Inspiring points

Reflective story from journey of life , Alam terkembang jadi guru

gunung terhampar jadi guru

lintas-gunung2.jpg 

Beberapa waktu yg lalu, bersama rekan2 grup sepeda gunung (mountain bike), kita mengadakan perjalanan ke puncak gunung Papandayan ( 2665 m ) , di kabupaten Garut , Jawa barat, salah satu gunung berapi yg masih aktif, dan kawah nya, dapat didaki ke atas dengan kendaraan, lewat jalan berbatu yang curam. Kita bisa masuk sampai ke dalam kawah nya yg terhampar bagaikan kuali raksasa, dengan asap yg masih mengepul di tengahnya. 

Rute perjalanan bersepeda kita adalah ; Pangalengan – kertasari – gunung papandayan – turun ke daerah kabupaten Garut , bayongbong sampai finish di Tarogong dekat kota Garut. Gunung Papandayan dan gunung Guntur di sebelah nya,adalah pegunungan yg membatasi kabupaten Bandung dan kabupaten Garut, jarak perjalanan sekitar 60 km yg ditempuh selama 9 jam 

Perjalanan dimulai sejak pagi hari yg indah dari  Pangalengan , kota kecil berhawa sejuk di dataran tinggi , 40 Km selatan Bandung. Daerah pertanian subur dan penghasil susu, KPBS ( koperasi peternakan bandung selatan) yg terkenal itu dan juga tempat asal mantan juara dunia bulutangkis, Taufik Hidayat. 

Selepas daerah pertanian, penghasil susu, kita mulai berjalan melewati perkebunan teh ,PTPN VIII , yg terdiri dari beberapa Afdeling ( kawasan kebun ) mulai dari Kertamanah, malabar, santosa, talun, sedep, yang gabungan semua kebun tsb begitu luas area nya sampai ke lereng pegunungan. Kebun teh malabar yg berada di kaki gunung Malabar , adalah kebun teh tertua di Indonesia, tempat pertama kali nya orang Belanda dulu menanam teh di Indonesia, hasil penelitian ahli botani Junghun, yg namanya sampai saat ini dilestarikan utk nama tempat di dekat sana.

Kabarnya di sini lah dihasilkan salah satu daun teh terbaik di Indonesia. Ada seorang teman ahli teh bercerita, bahwa teh terbaik tsb , sebagian besar di eksport , karena lebih menguntungkan. Teh kelas di bawah nya barulah di pasarkan di Indonesia Teh yg paling enak adalah yg berasal dari daun pucuk nya yg masih muda segar, tambah ke bawah tambah murah harga nya, bahkan ada juga yg diolah dari tangkai nya. 

Perjalanan melewati perkebunan teh sungguh indah alamnya, jalanan berliku menembus pebukitan dipagari pohon2 mahoni dan cemara yg menjulang tinggi, mulai dari tepian jalan terhampar kebun teh seluas mata memandang , menutupi pebukitan yg berakhir di kaki gunung yg menjulang tinggi di ujung nya , sungguh menakjubkan , alam ciptaan Tuhan ini.  

Di area perkebunan tersebut masih banyak ditemui bangunan2 peninggalan Belanda dulu yg masih kokoh berdiri. Kompleks rumah tuan kebun, perkantoran lapang olahraga, ( lap tenis – kolam renang ) dan pabrik pengolahan teh tertata dg rapihnya ,berada di pebukitan yg dikeliling taman dan halaman rumput yg luas , di pagari pohon2 mahoni yg rindang , udaranya pun sejuk. Saat daerah lain di Indonesia kekeringan panas dan berdebu karena kemarau, disini air masih terus mengalir, tumbuhan tetap segar menghijau dan udara pun sejuk menghanyutkan.

Fasilitas nya cukup lengkap, dulu seorang insinyur Belanda lulusan TH (ITB dulu ) sempat membuat pembangkit listrik dari kincir air di sungai yg mengalir di sana. Bayangkan nyaman tempat tersebut , fasilitas cukup dan harta melimpah. Saya mulai bisa mengerti mengapa orang Belanda dulu ,rela pergi jauh datang ke sini, dan enggan untuk pulang , bagi mereka tempat ini mungkin bagaikan surga. Dan saya sendiri bisa menyaksikan memang indah sekali alam nya dan nyaman untuk ditinggali. 

Bayangkan dari hasil teh mereka bisa kaya raya, belum lagi alam yg nyaman , fasilitas hidup yg lengkap, ditambah lagi dengan cerita gosip jaman baheula, dimana kalau mau tua kebun Belanda, bisa memilih gadis kampung pemetik teh, sebagai gundiknya , bayangkan betapa enaknya hidup, tuan kebun Onderneming Belanda jaman itu. Harta melimpah, fasilitas cukup, tempat tinggalnya nyaman, lingkungan tenang tak banyak inlander / pribumi yg mengganggu, bahkan kalau mau bisa punya banyak istri  ….. Di beberapa dataran tinggi yg dijadikan perkebunan belanda, dulu akan banyak kita temui penduduk sana yg wajahnya khas indo, walau berbicara dg bahasa sunda halus.  Mereka adalah keturunan peranakan orang2 Belanda yg menikah dg wanita setempat.Orang2 Belanda yg dulu merintis kebun teh tersebut, banyak juga yg mengambil wanita setempat sebagai istrinya , karena mungkin susah untuk mendapatkan wanita Belanda pula yg perlu jarak jauh dan waktu yg lama untuk bisa sampai ke sini dari Eropa sana. 

Selain mengambil wanita setempat sebagai istri, tuan kebun Belanda banyak punya gundik/ istri simpanan, konon para tuan kebun yg sering bepergian memeriksa kebun teh yg luas, juga sering main mata dg gadis kampung yg menarik perhatian nya, dan biasanya orang tua gadis bersangkutan rela saja, anak gadisnya jadi istri simpanan tuan kebun Belanda, yg kaya dan tampan menurut ukuran mereka, mereka berpikir sederhana, setidaknya akan lahir anak keturunan yg berkulit putih, hidung mancung, mata bulat dan tinggi, keturunan Indo , istilah populer nya. Mungkin dari sana lah berawal cerita burung mengenai “mojang bandung” yg geulis ( gadis bandung yg cantik ). Peranakan indo , antara tuan kebun belanda dg wanita setempat pemetik teh.  Nampaknya memang sudah lama, bagi sebagian orang , nilai moralitas tergadaikan demi ke dunia an. 

Hamparan kebun teh tsb dan segalah fasilitas pendukung nya yg saat ini dikelola oleh PTPN 8, adalah juga kebun teh yg dulu dikelola oleh kolonial Belanda. Setelah sekian puluh tahun berlalu harusnya kita bisa bertambah kaya dan makmur dari hasil teh tersebutSeandainya orang2 Belanda perintis kebun teh dulu , hidup kembali saat ini ,mungkin mereka tak habis pikir mengapa Negara yg kaya dan indah ini , bisa bangkrut terbelit hutang dan jadi Negara miskin ? sebuah cerita yg hampir mirip dengan kejadian tutupnya beberapa pabrik pupuk belakangan ini, karena tak mendapat pasokan gas alam dari tempat sekitarnya , yg mana produsen nya lebih memilih menjual gas alam nya ke pembeli luar negeri. Kita menjadi miskin di tengah alam yg kaya, bagaikan kata pepatah “tikus mati di lumbung padi” . 

Setelah sekitar 20 km perjalanan bersepeda melewati kebun teh yg luas tsb, jalanan mulai berbatu2 mendekati kaki pegunungan di sekitar nyai. Lintasan jalan ke arah lereng  gunung Papandayan mulai mendaki dg jalan berbatu yang berkelok kelok dan makin mengecil ,kayuhan sepeda pun terasa mulai berat, sesekali didorong.

Bentangan alam puncak gunung Papandayan pun mulai terlihat jelas terbentang. jalan mulai mendaki dan melelahkan, sehingga sekali waktu kita pun terpaksa beristirahat. Dari ketinggian , kita bisa  melihat jalur mengular jalan setapak yg telah kita lewati, terbayang juga perjuangan dan keletihan melewati pendakian tsb dan ada kepuasan tersendiri bahwa perjuangan tsb telah terlewati dg baik , dan jadi pelajaran berharga untuk melanjutkan pendakian.Bila mendaki gunung merenung saat beristirahat di ketinggian adalah sebuah moment yg sangat berkesa. Jalan mendaki tersebut, adalah bagaikan juga lintasan perjalanan hidup ini, dimana sekali waktu kita perlu berhenti sejenak, merenungi perjalanan hidup masa lalu yg telah kita lewati , masa kanak2, muda, sekolah dari SD, SMP, SMA, kuliah, kerja, menikah dan seterusnya. Suka dan duka masa lalu , bukan hanya sekedar nostalgia , namun haruslah jadi pelajaran berharga, masa lalu adalah asset berharga sebagai bekal pelajaran untuk melangkah ke masa depan, tidak mengulangi kesalahan di masa lalu, karena kata pepatah hanya keledai yang bisa terjatuh ke lubang yg sama  

Dalam perjalanan ini, turut serta pula, rekan bisnis kita dari Singapore, mr Wong , ia memang hobi bersepeda pula , katanya di Singapura ia biasa bersepeda ke daerah bukit Timah , namun ternyata itu belum ada apa2 nya di bandingkan pegunungan di Indonesia, seperti Gunung Papandayan ini. Kebetulan saya sering beristirahat juga dengan nya.

Di salah satu pemberhentian di pinggir kebun teh di lereng gunung , kita duduk bersebelahan , sambil sama2 memandang ke bawah, kita sempat ngobrol, ia mengutarakan kekaguman nya , akan keindahan alam Indonesia. Dari lereng gunung Papandayan, terlihat jelas hamparan kebun teh yg menutupi sebagian besar , dataran tinggi Panggalengan Bandung selatan. Dataran tinggi tsb , bertepikan gunung2 besar yg mengelilinginya, sebuah lanskap alam yg indah, yg kaya alam nya.  

Ia bercerita kalau di Singapura, tempat ia biasa main alam terbuka antara lain ke bukit timah atau pulau sentosa. Ia bilang bahwa sejauh jarak kita mulai bersepeda tadi dari Pangalengan, sampai ke sini , lereng Gunung Papandayan perbatasan dg kab. Garut , sebenarnya hampir sama bila kita berjalan dari ujung utara pantai Singapura dekat jembatan ke Johor Bahru , Malaysia sampai ke pantai selatan Singapura yg berhadapan dengan pulau Batam.

Bayangkan Singapura yang luasnya hampir sama dengan sejengkal tanah yg baru sebagian dari luas Jawa Barat, sungguh kecil dibandingkan Indonesia yg maha luas ini, dengan kekayaan alam nya begitu melimpah. Namun kalau kita bandingkan dari sisi kekayaan ekonomi, malah berbanding terbalik, rasanya sungguh tak masuk akal, dengan alam yg luas dan indah ini, kita dianggap sebagai negara miskin yg hampir bangkrut karena hutang, sedangkan Singapura yg kecil wilayahnya , tapi bisa menjadi negara kaya.

Kecut juga hati ini, ketika duduk merenung berdua dg orang Singapura tsb, apa yg salah dengan kita semua bangsa Indonesia yg di anugerahi, negeri yg indah , luas dan kaya alam nya ini , namun terpuruk dalam kemiskinan ? Batas ujung kebun teh  bersinggungan dg tanah pertanian dan tepian hutan alam yg masih asri, udara pun mulai terasa dingin di terik panas siang hari tsb,  perjalanan selama ini sudah terasa melelahkan, namun jalur pendakian masih terus menantang kita , beberapa teman ada yg sudah mulai putus asa, sebagian memilih untuk naik mobil saja ( dalam rombongan ini , kita di ikuti oleh mobil pick up sbg pendukung , yg nggak kuat, naik mobil saja , kawah gunung Papandayan , bisa dicapai pula dg kendaraan, ada jalur jalan berbatu ).

Saat2 spt itu bagi pendaki gunung adalah saat ujian utk menguji komitmen kita mencapai tujuan , puncak gunung , hanya sebagian kecil yg masih bisa bertahan untuk terus berjalan melanjutkan “perjuangan”. Ternyata mr Wong rekan kita dari Singapura tetap gigih berjalan walau kepayahan , walau hanya berlatih di bukit timah singapura yg tak ada apa2 nya dibanding gunung besar ini , ia pantang menyerah. Kagum juga melihatnya pada saat rekan2 kita bahkan yg sering naik gunung pun, gampang menyerah. Akhirnya mulai bisa mengerti juga saya mengapa orang singapura dan negara2 etnis cina lain nya, bisa lebih maju dan kaya dibanding kita orang Melayu , antara lain karena mereka, etnis china pada umumnya, tak seperti kita yg gampang menyerah menghadapi tantangan  ! 

Saat2 menjelang puncak gunung , adalah saat2 yg menentukan, karena pendakian makin berat, disinilah mentalitas kita di uji, mereka yg tak kuat akhirnya menyerah pulang. Pengalaman menunjukkan rekan2 yg sering mendaki gunung, memiliki endurance spirit yg kuat, kegigihan dan keuletan, terbukti mereka sukses menapaki jenjang karier di kantor nya, atau berhasil mengembangkan bisnisnya atau dalam menghadapi tantangan2 hidup lain nya. Menjelang puncak gunung, angin dingin pun mulai bertiup kencang , mulai tampak hutan alam dengan tumbuhan2 khas nya yg biasanya tak terlalu tinggi pepohonan nya, sebuah bentangan alam yg mengagumkan. Setelah perjuangan panjang yg melelahkan akhirnya sampai pula lah kita di puncak gunung, dimana tampak pula tepi kawah gunung Papandayan.

Di salah satu bagian puncak gunung yg dikenal dg nama pondok saladah tampak hamparan bunga edelweiss, bunga abadi yg hanya tumbuh di puncak gunung tertentu saja, termasuk tumbuhan yg dilindungi Kawah gunung Papandayan bisa kita turuni sampai ke dasar kawahnya, kita masuki kawah, melewati sebuah celah besar yg bagaikan gerbang raksasa, lebar sekitar 20 meter dan ketinggian tebing kiri kanan nya sekitar 40 meter. Kita bersepeda bersama melewati gerbang tsb, sedangkan mobil pick up pulang lagi, karena tak bisa memasuki kawah tsb. Selepas gerbang kawah tsb, terhampar pemandangan indah yg menakjubkan , kawah gunung yg sangat besar , lembah besar, bagaikan kuali raksasa dengan diamater sekitar 800 meter, kedalaman sekitar 400 meter.

Di gunung tsb ada 2 kawah besar yg bersambung. Satu kawah, sudah tak aktif , di tengahnya mengalir sungai kecil yg menjadi hulu sungai citiis yg mengalir ke Garut, sedangkan kawah yg satu lagi lebih besar, masih aktif mengepulkan asap berbau belerang, beberapa tahun yg lalu kawah tersebut sempat meletus. Di sepanjang pinggir kawah ada jalan menurun yg bisa dilewati sepeda, menjelang dasar kawah jalur jalan setapak sangat curam. Terlihat kecil sekali teman2 pesepeda yg sudah sampai ke dasar kawah . Di dasar kawah mengalir air dingin yg jernih yg berasal dari salah satu lubang mata air di salah satu sudut dasar kawah, masya Allah , betapa anggun dan indah nya, lanskap alam yg mengagumkan, sirnalah sudah kelelahan kita selama ini saat mendaki, lama saya termenung di dalam kawah tsb , betapa besar nya ciptaan Allah dan betapa kecilnya kita manusia.

Kita mulai berjalan dari satu sisi kawah menuju tepi kawah lain nya, melewati 2 lembah kawah besar yg menyambung. Jarak total dari satu tepi ke tepi kawah lainnya sekitar  1500 meter. Jalur jalan menuju dasar kawah, sungguh curam dan cukup berbahaya, ada sebuah jalur celah jalan pendek yg cukup sempit di tepi jurang dalam, tak ada tumbuhan semak tempat bergantung bila terjatuh, semuanya bebatuan , sungguh mendebarkan juga. Saya melewati nya dengan menuntun sepeda, cukup bergetar juga kaki ini,  hampir saja terpeleset, tapi syukur terlewati juga dengan selamat. Bayangkan kalau terpeleset saja sedikit , tak ada tumbuhan semak untuk pegangan, saya akan terjatuh ke jurang dalam yg penuh batuan di bawah nya, sungguh mengerikan sekali. Jadi teringat juga dengan kematian, seandainya saya mati di sini, rasanya belum cukup bekal amal setelah meninggalkan dunia yg fana ini. Sambil melanjutkan perjalanan, bersyukur masih diberi kesempatan hidup di dunia ini, masih diberi kesempatan beramal, sebuah nikmat yg jarang kita syukuri.. 

Sampai ke dasar kawah, saya meletakkan sepeda dan menyiuk air dari sungai kecil di dasar kawah, sungguh menyegarkan sekali, diminum pun jernih serasa air mineral. Saat itu sudah sekitar jam 1.30 siang, masih dalam waktu Zhuhur, teringat masih diberi waktu hidup di dunia ini, selepas kejadian hampir terjatuh tadi,  cepat2 lah saya memutuskan untuk sholat zhuhur saja di dalam kawah tsb. Saya berwudhu dengan air dingin tersebut dan sholat di atas bebatuan. Sungguh khusyu dan nikmat , Sholat menemui Allah, di alam terbuka, di tengah kebesaran ciptaan Allah, dimana diri ini terasa sangat kecil.  Kemudian kita melanjutkan perjalanan meniti dasar kawah, selepas kawah pertama yg mengalir air di dalam nya, kemudian kita akan melewati kawah kedua yg lebih besar .

Kawah kedua ini sangat berbeda dengan kawah yg pertama kita lewati, karena masih aktif , terlihat asap putih keluar dari beberapa lubang kepundan kecil, bau belerang begitu menyengat, bebatuan nya tajam berwarna putih. Kawah gunung berapi ini lah yg meletus 3 tahun lalu , dan masih terlihat batuan2 tajam tak beraturan terserak dimana mana, bekas letusan yg lalu. Kita agak hati2 melewatinya , melihat lingkungan sekitar ini, saya membayangkan kira2 seperti apakah  neraka itu? yg ada digambarkan bagaikan lembah dalam yg dipenuhi api Lembah kawah ini cukup dalam dengan dinding batu di pinggir nya yg tinggi  di kiri kanan jalur yg kita lewati , di beberapa tempat banyak mengepul asap2 putih, berbau belerang,  yg saat keluar mengeluarkan bunyi yg berisik, seperti bunyi uap air panas dari teko yg dimasak, namun ini lebih berisik lagi dan hawa panas pun cukup terasa , kita berjalan di atas batuan2 tajam yg tak beraturan alurnya.

Kondisi  seperti ini pun cukup mengerikan, terbayang pula bilamana kawah ini meletus, apakah jadi nya kita2 ini ?Namun itu pun semua masih bencana besar di alam dunia , apakah lagi di neraka kelak ? Melewati jalur tsb mengingatkan diri ini akan neraka , masya Allah betapa dahsyatnya siksaan Allah kelak , berjanji diri ini , untuk secepatnya bertobat dari kesalahan2 selama ini, menjauhkan diri dari dosa2 , dosa besar mapun dosa2 kecil, mumpung kita masih diberi kesempatan hidup di dunia ini.. 

Setelah perjalanan yg cukup mendebarkan tsb, akhirnya sampai pula lah kita ke bibir kawah yg mengarah ke Garut ,dari kejauhan terbentang alam indah dataran tinggi Garut yg sekeliling nya dibatasi gunung2 tinggi pula.Di bawah kawah ada tempat istirahat, warung2 dan terminal kendaraan menuju Garut, sebenarnya di sinilah pintu gerbang menuju kawasan wisata kawah gunung Papandayan yg dicapai melewati kota Garut, sekitar 100 Km dari Bandung. 

Setelah makan minum di warung tsb , kita bersama melanjutkan perjalanan ke kota Garut yg masih sekitar 35 Km lagi , memang terasa lelah, tapi jalan selanjutnya , adalah jalan aspal mulus yg menurun. Kita menyusuri jalan menurun yg berliku di depan nya terhampar dataran tinggi Garut dengan gunung Cikuray yg menjulang terbentang di belakangnya. Namun justru di jalan mulus yg menurun ini lah beberapa rekan kita mengalami kecelakaan ,terjatuh dari sepeda nya. Mungkin karena cukup ngebut di turunan tsb, bagaikan balas dendam setelah lelah menapaki jalur mendaki sebelum mencapai kawah , beberapa rekan terlalu bernafsu dan kurang hati2 , sehingga terjatuh. 

Memang demikian pulalah dalam hidup ini,  banyak orang yg malah “terjatuh” saat di uji dengan kenikmatan/kesenangan  ( seperti jalan menurun tsb ) dan bisa kuat bertahan saat di uji dengan kesusahaan ( seperti beratnya pendakian). Pada saat menghadapi kesusahan hidup, biasanya orang mulai merasa perlu menghadap pada Allah akan pertolongan nya. Namun pada saat berada dalam kesenangan hidup, saat berkuasa, banyak uang , rasanya  segalapun bisa dikuasai, bisa dibeli, melepaskan semua keinginannya, harta, tahta & wanita pun bisa dikuasai. Bahkan ada pepatah cina yg cukup ekstrim ; Kalau engkau punya banyak uang, setan pun bisa kau beli. Ketika berada dalam kesenangan orang serasa tak perlu dengan Tuhan. Bukan nya bersyukur , malahan mereka menjauh dari Tuhan  

Cukup jauh juga jalan menurun selepas kawah tsb, namun dilalui dengan singkat walau tetap harus dengan kehati hati an. Akhirnya bertemu lah kita dengan kota kecil terdekat Cisurupan daerah Bayongbong Garut selatan, cukup rame juga karena merupakan jalur jalan ke bagi selatan Kabupaten Garut yg bisa sampai ke tepian pantai pamengpeuk , samudra Hindia yg beberapa bulan lalu, terhempas tsunami.Dari Cisurupan kita melalui jalur jalan raya ke arah utara, melewati daerah Samarang , pemandian air panas Cipanas dan Tarogong.  

Sepanjang jalan raya tersebut kita disuguhi pemandangan alam dataran tinggi Garut yg indah. Sawah2 dan kebun yg menghijau di sekeliling nya bertepikan gunung2 yg menjulang tinggi di sekelilingnya ; gunung Guntur, Cikuray dan Papandayan yg baru saja kita lewati. Mungkin karena alam yg indah ini pulalah , sehingga banyak lahir seniman2 dari daerah ini , seperti artis2 kontemporer saat ini; “si Oneng” bajuri, Mulan Ratu – buaya darat , sampai Gita KDI . Disini pula berasal tokoh LSM anti korupsi, Teten Masduki. Dari Garut pulalah banyak berasal para pengusaha kecil yg banyak menyerbu kota2 besar spt Bandung dan Jakarta. Tukang potong rambut dari banyuresmi, tukang batu yg banyak bergelantungan menyelesaikan gedung pencakar langit di Jakarta kebanyakan berasal dari cibatu – Garut, dari sini pulalah berasal dodol garut, makanan tradisional dan banyak cerita2 menarik lainnya mengenai dataran tinggi ini.Alam yg indah dan kaya sebenarnya bisa memberikan inspirasi positif bagi orang2 nya, namun entah kenapa sebagian orang malah menjadi malas karena nya. 

Melihat lanskap alam yg indah ini, dataran tinggi yg dikeliling pegunungan , baik di Garut maupun pangalengan bandung selatan , mengingatkan saya , pada tanah kelahiran , Bukittinggi yg juga berada di dataran tinggi, dataran tinggi Agam , Sumatera Barat.Kita perlu sekali kali menengok ke masa lalu, mengenang tempat dimana kita berasal, orang2 yg turut membesarkan kita dan janganlah lupa untuk berterima kasih pada mereka. Dataran tinggi nampaknya menjadi salah satu tempat favorit, kolonial Belanda dulu, untuk melakukan pengembangan kekuasaan nya dan pengembangan ekonomi nya.Mungkin karena faktor sumber daya alam dan keindahan alam nya , yg tak mereka dapatkan di Belanda sana, negeri di bawah permukaan laut. Namun saya kira mereka tak salah, karena memang daerah2 tersebut kaya alam nya dan nyaman untuk ditempati , kolonial Belanda telah membuktikan nya sendiri, tapi ternyata kita tetap tak bisa belajar dari orang Belanda tsb, miskin di alam yg kaya. 

Perjalanan kita berakhir di sebuah rumah makan sunda di daerah Tarogong Garut, selepas sholat Ashar , kita menikmati masakan sunda yg terasa begitu nikmat dan menyegarkan yg ditutup dengan minum es goyobod khas Garut. Kenikmatan hakiki didapat setelah melalui perjuangan panjang dan ada hikmah yg berharga diraih, janganlah seperti keledai yg terjatuh ke lubang yg sama, tak mengambil pelajaran dari kehidupan nyaAlam terkembang jadi guru. 

gambar pemandangan dan perjalanan bisa dilihat di blog ;http://hdmessa.multiply.com/photos/album/8

8 comments on “gunung terhampar jadi guru

  1. omdien
    22/08/2007

    “Bayangkan dari hasil teh mereka bisa kaya raya, belum lagi alam yg nyaman , fasilitas hidup yg lengkap”

    Lagi belajar membandingkan di ni Kang…
    K.A.R Bosscha aja bisa kaya raya dari perkebunan di tanah kita, bisa nyumbang beberapa Yayasan di Belanda, bikin peneropongan bintang, nyumbang ke ITB dan SLB dan rumah sakit mata di Cicendo.

    Lha pengurus yang sekarang… nyumbang apa…
    karyawan nya gitu-gitu aja
    produksi segitu-gitu aja…
    Apa lebih nya dari penjajah… yang katanya mengeruk kekayaan alam kita…

    Huh..huh.. huh (Emosi😦 )

  2. hdmessa
    23/08/2007

    halo , kang Dien,

    sangat mendalam sekali, hal tsb dirasakan oleh kang Dien yg sejak kecil berada di sekitar kebun teh, memang demikian lah kenyataan nya.

    saya kurang begitu ahli dalam ilmu teh, tapi sekilas saya berpendapat, nampaknya memang orang2 kita ( indonesia ) tak bisa mengelola kebun teh spt orang belanda dulu, mungkin ilmunya tak diturunkan dulu ?

    saya pernah ngobrol dg orang tua yg dulu sempat belajar ilmu perkebunan di jaman belanda, memang berkata betapa proses pendidikan dulu jauh lebih bermutu daripada saat ini, jadi wajar saja teknik pengelolaan nya pun, saat ini tak sebagus dulu.

    kalau masalah pelajaran di sekolah saya sempat melihat juga bahwa nampaknya buku2 pelajaran jaman baheula lebih bermutu.

    waktu sma ( di sma3 bdg ) guru2 senior saya suka pakai buku2 jaman belanda dulu , spt alder utk aljabar ( math ) , pekelhering utk fisika, paperzak utk kimia, jiwatampu utk fisika dll.

    ternyata soal2 nya sangat bermutu, sulit tapi membuka cakrawala kemampuan berpikir

    1 soal bisa 2 jam, tapi puas sekali kalau bisa diselesaikan.

    jauh sekali dg soal2 ujian anak sekolah jaman sekarang yg terlihat ecek2 dibanding soal2 jaman baheula tsb, padalah buku tsb sudah hampir 80 tahun yg lalu. pantesan weh pararinter.

    demikian opini singkat saya, yg intinya kita tak lebih pintar daripada orang dulu dalam mengurus hal2 teknis spt kebun teh tsb

    punten kalau salah

    salam

  3. asep asgar (asli garut)
    27/08/2007

    Kang
    kumaha damang
    tulisan-tulisannya seger untuk di baca,.. calon pengarang hebat euyy pengganti j.K rowling nih hi hi

  4. hdmessa
    27/08/2007

    damang, kang Asep,
    nuju dimana yeuh ?

    terima kasih , sudah nengok,

    mudah2 an lah, suatu saat kelak, tulisan2 na urang kumpulkeun jadi buku.

    sok atuh , kang Asep, dibuat cerita juga, pengalaman kerja berkeliling nya

    salam

  5. tata mohamad tafip
    06/02/2008

    Kang Hendra Messa,
    Ceritanya menarik sekali, maklum saya teh asgar seperti kang Asep, dan pernah juga naek ke Papandayan (waktu muda dulu — nama puncaknya teh Kebon Saladah sama satunya lagi Tegal Brungbun –).
    Sesuai dengan usia, niat naek gunung kayaknya masih ada, namun mesti dibantu dengan sepeda, salah satu tujuan pertama ya gunung Papandayan, tahunya si akang udah duluan ke sana (cari-caari di google akhirnya dapat website ini). Cocok buat referensi lah jadinya. Makasih banuyak ya sudah sharing cerita perjalannya.

    Nuhun.
    Tata Mohamad Tafip
    Asgar pisan.

  6. hdmessa
    06/02/2008

    hatur nuhun kang Tata,
    sami2

    wilujeung naik ka papandayan, tapi harus banyak tanya info ke petugas, utk antisipasi, saat2 gunung tsb sedang aktif.

    btw, di puncak saladah , dulu masih banyak bunga edelweis, tapi saat ini sudah jauh berkurang, banyak yg mengambil tanpa melestarikan nya

    salam
    HM

  7. anefproxs
    20/04/2009

    hello kang abdi ngiring bingah tisalasawios urang garut reueus upami tea mah urang garut marajeng makalangan dina hal anu ngabanggakeun maju terus kang abdi ngadukung lah

  8. hdmessa
    20/04/2009

    hatur nuhun, apresiasi na,
    sami2

    mugi alam garut teras kajagi ka endahana ,

    tong sampe rusak alam na , tangkal2 dituaran, gunung jadi gundul, jeung sajabana.

    sok atuh putra daerah garut, ngabangun daerah na

    salam

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on 23/05/2007 by in journey inspiration.
%d bloggers like this: