Inspiring points

Reflective story from journey of life , Alam terkembang jadi guru

Bersepeda ke ujung dunia

 01-nelayan-ujung-genteng-2.jpg

Beberapa bulan lalu, saya dan rekan2 pesepeda, sekitar 30 orang melakukan perjalanan bersepeda menjelajahi pantai selatan jawa barat di daerah sukabumi, kita memulai perjalanan dari pantai pelabuhan ratu dan berakhir di pantai ujung genteng di sukabumi selatan, menempuh jarak sekitar 80 Km, ditempuh selama 8 jam , sejak jam 7 pagi sampai jam 3 sore. 

Perjalanan kita bermula dari Pelabuhan ratu, kota kecil di tepi pantai barat pulau Jawa. Daerah pelabuhan ratu adalah juga daerah wisata, tempat ini dikenal juga karena nilai sejarahnya, dimana istilah pelabuhan ratu, mengacu pada istilah ratu /raja , di jaman kerajaan jaman dahulu, namun ada pula yg mengatakan mengacu pada istilah ratu utk ratu laut selatan, simbol magis bagi kerajaan2 di pulau jawa sejak jaman dahulu, dan sampai saat ini pun kepercayaan tersebut masih tumbuh di masyarakat setempat. Daerah antara jawa barat dan banten bagian pantai barat, sejak dari banten di utara , baduy, pelabuhan ratu sampai ke daerah pantai selatan seperti jampang kulon dan ujung genteng, dikenal pula sebagai daerah yg dikenal memiliki tempat2 yg khas karena unsur magisnya tsb. Dari daerah tersebut banyak terdapat tempat berguru ilmu2 kekuatan , ilmu2 paranormal dan hal2 magis lain nya. dari sana lah dikenal banyak berasal Jawara, istilah jaman dahulu untuk para jagoan yg memiliki ilmu / kekuatan yg ditakuti. Sampai saat ini pun, masih banyak masyarakat yg percaya pada hal2 gaib tersebut atau pergi ke tempat2 magis di daerah tersebut untuk suatu tujuan tertentu. 

Esok paginya selepas sholat subuh, di pagi hari yg cerah kita memulai perjalanan dari pantai pelabuhan ratu, kita melewati kota kecil tsb yg mulai ramai karena para nelayan baru pulang dari melaut membawa hasil tangkapan nya Di ujung timur kota kecil tersebut kita bertemu dg persimpangan yg menuju Jembatan yg melintasi sungai cimandiri yg melebar menuju ke laut lepas.

Di samping jembatan masih berdiri kokoh jembatan gantung legendaris yg berwarna kuning peninggalan jaman Belanda dulu, kokoh dan indah sekali bentuknya, namun saat ini tak digunakan lagi karena, masyarakat setempat mengenalnya sebagai jembatan Bagbagan. 

Dalam berbagai perjalanan selalu terbayang decak kagum saat melihat bangunan2 dan jembatan peninggalan jaman penjajah kita dulu, kagum bercampur heran, karena bangsa kita sendiri tak bisa belajar banyak dari mereka bagaimana cara membuat bangunan yg lebih kokoh dan tahan lama. 

Selepas jembatan Bagbagan , jalan mulai naik melandai menyusuri pebukitan dekat pantai pelabuhan ratu, tanpa terasa jalan terus mendaki dan berkelak kelok, dari tepi jalan tampak pemandangan indah, hamparan pantai pelabuhan ratu yg memanjang dibatasi garis putih ombak yg berlarian di tepi pantai. 

Di daerah pebukitan cibeas, dimana pemandangan ke garis pantai masih terlihat jelas, saya sempat heran melihat ada sebuah persimpangan ke jalan kecil yg banyak dilalui kendaraan, karena penasaran saya coba menelusuri jalan itu kemana perginya. Ternyata jalan tersebut berujung pada sebuah area luas berupa tempat peribadatan umat Budha, berupa semacam wihara, dinamai wihara dewi kwan Im, yg merupakan dewi kesejahteraan dalam mitologi cina. Saya coba masuk ke dalam berjalan kaki , ternyata area tersebut sangat luas, meliputi beberapa bukit sampai ke tepi pantai. Ada beberapa pelataran terbuka, bangunan2 china dan patung2 dewa cina. Terlihat beberapa biksu dg pakaian khas dan kepala botaknya berjalan beriring.

Ada juga sebuah pelataran terbuka yg menghadap ke laut, biksu2 yg masih muda berolahraga dan berlatih silat. Kita rasanya bagaikan berada di kuil shaolin yg terkenal itu, takjub juga saya memandang nya, rasanya tak berada di Indonesia melihat ini semua, kita bagaikan berada di sebuah biara di negeri china sana, di depan terhampar luas samudra dan di belakang pebukitan, indah sekali. Saya pun tak lama di sana, takut tertinggal jauh dari rekan2 lain nya, kemudian saya ke luar kembali mengambil sepeda melanjutkan perjalanan.

Saya pun melanjutkan mengejar teman2 yg sudah jauh di depan. Jalanan terus mendaki, berkelok kelok melewati bukit yg dibaliknya terdapat juga bukit lain nya, cukup melelahkan, namun pemandangan alam yg indah cukup menyegarkan juga. Jalanan mendaki tersebut ternyata bagaikan tak ada habis nya, karena kita tak menemukan jalanan yg datar.

Total perjalanan mendaki bukit tersebut sampai ke dataran tinggi kebun teh Surangga di ketinggian 1200 m, berjarak sekitar 25 Km,bayangkan perjalanan mendaki sepanjang 25 Km,  dari tepi pantai sampai pegunungan, sebuah tantangan yg cukup berat. Setiap kelokan jalan di punggung bukit kita selalu berharap jalan menurun atau setidaknya mendatar, tapi ternyata sehabis mendaki sebuah bukit, kita akan bertemu dg bukit yg lebih tinggi lagi dan begitulah seterusnya, sungguh membuat frustasi juga, saking lelahnya kita sering beristirahat di daerah pebukitan tsb.

Pendakian serasa tak berujung, sampai akhirnya sejauh 25 Km, kita bertemu dataran tinggi dimana terdapat perkebunan te h yg hamparan nya menutupi pebukitan, indah sekali. Ada hikmahnya pula melintasi jalan mendaki yg tak ada habis nya tersebut, andaikanlah setiap bukit yg kita daki tersebut adalah permasalahan kehidupan yg kita hadapi sehari hari, kita berharap setiap masalah yg kita hadapi cepat selesai, namun ternyata setelah masalah tsb selesai akan ada masalah lain menghadang kita dan begitu pula seterusnya, hidup kita tak lepas dari permasalahan, memang demikianlah hidup ini, masalah dan hambatan lah yg membuat kehidupan ini penuh makna.  

Saat kita mendaki, selalu ada bukit yg lebih tinggi selepas kita mendaki sebuah bukit, yang membuat kita serasa putus asa, namun ketegaran jiwa dan semangat yg tinggi lah yg membuat kita pantang menyerah, dan kalau lelah pun isitrahat sejenak.

Analoginya dalam kehidupan, banyak masalah yg kita hadapi dalam hidup ini, konsistensi, ketegaran jiwa dan kekuatan lah yg membuat kita siap menghadapinya, bila tak kuat istirahatlah sejenak dan kemudian lanjutkan perjuangan. Mendaki gunung dan penjelajahan mengajarkan kita untuk memiliki ketegaran jiwa untuk selalu konsisten dengan apa yg kita tuju, pantang menyerah. pepatah mengatakan “sekali layar terkembang, pantang surut ke tepian” Namun tak semua orang memiliki ketegaran jiwa, sebagian dari kita gampang menyerah, begitu menghadapi masalah yg berat. Pengalaman membuktikan orang2 yg berhasil dalam hidupnya adalah orang2 yg memiliki ketegaran jiwa tsb. 

Setelah lelah melewati jalanan yg mendaki, kita beristirahat sejenak melepas lelah di sebuah warung pinggir jalan, sambil minum duduk meluruskan kaki, sayup2 makin keras, terdengar mengalun lagu lama yg terasa khas di telinga, alunan lagu lama Rhoma Irama , “Berkelana”  ; 

Dalam aku berkelana Tiada yang tahu ,

apa yang kucari Gunung tinggi kan kudaki,

lautan kusebrangi Walaupun adanya di ujung dunia

Aku kan kesana tuk mendapatkannya .   

Dengan penuh perjuangan dan kepayahan, dan semangat pantang menyerah, akhirnya sampailah pula kita ke dataran tinggi Kertajaya dimana terdapat perkebunan teh Surangga, udara pun mulai terasa sejuk, terasa lenyaplah kelelahan perjalanan mendaki selama ini.Ada kepuasan tersendiri bagi kita yg terus berusaha mendaki, daripada mereka yg menyerah dan memilih menaikkan sepeda nya ke kendaraan. terlihat indah juga alam dataran tinggi tsb, dimana perkebunan teh yg terhampar menutupi pebukitan yg luas , dekat pasar ada jalan berbelok menuju daerah Gunung Rompang, dimana terdapat situs purbakala.

Di daerah Jampang ini , dahulunya terdapat kerajaan sunda kuno, bernama Agrabinta , dimana ujunggenteng adalah pelabuhan lautnya. Saat ini nama Agrabinta digunakan pada nama sebuah perkebunan di dekat daerah tsb. sehabis kebun teh kita akan bertemu dg pertigaan Kiara dua , dimana arah ke kanan menuju dataran tinggi Jampang Tengah dan terus ke kota sukabumi , sedangkan jalan yg ke kiri mengarah ke daerah jampang kulon, kita mengambil jalan ke kiri. Dari Kiara dua menuju Jampang kulon, masih menempuh jalan pebukitan yg sudah mulai mendatar dan sebagian menurun, melewati kebun2 karet dan hutan alam.

Tengah siang hari panas sekitar jam 1 siang, sampailah kita di kota Jampang kulon. Saat istirahat siang di jampang kulon, kita makan siang di sebuah rumah makan sederhana di dekat alun2 , tengah kota, walau menunya biasa saja, tapi terasa nikmat karena memang lapar dan letih, segar sekali rasanya saat minum air Lahang ( air perasan pohon nira / aren ) , terus sholat zhuhur di mesjid agung yg berada di dekatnya. 

Selepas istirahat di Jampang kulon, kita melanjutkan perjalanan ke arah Surade, dimana jalan mendatar dan cenderung menurun, karena memang telah mengarah ke dataran rendah sampai tepi pantai di ujung genteng.

Sebelumnya agak waswas juga melewati daerah tsb, karena dari cerita2 yg saya dengar sebelumnya daerah tsb dikenal dg para jawara nya dan ilmu magis nya , banyak paranormal kondang yg berada di daerah tsb dan menjadi tempat bergurunya orang2 yg ingin mencari kesaktian. Banyak pula terdapat tempat2 dimana berada dukun2 / paranormal yg kehebatan nya sampai ke kota2 besar , spt Jakarta Konon menurut hikayat, abang Jampang yg dikenal dalam sejarah betawi, karena kehebatanya dalam melawan penjajah Belanda dulu, adalah berasal / berguru di daerah Jampang tsb.

Dalam sejarah di daerah tersebut jaman dahulu berdiri kerajaan sunda kuno, yg bernama Agrabinta, dan ujung genteng adalah pelabuhan lautnya.Daerah ini adalah tempat di mana bisa jadi dulunya berasal para punggawa kerajaan jaman baheula tsb, dikenal juga karena banyak terdapat perguruan2 silat . Walau itu semua adalah cerita lama, namun sampai saat ini gemanya sebagian masih dikenal masyarakat banyak.

Sampai sekarang, bagi sebagian masyarakat, magisme tersebut masih menjadi kepercayaan yg kuat, bahkan dipercaya juga oleh sebagian politikus, bisnismen sampai selebritis yg menggunakannya utk mencapai tujuan duniawi nya. 

Dari daerah Surade jalanan sudah mulai menurun, di tepi2 jalan kita sudah mulai banyak melihat pohon2 kelapa, yg tambah banyak. Pantai selatan Jawa, memiliki kontur alam nya yg khas, dimana pada beberapa tempat pantai langsung bertemu dg pebukitan, menimbulkan landscape alam yg indah. Di sekitar Surade ada beberapa sungai yg mengalir deras di pebukitan, sering digunakan pula untuk kegiatan arung jeram, selain itu terdapat pula beberapa air terjun yg indah, antara lain di aliran sungai Cikaso. 

Selepas jembatan sungai cikarang yg aliran airnya telah mendekati muaranya di tepi laut, pohon kelapa semakin banyak, hembusan dan aroma laut pun mulai merebak, dari kejauhan sayup2 mulai terdengar hempasan gelombang. Saya hapal sekali dg aroma laut, hembusan angin dan suara hempasan gelombang nya, karena waktu kecil pernah tinggal di kota Padang, dimana rumah tak jauh dari pantai. 

Melintasi jalanan tersebut, jadi teringat dg lagu Rayuan Pulau Kelapa, lagu wajib yg dulu sering dinyanyikan ketika sekolah. 

“Tanah airku aman dan makmur

Pulau kelapa yang amat subur 

reff :“Melambai lambai , nyiur di pantai” 

yang masih bisa kita rasakan saat ini , mungkin hanyalah bunyi syair “nyiur melambai di tepi pantai” ,  sedangkan  bagian syair “tanah air yg aman & makmur”, rasanya saat ini bagaikan impian yg makin menjauh saja. Impian ttg Negara Indonesia yg kita dengar dan kita cita2 kan waktu SD dulu, rasanya hanya jadi mimpi masa lalu… 

Pohon kelapa yg berjajar di tepi jalan dan makin banyak , dg lambaian daun nyiur nya yg tertiup angin laut, menandakan laut makin dekat , bunyi hempasan ombak di tepi pantai pun mulai terdengar, alhamdulillah, akhirnya sampai jugalah perjalanan jauh ini, spedo meter menunjukkan jarak tempuh sekitar 80 Km sejak kita memulai perjalanan dari pantai pelabuhan ratu. 

Pantai ujung genteng, berpasir putih dan di beberapa tempat tampak batu karang menjulang dari tengah hempasan ombak. Sepeda pun dibawa sampai ke pantai, ditidurkan di hamparan pasir putih, saya pun pergi ke sebuah batu karang besar yg agak menjorok ke arah laut, yang juga ujung dari daratan ujung genteng, ujung akhir dari perjalanan kita sejak menuruni pebukitan tinggi tadi 

Saat duduk di atas batu karang tersebut merupakan sebuah pengalaman yg mengesankan , di sebelah kanan dan kiri adalah bibir pantai dan di depan terhampar samudra luas, kita bagaikan sedang berada di ujung dunia. Sempat lama juga saya duduk bermenung diri di atas batu karang tsb, bayangkan betapa kecilnya diri ini, di tengah keluasan samudra raya, betapa lemahnya kita, menghadapi keperkasaan hempasan gelombang laut. Dalam hadist nabi ada dikatakan, bahwa pengetahuan kita bila dibandingkan dg pengetahuan Tuhan yg menciptakan alam semesta ini ,bagaikan setetes air di jari tangan yg kita masukkan dalam pasir pantai, berbanding dengan air di samudra luas, masya Allah , betapa kecil dan bodohnya kita ini, namun tak semua orang mau mengakui nya. 

Terbayang pula, bahwa suatu saat kelak kita pun akan sampai ke ujung dari perjalanan hidup ini, di hadapan akan terhampar pula “samudra” kehidupan yg lebih luas lagi, alam akhirat, dimana kebanyakan orang takut dan tak tahu menghadapi nya, bagai menghadapi samudra luas tak bertepi. 

Hanya “pelaut’ yg telah faham arah lah yg bisa mengarungi nya samudra tsb dengan selamat. Mau tak mau,perjalanan hidup kita akan mencapai ujung tepi akhirnya pula, entah kapan dan dimana, Namun akan menemui kita,  marilah kita selalu bersiap diri, agar tak menjadi orang yg menyesal atau tersesat. 

Malamnya kita menginap di sebuah losmen kecil di tepi pantai, yang hanya berjarak sekitar 10 meter dari bibir pantai, sehingga suara hempasan ombak dan angin laut terasa sampai ke kamar kita. Saat malam, ada seorang teman yg sulit tidur, ia bilang seandainya ada gelombang tsunami, kita sudah nggak sempat lari kemana mana, sehingga sepanjang malam pikiran nya penuh dg ketakutan, memang beberapa bulan yg lalu, gelombang tsunami , menghantam pantai selatan jawa barat.

Alhamdulillah ketika bangun di pagi hari dalam kondisi aman2 saja, tapi memang kita tak bisa tahu dimana batas akhir hidup kita. Di losmen tsb, bertemu juga dg beberapa wisatawan asing yg sengapa datang utk surfing di pantai tsb, yg ternyata telah terkenal juga ke berbagai penjuru dunia sbg salah satu tempat surfing yg tinggi ombaknya. Saya sempat ngobrol2 panjang juga dengan mereka tentang kegiatan surfing dan kegiatan wisata mereka secara umum. 

Ternyata bagi mereka dan orang2 dari Negara maju lain nya, sudah terbiasa membuat planning dalam hidup mereka, setidaknya rencana tahunan,  bahwa sekian persen dari uang dan waktu mereka telah dipersiapkan jauh2 hari utk bepergian ke berbagai tempat di penjuru dunia, positif juga untuk membuka wawasan hidup ini. Karena itulah sering kita lihat turisme adalah sebuah kebiasaan mereka sejak muda sampai tua bangka sekalipun, mereka senang berjalan keliling dunia.

Setidaknya ada bagusnya juga , lebih baik daripada sebagian kita yg bagai katak dalam tempurung, tak pernah pergi jauh dan merasa cukup saja di tempat tinggal sendiri, sehingga kurang berkembang pula wawasan hidup ini.  Setelah sempat ngobrol jauh dan diskusi dg mereka, tentang berbagai hal, termasuk tentang kehidupan ini sendiri, saya sampai berpendapat bahwa bagi mereka ( orang barat sekuler)  hidup ini sederhana saja, cari uang-materi sebanyak mungkin, terus menikmati hidup spt pergi berwisata keliling dunia, spt pergi surfing jauh ke ujung genteng ini misalnya dan kegiatan2 lain untuk meraih kenikmatan hidup, nampaknya itulah cita2 hidup sebagian mereka, menikmati sepuasnya kehidupan ini. Karena bagi mereka, khususnya yg berfaham hidup sekuler, kehidupan, ya hanya di dunia ini saja, nikmatilah sepuasnya, sebagian mereka tak mempercaya adanya hari akhir. 

Bagi sebagian mereka yg mempercayai adanya kehidupan selepas mati ( hereafter ), ada kepercayaan bahwa bila seorang manusia mati, meninggalkan dunia yg fana ini, they are guarantee go into paradise , no way to hell , whatever he done in his life, it’s just a simple life , so just enjoy your life…. 

Semoga kita yg percaya alam akhirat dan bahwa keadaan kita di akhirat kelak, adalah tergantung amal kelakuan kita selama hidup di dunia ini, ada baik dan buruk, ada amal ada dosa, ada surga dan neraka, semua kemungkinan masih terbuka,  perlu usaha dan perjuangan, Life is not just a simple way to find enjoyment 

Tak jauh dari tempat kita menginap, ada pantai yg dikenal dg nama Pangumbahan, yang adalah tempat bertelurnya penyu raksasa yg termasuk hewan langka. Sebagai informasi, penyu tak bertelur di sembarang tempat di dunia ini, ada beberapa tempat tertentu seperti pantai daerah ujung genteng ini yg menjadi tempat mereka bertelur.Sudah menjadi bagaikan suatu hukum alam sejak jaman dulu, bahwa penyu2 tsb entah dari lautan mana asalnya akan bertelur di sana. 

Penyu hanya bertelur setahun sekali, sekali bertelur cukup banyak, bisa 80 – 100 butir, resiko kehidupannya cukup tinggi pula , karena bisa jadi telur nya yg ditetaskan di dalam pasir pantai dimakan binatang lain, atau anak2 penyu yg baru lahir, ketika akan berenang ke laut dimakan ikan lain, sehingga hanya ada sekitar 5-10 % penyu yg dilahirkan bisa hidup selamat sampai besar, yg suatu saat kelak mereka akan kembali ke sana utk bertelur, entah bagaimana cara navigasi mereka sehingga tak tersesat. 

Ternyata saat ini ancaman paling besar berasal dari manusia, yg sering mengambil telur penyu tsb , lebih banyak daripada yg diambil  binatang lain yg hanya mengambil sesuai apa yg bisa dimakan nya saja, manusia mengambil banyak bukan hanya untuk dimakan sendiri tapi untuk dijual pula, sadarlah kita bahwa diantara makhluk Allah, manusia adalah yg paling rakus dan perusak terhadap kelestarian alam dan makhluk lain nya, walau pada sisi lain dikatakan manusia adalah yg paling mulia pula. Cerita tentang penyu tersebut menutup cerita perjalanan kita, semoga ada pelajaran berharga yg bisa diraih. 

gambar2 indah perjalanan bisa di lihat di alamat website berikut ;< http://hdmessa.multiply.com/photos/album/10>

10 comments on “Bersepeda ke ujung dunia

  1. achmad
    26/08/2007

    ini adalah karya yang bagus

  2. Hendra Messa
    26/08/2007

    terima kasih atas comment nya ,
    pak Ahmad

  3. omdien
    18/09/2007

    Janten kabita hoyong sasapedahan..
    bade naros kang…
    sapedah gunung nu sedang…. teu mahal teuing teu awis teuing…
    merek na naon nya kang, pangawis na sabaraha ???

  4. Hendra Messa
    18/09/2007

    haturan atuh kang Dien,

    se-eur sapedah nu harganya terjangkau oge.

    ada beberapa merek antara lain; Poligon, United, specialized dll.

    Untuk ukuran biasa, harganya berkisar antaran Rp 1 sampai 3 juta. tergantung spesifikasi teknisnya dan penggunaan nya.

    bisa nyicil juga, secara bertahap beli komponen2 dulu, sampai beres ngebangun sendiri di bengkel, menarik juga.

    hampir mirip komputer lah, harganya tergantung mau pakai pentium berapa ? , utk dipakai apa ?

    mangga atuh, kang bisa tanya teman2 B2W
    ( bike to work ) yg mulai banyak di kalangan eksekutif muda jakarta

    salam
    HM

  5. Asep Cickmat
    19/01/2008

    Kapan-kapan kalo mo ksana lagi aku boleh ikutan ya…

  6. hdmessa
    20/01/2008

    halo pak Asep ,

    mangga wae, silakan saja.

    seru juga tuh, kalau langsung di gowes dari cilegon – carita – labuan, pelabuhan ratu.
    bersepeda lintas pantai.

    salam
    HM

  7. Kees Adamse
    06/07/2008

    Saya dari Holland mau bilang , saya pernah tinggal di kebun teh Surangga saat saya masih kecil. Sekarang umur saya 73 dan tinggal di Holland.
    Saya pergi ke Surangga tahun 1981.

    Pak apakah ada foto2 dari kebun teh tersebut ?

    Terimah kasih
    Kees Adamse

  8. hdmessa
    07/07/2008

    Terima kasih tuan Kees,
    telah menengok blog saya , dari Holland yg jauh.

    senang sekali bisa bertemu dg tuan Kees yg pernah di tinggal di kebun teh Surangga sukabumi, jawa barat, daerah dataran tinggi yg indah.

    waktu lewat ke sana, saya tak sempat banyak ambil2 foto, ada 1 satu foto ttg kebun teh tsb, bisa dilihat di alamat blog berikut ; http://hdmessa.multiply.com/photos/album/10

    di blog saya tsb ; http://hdmessa.multiply.com/photos/
    ada juga foto2 kebun teh lain nya di jawa barat,
    di ciwidey dan pangalengan , kebun2 teh yg dibuka orang2 belanda dulu dan sampai sekarang masih terpelihara

    salam
    Hendra

  9. Kees Adamse
    08/07/2008

    Selamat pagi Pak,

    Terima kasih untuk foto2nya. Saya juga ada foto dari bapak saya di jembatan itu ( jembatan bagbagan pelabuhan ratu ) .

    Saya juga tau Ujung Genteng dan Pelabuhan Ratu, Pengalengan, Ciwidey.

    Terima kasih sekali lagi,

    Kees Adamse
    Holland

  10. hdmessa
    09/07/2008

    sama2 pak Kees,

    jembatan tsb memang telah dibangun sejak jaman belanda dulu, saat ini masih berdiri, tapi tak digunakan utk kendaraan, ada jembatan baru yg dibangun di sebelah nya.

    by the way, saya kagum dg kiprah orang2 belanda yg dulu membuka perkebunan teh di daerah2 tsb

    salam
    HM

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on 13/04/2007 by in journey inspiration.
%d bloggers like this: