Inspiring points

Reflective story from journey of life , Alam terkembang jadi guru

Perbincangan para lalat

z-bluebottle2_filtered.JPG

Di kala senja yg mendung , menjelang hujan, di awal tahun 2006, di sebuah bukit sampah,  berkumpullah para lalat seantero Bandung , mereka menggelar selamatan karena gunungan sampah yg tersebar di berbagai tempat sekitar bandung , tambah banyak dan tambah tinggi sajah , sehingga para lalat pun kewalahan menghadapi nya , mereka berkumpul untuk menyusun strategi bersama , menghadapi hal tsb , turut hadir pula sebagai pengamat cacing cau dan tikus got yang turut kewalahan juga . 

Gawat euy, cape pisan kuring ( saya lelah sekali ) kata lalat kurus yg jadi tuan rumah, karena tingginya gunungan sampahnya , kita sampai kesulitan mendakinya  , terutama di pasar2 , mulai dari pasar caringin, andir, kosambi, gedebage, sederhana , tegalega, sampai ke tempat elit seperti pasar simpang dago . kasihan juga warung2 nasi yg ada di dekat tumpukan sampah tsb , karena pembelinya berkurang , jalanan pun jadi macet, karena sebagian jalan tertutup sampah.  setelah tahun lalu menjelang peringatan KAA , Bandung dikepung tumpukan sampah, awal tahun 2006, sekarang kasus serupa terulang lagi , entah sampai kapan masalah ini bisa selesai , tapi lain hal nya dg para lalat yg malah berpesta pora dengan keadaan tersebut , tapi ternyata ada juga lalat yg peduli juga dg nasib manusia. 

Maju ke depan lah lalat tua dari tegalega, di jaman dulu, penjajah belanda dulu , yg membangun kota bandung ini awalnya telah memberi contoh bagus, tentang bagaimana mengelola limbah kota, seperti menyediakan tempat khusus pembuangan limbah rumah tangga, di daerah inhoftank seberang tegalega , dan berbagai prasarana kota lain nya , pokok nya mah kumplit lah.

Cobalah  sekali kali lihat, foto kota Bandung jaman dulu , terlihat kota begitu rapih dan indah , sehingga banyak memberi inspirasi bagi seniman untuk membuat lagu dan buku .  Kota Bandung tempo doeloe adalah “Surga Tatar Sunda”, bahkan ada orang bule yang menyebutnya Paris van Java , kota sejuk di pegunungan yang banyak terdapat taman2 nya yg indah. Pesona kota ini telah banyak mengilhami para pencipta lagu seperti Ismail Marzuki dengan lagu Sapu Tangan dari Bandung Selatan, Iwan Abdul Rachman dengan lagu2 nya  Senja Jatuh di Bandung Utara, Flamboyan, atau Melati dari Jayagiri, serta Tetty Kadi dengan lagu  Kota Kembang-nya .

Banyak pula dibuat buku novel yg mengambil setting keindahan Bandung saat itu. sudahlah jangan bernostalgia dengan masa lalu, biarlah yg lalu berlalu sudah , kata lalat centil dari perempatan terminal antapani ( peterpan ,menurut istilah   tukang ojek disana ) , yang penting bagaimana kita menyelesaikan masalah saat ini . Lalat buah dari tamansari berpendapat lain lagi, justru dari masa lalu , dari perjalanan sejarah kota ini, kita bisa mengambil pelajaran , mengapa dengan bertambahnya waktu bukan nya bertambah baik , pasti ada sesuatu yg tak beres. 

Tong kitu euy ( jangan begitu dong ) , kata lalat gemuk dari pasar caringin , janganlah saling menyalahkan,  masing2 sudah ada tugasnya sendiri , biarlah yg berwenang menyelesaikan nya , sudah banyak orang pinter, banyak program untuk menangani masalah tersebut , biarlah manusia membereskan nya , bukan urusan kita bangsa lalat , geus masing2 weh ayeuna mah ( sudah kita masing2 saja deh, nggak perlu peduli dengan yg lain nya ) , tapi dibantah lagi oleh lalat buah , ia bilang  kalau masing 2 egois, mau enak sendiri dan tak mau tahu peduli dengan orang lain, seperti membuang sampah sembarangan ke jalan atau ke sungai , justru itu juga salah satu sumber masalah sampah tersebut .  kemudian, lalat berkaca mata dari dago , maju ke depan dan bicara ; tumpukan sampah dekat pasar simpang dago , sebenarnya dekat dengan sekolahnya orang pinter, sekolah cap  gajah duduk , yang banyak orang pinternya , ahli lingkungan, ahli teknik,ahli kimia dan segala keahlian lain nya , tapi kenapa yah, mereka kok nggak bisa mengatasi masalah tumpukan sampah tsb ? kalau mau mah, ahli kimianya mungkin bisa buat semacam cairan kimia yg hebat, yg bila dituangkan ke gunungan sampah tsb , akan membuat sampah menjadi wangi atau melumer seperti plastik terkena cairan kimia keras ..he..he..he.., ujar nya sambil hereuy. 

Ahli lingkungan nya pasti bisa membuat konsep pengelolaan sampah yg hebat dan terpadu , masak dari jaman buang sampah di dago atas ( dekat dago pakar ) sampai ke kasus longsor di lewigajah , caranya tidak ada peningkatan ?kalaupun nanti mau sewa lembah batu kapur di citatah untuk di uruk dg sampah , pasti nanti ada masalah lagi belakangan. masak dari dulu, nggak ada kemajuan teknologi nya ? , padalah di kota itu lah ada institut teknologi yg paling huebat…. masih ingat saya mah, jaman dulu, ketika sampah dibuang di sebuah lembah dekat dago atas , yang baunya menyebar ke mana mana , sampai akhirnya ditutup. 

Konon di luar negeri, cara pembuangan sampah dg menimbun, adalah cara yg sudah ketinggalan jaman, banyak teknologi baru yg digunakan saat ini , tapi entah kenapa kok belum juga ada teknologi baru yg diterapkan untuk urusan sampah tsb ? lalat centil nyeletuk lagi, karena urusan sampah , adalah masalah yg rendahan, sepele, yang kurang duitnya, sehingga kurang diperhatikan , padahal ternyata lama2 bisa jadi masalah besar juga. 

Kemudian tampil pula cacing cau dari TPA leuwipanjang , sekarang saya ada problem juga, karena teman2 saya sudah tak suka lagi mengolah sampah2 organik, karena banyak yg sudah pakai formalin , sayuran nya pakai pestisida , sehingga susah kita mengurai nya. Selain itu sampah2 nya telah bercampur baur antara sampah organik dan non organik seperti plastik dll, sehingga repot juga kita mengurai nya. kata orang pinter, pembuangan sampah dengan cara penimbunan ,baru bisa efektif bila sampahnya homogen, sampah organik semua, sudah terpisah antara sampah organik dan non organik , sampah organik bisa berproses secara biologis alami, sedangkan sampah non organik dengan cara kimiawi atau fisik , malah bisa di daur ulang dan ada nilai ekonomis nya. saya pernah dengar juga, ahli lingkungan pernah bilang bahwa, salah satu solusi untuk menyelesaikan masalah sampah , bisa dipecahkan dari ujung nya, yaitu rumah tangga , kantor dan tempat lain, dimana sampah bermula , seandainya mereka sejak di rumah ,telah memilah milah antara sampah organik dan non organik , begitu pula saat dikumpulkan di TPS sampai ke TPA. Saat ini sudah banyak tempat sampah yg dipilah pilah berdasarkan jenis tersebut, tapi karena di tingkat TPS atau TPA belum ada pemisahan jenis sampah tersebut , yah akhirnya bercampur lagi , justru para pemulung lah yg berjasa mengambil sebagian sampah organik.

Namun sering kejadian pula, orang salah memasukkan sampah ke tempat2 yg telah dipilah pilah tersebut , jadi perlu juga semacam perubahan perilaku masyarakat dalam membuang sampah , sebenarnya sudah sering dilakukan , tapi perlu di ulang ulang agar tak lupa. 

Sampah non organik bisa di olah dg cara tersendiri , dan malah bisa jadi duit oleh para pemulung, nah yg sampah organik bisa ditumpuk dan dibusukkan , istilah nya land fill , akan cepat bagi para cacing dan mikroba untuk mengurai nya , malah kalau mau di olah lagi bisa jadi kompos yg bisa digunakan sebagai pupuk untuk tananam.  

Hey cacing cau, kamu jangan sok pintar lah, sebenarnya sudah banyak yang tahu juga , tapi memang mungkin sudah sifat manusia saja , walau tahu, tapi belum belum tentu di amalkan , kata lalat kurus dari pasar kiaracondong , di kota Bandung ini banyak orang pinter dan ada 2 perguruan tinggi yg terkenal dan mereka tahu tentang hal tersebut , tapi bukanlah mereka yg mengatur kota ini, ada pemerintah kota ( pemkot ) yg berwenang mengelola kota , nah masalahnya adalah tak selalu antara orang2 pinter di perguruan tinggi tersebut bisa sejalan dengan para penguasa kota , bahkan untuk beberapa kasus berseberangan pendapat, seperti kasus peruntukan lahan Bandung utara , seandainya orang2 pinter dari perguruan tinggi tersebut dan para penguasa kota , bisa duduk bersama dan menjauhkan ego sektoral nya masing2 , bisa selesai juga masalah yg sebenarnya tak seberat masalah kehidupan lain nya. 

Kemudian lalat dari TPA jelekong cerita, bahwa selama ini daerah jelekong ciparay, terkenal sebagai desa pelukis alam, biasanya lukis pegunungan dan sawah , indie moie , kata orang belanda mah, nah setelah  sebagian tempat di jelekong jadi gunungan sampah pula, anak2  pelukis tsb , sudah berubah gambarnya, bukan lagi gambar gunung yg menghijau dg pesawahan , tapi mereka mulai menggambar gunungan sampah dengan berbagai pernik sampah barang2 bermerek nya yang biasanya hanya bisa mereka lihat kalau jalan jalan ke etalase toko di alun alun. bagi lalat teman si cepot yg juga tinggal dekat sana , ini bisa jadi bahaya, karena nanti sudah beda lagi gambar alam yg mereka buat , menghilangkan ke khasan lukisan jelekong. kebetulan saja sewa tempat nya sudah habis dan mereka tak mau memperpanjang nya. 

Lalat funky di tempat sampah di seberang factory outlet jalan Dago, punya pendapat lain lagi , menurut dia, salah satu sumber sampah adalah para turis lokal dari jakarta yg menyerbu kota Bandung di hari sabtu dan minggu , belanja makanan dan barang lain nya di sini, nah sudah pasti banyak pula sampahnya , untung saja, para the jack ( fans persija ) tak datang pula ke Bandung karena takut bobotoh persib, kalau sampai datang, wah pasti tambah banyak lagi sampah sampahnya. 

Lalat hijau dari tempat sampah di jalan taman cibeunying , bercerita pula, saya sering hinggap di jendela ruang kelas di kampus dekat tempat saya , kalau di sana lain lagi ceritanya, ceunah dalam ilmu time management , kegiatan kita sehari2 bisa dibagi dalam 4 kuadran kegiatan yg merupakan persilangan dari kegiatan penting dan genting , jadi ada 4 jenis kegiatan : penting dan genting, penting tapi tidak genting, genting tapi tidak penting dan tidak genting juga tidak genting.  Nah selama ini manusia sering terjebak dalam kegiatan yg penting dan genting, seperti membereskan masalah sampah waktu menghadapi konperensi Asia Afrika tahun lalu,  karena genting jadi cepat selesai , nah sekarang setelah Tempat pembuangan akhirnya penuh, jadi genting lagi , begitu saja terus dikejar2 hal yg genting, padahal seharusnya mereka juga melakukan hal yg penting tapi tidak genting, seperti merancang sistem pengelolaan sampah yg baik dan terpadu atau teknologi sampah lain nya , kalau hal tsb dilakukan , kegentingan karena sampah menumpuk bisa dihindari, tapi karena dianggap tidak genting, sehingga hal tersebut sering dilupakan , istilahnya , ah kumaha engke wae lah ( bagaimana nanti saja lah ) , atau malah terjebak pada kegiatan yg sebenarnya tidak penting tapi karena genting terpaksa dilakukan , padahal tak menyelesaikan masalah sebenarnya. 

Lain lagi cerita lalat hijau dari pasir impun , dulu teh, masalah tumpukan sampah bisa selesai karena akan banyak datang tamu dari negara2 Asia Afrika , sampai kota Bandung, benar2 bersih dan rapih, sampai saya juga kebingungan mencari tempat hinggap. Mungkin kalau pengen beres masalah yg kita para lalat hadapi saat ini, karena kekurangan tenaga menyatroni gunungan sampah , bagaimana kalau kita undang saja, para lalat dari luar negeri, dari negara2 asia afrika , agar datang pula ke Bandung ? , kita lakukan lagi konperensi lalat asia afrika , kumaha para lalat setuju nggak ? 

kemudian tampil pula, lalat dari terminal ledeng , yg sekali waktu nyasar salah jalan ke sebuah pesatren di jalan gegerkalong , yang memang bersih dan rapih tempatnya , ia sih iseng saja main ke sana , ingin tahu kenapa daerah tersebut selalu bersih dan rapih , ia kebingunan mencari tempat sampah , yah begitulah nasib kalau lalat salah jalan. sekali waktu ia pernah hinggap disana dan mendengar pengajian , dan ustadnya ada cerita, bahwa kondisi alam yg terjadi di sekitar kita ,baik bencana atau tumpukan sampah, sebenarnya adalah cerminan dari tingkah laku kita juga .

Bencana alam, mungkin kita banyak kesalahan merusak alam , sampah yg menggunung di mana2, yg menyebar bau busuk mungkin menggambarkan pula, betapa banyak tingkah laku manusia yg kotor dan busuk pula ; menipu, korupsi, judi, prostitusi dan segala perbuatan kotor lain nya , sudah menyebar dimana2 dan tumpukan sampah tsb, menggambarkan betapa telah parahnya kelakukan tersebut ,sampai saking berat nya , susah menangani nya.

Sampah bertebaran dimana mana sebenarnya menggambarkan pula, betapa telah banyak pula sampah sampah masyarakat di sekitar kita , betapa telah banyak kebusukan yg menyebar. Mungkin harusnya bangsa manusia perlu belajar dari hal tersebut , kalau istilah pepatah orang minang,  “Alam terkembang jadi guru” ,bencana alam, kemacetan ,tumpukan sampah yg menyebar dan berbagai kerusakan lain nya , harusnya bisa jadi pelajaran bagi manusia , kita perlu belajar dari alam, apa hikmahnya , sehingga hal tersebut terjadi dan kita perlu introspeksi, jadi kalau otak dan hati masih kotor , walau bagaimana pun juga, sulit untuk bisa mewujudkan lingkungan yg bersih , mau duit sebesar apa pun, kalau masih kotor juga asal duit na ( banyak uang haram bertebaran ) , tak akan selesai masalah sampah tsb , karena sekali lagi, lingkungan adalah cermin perilaku manusia sekitar nya. 

Lalat tua dari pasar gedebage , maju ke depan , sudahlah janganlah kita menggurui bangsa manusia , mereka adalah makhluk yg mulia , lebih tinggi tingkatan nya dari kita bangsa lalat yg hina ini . makhluk2 kotor dan hina seperti lalat, nyamuk, cacing dan tikus adalah cerminan untuk mereka juga , semoga saja manusia memang tetap makhluk mulia yg mau belajar dari kita , makhluk ciptaan Allah juga. mudah2 an mereka bisa membersihkan dulu hati dan pikiran mereka, membersihkan pula harta2 mereka  , terus orang2 pinter mau berbagi juga kepinteran nya untuk membantu menyelesaikan permasalah tsb , kalau mereka bisa bekerja sama dengan baik, sebenarnya masalah tersebut bisa terselesaikan juga. Jadi sebelum membersihkan sampah2 tersebut, perlu lah pula manusia membersihkan hati dan pikirannya , mulai dari diri sendiri ,hal tersebut kemudian akan menghasilkan perilaku bersih yang akan membuat lingkungan jadi bersih pulan dan kemudian masalah sampah ini bisa pula terselesaikan . ucapan bijaknya menutup kongres para lalat tsb , bersamaan dengan turun nya hujan gerimis yg makin membesar di saat gelap menjelang ,  para lalat pun berseliweran pulang ke tempat asal nya masing2 dan tak lupa membersihkan kaki dan tangan nya dengan cara menggosok gosokan nya , setelah hinggap di suatu tempat , ternyata mereka tidaklah kotor kotor amat, walau sering berada di tempat kotor. 

Nun dari sebuah rumah tua di sebelah tempat lalat berkumpul , terdengar mengalun merdu lagu lama ,karangan Ismail Marzuki ” Sapu tangan dari Bandung selatan” , yang terasa ironis mendengarkan lagu tentang keindahan Bandung di masa lalu , kalau dibandingkan saat kondisi Bandung saat ini  ;

” saputangan sutra putih , dihiasi bunga warna

sumbang kasih jaya sakti di selatan Bandung raya 

selamat jalan, selamat berjuang , Bandung selatan dilupakan jangan

 Nun dari kejauhan terdengar pula adzan magrib mulai berkumandang , saat manusia2 mulai membersihkan diri, berwudhu, membersihkan tubuh dan jiwa, untuk menghadap Pencipta nya , karena kebersihan adalah sebagian dari Iman.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on 23/02/2007 by in Inspiration story.
%d bloggers like this: