Inspiring points

Reflective story from journey of life , Alam terkembang jadi guru

Turun gunung, lintas pantai ( inspiration journey story)

lembah-sungai-cipandak5.jpg 

Pagi yg dingin dengan kabut putih menyelimuti hamparan kebun teh Rancabali yg luas, sungguh menakjubkan melakukan perjalanan bersama bersepeda melewati hamparan kebun teh yang  menghijau berselimut kabut putih di pagi yg dingin, sesekali kita berpapasan dg para gadis pemetik teh yg membawa kantung besar berisikan pucuk daun teh segar yg baru dipetik.Itulah awal suasana perjalanan lintas alam bersepeda dengan rekan2 pesepeda gunung dari grup wayang windu Bandung selatan akhir bulan february 2007 yg lalu. Perjalanan ini menempuh rute yg cukup berat, jauh dan penuh tantangan, bermula dari gerbang jalan menuju ke kawah putih, dekat kolam air panas cimanggu,  gunung patuha di daerah Ciwidey Bandung selatan,  terus mendaki pegunungan ke arah selatan melewati hamparan kebun teh Rancabali milik PTPN VIII, terus menuruni lembah hutan alam di daerah cianjur selatan sampai ke pantai jayanti di daerah cidaun, dari cidaun kita menyusuri pantai selatan jawa barat yg masih alami sampai ke pantai rancabuaya di daerah garut selatan. Dari simpang kawah putih di gunung patuha sampai pantai jayanti, berjarak  sekitar 60 Km, dari pantai jayanti sampai pantai rancabuaya berjarak 30 Km , total jarak 90 Km, ditempuh dalam jangka waktu hampir 12 jam, start jam 8 pagi di cimanggu di gunung patuha dg ketinggian 2000 m, dan finish saat gelap jam 8 malam di pantai rancabuaya, sebuah rute perjalanan berat bagi mountain bikers, namun alam yg indah dan pengalaman berharga di perjalanan, membuat perjalanan tersebut menjadi penuh makna.. 

Dataran tinggi Ciwidey di Bandung selatan dg puncaknya gunung patuha, adalah rangkaian pegunungan yg menjadi lanskap alam yg indah kalau kita melihat ke arah bandung selatan. Daerah tersebut cukup akrab sejak jaman SMA dulu, dimana saya sering menyusuri pegunungan seputaran kota Bandung, dataran tinggi bandung selatan seolah menjadi batas alam yg tak tahu ada apa di sebalik pegunungan tsb ? baru sekaranglah rute tersebut ditempuh, menuntaskan penasaran jaman remaja dulu. Yah, tanpa disadari sudah 20 tahun berlalu, saat jaman sekolah dulu, sering bepergian ke daerah pegunungan yg menjadi tempat camping Rancaupas dan wisata alam ; Kawah putih, kolam air panas cimanggu, ciwalini dan situ patenggang yg selalu ramai di hari libur. Waktu 20 tahun terasa telah berlalu sebentar saja, tak sadar diri ini pun sudah mulai menua, tak sekuat masa muda dulu. Memang demikianlah kehidupan ini, sering tak terasa telah berlalu dg cepat, yg penting waktu yg berlalu tersebut telah kita isi dg penuh makna. 

Saya dan rekan2 mountain bikers sekitar 25 peserta, memulai perjalanan dekat kolam renang air panas cimanggu yg juga adalah persimpangan jalan ke kawah putih yg di gunung patuha. Kita start di pagi hari yg agak mendung jam 8 pagi yg dingin dg suhu sekitar 17 oC. Perjalanan awal adalah melalui area perkebunan teh PTPN 8 Rancabali yg indah, dimana hamparan kebun teh bagaikan menyelimuti bukit dan lembah di dataran tinggi sekitar, indah sekali. Di area kebun teh Rancabali terdapat pula sebuah danau vulkanik yg indah, bernama situ patenggang.  Selepas situ patenggang perjalanan mulai mendaki, melewati jalan meliuk di kebun teh tersebut. Jalanan kebun teh yg meliuk2 tersebut di pinggirnya berjajar pohon2 yg menjulang tinggi, seolah2 memagari hamparan kebun teh, indah sekali. Pendakian yg cukup panjang tersebut melewati beberapa afdeling dan perumahan perkebunan peninggalan belanda dulu.  Saat berhenti istirahat sejenak di pebukitan dan mengamati hamparan kebun teh yg indah tersebut, saya tak habis pikir, kok sampai2nya jaman dulu orang belanda bisa kepikiran membuka kebun teh disini, padahal jaman itu daerah ini pasti masih hutan belantara, dan terbayang betapa banyaknya tenaga2 kerja bangsa kita yg dikerahkan untuk membuka perkebunan ini, walaupun demikian visi jauh ke depan kaum onderneming ( orang kebun belanda) , membuat kita masih bisa kita nikmati sampai saat ini. 

Konon kebun2 teh ini ( beserta kebun kina, rempah2 dll ) jaman dulunya, telah membuat belanda kaya raya, sudah cukup bagi belanda untuk membayar hutang2 nya VOC yg hampir bangkrut karena perang diponegoro dan berbagai perang lain nya di negeri kita yg banyak menghabiskan biaya, belum lagi pada saat selanjutnya negeri belanda sendiri dijajah Jerman. Bahkan mereka bisa punya uang berlebih untuk membangun dam2 baru di negeri nya yg lebih rendah dari permukaan laut tsb. Alam kita telah membuat mereka kaya raya, namun kenapa kita sampai saat ini masih miskin juga ? , dimana salahnya , padahal kebun teh nya masih yg itu2 juga, konon masih banyak area kebun teh, adalah yg bekas ditanam belanda dulu, bahkan ada pohon teh yg umurnya telah lebih 100 tahun, sebagian lagi adalah tanaman yang baru ditanam oleh kita sendiri.  Bingung sendiri jadinya, sudah lah  kita sepedahan saja deh  menikmati alam yg indah ini, terlalu banyak mikir jadi bingung sendiri… 

Perjalanan melewati pegunungan tsb cukup jauh juga sampai akhir nya kita sampai ke daerah yg cukup tinggi yg mendekati batas kebun teh tersebut. Kita istirahat di daerah yg dinamai gunung sumbul dg ketinggian sekitar 1700 m. Di depan mulai terlihat batas kebun teh dg hutan rasamala perhutani, yah itulah batas antara kabupaten Bandung dan  Cianjur.  Saat berdiri di ketinggian tersebut saat melihat ke arah selatan di saat langit yg cerah tersebut, terlihat ada garis putih yg membentang di balik pebukitan di bawah sana, saya bertanya pada masyarakat setempat, ternyata itu adalah garis pantai yg terbentuk dari hempasan ombak di pantai selatan daerah Cidaun.  Masya Allah indah sekali, bayangkan dari ketinggian, berjarak sekitar 40 Km, kita bisa melihat garis pantai. Kontur alam pantai selatan jawa barat yg berbukit2 dan langsung menurun tajam ke  bibir pantai, memberikan lanskap alam yg indah. Berada di tengah kemegahan alam ini terasa betapa kecilnya kita manusia ini… 

Perjalanan dilanjutkan dg rute menurun yg cukup tajam, down hill istilah pesepeda gunung, di area kebun teh, jalanan bagus dan berkelok2, sampai akhirnya kita sampai ke batas kebun teh yg langsung berbatasan dg hutan rasamala. Di pinggir jalan terlihat tugu yg bertuliskan selamat datang di kabupaten Cianjur, yah itulah batas kabupaten Bandung. Memasuki hutan rasamala yg lebat ,jalanan makin menurun , tapi jalan nya adalah jalan hutan yg berbatu2, beda sekali dg jalan halus di kebun teh tadi. Mungkin karena beda kabupaten, beda pula anggaran untuk jalan nya, entahlah saya kurang mengerti mengenai birokrasi dan otonomi daerah, tapi dalam berbagai perjalanan saya sering menemui bahwa tiba2 kualitas jalan berubah, begitu kita memasuki daerah yg berbeda, padahal pengguna jalan, yah penduduk setempat juga.  

Daerah hutan ini cukup lebat pula, pohon2 yg tinggi membuat suasana agak kelam walau di siang hari sekalipun. Kita menuruni jalan yg cukup tajam, sampai akhirnya sampai pula di sebuah perkampungan yg bernama Bale gede, selepas daerah tersebut perjalanan kita melewati daerah pesawahan dan kebun2 penduduk.

 Melihat ke belakang kita telah meninggalkan hutan rasamala, dan ke depan, terlihat pemandangan yg menakjubkan, kita sedang menuju sebuah lembah besar dimana di seberang lembah membentang pula tebing tinggi yg dari beberapa tempatnya terlihat garis2 putih vertikal, setelah tambah dekat semakin jelas, ternyata itu adalah air2 terjun kecil yg berada di dinding lembah tersebut. Sampai akhirnya kita sampai di dasar lembah dimana terdapat jembatan. Penduduk setempat menamainya jembatan sungai cipandak. Saat berada di tengah jembatan yg merupakan dasar dari lembah tersebut, terbentanglah pemandangan yg menakjubkan, kita berada di sebuah lembah besar yg diapit oleh dinding2 terjal pebukitan yg memanjang utara selatan sepanjang aliran sungai cipandak tsb Kedalaman lembah diukur dari puncak tertinggi dimana kita turun tadi sampai ke sungai dimana jembatan nya kita lewati tadi, terdapat perbedaan ketinggian sekitar 800 m, berarti kita telah melakukan perjalanan sepeda down hill ( menuruni lembah ) sejak batas kebun teh dg hutan rasamala sampai ke jembatan sedalam hampir 800 m, sungguh menakjubkan namun cukup mendebarkan juga bagi mereka yg tak begitu ahli bersepeda, sebab lebih banyak kecelakaan terjadi pada saat jalan turunan daripada tanjakan, sebagaimana halnya dalam hidup ini, ada juga orang yg celaka ( dapat ujian ) karena nikmat kesenangan dari pada kesusahan hidup. 

Cukup lama saya berada di tengah jembatan yg mana di bawah nya mengalir air sungai cipandak yg jernih , dimana depan dan belakang nya diapit tebing yg tinggi menjulang dan dari beberapa tempatnya keluar air terjun kecil yg tinggi, saya hitung2 ada sekitar belasan air terjun kecil sepanjang lembah tsb. Msya Allah sebuah pemandangan alam yg menakjubkan, betapa sebenarnya tanah kita subur dan sumber air melimpah, jadi teringat di beberapa tempat di negeri kita, daerah mengalami kekeringan

Selepas jembatan tsb jalan mulai mendaki lagi, kita melewati daerah perkampungan  dimana di lembah tepi sungai tersebut banyak terdapat pesawahan yg subur dan selanjutnya  bergantian dg  hutan alam yg cukup lebat pula, di beberapa tempat bisa kita temui monyet2 bergelantungan diantara pohon2 besar. Timbul juga perasaan tentram dan sunyi melewati daerah hutan alam tersebut, suatu hal yg mungkin akan mulai jarang kita temui di pulau jawa yg mulai sesak ini. Dari tebing2 pinggir jalan yg kita lalui banyak kita temukan air terjun yg mengalir dg anggun nya, kita sempat beristirahat disana, sambil meminum air nya yg segar dan dingin. 

Dari kejauhan di tengah hutan, terdengar suara menderu2, ternyata itu adalah suara chain saw (gergaji kayu ), ternyata masih banyak orang2 yg menebang pohon , terlihat dari banyak nya kita temui potongan2 kayu di pinggir jalan yg kita lewati tadi. Sungguh disayangkan bahwa alam yg masih asri ini, suatu saat kelak bisa rusak pula karena pohon2 di hutan mulai ditebangi atau dibuka menjadi lahan2 kebun. Demi meraih keuntungan ekonomi yg sedikit, dg mengorbankan kerugian ekologi yg akan diderita oleh anak cucu kita kelak. Namun penduduk2 sekitar yg menebangi pohon2 tsb, tidak bisa berpikir panjang jauh ke depan, mengenai dampak alam dari apa yg mereka lakukan tersebut, mereka hanyalah orang2 yg terdesak kebutuhan ekonomi.Tugas pihak berwenang yg bervisi jauh ke depan dan juga kita bersama untuk menyadarkan orang2 desa tsb, tentang betapa merugikan nya apa yg mereka lakukan tsb terhadap masa depan anak cucu nya sendiri. 

Mudah2an hutan alam yg indah dan asri ini, masih bisa terjaga untuk beberapa tahun ke depan, sebab bila tidak karena keserakan dan kebodohan manusia juga, suatu saat kelak daerah ini bisa rusak alamnya sebagaimana daerah2 lain di negeri kita ini,  hutannya gundul, timbul erosi dan longsor di dataran tinggi dan banjir di dataran rendahnya, dimana penduduknya akan terkena kelaparan karenanya. Padahal tadinya daerah tsb, sebagaimana daerah2 di negara kita yg subur, masih asri alam nya, namun alam bisa murka juga dan menyengsarakan karena ulah manusia juga. Setelah melewati perjalanan di hutan tersebut akhirnya kita sampai juga di perkampungan penduduk yg cukup ramai, terlihat dari papan namanya , ohh ini yg namanya kota kecamatan Naringgul, daerah terpencil yg subur di cianjur selatan. Selepas naringgul, kita pun mencari rumah makan tempat beristirahat di pinggir jalan kampung yg sepi kita menemukan rumah makan yg sederhana dg pemandangan lepasnya ke arah lembah sungai cipandak. 

Menu nya khas kampung, yg terasa sangat spesial utk orang2 kota ; nasi hangat dg goreng ikan gurame, sayur lalab, sambel tauco dan menu spesialnya petai bakar. Nasi pulen yg katanya dari pesawahan di lembah sungai tadi sungguh pulen dan enak, khas beras cianjur yg terkenal itu. Ikan gurame dari kolam sekitar pula, begitu pula petai yg banyak terdapat di kebun2 penduduk, sehingga menjadi menu khas bagi orang2 yg lewat daerah tsb.Kita pun makan siang dengan lahapnya di kursi kayu yg di depan nya terbentang lanskap alam lembah sungai cipandak yg indah, nikmat sekali rasanya, jauh lebih nikmat daripada makan siang menu ala barat di restoran hotel berbintang sekalipun. Ternyata banyak juga yg suka dg petai bakar tsb, awalnya sih malu2, tapi akhirnya habis dilahap pula. Kata pemilik warung, agar tak menimbulkan bau, maka makan petai nya dimakan pula dg kulitnya yg terasa renyah setelah dibakar dg kayu bakar, ini adalah sebuah kearifan tradisional (local genious) yg baru saya ketahui. Nikmat sekali, mak nyoss , kata bondan winarno, kalau ia sempat berwisata kuliner ke sini. 

Banyak dari kita yg serasa malu, kalau ketahuan dirinya suka makan2 tradisional spt petai, jengkol, ubi, singkong dll, padalah sebenarnya lidah indonesia kita sangat akrab dg makanan2 tsb. Kita serasa lebih hebat kalau memakan makanan asing spt Pizza, hot dog dll, yg sebenarnya sebagian adalah termasuk junk food pula..  Demi gengsi, kita seperti membohongi perut sendiri , yg bisa jadi tak begitu nyaman dg makan2 an junk food tsb, sambil melupakan makanan asli indonesia yg sebenarnya lebih cocok dg perut kita 

Nampaknya sampai saat ini kita masih dihinggapi penyakit rendah diri, sampai orang belanda yg menjajah kita dulu menggelarinya sebagai sifat “minder wardegh”( rendah diri ) , merasa berbangga dg hal2 yg berbau asing ( barat ) dan memandang rendah, hal2 yg kita miliki sendiri.  Tak hanya dalam hal makanan, namun dalam berbagai hal lain nya, seperti misalnya seseorang teman yg memaksa2kan dirinya meng apresiasi musik jazz yg sebenarnya tak begitu nyaman masuk ke emosi seni nya, padahal senar jiwa nya akan lebih riang bergetar, bila ia mendengar musik melayu misalnya yg telah begitu akrab sampai masuk ke alam bawah sadarnya, yg kalaupun ia mau mendengarnya diputar secara sembunyi2…, marilah kita mulai percaya diri, tampil apa adanya diri kita, tanpa terbelenggu oleh persepsi2 sosial yg membuat kita merasa malu dg keindonesiaan kita. Selepas makan siang kita melanjutkan perjalanan melewati daerah yg mulai ramai dg perkampungan dan turunan pun tak begitu tajam lagi, yah kita mulai memasuki daerah Cidaun, kecamatan di kabupaten cianjur selatan yg langsung berbatasan dg laut. Yang mana mulai banyak terlihat pohon2 kelapa, dari kejauhan mulai terlihatlah garis pantai dan samudra membiru di belakang nya. Akhirnya sampailah kita di kota kecamatan cidaun yg cukup ramai pula, setelah melewati jembatan kayu pada sungai besar yg bermuara ke laut lepas, kita sampai di pantai jayanti yg cukup indah, terlihat juga beberapa perahu nelayan yg nampaknya sedang melakukan persiapan melaut. 

Di tepi pantai tsb beristirahatlah kita sejenak melepas lelah, setelah melewati perjalanan panjang dari puncak gunung sampai ke bibir pantai. Di depan terhampar luas samudra hindia yg membiru dan di belakang berdiri anggun, bukit2 dan pegunungan besar yg kita lewati tadi, sebuah pemandangan alam yg menakjubkan.  Sejak kita mulai berjalan dari gunung patuha di daerah ciwidey tadi, sampai ke tepi pantai ini, terhampar berbagai potensi alam yg memberikan banyak manfaat untuk kehidupan manusia. Di daerah ciwidey rancabali, tanah subur dataran tinggi ditanami teh, selanjutnya di dataran yg lebih rendah ada hutan alam yg banyak kayu rasamala dan hasil hutan lain nya bisa dimanfaatkan. Sampai ke lembah sungai cipandak yg subur, kebun2 dan sawah terhampar di lembah yg subur tsb. Sampai ke cidaun di pantai jayanti, banyak nelayan yg mendapatkan rizkinya dari melaut mencari ikan.  

Bayangkan betapa banyak karunia alam yg begitu kaya yg terhampar di alam yg subur ini, namun entah kenapa, kita bangsa indonesia yg dikarunia alam indah yg kaya ini, kok sampai saat ini masih terbelenggu kemiskinan ? Alam yg indah dan asri pun jadi rusak, dataran tingginya longsor, dataran rendahnya kebanjiran di musim hujan dan kekeringan di musim kemarau, sehingga sebagian penduduknya kelaparan. Itulah hal2 yg benar2 telah terjadi di sebagian negeri kita saat ini, banyak bencana alam terjadi karena kesalahan kita juga dalam mengelola alam. 

Saya tak bisa membayangkan seandainya beberapa tahun ke depan alam lembah sungai cipandak sampai pantai cidaun ini jadi rusak. Hutan nya dibabat sehingga menimbulkan tanah longsor, sungainya jadi banjir di musim hujan, namun kekeringan di musim kemarau, sawah2 nya tak banyak menghasilkan panen lagi, sehingga penduduknya pun kelaparan ( seperti kita lihat di berbagai tempat lain di negeri kita ) Semoga itu semua hanyalah bayangan negatif yg tak terwujud, semoga kita semua tak terbelenggu dalam keserakahan materi dan kebodohan sistematik, yang hanya membuat kita semua sengsara di tengah tanah yg indah dan subur ini, semoga kita tak bagaikan “tikus yg mati di lumbung padi”, sungguh tragis. 

lamunan kelam tersebut akhirnya hilang bersama hilang nya rasa penat kaki, kita pun melanjutkan perjalanan melintasi jalur yg berbeda daripada jalur menuruni gunung tadi, perjalanan kita selanjutnya adalah jalur lintas pantai dari jayanti sampai ke pantai rancabuaya di kabupaten Garut sekitar 30 Km. Jalur jalan ini cukup berat, off road istilahnya , karena kita tak selalu menyusuri pantai tapi mendaki pula pebukitan2 terjal di pinggir pantai. Beberapa ruas jalan masih berupa jalan2 batu atau jalan tanah. Beberapa rekan yg telah tak muda lagi, agak berat juga fisiknya menempuh jalur tersebut, namun semangat yg membara dan kesabaran, membuat tubuh pun menjadi kuat, pantang menyerah. Dengan bertambahnya umur, orang tua fisiknya mulai melemah tak sekuat orang muda, namun kematangan jiwa dan ketenangan batin yg bertambah baik dengan bertambahnya umur, membuat mereka menjadi manusia yg makin bernilai.  

Namun bagi orang yg hanya mengutamakan hal fisik dan materi dalam kehidupan nya, dan melupakan masalah perkembangan kejiwaan dan ilmu dalam perjalanan hidupnya, dengan bertambah tua, mereka dilanda semacam ketakutan, takut fisiknya melemah, tampilan nya tak menarik lagi dll. Padahal kalau ia benar2 bisa memaknai perjalanan umur manusia, dengan bertambahnya umur, bertambah pula kebaikan nya, khususnya bagi orang tua.Perkembangan kematangan kejiwaan dan batiniah sejalan dengan bertambahnya umur adalah sebuah proses yg positif yg perlu disyukuri oleh orang tua.   Syukurlah tidak turun hujan pada hari itu, karena jalur off road lintas pantai ini nampaknya agak mustahil bisa dilalui saat hujan turun, motor cross sekalipun agak sulit melewatinya. Jalur jalan tsb, adalah bagian dari rencana jalur proyek jalan lintas selatan yg kabarnya akan membentang dari pantai Pangandaran di kabupaten Ciamis sampai ke pantai pelabuhan ratu di kabupaten Sukabumi 

Namun medan yg cukup berat tersebut cukup menghibur pula, karena didepan kita terhampar pemandangan alam yg menakjubkan, berjalan di pebukitan yg tak begitu jauh dari bibir pantai, dimana deburan ombak terasa menggema, dan di belakang nya membentang luas membiru samudra lepas yg berbataskan langit.Menakjubkan sekali mengamati batas horizon antara biru laut dan biru langit, serasa laut membiru tersebut bersambung sampai ke langit, masya Allah indah sekali. Di pantai selatan jawa barat, banyak terdapat sungai2 besar yg airnya masih jernih, di sepanjang pinggir sungai sampai ke muara yg subur tersebut, terhampar pesawahan yg subur. Yah, sungai membawa pula tanah2 subur (humus – top soil) yg terbawa erosi dari pegunungan  di atas sana, karena itulah daerah muara / delta sungai biasanya subur tanahnya. 

Sejak dari Cidaun sampai ke rancabuaya, saya hitung2 ada sekitar 7 sungai yg kita seberangi, sebagian telah terbangun jembatan yg mana jalan penghubungnya masih berupa jalan berbatu.  Selepas perjalanan mendaki sampai ke desa karangwangi dimana di ketinggian kita bisa melihat jelas samudra biru, perjalanan mulai menurun dan mendatar, tapi jalurnya cukup berat, karena sampai di karangwangi lah , batas jalan masih bagus dari jalur Cidaun, jalur selanjutnya adalah jalan setapak berbatu dan tanah, jalur persiapan proyek jalan lintas selatan jabar. Perjalanan offroad dg medan yg berat tsb, tanah berlumpur dan bebatuan sekitar 8 Km, berakhir di tepi sungai cilaki yg menjadi batas alam kabupaten cianjur dan garut, diatasnya telah terbentang jembatan yg memanjang tak jauh dari tepi pantai. Lega juga rasanya telah melewati jalan off road yg melelahkan tersebut.Selanjutnya perjalanan adalah menyusuri jalur jalan tsb yg masih berbatu2 ( jalan proyek ). Di jalur jalan tsb ada satu sungai yg belum terbangun jembatannya, sehingga kita menyeberangi nya menggunakan semacam rakit bambu sederhana, namun cukup kuat juga, walau agak khawatir juga tenggelam atau malah terseret air deras saat pasang air laut, alhamdulillah kita bisa selamat melaluinya. 

Jalan pebukitan yg turun naik, menurun ketika menyeberangi sungai , kemudian mendaki kembali cukup melelahkan, apalagi hari mulai petang, samudra tampak bermandikan cahaya orange, pertanda matahari hendak tenggelam, indah sekali. Medan berat berupa jalan turun naik dan berbatu dan juga stamina tubuh yg mulai menurun, setelah bersepeda hampir selama 11 jam lebih, membuat perjalanan cukup lama juga, sampai sampai matahari pun terbenam sudah, hari mulai gelap, tapi tempat yg dituju belum tercapai pula. 

Daerah pantai selatan tersebut masih sepi, jarang pemukiman penduduk, sehingga hanya suara debur ombak saja yg menemani kita, hari pun mulai gelap, tanpa lampu penerangan, tapi kita jalan terus pantang menyerah. Sempat terbit pula rasa putus asa, kok nggak nyampai2 juga nih, padahal hari telah gelap ?, tapi mau berhenti atau pulang pun, tak bisa juga di tempat yg  jauh dari mana2 ini,   Dalam perjuangan hidup, memang ada masanya, kita akan merasa suatu kejenuhan, keputus asa an, namun di sanalah sebenarnya teruji komitmen kehidupan seorang manusia, sampai sejauh mana, ia kuat memegang cita2 nya, sebagian manusia ada yg akhirnya menyerah putus asa di tengah jalan, namun itu pun tak menyelesaikan masalah, karena sebenarnya ia tengah dihadang sebuah masalah yg lebih berat lagi. Kematangan jiwa dan ketenangan batin yg diraih dg bertambahnya umur membuat manusia menjadi kuat walau dalam keadaan fisik yg melemah sekalipun. 

Dengan tenaga sisa, berjalan di kegelapan yg hanya diterangi oleh cahaya bulan yg memantul dari air laut, kita pantang menyerah menyelesaikan perjalanan ini, sampai akhirnya dari kejauhan mulai terlihat lampu2 pemukiman penduduk dan tempat penginapan di pantai . Akhirnya kita sampai juga ke pantai rancabuaya sekitar jam 19.30 malam.  Alhamdulillah serasa sirna kelelahan selama perjalanan ini, sampai juga ke tujuan. Dalam perjalanan hidup ini, bila kita telah sampai ke suatu hal yg kita tuju, kenikmatan nya seolah bisa menghilangkan kesusahan selama ini, seperti bahagianya seorang ibu yg baru melahirkan begitu mendengar tangis bayi nya, padahal ia baru saja melewati perjuangan berat saat melahirkan yg bisa sampai menimbulkan kematian. 

Pagi hari, selepas istirahat di penginapan, barulah tampak jelas keindahan pantai dg pasir putihnya yg menghampar luas, dimana pantai menyerupai lengkungan dan di depan nya terhampar pula dataran karang yg cukup rata, bagaikan lantai, menakjubkan sekali. Arah ke timur dari penginapan kita akan menemui tempat pelelangan ikan dan kumpulan perahu2 nelayan yg baru pulang melaut. Kalau kita terus berjalan ke arah timur lagi, maka kita akan menemui batu2 karang yg menjulang tinggi di tepi pantai dan di belakangnya menjulang tinggi bukit karang, suatu pemandangan yg menakjubkan. Di sekitar daerah bukit karang tsb banyak beterbangan burung2 walet dan terlihat di dinding tebing bukit tsb, ada lubang2 dimana burung2 tsb masuk. Ternyata daerah tsb adalah juga daerah perburuan sarang burung walet yg cukup malah harganya. Cukup sulit juga untuk masuk ke lubang2 di dinding tebing tsb, karena selain tinggi,juga permukaan nya mendatar dan kalau jatuh, dibawahnya telah terhampar batuan2 karang yg cukup tajam. Nampaknya kesulitan mendapatnya sebanding juga dg nilai jual sarang burung walet tsb. 

Batuan karang yg melingkupi pantai rancabuaya, ternyata banyak hikmah nya juga, pasir putih disepanjang pantai , adalah berasal dari butiran batu karang yg terhempas ombak dan juga binatang2 laut yg berada di batuan karang tsb. Selain itu ombak nya pun tak begitu keras hantamannya ,sehingga pantai terhindar dari abrasi  Batuan karang yg keras, terjal ,tajam yg berada di tepi pantai tsb banyak hikmah nya, banyak kebaikan utk yg bisa didapatkan, dibalik tampilan nya yg seolah menakutkan. Hal tsb mengajarkan kita untuk selalu berpikir positif, melihat sesuatu dalam sudut pandang kebaikan, jauhkan lah untuk berpikiran buruk / negative terhadap apa yg kita temui / hadapi dalam kehidupan sehari hari, semisal musibah dan bencana.

Demikianlah cerita perjalanan bersepeda kami yg cukup berat namun menakjubkan dan banyak pelajaran berharga yg bisa diraih, semoga bermanfaat bagi pembaca sekalian. foto2 perjalanan ini bisa dilihat di website dg alamat <http://hdmessa.multiply.com/photos/album/11

9 comments on “Turun gunung, lintas pantai ( inspiration journey story)

  1. Mbah Boseh
    03/04/2007

    Oom,, bisa kaga ngawal opa2, pengen ngegoes di daerah sono..
    Kalo bisa kontak2 yahhh ??
    Tengkiu
    Mbah Mboseh
    yglagipengenjalan2

  2. hendra
    04/04/2007

    Ok,
    bisa saja mbah,

    sekedar saran, bagus nya, nanti sudah mulai musim kemarau saja jalan ke sana nya

  3. ardian
    09/04/2007

    wah kayaknya uda hendra makin sehat aja dengan bersepeda di daerah hijau nan sejuk.kapan-kapan kalau mau kesana bisa di guide nga. dari ceritanya saja sudah kebayang begitu indah pemandangan. saya juga mau jadi pemula biker, tapi sayang daerahnya bekasi…kota tembok…dimana-mana liat tembok…tapi kadang juga ada yang hijau..kalau temboknya di cat hijau…
    belum sempat juga nih ke Bandung..kayaknya udah 2 tahun tidak ke Bandung..kalau ke Bandung saya mampir bole kan.

  4. ardian
    09/04/2007

    eh ada yng selalu menjadi perhatian bagi saya background photo Uda hendra kan ada tractor yang lagi nguruk tanah, berarti itu ada penebangan hutan, apa nga ada dampak ke penyerapan air di daerah sana.berapa hektar sih lahan yang dibuat.kan perubahan dari hutan pohon ke kebun teh juga mengakibatkan penyerapan air yang berkurang. sama dengan kebun teh di puncak yang mengakibatkan penyerapan air menjadi berkurang?

  5. hendra
    09/04/2007

    Ardian, setelah project beres, area tsb ditanami lagi
    ( revegetasi ), karena kondisi serapan air hujan juga sangat diperlukan di tempat tsb, sehingga selalu dijaga agar kondisi alam tetap stabil seperti semula

  6. Darul
    10/04/2007

    Taruih lah berkegiatan dan kerya Hendra. Dan bagi kesanno ka kami jo tulisan nan indah.

  7. hendra
    10/04/2007

    tarimo kasih banyak mak Darul,

    ditunggu pula, cerita2 perjalanan mak Darul dulu ,
    yg dg kapal2 tanker nya telah banyak mengelilingi dunia

    salam

  8. angga
    08/01/2009

    wuiiiiihhhh……
    pengalaman buagus bgt om…
    hehehhehehehehe…..
    jadi pengen ksn juga….😀
    SALUUUTTTHHH…

  9. hdmessa
    08/01/2009

    thanks Angga,

    silakan coba jalur tsb, tapi agak hati2 di musim hujan spt ini, khususnya pada jalur lintas pantai dari cidaun sampai rancabuaya, tapi tidak masalah pada jalur rancabali – cidaun.

    tapi justru pada saat musim hujan begini, akan tampak jelas aliran deretan air terjun kecil yg mengalir sepanjang lembah sungai cipandak, indah sekali

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on 14/03/2007 by in journey inspiration.
%d bloggers like this: