Inspiring points

Reflective story from journey of life , Alam terkembang jadi guru

Lintas kereta api alam parahyangan

Jalan kereta api meliuk liuk  menyusuri pebukitan hijau, melintasi lembah dalam, melalui pesawahan dan kebun teh hijau terhampar. Pada suatu tempat jalur meliuk tersebut menembus pebukitan, masuk terowongan panjang, gelap hampir 1 menit lama nya, sampai di ujung sana, tampak titik terang, itulah ujung terowongan, sampai kita keluar dari sana, masih terhampar pebukitan lain nya dan dari kejauhan tampak jembatan kereta panjang melintasi lembah luas, itulah jembatan sasat saat, jembatan kereta terpanjang di jalur ini, yg cukup menakjubkan juga saat melewatinya, bayangkan kereta api panjang dan berat  ini melewati jembatan yg kecil dan panjang, di bawah tampak lembah dalam menghunjam, agak ngeri juga, bagai melewati titian siratal Mustakim, Selalu bersyukur hati ini ketika sampai di ujung jembatan, Alhamdulillah selamat dan kota Bandung tercinta akan tampak sebentar lagi. Demikian lah sekelumit pengalaman menarik saat dulu sering naik kereta api Parahyangan, dan naiknya pun di tempat yg istimewa, di samping masinis di kepala lokomotif kereta, sebenarnya tak boleh numpang disana, tapi apa boleh buat, karena penumpang sangat penuh sesaknya, tapi sangat jelas sekali dan tampak indah melihat pemandangan alam parahyangan yg indah dari tempat tersebut, sebuah pengalaman masa muda yg selalu terkenang.

Jalur perjalanan Bandung Jakarta, adalah jalur yg paling sering saya lalui , saat dulu jadi pekerja commuter Bandung – Jakarta ( tinggal di Bandung kerja di Jakarta ) . Ada beberapa alternatif jalur, jalan darat lewat puncak-cianjur, atau jalan tol cipularang – cikampek , atau jalur kereta api , kereta api parahyangan yg legendaris.  

Sebelum jalan tol cipularang jadi, sarana KA adalah pilihan terbaik saat itu, cepat dan murah. Pada saat2 peak sesion ( jum’at sore sampai senin subuh ), kereta sangat penuh sampai berjejal di lorong sampai ke pintu penghubung antar kereta. Saat itu saya pun sering tak kebagian tempat duduk yg sudah pasti habis beberapa hari sebelumnya, tapi masih ada di calo tiket dg harga berlipat. Kalau tak kebagian tempat duduk, saya akhirnya banyak selonjoran di lorong atau di bagian penghubung antar kereta, atau bisa juga di gerbong makan. Kalau tak kebagian juga, sebagian penumpang naik di gerbong barang yg sering kosong, duduk berselonjor disana rasanya bagaikan naik pesawat hercules transmigrasi he..he… Tapi ada enaknya di gerbong barang ini, dengan menggelar tikar, kita bisa tidur terlentang, nyaman sekali kalau pergi pagi subuh, bangun2 sudah sampai di jakarta, teman2 menyebut nya kelas “super executive”.

Sekali waktu saya pernah juga diajak teman naik di ruang masinis di lokomotif kereta, memang sempit, tapi cukup juga untuk beberapa orang penumpang tambahan, yg sebenarnya tak diperbolehkan. Sungguh menakjubkan pemandangan kalau kita berada di ruang masinis tsb, pemandangan luas lepas, sangat mengasyikkan saat akan masuk terowongan dan saat melintasi kegelapannya, namun jauh di ujung sana, tampak secercah sinar kecil, itulah mulut terowongan. Terasa plong bila kita keluar terowongan, selepas kegelapan sejenak, mungkin seperti itulah pula perjalanan kita menuju ke alam akherat kelak.  Akhirnya tercapai juga cita2 saat kecil, ingin naik kereta di kepala kereta, tempat masinis.

Pemandangan yg indah sepanjang perjalanan, dan goyangan halus kereta, membuat saya banyak melakukan perenungan. Merenung sepanjang  perjalanan dari Bandung ke Jakarta, ternyata bisa sebagai gambaran dari sekelumit perjalanan sejarah negeri ini.  Jalur dari Bandung sampai Cikampek, masih asri, penuh dg pebukitan , sawah, kebun teh/ karet , sedangkan jalur dari cikampek sampai jakarta adalah jalur yg banyak kawasan industri didirikan 

Kalau di analogikan dengan era Sosiologi , jalur antara bandung cikampek akan kita temukan suasana era agraris (pertanian) , sedangkan dari Cikampek sampai jakarta adalah suasana era industri. Kalau kita berangkat dari Bandung ke Jakarta, keluar kota Bandung , kita akan menemui alam yg masih asri , pegunungan dll. Akan sangat jelas terlihat kalau kita naik kereta api. Keluar kota Bandung selepas Padalarang , kita akan menemui hamparan pebukitan , pesawahan , rel kereta api akan meliuk liuk diantara bukit dan lembah , bahkan ada jembatan kereta yg sangat panjang melewati lembah yg dalam , jembatan sasak saat panjang nya sekitar 600 meter , melewati lembah yg dalamnya sekitar 60 meter di titik tertinggi nya. 1 km kemudian rel kereta akan masuk ke dalam terowongan membelah bukit sepanjang hampir 900 m.

Selepas terowongan kita akan menemui hamparan perkebunan teh, di daerah cikalong, dilanjutkan dg pebukitan dan pesawahan sampai ke daerah sekitar waduk jatiluhur. Selepas waduk jatiluhur , kita akan lewati daerah plered yg terkenal dg industri kecil keramik nya , berlanjut sampai purwakarta- cikampek akan banyak ditemui industri2 dan daerah perkotaan. Bisa dikata ini adalah daerah transisi antara era agraris dg era industri. Antara Cikampek sampai Jakarta adalah daerah yg banyak pabrik, kawasan industri, cerminan era industri. 

Ada cerita menarik ketika beberapa tahun yang lalu ketika sering naik kereta api parahyangan , di lintasan antara cikalong sampai plered , dimana penduduk sekitar rel adalah masyarakat petani yg miskin , ada saya temui seorang penumpang kereta api  yg misterius yg ketika kereta sedang berjalan, melemparkan berbagai macam makanan dan bingkisan lain nya pada masyarakat di pinggir rel tsb.

Masyarakat di daerah itu pun nampaknya sudah tahu sehingga mereka selalu berkumpul di sekitar rel, pada saat2 tertentu.  Waktunya antara lain sekitar sore hari, sehingga bila kita lewat jalur tersebut sekitar jam 7 malam, maka sepanjang jalur tersebut banyak penduduk yg berdiri di pinggir rel sambil membawa obor , berharap2 menunggu lemparan bingkisan dari pintu kereta yg lewat. Saya sempat satu gerbong dengan dermawan bersangkutan, seorang bapak tua yg nampaknya tak ingin diketahui orang banyak amalnya, tsb, sehingga cenderung menghindar. Telah lama saya tak menemui lagi darmawan misterius tersebut 

Daerah lintasan sepanjang cikalong sampai menjelang plered adalah daerah pertanian yg relatif subur, tapi rakyatnya kurang makmur.Menjelang plered, daerah industri kecil keramik, kondisi ekonomi masyarakat mulai membaik, terlihat dari rumah2 nya yg cukup bagus.Dari cikampek sampai jakarta, kita akan disuguhi pemandangan kawasan industri di sela sela pesawahan , sampai bekasi dan jakarta, industri mulai berkurang , berganti pemukiman padat. 

Lain lagi ceritanya kalau kita menggunakan jalan tol , mulai ruas tol cipularang dan ruas tol cikampek. Di ruas tol cipularang kita akan disuguhi pemandangan yg indah pula pebukitan priangan si jelita , kata pengarang Ramadhan KH. Ruas tol cipularang banyak bersinggungan dengan jalan rel kereta api ruas antara padalarang sampai purwakarta. Menurut teman ahli geologi, daerah memanjang sejak dari majalengka-subang-purwakarta sampai ke jonggol, adalah daerah yg dikenal dg istilah geologi sebagai formasi Subang, dimana banyak terdapat tanah lempung ( karena itu pulalah di Plered banyak pengrajin keramik yg bahan dasarnya adalah tanah lempung ) , sehingga banyak kita temui tanah longsor atau bergeser pada jalan2 yg berada di jalur tersebut. Sehingga kejadian longsor yang seringkali menimpa ruas jalan tol cipularang , adalah hal yg telah dimafhumi oleh ahli geologi ,namun kenapa sampai tetap terjadi juga , tetap menyisakan sebuah pertanyaan yg mungkin sebagian kita sudah bisa menduga jawaban nya.

Jalur rel kereta api di sekitar daerah tsb ada juga yg pernah mengalami anjlok walau kecil, seperti di daerah ciganea-purwakarta , tapi saya lihat pengelola kereta api , telah bisa mengantisipasi dengan baik. Dan saya punya keyakinan bahwa para insinyur pembuat jalan dan rel , di jaman Belanda dulu , telah mengetahui juga karakter tanah tersebut sehingga mereka bisa membuat jalan dan jalur rel dg baik, sehingga bisa kuat puluhan tahun. Jalur rel kereta api tersebut dibangun hampir seratus tahun yg lalu. terowongan kereta api di dekat jalur tersebut, selesai dibangun tahun 1902 , tertulis di dinding kalau kita akan memasuki terowongan.  

Ada hal yg menarik kalau kita melakukan perbandingan antara jalan rel kereta api dan ruas jalan tol yg lokasinya berdekatan tersebut , dimana jalan tol nya sering longsor, sedangkan jalur rel kereta api lebih tahan lama , menyisakan sebuah pertanyaan miris , betapa para insinyur belanda jaman jajahan dulu , bisa membuat jalan dengan baik , sedangkan para ahli kita yg hampir seratus  tahun kemudian membangun jalan di jalur yg sama , ternyata banyak menemui masalah ? ada apa selama seratus tahun ini ?  Lepas ruas tol cipularang kita akan memasuki ruas jalan tol cikampek, di jalur ini lain lagi ceritanya, kita akan disuguhi pula karakter pengguna jalan tol Indonesia, yg tak mempedulikan aturan.  

Pada saat2 tertentu misal di malam hari atau subuh dini hari , ketika bis2 besar dan truk2 raksasa dari jalur pantai utara Jawa (Pantura )  ingin cepat2 memasuki jakarta sebelum pagi hari , agar tak terjebak kemacetan atau dicegat polisi, mereka berkejaran di jalan tol tsb. Betapa mobil2 bis2 besar jago balap dari jalur pantura dengan penuh keberanian menyalip kendaraan di depannya dari sebelah kiri, melalui bahu jalan , di ikuti pula oleh mobil2 sedan baru berkecepatan tinggi , kadang mereka kucing2 an dg mobil patroli jalan tol . Suatu tindakan yg sangat berbahaya , menyalahi aturan , dan terbukti ruas jalan tol ini sering terjadi kecelakaan. Itulah cerminan yang menggambarkan sikap dari sebagian kita2 juga 

Menjelang pintu tol pondok gede bekasi sampai ke cawang – grogol , kita akan disuguhi kemacetan yg memanjang. Di tengah kesuntukan menghadapi kemacetan tersebut ada tulisan nakal dari iklan di pinggir jalan tol ” Mendapat hambatan, di jalan bebas hambatan” , tanya kenapa ? 

Baik melewati jalur rel kereta api, ataupun jalur jalan tol , melewati area agraris antara bandung sampai purwakarta maupun di area industri antara cikampek – jakarta , kalau jeli kita melihat banyak permasalahan yg cukup esensial , pada masyarakat agraris dan masyarakat industri dan juga adalah cerminan dari kita semua juga. 

Pada daerah2 pertanian yg subur tanah nya, para petani, tak bisa serta merta menjadi makmur karena kondisi alam tersebut , walau tanahnya subur menghasilkan banyak hasil panen, tapi nilai tukar hasil pertanian yg kalah bersaing dengan kebutuhan membeli barang2 industri membuat petani susah untuk bisa makmur. Istilah kasarnya , perlu jutaan butiran keringat untuk menghasilkan beberapa karung beras yg diperlukan untuk membeli barang2 keperluan era industri seperti televisi, radio, HP, motor , mobil atau untuk keperluan mendasar seperti untuk pendidikan dan kesehatan. 

Bahkan untuk kondisi yg kronis, petani terpaksa menjual gabah dengan harga murah,  tapi tak cukup lagi uang nya untuk mendapatkan bahan pangan yg layak . Apalagi untuk keperluan anak2 muda nya yg terbujuk rayuan untuk membeli barang komoditas kapitalis yg berharga mahal , seperti motor atau hand phone misalnya . Nilai jual hasil produksi pertanian , cenderung menjadi rendah nilai tukarnya bila dibandingkan dengan nilai beli barang2 industri. Istilah menjadi petani hanya membuat keluarga menjadi tambah miskin dibandingkan , bila mereka bekerja di perkotaan atau industri. 

Banyak terjadi para petani dengan hasil sawah dan ladang nya , membiayai sekolah anak2 nya sampai ke sekolah tingkat atas, SMA atau bahkan perguruan tinggi, tapi sungguh disayangkan ilmu2 yang mereka peroleh di sekolah , tak ada nilai tambahnya untuk meningkatkan hasil pertanian orang tua nya. Akhirnya mereka menjadi para pencari kerja di perkotaan, mulai dari Calon PNS sampai menjadi calon buruh2 pabrik yg bergaji pas pasan , sehingga tak cukup dana untuk menabung bagi pengembangan hidup keluarga nya sendiri.

Kurikulum pendidikan pada sekolah2 yg diterima anak2 di daerah pertanian tersebut, entah mengapa malah membuat mereka menjadi terasing dengan masalah pertanian, terasing dari daerahnya sendiri , dan malah tersedot dengan logika untuk menjadi pekerja di kota2 besar  Anak2 dari daerah pertanian tersebut lah , yg kemudian pergi ke kota atau kawasan industri antara lain menjadi buruh2 murah di daerah2 industri sekitar cikampek sampai jakarta , atau menjadi pekerja informal seperti tukang ojek, penjual makanan atau tukang kebun di perumahan2 mewah sebelah kawasan industri. 

Terjadi pemiskinan secara struktural dari masyarakat agraris, ketika mereka secara terpaksa tersedot ke masyarakat industri , mereka hanya menjadi sekrup2 kecil di era industri , tidak bertambah makmur hidupnya atau kasarnya tersisihkan.

Pada sisi lain daerah pertanian subur milik orang tua mereka, tak bisa terolah dengan cara yg lebih baik, banyak lahan terlantar, karena anak2 muda nya lebih memilih kerja di industri atau pergi ke kota, daripada berkotor2 di sawah atau kebun , yang hasilnya juga jadi tak seberapa. Apalagi dengan kasus seperti import beras atau import buah2 an yg marah akhir2 in, tambah membuat para petani terpuruk Ketika di luar negeri , pertanian telah dilakukan dg cara yg lebih modern dengan berbagai perbaikan metode dan teknologi , kebanyakan petani kita masih mengolah pertanian nya seperti cara yg sama berpuluh puluh tahun yg lalu, sehingga wajar saja pertanian kita kalah bersaing dg luar negeri. Diperparah lagi dengan kehilangan tenaga muda yg produktif yg pergi ke perkotaaan atau daerah industri. 

Entah siapa lagi yg akan membela para petani yg termiskinkan tersebut ?yah, dermawan yg saya ceritakan tadi, yg melemparkan bingkisan2 makanan sepanjang rel kereta api parahyangan, setidaknya cukup menjadi hiburan sementara bagi para petani miskin tersebut , walaupun tetap tak menyelesaikan permasalahan mendasar mereka. Kedermawanan bapak tua, tsb mungkin hampir mirip pula dengan beberapa program / proyek pemerintah, baik dari dana APBN maupun bantuan asing, untuk pengembangan masyarakat pedesaaan atau usaha kecil menengah, banyak yg akhirnya jatuh ke tipikal proyek , sekedar memberikan ikan, daripada memberikan kail yg lebih bisa berdampak luas dan jangka panjang. 

Di jalur area industri antara cikampek sampai jakarta , mungkin kita bisa menganggap majunya industri di negeri kita, tapi menurut saya itu semua semu, karena kalau di lihat, pabrik2 besar di sepanjang kawasan industri tersebut adalah sebagian besar milik PMA ( Penanaman modal asing ) , hanya sebagian kecil yg benar2 , milik swasta nasional , angka2 eksport yg tinggi , yg sering jadi harapan para ekonom makro, sebenarnya profit nya kembali ke pundi2 para investor asing yg menanamkan modalnya pada industri2 tsb.   Hanya sebagian kecil yg menetes kembali ke rakyat setempat, yg sawah2 dan ladang2 nya telah terjual menjadi kawasan2 industri tersebut. 

Coba pulalah tengok, betapa makmur nya expatriat asing pada PMA2 tsb yg penghasilan nya saja, bisa jadi hampir 100 kali apa yg didapatkan oleh buruh di pabrik yg sama , bayangkan , dana yg sebenarnya bisa untuk menghidupi 100 keluarga, habis oleh 1 keluarga expatriat asing yg kerja di perusahaan asing tsb ( yah , memang mereka yg punya usaha , wajar saja mereka mengambil profit yg besar, begitu logikanya ) , akan sangat terbalik sekali logikanya, bila orang Indonesia yg kerja ke luar negeri, jadi tenaga kerja kasar , malah dapat nasib yg  tidak baik , walau dia expatriat juga di negara tsb. Keuntungan kompetitif upah buruh rendah yg kita dengung2 kan selama ini kepada para investor luar negeri,benar2 membuat para buruh bekerja dg upah yg pas-pas an.

Saya lebih melihat jargon upah buruh rendah dan kemudahan investasi lain nya, hanya membuat negeri kita jadi buangan sunset industri ( industri yg tak efisien lagi ) , industri yg banyak pencemaran dan industri2 masal yg tak susah membuat buruh2 tersebut bisa hidup layak. Malah bisa jadi Itu semua , saat ini menjadi sebuah jebakan  bagi kita semua. Industri indonesia pun , rentan karena ketergantungan pada modal asing , sunset industri seperti tekstil hanya membuat negara kita menjadi buangan industri yg tak efisien dan mencemari lingkungan. Industri kita tak memiliki kekuatan yg mendasar, sehingga bisa oleng ketika diserbu produk2 murah dari negara seperti China.

Dosen saya di jurusan teknik industri ITB, dulu bercerita bahwa negara kita tak memiliki basis industri yg kuat, karena kita hanya banyak mendirikan pabrik2 , tapi tak benar2 membangun masyarakat industri, yah masyarakat kita masih berpola pikir agraris, walau di jaman industri sekalipun.sehingga bila ada sedikit guncangan saja terhadap industri seperti kenaikan BBM, TDL , atau hambatan quota eksport, kemajuan teknologi atau serbuan barang industri murah , industri kita mudah goyang karena nya. 

Pembangunan Industri2 yang tak terencana dengan baik menyisakan pula berbagai permasalahan kronis seperti sanitasi yg jelek di daerah sekitar nya , pencemaran , kemacetan dll.  Bila kita berjalan ke pinggir2 kawasan industri , akan kita temui pemukiman2 kumuh dimana buruh2 murah terpaksa tinggal dengan sanitasi yg jelek , jalan2 yg sempit sehingga menimbulkan kemacetan dan berbagai permasalahan sosial lain nya , seperti kriminalisme. 

Saya sempat bekerja di kawasan Industri Pulogadung Jakarta, dalam kawasan memang tertata rapih, tapi cobalah sekali2 tengok keadaan di luar dinding batas kawasan, kita temui pemukiman padat, rumah2 kumuh, gang2 kecil , got yg mampet dan sanitasi buruk lain nya, di sana lah tinggal buruh2 yg mendapat upah rendah ( walau masih di atas UMR ) , tapi memang hanya di sana lah mereka masih bisa tinggal sesuai upah yg mereka dapat kan. sanitasi lingkungan yg jelek pulalah ,yg menyebabkan banyak penyakit2 menular seperti deman berdarah, flu burung dll, begitu cepat menjalar dan susah untuk diatasi segera. Inilah salah satu harga mahal yg harus diterima masyarakat rendah, yang menjadi ekses dari proses pembangunan selama ini. 

Pada beberapa kawasan Industri di sekitar Jakarta , bila ada truk2 yg membawa barang untuk di kirimkan ke  pabrik2 di sana, atau membawa bahan bangunan , ia terpaksa memberikan semacam uang portal/lewat atau uang lelah untuk menurunkan barang2 di area tersebut. Supir2 truk sering di minta uang secara paksa ketika memasuki area tersebut oleh jagoan setempat , bila tidak akan ada permasalahan dengan keamanan barang2 mereka.

Beberapa kawasan industri , bahkan juga pada beberapa perumahan2 mewah sekitar jakarta ada yg areanya “dikuasai” oleh sekelompok preman2 setempat yg sekarang mulai memiliki nama organisasi resmi, padahal prinsipnya sama saja. Itu semua adalah masalah sosial yg menjadi dampak tambahan dari era industri yg banyak menyisihkan masyarakat agraris sekitar yg tak siap dengan perubahan.

Mereka adalah orang2 yg tersisihkan secara sistemik dan tak ada cara lain untuk menghidupi keluarga , sehingga akhirnya mencari jalan pintas, tapi akhirnya merugikan orang banyak juga. Bila dibuat perbandingan, mereka yang lebih bisa menyambut era industri adalah kaum pedagang , seperti etnis cina atau minang , mereka lebih bisa berhasil berkecimpung di dunia industri dibandingkan dengan mereka yg berasal dari era agraris, karena logika pedagang lebih dekat dg logika industri, daripada logika petani. Secara sosiologis, tahapan ideal perkembangan peradaban ialah dari masyarakat pertanian menjadi pedagang baru kemudian menjadi industrialis 

Tapi memang sudah demikian lah adanya saat ini , kondisinya, kita harus siap dan melakukan perbaikan sebisa nya. Sebab bila tidak gempuran2 dari  kekuatan global seperti kesepakatan WTO untuk hasil pertanian , konspirasi besar MNC global atau serbuan produk2 industri murahan , benar2 membuat kita menjadi bangsa koeli , suatu hal yg ingin dirubah sejak jaman bung Karno dulu . 

Asap knalpot bis kota dan kebisingan klakson mobil di tengah kemacetan jalan , rumah2 kumuh di pinggir rel ,  serta kumpulan para pengemis di perempatan jalan menjelang stasiun Gambir Jakarta ,menyadarkan diri, bahwa perjalanan kereta api Parahyangan sudah hampir sampai. Gedung2 tinggi yg mentereng yang banyak menjulang sampai ke sekitar tugu monas , bisa membuat hati berbunga menganggap negeri kita cukup maju.

Diantara gedung2 tinggi tersebut, menjulang juga gedung kedutaan besar Amerika , yg setidaknya menggambarkan pula betapa mereka memiliki peran yg tak sedikit pula di negeri kita ini. Namun pemandangan gedung2 tinggi tsb, tetap tak bisa menyembunyikan pemiskinan struktural yg sedang dihadapi  sebagian bangsa kita , karena di pinggir rel kita tetap menemui rumah2 kardus yg dihuni para tunawisma. 

Seandainya , sepanjang perjalanan antara bandung jakarta ini , ketika melewati pemandangan indah selepas kota bandung , saya tertidur dan baru terbangun menjelang stasiun gambir jakarta, melihat gedung2 tinggi menjulang , akan terasa bahwa negeri kita ini Indah dan maju ekonomi nya, tapi sayangnya mata ini tak bisa terpejamkan sepanjang perjalanan dari padalarang sampai menjelang jakarta, sehingga terlihatlah pula kisah2 yg memilukan tersebut. 

Seandainya pula saya tertidur sepanjang perjalanan tadi mungkin akan bermimpi indah , betapa tanah2 pertanian yg indah tersebut dikelola dengan teknologi tinggi, para pemudanya tak pergi jauh ke kota, tapi tetap berada di kampung nya , mengembangkan metode2 pertanian baru yg menghasilkan produk2 pertanian bermutu tinggi dan bernilai jual tinggi. Sehingga mereka pun bisa hidup layak, tak perlu berdesak desakan pindah ke kota besar. 

Para pemuda2 desa subur tersebut, merasa bangga tetap bekerja di tanah pertanian nya sendiri. Dan tetap bisa berlagak bagaikan pemuda kota besar, karena pendapatan nya cukup tinggi, hasil dari penjualan hasil pertanian yg cukup bersaing harga nya , sehingga mereka tetap bisa pula membeli barang2 komoditas kota besar. Pemuda desa yg kaya, tetap ada kemungkinan untuk meraih hati gadis jelita anak kota sekalipun. bagaikan pemuda Cowboy amerika , yang walaupun hanya pengembala sapi, tapi tetap bisa tampil keren. 

Walau rumah mereka di desa , para pemuda desa yg cerdas tersebut tetap bisa mengakses internet juga, bisa mengirim email , chating atau bahkan mengeksport hasil pertanian mereka atau hasil kerajinan di desanya ke luar negeri melalui komunikasi internet dengan pembeli diluar sana, mereka bisa cepat tahu harga komoditi pertanian via internet. 

Mengenai pengembangan pola pertanian , jadi teringat pula dg pola Kibutz yg dikembangkan di tanah2 pertanian negara Israel, dimana disediakan pula sekolah2 pertanian yg baik di enclave pertanian tsb , sehingga tanah pertanian tandus bisa diolah oleh para tenaga muda nya yg enerjik dan cerdas menjadi sentra2 pertanian yg produktif. saat ini Israel bisa dikata sebagai salah satu tempat yg paling berhasil mengembangkan teknologi pertanian bahkan di lahan kering sekalipun.

Bila hal yg mirip Kibutz tsb, dikembangkan pula di tanah2 pertanian negeri kita yg subur ini, betapa akan makmurnya para petani kita. Tak akan kita temui orang2 desa yg terpaksa pergi ke kota untuk menjadi para pengemis, pengamen di perempatan jalan atau bahkan menjadi pelaku kriminal yg membuat kita was was juga. Industri2 yg dikembangkan pun adalah industri yg berbasis pertanian / perikanan, sesuai keunggulan potensial negeri kita , atau industri2 lain nya yg tak mencemari lingkungan.

Antara daerah2 kawasan industri  dan daerah pertanian bisa bersanding dengan harmonis tanpa saling mencemari dan mengganggu dengan masalah sosialnya. Kawasan industri dibangun dengan perencanaan matang, seperti kawasan industri Guangzhou di China selatan atau semacam cyberjaya di Malaysia. Para pekerja nya pun bisa mendapatkan upah yg layak , sehingga mereka bisa menyekolahkan anaknya dg baik dan memberikan sanitasi yg baik pula untuk keluarga nya , sehingga terlahirlah anak2 yg cerdas pula. Pabrik2 yg berdiri sebagian besar adalah milik para pengusaha kita sendiri pula , sehingga keuntungan2 dari industri dan bisnis tersebut , akan menyebar pada masyarakat kita sendiri.Tak akan sampai terjadi ada kesenjangan pendapatan yg begitu jauh antara presiden direktur dengan office boy sekalipun. Keuntungan bisnis tersebut kemudian akan tersebar meluas , pada masyarakat kita pula , membawa kemakmuran bersama, gemah ripah loh jinawi , kata mas slamet, teman duduk di sebelah . 

“bangun-bangun dek” , kata mas Slamet  teman duduk di sebelah, sambil menepuk2 badan saya,  sudah hampir sampai nih , tepukannya, membuyarkan mimpi saya tersebut , bangunan tinggi di tengah kota Jakarta menjelang stasiun Gambir mulai terlihat jelas, tapi tetap tak bisa menyembunyikan, gubuk2 reot di pinggir rel , menyadarkan saya untuk kembali ke dunia nyata , inilah potret nyata negeri kita bersama

gambar2 lebih lengkap, pemandangan alam sekitar lintasan rel kereta api parahyangan dan jalan tol cipularang, bisa dilihat di website dg alamat :  http://hdmessa.multiply.com/photos/album/5

6 comments on “Lintas kereta api alam parahyangan

  1. Noor Azman Abd Rahman
    06/07/2007

    Jika saya mahu ke Bandung bagi melihat industri desa, dimana harus lokasi yang sesuai. Terutama kepada kepala desa yang mahu memajukan desa.

  2. hendra
    09/07/2007

    Terima kasih atas respon nya , pak Noor Azman,

    Industri pedesaan di sekitar Bandung, majority dalam bidang agriculture , pertanian, karena berada di dataran tinggi yg subur tanah nya.

    Di daerah Bandung selatan ada daerah pertanian sayuran, kentang, strawbery dll, serta peternakan sapi perah ( diambil susunya ). Terletak di daerah Ciwidey dan Pangalengan .

    Di daerah Bandung utara, selain pertanian juga terdapat usaha tanaman bunga hias. berlokasi di daerah Lembang dan Cisarua.

    Selain itu ada juga industri skala menengah dan besar dalam bidang textile dan garment di daerah Bandung selatan , sekitar Majalaya dan dayeuh kolot

    Demikian sekilas informasi nya,
    Mungkin ada informasi yg lebih jelas / focus diperlukan ?

    Terima kasih
    Hendra M

  3. omdien
    24/08/2007

    Wah.. bedol desa ni si Akang, dari rumah lama (multuply) biarin lah, biar lebih exist nya kang , btw dulu pernah ada tulisan tentang (ngalamun) mo bikin industri atau wilayah berbasis IT, lupa lagi judul na naon… pindahin juga yang kang.

    Emang bener sih, rute Bandung Jakarta tuh kurang lebih menggambarkan sejarah ekonomi negara kita, dari negara agraris ke negara industri. Daerah transisi nya di Purwakarta karena masih ada yang bertani sekaligus cing parucunghul pabrik-pabrik asing.

    Klo imbang sih gpp, tapi kayaknya trend sekarang lebih ke industri. Jadi jika ingin bernosatalgia “berswasembada beras” gaya orde baru perlu me review program lama, dan tentunya butuh waktu dan proses.

    Inget Muhamad Yunus Kang, yg dpt nobel dari bangladesh itu, dia merasa punya ilmu ekonomi tinggi dan mumpuni, begitu keluar rumah, melihat tetangganya hidup miskin. jadi mikir buat apa ilmu tinggi-tinggi tapi rakyat nya kelaparan, sampai muncul ide mendirikan Bank Desa .. walhasil sekarang sukses

    Minimal orang indonesia teh berfikir jiga kitu…

    Eleh..eleh… Jadi curhat nya…

  4. Hendra Messa
    26/08/2007

    nuhun kang Dien, comment na,

    kata pepatah,
    perjalanan panjang dimulai dg langkah2 kecil,

    jadi marilah kita mulai dari hal2 yg kecil, bagaimana kita bisa mandiri dari segi agraris

    salam

  5. rhe
    18/12/2007

    indonesia memang belum sepenuhnya siap menjadi negara berpikiran industri tapi dengan perkembangan industri sekarang sepertinya hal itu akan segera terwujud,,

    saya memang baru menjadi mahasiswa tek industri tapi saya yakin Indonesia akan berkembang dengan industri2 nya, walaupun saat ini industri rumah tangga d indonesia masih sedikit yang mampu mensosialisasikan produknya di kalangan internasional.

    ^_^

  6. hdmessa
    18/12/2007

    terima kasih Rhe atas komentar nya,

    semoga memang industri kita bisa berkembang, dan tidak terjebak dalam logika yg salah spt upah buruh murah, orientasi eksport tapi lupa memperkuat pasar lokal dll.

    intinya kita harus berkembang dg cara kita yg khas pula, jangan selalu mengikuti pola2 negara lain (barat) yg berbeda kondisi nya.

    India, China, Israel & thailand, adalah negara2 agraris yg juga negara industri yg bisa maju dg cara nya yg khas pula.

    salam
    HM

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on 13/05/2007 by in journey inspiration.
%d bloggers like this: