Inspiring points

Reflective story from journey of life , Alam terkembang jadi guru

ESQ antara quotient & intelligent

brain-3a.jpg 

Dalam dasawarsa terakhir ini, telah berkembang dg pesat pemahaman2 baru mengenai kecerdasan manusia, yang antara lain dipicu oleh ide2 dari para ahli, spt ; 

Howard Gardner , Multiple Intelligent Daniel Goleman , Emotional Intelligent

Danah Zohar , Spiritual Intelligent

Paul Stoltz , Adversity Quotient

Martin Seligman , Authentic Happiness

Yang intinya ialah bahwa disamping IQ yg selama ini menjadi acuan kecerdasan seorang manusia, banyak potensi2 kecerdasan lain nya yg bisa dikembangkan. Dan proses pembelajaran akan sangat efektif ketika seseorang dalam kondisi bahagia. 

Di Indonesia sendiri, buku2 tsb telah banyak diterjemahkan dan telah banyak pula diaplikasikan secara praktis antara lain dalam dunia pendidikan.  Bahkan dikembangkan metode2 khusus untuk pengembangan diri, seperti ESQ ( Emotional Spiritual Quotient ) yg dikembangkan Ari Ginanjar, sampai ada pula rekan saya,  Khairul yg mengembangkan ide SEPIA ( Spiritual, Emotional, Power, Intelligent, Adversity ) dan berbagai2 ide lain nya. yg pada intinya , ialah untuk mengembangkan proses pengembangan diri yg seimbang, tak hanya berpaku pada kecerdasan rasional belaka, namun juga mengembangkan kecerdasan emosi, spiritual dll.Konsep ESQ dengan training2 nya , cukup menjadi fenomena yg positif saat ini Namun kalau kita kaji lebih dalam dari kaidah ilmu psikologi, sebenarnya istilah ESQ secara ilmiah adalah salah kaprah dalam pengistilahan, walaupun secara makna kata benar ada nya. Istilah IQ, Intelligent Quotient, adalah ukuran / tingkatan kecerdasan seseorang.

Quotient bermakna ukuran / nisbah, dan memang utk IQ telah ada ukuran nya yg telah diakui keabsahan nya secara ilmiah.

Namun untuk Emosi dan spiritual, sampai saat ini para ahli belum memiliki ukuran / tingkatan untuk hal2 tsb. Belum ada alat ukur seperti utk mengukur IQ.  Sehingga istilah Emotional Quotient, ataupun spiritual quotient, sebenarnya tak begitu tepat dalam penterjemahan nya, karena arti harfiah nya menjadi tingkatan /ukuran emosi dan tingkatan /ukuran spiritual. Untuk menterjemahkan makna, kecerdasan emosi atau spiritual, yg lebih tepat adalah  istilah Emotional Intelligent ( EI ) dan Spiritual Intelligent ( SI )  , sesuai dg makna kata nya.Nampaknya ada semacam kesalahan pemahaman istilah ketika ide2 dari buku2 tsb ( tulisan para ahli tsb ), diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia, mungkin dalam makna kita bisa memahaminya, namun bisa jadi sedikit permasalahan ketika istilah tersebut dikaji secara ilmiah (psikologi). 

Untuk sekedar brand ( merek ) bisa saja digunakan, tapi tetap perlu diberikan penjelasan ilmiah psikologis nya, setidaknya jangan sampai ide brilian kita, khas Indonesia mungkin bisa dianggap sebagai local genious, tidak salah juga secara ilmiah  Namun untuk menjaga agar tidak terjadi salah kaprah pemahaman secara ilmiah, kita perlu luruskan makna kata nya, agar makna ide tersebut ada standard pemahaman ilmiahnya yg bisa juga difahami oleh orang lain ( luar Indonesia ) 

Demikian sekedar masukan, yg mudah2 an ada manfaat nya, tanpa mengurangi rasa hormat saya, terhadap aplikasi ide2 mulia tsb

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on 16/04/2007 by in horizon - insight.
%d bloggers like this: