondisi kontur alam, semua lahan dimanfaatkan sebaik mungkin, tak ada lokasi/tanah yang sia sia, walau bagaimanapun keadaan nya, bisa dimanfaatkan dengan baik, dengan berdasarkan keadaan yang ada ;

Tanah yang lereng tanami padi
Yang tunggang tanami bambu
Yang datar jadikan kebun
Yang basah jadikan sawah
Yang padat untuk perumahan
Yang ketinggian jadikan kuburan
Yang berlubuk jadikan tambak ikan
Yang padat tempat gembala
Yang berlumpur kubangan kerbau
Yang berawa tempat itik berenang.

Contoh lain ialah, kaidah pemanfaatan sumber daya alam semisal kayu ,  tak ada kayu yg terbuang bagaimanapun jenis nya ;

Kayu yang kuat untuk tiang utama rumah,
Yang lurus untuk sudut paran
Yang lentik untuk bubungan/plafon
Yang bungkuk untuk tangkai bajak
Yang kecil untuk tangkai sapu
Yang setapak tangan untuk ani-ani ( alat memotong padi)
Rantingnya untuk pasak sunting
yang buruk dan lapuk bisa jadi kayu bakar
Abunya pemupuk padi

Analogi kondisi alam tersebut, bisa dijadikan juga analogi utk memahami perilaku manusia dan bagaimana mengelolanya dengan baik. Masing2 manusia telah mempunyai fungsi & kedudukan nya sendiri, tak ada manusia yg tersia sia kan walau bagaimana pun keadaannya ;

Orang yang buta jadi peniup lesung
Yang tuli pelepas bedil
Yang lumpuh penunggu rumah
Yang kuat pembawa barang
Yang pandai tempat bertanya
Yang cerdik tempat berunding
Yang kaya tempat minta tolong

Pada berbagai pelajaran dari alam tersebut ( tanah, kayu dll ) bisa ditarik analogi pada manusia, bahwa sama hal nya dengan alam, setiap manusia ada kelebihan dan kekurangan masing2, kalau ditempatkan pada posisi yg sesuai dan dikelola dengan baik, akan selalu ada manfaat nya. Allah swt maha bijaksana dengan semua ciptaan nya, tak ada yg sia sia di alam ini. Kaidah2 ttg alam tersebut dihasilkan dalam proses yg lama dan memerlukan kecerdasan sendiri untuk merumuskan nya, sebuah kecerdasan alam  ( natural inteligent). Untuk mendapatkan kesimpulan tersebut, diperlukan proses pemikiran dan perenungan y g mendalam.

Walau berada di alam yg indah, tanah yg subur, orang minang terkenal sebagai perantau. anak2 muda dianjurkan untuk pergi merantau, demi mencari ilmu dan pengalaman hidup,seperti kata pepatah, “Pergi merantaulah anak muda dahulu, karena di rumah belum begitu dibutuhkan” . Merantau pergi jauh melintasi alam, gunung dan lembah, agar selamat di jalan sampai di tujuan, perlu lah belajar dari alam, bisa membaca tanda2 alam, sebagaimana disampaikan dalam ungkapan dalam cerita lama minang berikut ;

Jauh berjalan banyak dilihat, lama hidup banyak dirasa
jauh berlayar banyak bersua, banyak pengalaman untuk diri ini
jauh memandang banyak ditengok
negeri orang, adat budaya orang lain, dan perilakunya,
di situ lah tempat berguru, disana kita tegak bertanya,
barulah terbuka alam yg luas , terkembang alam diri,
tidak lagi bagai katak dalam tempurung, tidak bagai ayam dalam sangkar

Dari perjalanan merantau tersebut, banyak pelajaran yg bisa diraih, tak hanya dari alam tapi juga belajar tentang manusia, budaya, bahasa masyarakat di tempat lain. Jadi makna alam, bukan sekedar alam lingkungan & binatang, tapi juga manusia, masyarakat, budaya di tempat lain, adalah juga alam yg patut untuk dipelajari. Dalam konteks modern saat ini, dunia maya, internet adalah juga tempat belajar, begitu pula halnya dengan kondisi sosial budaya, politik, ekonomi di berbagai tempat , bisa jadi bahan pelajaran pula. Semisal untuk  memahami kondisi politik di suatu tempat dengan segala konspirasi nya bisa dengan mengambil analogi perilaku berbagai binatang di rimba raya.

Konsep alam terkembang jadi guru menjadikan alam sebagai guru dan juga bagai sahabat dekat yang harus dihargai dan diberlakukan dengan baik, dijaga  kelestarian nya. Berbeda dengan pemahaman di sebagian tempat yg lain, dimana alam dianggap memiliki kekuatan magis yg harus dipuja dan ditakuti, semisal memuja2 pohon besar, gunung dll. Tak ada pelajaran yg diraih, hanya sekedar pengkultusan. Berbeda pula dengan konsep budaya barat yang materialis yang melihat alam sebuah sebuah sumber daya yg bisa dikeruk sebanyak mungkin kekayaan alamnya, tanpa memperhitungkan kelestarian alam.

Dalam kitab suci Al Quran, perintah yg pertama turunpada nabi yg mulia,  ialah “Iqra” yg artinya membaca, diturunkan di gua hira yg berada di atas gunung batu yg tinggi. Tak ada buku yg akan dibaca, di tempat itu, tapi yg diperintahkan dibaca ialah ciptaan Allah, gunung, alam luas dan segala ciptaan Nya.  Dalam kitab suci Al quran, banyak disampaikan ayat2 agar kita mau mempelajari, merenungi alam ini, mengambil perumpamaan, memahami ayat2 tanda kekuasaan Allah pada alam dan semua ciptaan Allah swt.

Proses membaca seperti membaca buku , adalah sebuah aktivitas timbal balik , pembaca perlu proses utk memahami makna dari apa yg dibaca nya, ia bisa meng apresiasi atau malah meng interograsi isi buku tsb, hal tsb akan menumbuhkan kebiasaan berpikir kreatif, reflektif, kontemplatif dll.  Kebiasaan membaca buku bisa dikembangkan untuk bisa pula  “membaca” dalam cara lain , seperti membaca alam dan membaca berbagai kejadian2  sosial masyarakat.

Dalam proses berguru pada alam, kita bagai memotret alam terbuka, melihat secara menyeluruh, kemudian memahami bagian2 kecilnya, melakukan perenungan yg mendalam, memahami hubungan antara berbagai bagian tersebut. Dan akhirnya didapatkanlah hikmah yg membawa pencerahan jiwa, sebuah proses pencerdasan. Dalam istilah psikologi terjadi beberapa tahapan proses berpikir; berpikir analisa dan berpikir reflektif.

Berpikir reflektif adalah proses berpikir yg lebih tinggi, lebih luas daripada berpikir analis/critical thinking. Berpikir reflektif tak diajarkan di sekolah yang lebih fokus pada kemampuan menghapal (memorize ) dan pola berpikir analisis. Karena memang kemampuan tersebut yg diperlukan dalam dunia kerja, untuk mengelola data dan mencari pemecahan masalah ( problem solving).

Proses berpikir reflektif sederhananya ialah melihat suatu hal dengan pandangan yg lebih luas ( bird view) merenunginya dan mendapatkan hikmahnya.Menurut John Dewey, seorang ahli pendidikan, berpikir reflektif ialah proses pemahaman terhadap sesuatu dengan melihat hubungannya dengan berbagai hal dan selanjutnya dihasilkan sebuah kesimpulan.

Kemampuan berpikir, bagian dari pencerdasan manusia, seharusnya dikembangkan di sekolah sebagai lembaga pendidikan. Tapi realita saat ini  sekolah yang didirikan sebagai tempat belajar, seperti mulai kehilangan esensi nya untuk memberikan pencerdasan. Dalam dunia yang materialis saat ini, sekolah telah menjadi bagaikan pabrik otak yg mencetak para tenaga kerja untuk menggerakkan roda2 perusahaan kapitalis ( pemilik modal). Sekolah dipolakan seperti itu, karena dalam kaidah kapitalis sekolah adalah bagaikan pabrik otak untuk menghasilkan para tenaga kerja yang akan memutar roda2 perusahaan kapitalis juga, yang dibutuhkan ialah para pekerja bukan pemikir/perenung.

Dalam kaidah kapitalis-materialis, sebagian besar orang adalah para pekerja dan pembelanja ( konsumen) dan semuanya mengabdi pada kepentingan orang kaya/ pemilik modal ( kapitalis ). Orang2 masuk sekolah bukan untuk belajar, tapi dipersiapkan jadi tenaga kerja. Kasarnya belajar bukan jadi cerdas, tapi untuk menjadi pekerja yg terampil.  Jadi pekerja dan upah dari kerjanya, selanjutnya selepas kerja menghabiskan waktunya dg menghibur diri/menikmati hidup. Menghabiskan uangnya untuk berbelanja kebutuhan2 yg bisa jadi tak begitu dibutuhkan nya, tapi ia tetap berbelanja, karena tanpa disadari banyak orang terjebak dalam kecanduan belanja ( konsumerisme )

Para pekerja tersebut bisa diandaikan bagai sekrup bagian dari mesin besar kapitalis, mereka bekerja, mendapatkan  upah kerja, kemudian dihabiskan untuk belanja dan menikmati hidup. Yang lebih parah lagi ada sebagian orang terjebak dalam hutang/ kredit pada bank, mereka bekerja bukan sekedar memenuhi kebutuhan hidup sehari2nya, tapi juga untuk membayar hutang nya yang tambah lama tambah menumpuk.Mereka bagaikan orang yang terhisap oleh lindah darat.

Berbagai masalah kehidupan, ekonomi, politik , budaya, etika yg mengungkung kita sehari2,  membuat orang tak sempat lagi berpikir panjang, istilah kasarnya boro2 berpikir, untuk mengisi perut saja susah. Berpikir dianggap sudah selesai, belajar sudah selesai di bangku sekolah, tak perlu lagi belajar, namun karena hal itu, orang2 pun makin terkungkung dalam kebodohan. Banyak orang yang tahu tentang suatu kesalahan, atau pernah melakukan kesalahan tapi ia tetap saja mengulang kesalahan tersebut. Padahal kata pepatah, hanya keledai yg terjatuh ke lubang yg sama, manusia makhluk berakal tak harusnya seperti itu.

Ini adalah sebuah contoh kecil realita sosial yg banyak dihadapi di berbagai belahan dunia saat ini. Khususnya pada masyarakat yg tak terbiasa membaca, cenderung berpikir pendek, bertindak spontan dan reaktif. Karena itulah berbagai  masalah yg terjadi, cenderung  disikapi secara spontan dan reaktif saja, tanpa usaha perbaikan yg menyeluruh agar kejadian tsb tak terulang lagi.  Demikianlah salah satu realita dunia modern saat ini. Dengan konsep berpikir alam terkembang jadi guru, berpikir yg lebih luas dan arif, kita bisa memahami apa yg terjadi, mengambil kesimpulan dan mencari jalan keluarnya. Pola berpikir seperti ini, menjadi sebuah kebutuhan saat ini.

Perintah membaca (Iqra) dalam kitab suci Al Quran dan falsafah Alam terkembang jadi guru, mengambil pelajaran dari alam sekitar atau kejadian sehari2, adalah sebuah ajakan untuk mendayagunakan kemampuan berpikir manusia sebaik mungkin, membawa pencerahan. Jiwa yg cerdas tercerahkan akan bisa melihat dengan jernih untuk bisa menapaki perjalanan hidup ini dengan baik. Belajar dari alam, kita akan bisa memahami juga kebesaran pencipta alam dan semua isinya ini, menyadari kekuasan Nya. Hal itu semua akan membuat kita lebih dekat dengan Sang Maha Pencipta, Allah swt.

Semoga kita semua bisa selalu belajar dari alam yang luas terkembang ini, agar sempit pikiran seperti katak dalam tempurung dan juga bisa pula belajar dari pengalaman dan kegagalan hidup,  karena hanya keledai lah, yg terjatuh kembali ke lubang yg sama.

( photo by Beny Bakir, location ;limapuluh koto west sumatera, from west sumatera.com )

7 comments on “Alam terkembang jadi guru

  1. Irvan
    02/05/2012

    Rancak bana essay, pak Hendra

    Lah patuik pak Hendra mengarang carito roman anak minang di gurun pasir.
    Sabana lamak didanga kato2 nan pak hendra tulih.

    Salam
    Irvan Buchori

  2. A Mufti
    03/05/2012

    Jadi teringat Engku Mohammad Syafei dari INS Kayutanam (Mufti/MA79)

  3. hdmessa
    03/05/2012

    terima kasih komentar nya pak Irvan & pak Mufti.

    betul Engku Mohammad Syafei mengembangkan sekolah INS kayutanam dengan mendasarkan pada falsafah Alam terkembang jadi guru. Sebagaimana pula Rabindranat Tagore mengembangkan sekolah Santiniketan di India sana,

    salam

  4. Rosikh
    03/05/2012

    Tulisan yang menarik mas, bahkan dari sebutir debu pun mungkin ada hikmah yang Allah simpan untuk dipelajari manusia, subhanallah.. :)

    Rosikh Falah
    Bandung

  5. hdmessa
    03/05/2012

    terima kasih Rosikh komentarnya,
    betul selalu ada pelajaran dan hikmah di sekitar kita

    salam

  6. Irham
    04/05/2012

    Alam takambang jadi guru
    banyak baca buku
    supaya hidup tidak buat malu
    Seperti benalu

    Irham
    Al Azhar, Cairo

  7. Suryadi
    05/05/2012

    Satitiak jadikan lauik, sakapa jadikan gunuang..

    dari satu titik jadikan laut,
    dari satu kepal jadikan gunung

    Suryadi
    Leiden, Belanda

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on 02/05/2012 by in horizon - insight.
Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 37 other followers

%d bloggers like this: