Inspiring points

Reflective story from journey of life , Alam terkembang jadi guru

melati dari jayagiri sampai ke oray tapa

 lintas-sepeda-di-lereng-gn-palasari2a.jpg

Melati dari Jayagiri
Kuterawang keindahan kenangan
Hari-hari lalu di mataku
Tatapan yang lembut dan penuh kasih …

Mentari kelak kan tenggelam
Gelap kan datang dingin mencekam
Harapanku bintang kan terang
Memberi sinar dalam hatiku

Kuingat di malam itu
Kau beri daku senyum kedamaian
Mungkinkah akan tinggal kenangan
Jawabnya tertiup di angin lalu

Bait syair tersebut teringat, waktu melintasi daerah Jayagiri, bersepeda turun gunung, down hill dari sekitar kawah gunung tangkuban perahu sampai ke kota Lembang,  Waktu sampai di Jayagiri, saya heran juga , kok nggak tampak ada bunga Melati, di sekitar hutan pinus daerah Jayagiri , lereng gunung Tangkuban Perahu, sempat tanya sama kang Hary Mukti , seniman yg barengan naik sepeda juga, Ia sampaikan bahwa maksud melati dalam syair lagu tersebut bukanlah bunga melati dalam arti sebenarnya , tapi  melati dalam makna yg lain, Kang Iwan Abdurahman, pencipta lagu tsb, mengatakan bahwa “melati” dalam lagu tersebut hanyalah sebuah perumpamaan. Melati adalah lambang kebanggaan, keagungan, dan keharuman. lagu ”Melati dari Jayagiri” bukanlah lagu cinta seperti banyak diartikan orang. Iwan bahkan menyebut lagu itu memiliki filosofi spiritual, menggambarkan tentang kehidupan alam dan cercahan harapan menanti esok hari di tengah gelapnya malam, seperti yang tercurah dalam reffrain lagu. ( PR )Namun suasana Jayagiri saat ini, sudah jauh berbeda dari suasana dulu saat lagu tersebut diciptakan, keindahan alam yg memberi suasana melankolik tak terasa lagi, udara tak dingin menusuk lagi, telah banyak lahan pebukitan di lereng gunung tangkuban perahu yg dibuka menjadi lahan pertanian , hotel, villa atau pemukiman. Bahkan villa2 mewah , mountain resort sudah sampai jauh ke lereng bukit mendekati hutan pinus, di seberang sana observasi bintang boscha bagaikan dikepung bangunan.

Saat menelusuri daerah hutan pinus, masya Allah indah sekali rasanya berada di tengah pohon2 pinus yg menjulang, yang mana dari sela2 nya memancar sinar mentari pagi. Sambil berjalan2 mencari pemandangan bagus ke arah selatan, saya sempat kaget juga melihat di bawah hutan pinus, ada tembok bata memanjang, ke pencari rumput sekitar saya pun bertanya ; tembok naon eta teh ? ( tembok apa kah itu )

“oh eta mah, tembok Villa” , kata pencari rumput ( itu tembok kompleks villa, perumahan mewah )

 tiba2 serasa hilang, ketenangan saat menikmati keindahan alam ini. sedih sekali rasanya mendengar cerita tukang rumput tsb, betapa keindahan hutan alam ini, tercemari oleh keserakahan para pemilik modal yg tega2 nya mengacak acak sketsa alam lereng gunung yg indah ini, dan pasti itu semua tak kan terjadi kalau tidak ada keterlibatan pemerintah setempat yg menjual ijin di tempat tersebut.

Issue lahan konservasi kawasan Bandung utara sampai ke lereng gunung tangkuban perahu ini, telah menjadi issue politik uang tingkat tinggi, yg membuat orang bagaikan “nenggar cadas” istilah sunda nya, bagaikan membentur tebing gunung batu patahan lembang, banyak dibicarakan, namun sampai saat ini, sedikit demi sedikit alam yg indah tersebut mulai hilang karena dikapling2 yg hanya bisa dinikmati orang kaya belaka. Tukang rumput dan penduduk miskin sekitar yg telah sejak dulu tinggal di sana, hanya bisa duduk menonton di atas rumput yg mulai mengering. Tak hanya dekat hutan pinus tersebut, saat berjalan di sekitar kebun teh Sukawana sampai ke daerah Cisarua, banyak terlihat daerah2 luas di lereng gunung yg dikeliling benteng tinggi yg ponggah pada orang sekitar nya, dan di dalam nya berdiri rumah2 mewah yang jarang2 pula ditempati. 

Di deretan gunung yg membentang dari timur ke barat, bukittunggul, tangkubanperahu sampai burangrang, sejak dari maribaya –cikole-lembang-parongpong-cisarua, kalau kita dari puncak gunung, akan bisa terlihat betapa daerah2 tsb sebagian telah dikapling2 dengan tembok dinding tinggi sekeliling nya, persis bagaikan dinding2 benteng kerajaan jaman baheula. Ada beberapa kompleks villa , mountain resort, restaurant sampai kompleks perguruan tinggi yg memiliki lahan luas dan sekeliling nya tertutup oleh tembok tinggi. Pemandangan lain yg menurut saya cukup mengganggu keindahan alam sekitar adalah deretan tower BTS , telepon seluler yg tumbuh tak beraturan. Bagai orang bodoh saya bertanya, apa tak bisa perusahaan2 tsb bekerjasama saja, buat satu tower besar untuk bersama, akan lebih murah biaya nya  dan tak merusak pemandangan. 

Kalau kita menengok rumah2 tuan kebon peninggalan jaman belanda, di berbagai perkebunan teh sekitar Bandung, tak ada kita lihat mereka membuat perumahan atau pabrik teh dengan benteng di sekeliling nya, paling pun kalau ada perlu batas dipagari dengan bambu agar binatang seperti kambing tak masuk ke dalam.  Nampaknya orang2 kaya jaman sekarang, merasa lebih ketakutan, banyak musuh, ancaman , dibanding orang2 belanda dulu, sehingga perlu membuat benteng yg tinggi dan petugas keamanan yg banyak, menyedihkan sekali bahwa kita sekarang lebih takut dg bangsa sendiri, lebih penuh kekhawatiran walau dibanding orang Belanda dulu ? Kalau melihat pada bentuk bangunan peninggalan jaman dulu, di daerah pegunungan kebun teh sekitar Bandung, bentuk bangunan nya pun di sesuaikan dg kondisi tropis , akrab tak sombong dengan alam sekitar nya, enak kita memandang nya.  Bandingkan dengan villa2 mewah yg dibangun saat ini, memang kelihatan bagus bagi penghuninya, tapi tak serasi dengan alam sekitarnya, tak ada kenikmatan dan keserasian dg alam sekitar nya. 

Dari perjalanan bersepeda sekitar hutan pinus dan kebun teh, dimana pada beberapa lokasi kita terhalang oleh tembok2 tinggi tsb, saya jadi berpikir dimana lagi hak publik, masyarakat umum untuk bisa menikmati keindahan alam ?Keindahan alam yg kita dapatkan secara gratis dari Tuhan, telah menjadi komoditi yg hanya bisa dinikmati dengan uang, orang miskin maaf saja yah, cukup lihat tembok sajah, atau menelan air liur melihat villa mewah dari rumah kecilnya… Saya sendiri sebenarnya sebelumnya pernah beberapa kali juga masuk ke sana , menyewa villa, atau makan di restoran alam sekitar sana, memang enak dan nikmat, suasananya pun beda, bahkan sekali waktu teman bilang, ndra, rasanya kayak di mangga dua saja, kalau dengar obrolan pengunjung nya.  Dari kamar villa atau dari meja restoran, saya tak bisa sepenuh hati menikmatinya, melihat ke area sekitar di luar tembok perumahan atau melihat masyarakat sekitar, suka tak sampai hati melihatnya, betapa kegembiraan orang2 kaya di mountain resort tsb, hanya jadi tontonan yg memilukan penduduk asli setempat yg hanya bisa jadi tukang kebun, satpam, tukang parkir atau bahkan tukang bakso yg tak boleh masuk ke dalam area karena di cegat oleh satpam yg adalah tetangganya sendiri pula…, sungguh memilukan.

Lagu melati dari Jayagiri, serasa menyambut kita, saat melintasi daerah lereng gunung tangkuban perahu, dalam perjalanan sepeda gunung, dg teman2 dari MTB Indonesia. Kita start dekat tempat parkir kawah gunung tangkuban perahu, kemudian turun menyelesup di kerimbunan hutan alam tropis di lereng gunung tsb. Selepas hutan tropis yg lebat, di arah bawah kita akan menemui hamparan hutan pinus yg lebat juga yg tumbuh di kemiringan lereng gunung yg cukup curam, sekitar 30 derajat. Di  sela sela pohon pinus kita menuruninya dengan sepeda gunung, melintasi jalan tanah yg dipenuhi akar2 pohon pinus, cukup extrim dan penuh resiko juga jalurnya dan kalau tak hati2 bisa celaka juga, kalau tak terjungkal sepedanya, atau menghantam batang pohon pinus.

Melintasi turunan tajam tersebut kita harus sangat hati2, dan timbul juga semacam ketakutan, namun disanalah di uji keberanian kita menghadapi tantangan, rasa percaya diri , ketenangan dan ketepatan menentukan pilihan sangat diperlukan, sikap ragu ragu, takut atau salah memilih jalur yg dilewati, akan membuat kita celaka. Begitu pulalah dalam kehidupan, kita harus hati2 dan tak salah memilih jalur perjalanan hidup ini. Kalaupun pernah terjungkal, bangkitlah lagi, jangan patah semangat, perjalanan hidup masih panjang. Ketepatan mengambil keputusan dan percaya diri, adalah juga salah satu dasar dari kaidah leadership dan manajemen.Saat melewati jalur tersebut, teringat kembali pesan kang Hary mukti, saat berdoa memulai perjalanan di puncak gunung tadi, agar kita berhati2 dan jangan sombong terhadap alam. Dari alam yang indah ciptaan Tuhan ini, marilah kita banyak mengambil pelajaran, menghargai dan melindunginya. Saya perhatikan juga, area sekitar hutan pinus, telah mulai kotor juga, karena para pengunjung membuang sampah sembarangan, teman2 BAM memberi contoh yg baik, saat kita istirahat, sampah2 bungkus makanan tak dibuang sembarangan, tapi dikumpulkan dan dibuang pada tempatnya.

Perjalanan menuruni hutan pinus tersebut berakhir di daerah wisata alam , bukit Jayagiri, yg menjadi inspirasi lagu tersebut, dan memang dulunya tempat tersebut adalah tempat yg sering dikunjungi para pencinta alam. Selepas daerah Jayagiri, sampailah kita dg jalan aspal sampai ke kota Lembang, dimana kita beristirahat makan siang di rumah makan ayam Brebes yg terkenal itu.

Dari kota Lembang, sepeda dimuat oleh kendaraan melewati jalan raya, menuju ke arah  maribaya, arah timur lembang. Melewati daerah wisata alam Maribaya, cibodas sampai berakhir di daerah perkebunan kina di kaki gunung Bukittunggul. Pemandangan alam sangat indah, jalur jalan yg kita lalui adalah searah dg jalur patahan sesar lembang yg terkenal dalam ilmu geologi. Patahan Lembang adalah bagaikan bukit tebing batu yg memanjang sekitar hampir 10 Km , dari barat ke timur , mulai dari Lembang sampai ke daerah gunung palasari di utara daerah Ujungberung Bandung. Kalau dari kota Bandung memandang ke arah utara , kita melihatnya bagaikan bukit yg memanjang di kaki gunung tangkuban perahu ke arah timur. Ternyata pemandangan dari arah utaranya ( sebalik kota Bandung ) sangat indah sekali. Karena formasinya berupa gunung batu lah, sehingga gua jepang di bangun di daerah dago atas, yg merupakan arah selatan kebalikan pebukitan batu tsb, konon orang jepang dulu ingin membuat gua sampai menembus sampai ke tebing sebelah utaranya, daerah maribaya-cibodas yg kita lalui tsb.

Dulu jaman SMA dengan teman2 pramuka saya pernah melintasi daerah tersebut dari lembang , maribaya, cibodas, bukittunggul sampai berakhir di sebelah atas daerah ujungberung. Jalur jalan tersebut adalah jalan kebun kina yg dibangun sejak jaman belanda.

Di kaki gunung bukitunggul, di tengah kebun kina, terdapat pabrik pengolahan kulit kayu kina yg menjadi bahan baku obat kina yg diolah di pabrik kina di jalan cicendo-pajajaran.  Terbit kekaguman juga terhadap ahli2 belanda dulu yg sampai terpikir menanam kina di daerah yg terpencil ini, bayangkan bagaimana hampir seabad yg lalu dengan teknologi dan transportasi yg masih sederhana, mereka membawa bahan baku kina dari sini untuk diolah di Bandung. Sungguh disayangkan sudah sekian puluh tahun berlalu, tak ada kemajuan berarti, pabrik kina tsb rasanya tak jauh beda dengan kondisi jaman baheula.

Dalam mitologi dongeng orang sunda , gunung bukittunggul yg berada di sebelah timur gunung tangkuban perahu, namanya berasal dari cerita dongeng bahwa daerah tsb dulunya banyak tunggul2 pohon ( tunggul sisa tebangan ) , yg menjadi bahan pembuat kapal ( perahu ) sangkuriang berdasar permintaan dayang sumbi, ibunya sendiri. Sedangkan sisa dahan2 dan daun yg menjadi bahan pembakar yg menerangi malan tsb, menjadi gunung Burangrang, di berada di sebelah barat gunung tangkuban perahu. Perahu yg tak jadi tersebut kemudian ditendang dan menjadi gunung tangkuban perahu ( perahu yg terbalik ).  Itu semua hanya legenda mitologi yg penuh makna simbolik, bukan kejadian sebenarnya, Namun cerita tersebutlah yg mendasari orang sunda memberi nama gunung2 di utara kota Bandung tsb. Dongeng tersebut saya dapatkan dari penduduk sekitar waktu camping dengan teman2 pramuka di daerah tersebut jaman SMA dulu.

Sampai di tengah lembah kebun kina diantara gunung Bukittunggul dan gunung Palasari , kita melanjutkan perjalanan bersepeda melintasi hutan lebat di lereng gunung Palasari ke arah selatan, yg mengarah ke daerah ujung berung, bandung timur.Selepas mendaki hutan pinus, kita menapaki jalur setapak yg sempit di lereng gunung, di sebelah kiri dinding tebing dan di sebelah kanan menganga jurang dalam, dimana di sebelahnya terhampar lembah indah kebun kina sampai ke kaki gunung bukitunggul yg menjulang tinggi. Pemandangan yg menakjubkan namun cukup mendebarkan pula.

Sehabis menyusuri jalan setapak di lereng gunung tersebut sampailah kita ke hutan pinus yg berada di sebalik gunung arah ke selatan, di balik ranting2 pinus, mulai tampak terhampar kota Bandung jauh dibawah sana, Dari hutan pinus, jalanan pun mulai menurun dan cukup curam juga, teman2 pesepeda pun meliuk liuk diantara batang pohon pinus, harus cukup hati2 pula melewatinya. Jalan turunan cukup curam juga dan panjang, tapi cukup rata, tak terhalang oleh akar2 pohon pinus, seperti turunan di daerah jayagiri tadi.

Di lereng selatan gunung palasari sampailah pula kita ke daerah yg dikenal dg nama Oray tapa, daerah yg berada di puncak pebukitan, dimana pemandangan lepas ke arah bandung timur, indah sekali. Di area tsb ada beberapa lokasi yg sering menjadi tempat wisata alam, dg pemandangan lepas ke Bandung, Oray tapa, Caringin tilu di arah ke barat dan Kiara paying di arah ke timur diatas daerah Jatinangor, utara kampus IPDN.

Oray tapa, dalam bahasa sunda, artinya tempat ular bertapa, sebuah nama yg cukup seram juga, Di sekitar daerah tersebut ada dua nama kampung yang bila mendengar namanya bisa mencuatkan sebuah sejarah. Di sebelah utara Oray Tapa ada kampung bernama Kaprabonan dan di sebelah selatan juga ada kampung bernama Arcamanik. Kaprabonan, berasal dari kata kaprabuan. Prabu itu sebutan bagi seorang raja. Kemudian juga ada arca manik, artinya patung berwarna hitam. Seandainya kita berpikir bahwa dahulu kala wilayah ini merupakan sebuah kerajaan, amat mungkin terjadi.

Walaupun tidak jelas benar, namun puluhan tahun silam, penduduk di sini khabarnya sering menemukan benda-benda yang diduga peninggalan masa silam. Para peneliti pun sebenarnya sudah banyak menemukan artefak di wilayah Bandung Utara. Mereka menyebutkan bahwa di Bandung Utara sudah ada kehidupan sejak zaman purbakala.Namun nama Kaprabonan atau kaprabuan dan arcamanik (patung hitam) mungkin tidak terjadi di zaman purbakala. Mungkin kurun waktunya masih lebih dekat dengan kita. Entahlah apa hubungan nya antara oray tapa ( tempat ular bertapa ) dengan patung hitam dan nama kerajaan, belum ada ahli sejarah yg menelitinya, nampaknya memang daerah tsb dulunya memiliki cerita sejarah tersendiri.

Di sebelah baratnya terdapat daerah Caringin tilu ( tiga beringin ) , dinamai dg nama tsb karena memang di atas bukit tsb dulunya terdapat 3 pohon beringin yg berjejer, namun saat ini hanya tinggal 2 pohon. 1 Pohon telah tumbang sekitar thn 1998, penduduk setempat berpendapat bahwa tumbangnya pohon tersebut adalah sebuah pertanda keruntuhan di tempat lain, dan memang di tahun itulah turun nya kekuasaan pak Harto. Nampaknya daerah Bandung timur, dulunya banyak pohon beringin / kiara, sehingga kita kenal nama2 seperti caringin tilu, kiara payung atau kiara condong yg jadi nama jalan besar di kota Bandung.

Sayang semuanya saat ini sudah menghilang, dataran tinggi pun, sekitar caringin tilu, oraytapa sampai ke kiarapayung sudah mulai banyak yg gundul lahan nya, tak banyak lagi pepohonan, air mulai berkurang di musim kemarau, dan di musim hujan, air sungaipun berwarna coklat tanda erosi yg kemudian menjadi banjir di daerah Bandung selatan. Daerah pebukitan Bandung utara, adalah juga sumber air minum PDAM utk warga kota Bandung, Di lereng gunung manglayang banyak terdapat pula sumber air yg menjadi air baku utk instalasi air minum isi ulang di Bandung. Karena dataran tinggi tersebut mulai gundul, serapan air pun berkurang, sehingga warga kota Bandung kesulitan mendapat air bersih saat kemarau, namun saat musim hujan, giliran daerah Bandung selatan kebanjiran, karena aliran air dari daerah utara, tak terserap ke tanah yg gundul, malah menggerus lapisan subur di atas tanah menjadi erosi, sehingga tanah pun berkurang kesuburan nya. Karena tak subur lagi, para petani tambah naik ke atas bukit lagi menjarah lahan di area hutan, bagaikan lingkaran setan yg tak berujung, yg merugikan kita semua akhirnya.

Kondisi Bandung utara saat ini, jauh sekali dengan kondisi sekitar 20 tahun yg lalu, udara Bandung  saat masih  kecil, saya sempat tinggal di daerah Bandung timur, dan kalau melihat ke arah utara , tampak pebukitan yg rimbun dg pepohonan, dan di atas2 bukit dari kejauhan tampak pohon2 besar, antara lain caringin tilu yg terkenal tsb. Saat itu udara kota Bandung masih jernih, belum banyak bangunan di pebukitan tsb.Keserakahan dan ketidakpedulian kita semua terhadap alam lingkungan sekitar kita, kelak akan menimbulkan bencana juga bagi kita, namun entah kenapa tak banyak orang yg berpikir jauh ke depan mengenai hal tsb, semuanya berpikir untuk kepentingan sesaat dalam jangka pendek.

Dari daerah hutan pinus di sekitar Oraytapa, kita terus menuruni jalan setapak yg cukup terjal, sampai akhirnya sampai di daerah kebun milik penduduk yg mulai merangsek ke daerah hutan. Desakan ekonomi membuat orang2 di desa makin luas membuka lahan ke arah atas, sampai ke daerah2 yg cukup kritis seperti berada di lereng bukit, yg cukup beresiko dari segi ekologis. Kita pun yg menempuhnya jalur tersebut perlu ekstra hati2 juga, karena turunan terjal sekali, bahkan ada yg sampai 60 derajat kemiringan nya, beberapa teman sempat terjatuh dari sepeda saat menuruninya.Selepas kebun ladang milik penduduk, kita pun sampai ke jalanan aspal , jl sindanglaya yg berujung ke jalan raya ujungberung, waktu sudah hampir magrib saya melanjutkan perjalanan sampai ke rumah di daerah margahayu raya, by pass, melihat kembali ke utara arah pebukitan tadi, bukit telah penuh dg titik2 lampu dari rumah2 penduduk yg sampai ke atas bukit. Nampaknya keindahan Bandung utara, hanya terasa indah saat malam hari saja.

Alam terkembang jadi guru

gambar2 perjalanan bisa dilihat di : http://www.flickr.com/photos/hdmessa/

2 comments on “melati dari jayagiri sampai ke oray tapa

  1. ugie
    26/09/2007

    wah treknya lumayan sae, upami kaitu deui ajak-ajak ah kang. Abdi nembean kana sapedah, hoyong ngiringan yeuh.

  2. Hendra Messa
    26/09/2007

    mangga wae kang Ugie,

    biasa nya yg suka main ke jalur tersebut, teman2 bikers dari BAM , biasa nya sering ngumpul dulu sabtu pagi di lebak siliwangi dago.

    untuk persiapan , yah sering2 juga latihan seperti ke jalur Dago – punclut

    salam

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on 24/04/2007 by in journey inspiration.
%d bloggers like this: