Inspiring points

Reflective story from journey of life , Alam terkembang jadi guru

katak machiavelli di dunia kerja

Dalam dunia kerja , ternyata berlaku juga praktek politik , bahkan ada bukunya Political at office ,karena itu lah, logika Machiaveli yg sebelum ini kita kenal di dunia politik , bisa berlaku juga di dunia kerja , misalnya dalam ranah perkembangan karier seorang pekerja.

Machiaveli seorang ahli politik dalam sejarah eropa , dikenal dg nasihat2 nya yg dianggap licik, tapi ternyata efektif dalam meniti karier politik dan “bermain” politik. Dari sisi moralitas bisa jadi dogma2 dari Machiaveli dianggap sebagai suatu hal yg tidak bermoral , namun berbeda pandangan dari sisi politik praktis.

Hal yg sama ternyata bisa berlaku juga di dunia kerja atau bisnis secara umum, kelakuan ala Machiavelli diterapkan pula diluar ranah politik. Salah satu tindakan praktis di dunia kerja yang menggunakan juga logika serupa dikenal dg istilah perilaku katak , yg diterapkan oleh sebagian pekerja dalam menapaki karier nya .

Katak secara karikatural / parodi digambarkan sebagai berperilaku , ke atas menjilat ( menangkap mangsanya ) , ke samping menyikut dan ke bawah menginjak.

dalam analogi dunia kerja, perilaku nya adalah sbb; kepada bawahan menginjak, menekan kepada rekan sekerja menyikut, dalam arti “menjatuhkan” bersaing dg tidak sehat pada rekan selevel kepada atasan “menjilat”, dalam arti mencari muka dll.Sebenarnya itu hanyalah hiperbolisme semata,yg kalau sampai katak tahu, mungkin mereka akan protes juga kepada bangsa manusia , tapi yah itulah manusia suka memberi gambaran jelek pada binatang , sama seperti istilah kambing hitam. Tapi sebagian kita sudah mafhum dg istilah demikian , dan memang benar2 ada , para pekerja yg  berperilaku seperti itu ( karakter katak ). Bila pekerja tersebut “bermain” politik kantor juga , maka bisa pula kita istilahkan dengan “Katak Machiaveli” .

Pengalaman di dunia kerja, menunjukkan bahwa secara diametral, ada dua tipe pekerja ; Pekerja yg kompeten, bekerja dengan dedikasi tinggi dan tulus , namun kurang pandai berkomunikasi , salah satu cabang keahlian politik kantor .

Di sisi lain ada pekerja yg kompetensi teknis nya biasa2 saja, tapi memiliki kemampuan politik kantor yg tinggi, pandai berkomunikasi dan ahli dalam membuat intrik2.Banyak kasus di dunia kerja, menunjukkan bahwa mereka yang berdedikasi tinggi, ahli dan tulus,kalah bersaing dalam perkembangan karier di bandingkan dengan pekerja yg walau skill teknis nya pas2 an, tapi pandai berkomunikasi dan berstrategi.

Kesuksesan karier tak selalu berhubungan dg skill teknis seorang pekerja , terutama pada perusahaan yg bagian Human Resourch Development ( HR) system nya tak berjalan baik atau corporate culture nya lemah.Pada perusahaan yg memiliki corporate culture yg sehat dan HR system nya berjalan baik , kita istilahkan dengan perusahaan ideal , akan lain kondisinya , di tempat ini, pekerja yg berdedikasi tinggi, bekerja dg tulus dan cermat, akan mendapatkan imbal balik yg bagus juga dalam perkembangan karier nya.Tapi perusahaan ideal tsb , bisa dikatakan hanya minoritas dari perusahaan secara umum.

Sebuah penelitian psikologis di Amerika, yg meneliti karakteristik perusahaan dari sisi psikologis, dg mengumpamakan perusahaan bagaikan manusia, Setelah mengadakan penelitian bertahun2 pada banyak perusahaan ,ia menemukan bahwa perusahaan adalah makhluk yg psikopat ; ingin menang sendiri, cari untung yg banyak , tak peduli dg yg lain dan berbagai karakter negatif lain nya. Yah memang perusahaan bukan makhluk yg bernyawa, tapi ternyata berperilaku seperti itu. Hasil penelitian tsb dibuatkan film dokumenter dg judul “The Corporate”.

Karakter perusahaan yg seperti itu, akan klop sekali dengan para pekerja yg memiliki karakter “Katak Machiaveli” tersebut diatas , sehingga banyak kita temui , bahwa banyak mereka yg sukses berkarier selain mereka yg memang benar2 kompeten dari segi teknis dan pandai berkomunikasi, adalah juga , mereka yg biasa2 saja dari sisi kompetensi, tapi ahli juga dalam “politik kantor” .

Banyak juga kita temui , pekerja2 yg idealis,berdedikasi tinggi dan memiliki kompetensi teknis , tapi karier nya mentok atau bahkan frustasi, bahkan keluar kerja dan berpindah2 kerja dari perusahaan ke  perusahaan lain, tapi tetap saja kariernya tak berkembang bagus.

Karakter perusahaan yg tidak sehat seperti itu ,seringkali menjadi bahan ejekan juga , sumber ketidak puasan dari para pekerja idealis yg merasa telah bekerja dg dedikasi tinggi, tapi perusahaan tak memberikan balasan setimpal.

Dalam dunia kerja, bisa dipilah dua tipe pekerja, pekerja yg sukses dan pekerja yg berbakti untuk perusahaan. Pekerja yg berdedikasi tinggi akan mendarma baktikan dirinya untuk kemajuan perusahaan dengan berbagai cara , ia berjuang dengan tulus dan ikhlas , syukur bila ia berada di perusahaan yang bagus juga budaya dan HR system nya,ia akan mendapatkan kompensasi dan pengembangan karier yg baik , tapi bila berada di perusahaan yg tak sehat budaya nya, ia akan jadi pekerja idealis yg frustasi.

Pekerja yg sukses, sejak awal masuk kerja, sudah berpikir bagaimana caranya ia bisa sukses, dapat jabatan tinggi, dapat gaji yg besar , fasilitas , training dan berbagai manfaat lain nya. Kalau mereka memang memiliki kompetensi dan kecerdasan yg tinggi pula , tinggal dipulas dg kemampuan komunikasi dan keahlian sosial lain nya, ia akan jadi pekerja yg sukses.

Ada pula pekerja yg ingin sukses tapi tak memiliki kompetensi yg memadai, akhirnya ia lebih mengandalkan kemampuan, komunikasi, lobby dll, untuk mencapai keberhasilan nya tersebut.Pekerja sukses yg baik , adalah yg juga memberi kontribusi, terhadap kesuksesan perusahaan, ada dedikasi utk bersama, tapi ada juga mereka yg berusaha meraih kesuksesan dg logika individualis / egois, bagaimana caranya saya bisa sukses sendiri, apa pun cara ditempuh, peduli amat dg rekan kerja yg lain , bahkan tak begitu peduli juga dengan perusahaan yg penting dirinya bisa sukses.

Ia hanya berusaha mencari manfaat sebesar mungkin dari perusahaan, tapi sebaliknya perusahaan tak mendapatkan manfaat yg besar dengan keberadaan pekerja tipe tersebut. Kalau tak didapat di suatu perusahaan ia berusaha mencari di perusahaan lain, kita kenal pula dg istilah pekerja kutu loncat.

Pekerja yg berusaha sukses secara individualis ini lah yg banyak pula menggunakan logika ‘Katak Machiaveli” diatas , dalam menempuh jenjang karier nya.Secara legal formal, mungkin sah sah saja, tak melanggar hukum , tapi secara hubungan timbal balik antara perusahaan dengan pekerja , perusahaan tak mendapat manfaat banyak dg tipe pekerja seperti ini , bahkan bisa merusak sistem pengembangan sumber daya manusia , merusak jenjang karier , bilamana ia memiliki jalur karier yg zig zag, melangkahi karier pekerja lain , menimbulkan rumor tak sedap dan demotivasi pada pekerja lain , bila misalnya ia karena kemampuan  lobby nya , menjadi pekerja kesayangan bos besar.

Para pekerja di satu sisi dan perusahaan di sisi lain , bisa kita andaikan bagaikan 2 makhluk yg berseberangan dan ketika mereka menandatangani kontrak kerja , saat itulah mereka bagaikan pasangan yg menjalin janji.

Perkembangan selanjutnya penuh dengan lika liku , ada konflik seperti demo mogok kerja atau bahkan terjalin harmonis seperti perusahaan yg bisa mengayomi pekerjanya dg baik.

Sebenarnya perusahaan adalah juga kumpulan manusia juga, khususnya manajemen/ direktur yg mengelola perusahaan tsb . Pengelola perusahaan yg baik, akan berhasil juga mengarahkan semua kompetensi sumber daya nya untuk meraih keberhasilan, keberhasilan semua pihak, perusahaan untung dan karyawan pun bahagia.

Bila kondisi seperti itu, bisa terbangun , pekerja yg berkarakter “Katak Machiaveli” tak akan ada, kalaupun ada secepatnya di perbaiki oleh bagian HR atau dikeluarkan secepatnya, supaya tak merusak sistem perusahaan secara keseluruhan.

Namun walau bagaimana pun hukum kesetimbangan alam yg adil tetaplah berlaku. Dari berbagai pengalaman di tempat kerja, saya dapatkan bahwa orang2 yg bekerja dengan baik dan sepenuh hati, walau dia banyak mengalami ketidakadilan perlakuan, pada akhirnya dengan berbagai jalan, ia mendapatkan juga kesempatan dan kemajuan di tempat kerja, Allah Maha Adil. Misal seseorang yang mendapat perlakuan tidak adil, jadi korban dari politik kantor dari pihak lain, dengan terpaksa ia pindah ke bagian lain, malahan disana kariernya bisa maju dan berkembang. Atau bahkan karena suatu hal, ia terpaksa keluar dari perusahaan tersebut, pindah kerja ke tempat lain, malahan di tempat kerja yg baru ia mendapat bisa bekerja dg baik, dapat penghargaaan dan bisa maju. Hukum kesetimbangan alam tetap berlaku, tergantung pula pada manusia bersangkutan, sejauh mana ia bisa tahan dan sabar menghadapi nya.

Perusahaan tempat kita mencari rizki, pada hakikatnya bukanlah yang menentukan rizki kita semua, Allah yang Maha Kaya, yang Maha Adil lah yg memberikan rizki pada setiap makhluknya dengan adil, sesuai dengan kadar nya masing-masing, tiap orang punya nasib & takdirnya tersendiri.

 

 

 

14 comments on “katak machiavelli di dunia kerja

  1. chusni mubarok
    22/02/2007

    Terus terang pak, kalau saya baca artikel bapak sangat pas sekali dengan hati dan pikiran saya di sini, sehingga tanpa dirasa mata saya berkaca-kaca dan hati bergetar, menjadi kewajiban kita semua selaku umat muslim untuk saling mengingatkan semampunya, walaupun hanya lewat artikel, mudah-mudahan silaturahmi dan komunikasi ini tetap berjalan secara istiqomah dan saya ucapkan terima kasih yang tak terhingga atas uraian ilmunya, mudah-mudahan bisa bermanfaat bagi kita semua Amiin

  2. ardian
    23/02/2007

    “Katak Machiaveli” saya rasa ada dimana-mana, dunia kerja dan dunia nyata(keseharian). Ini adalah salah satu sifat manusia, yang ambisius dan kemampuan diri kurang kemudian menjalankan intrik-intrik untuk mendapatkan apa yang diinginkan. Mungkin dipemerintahan lebih banyak lagi orang-orang seperti ini, dan kita bisa saksikan orang-orang politik bersaing untuk satu jabatan, kita bisa lihat juga ini terjadi dikalangan bawah. Sekarang bagaimana cara untuk menghapuskan orang-orang seperti ini? Mungkin salah satunya seperti yang dikatakan oleh Uda Hendra tadi bisa kita terapkan. “Katak Machiaveli” memang sudah diditeksi dari awal, karena mungkin diawal dia belum mempunyai ambisi kemudian setelah bekerja kemudian muncul ambisi untuk meraih sesuatu kemudian sadar akan kemampuan yang kurang, baca buku ini dan itu untuk meningkatkan karirnya tanpa menyadari akan merusak moralnya. Bagaimana dengan orang seperti ini?bagaimana kita antisipasi dari awal?
    Saya rasa atasan juga punya andil mendidik orang seperti ini, kenapa tidak coba berlaku objective terhadap bawahan. Ini mungkin karena sisi manusiawi atasan juga disentuh. Yaitu sifat manusia yang suka dipuji, diakui, dan dituruti.Saya mungkin orang yang pesimis untuk bisa menghilangkan orang seperti ini, tapi insyaallah tidak menjadi orang seperti ini. Karena tujuan hidup bukan berkarir didunia.Karena didunia paling tinggi jadi Presiden Director atau apalah nama jabatannya, tapi tetap juga mati nga bawa apa-apa. Kadang hati panas juga jika punya rekan kerja seperti “Katak Machiaveli”, tapi akan merasa beruntung juga kalau dia selalu jadi sosok untuk kita introspeksi diri. “Gue nga seperti dia, walaupun dia bisa seperti itu dengan cara yang kurang etis tapi gue bangga jadi diri gue”.Mungkin karena saya bukan termasuk orang yang ambisius.Karena pengalaman pribadi saya banyak bertemu dengan orang seperti ini dari mulai sekolah, kuliah kerja, pergaulan.Mereka ada dimana-mana, tergantung kita menyikapi dengan cara kita sendiri.

  3. Sunardi
    28/10/2009

    Salam kenal Pak Hendra,
    Mohon izin copy paste untuk beberapa tulisanya, saya sangat salut & terkesan dg tulisan2 di blog ini. Teruslah menulis, semoga selalu sehat & gembira.
    Trims.

  4. Jalius
    01/11/2010

    Terima kasih saya sampaikan pada HD Messa.

    Dengan tulisannya itu saya mendapat satu poin ranah berfikir. Tulisannya bagus pesannya juga jelas.

    Sehubungan dengan itu, saya memberikan sebuah pemikiran untuk mendampingi HD Messa. Yakni: Kita bagi dua kelompok saja tipe manusia pekerja ini; yang Siddiq pada suatu kelompok dan Hipokrit pada kelompok yang lain.

    Kelompok pekerja yang pertama ya orangnya jujur dan dedikasi tinggi. inilah sesungguhnya penyelamat dan membuat perusahaan sukses. Mereka istiqomah pada jalan yang di tempuhnya. Jalannya tidak zigzag.

    Kelompok kedua ya yang suka menang sendiri dengan berbagai trik, seperti kontrak politik. Sehubungan dengan itu Machiaveli itu tidak salah di lingkunannya, tapi tidak cocok dengan nilai kita.

    Pembaca boleh bebas memilih, mau masuk
    kelompok yang mana ?

    Yang pertama ya anda akan berhasil dan berakhir masuk syorga. Masuk kelompok yang kedua sukses dengan nilai jelek rela masuk kelompok orang celaka di akhirat kelak.
    Keduanya didunia ini saling berpacu. Di dunia mana yang menang ? tentu saja yang “bersatu”.

    Yahudi itu sedikit, tapi dia bersatu dapat menguasai dunia. Kan ada semboyan bangsa kita “Bersatu kita teguh, Bercerai kita runtuh”.

    Makanya yang harus dibinakan pada anak didik adalah sikap siddiq, jujur perkataan dan berdedikasi tinggi dalam pekerjaan. Kita mengharapkan persatuan orang yang siddiq ini. Tentu saja harus guru yang memberi contoh terlebih dahulu.

    Wassalam

    • hdmessa
      22/11/2010

      terima kasih banyak, pak Jalius,
      sharing tambahan nya,
      menarik skali

      salam

  5. Susi
    19/01/2011

    Bagus bgt. Thx

  6. hdmessa
    20/01/2011

    sama2 Susi,
    trima kasih

  7. Yusron
    21/03/2014

    Pak Hendra,

    Saya jadi teringat waktu membaca biografi
    Cacuk Sudaryanto.

    Sebelum bangkit kembali dengan ketemu dan
    dipercaya oleh Chairul Tanjung untuk membenahi
    Bank Mega, Cacuk sempat menjalani masa-masa
    sulit selepas dicopot dari Dirut Telkom sebelum
    masa jabatan 4 tahun selesai.

    Di puncak prestasinya dia dipecat, maka pertanyaan
    besarnya “kenapa saya dipecat? seperti tidak menerima
    kenyataan itu”. Padahal hubungannya sangat baik dengan
    Menparpostel kala itu, prestasinya juga diakui hebat.
    Tapi why? Melalui banyak upaya untuk bangkit dia
    mengikuti Mini MBA di Harvard. Nah dari HBS inilah
    dia menemukan jawaban dalam mata kuliah
    “Politik Organisasi”.

    Dari uraian ceritanya, secara implisit saya
    menangkap kalau penyebabnya adalah dia
    sering diundang ke Cendana, sering tampil
    meresmikan berbagai event bersama Presiden.
    Namun tetap ada alasan penyebab formalnya
    yang mengabsahkan dia dipecat yaitu kesalahan
    tender backbone transmisi GMD Indonesia Timur.
    Alasan klise….. kesalahan prosedur tender.

    Cacuk juga dibenturkan dengan kepentingan bisnis
    keluarga Cendana yang dikalahkan dalam tender.

    Dalam perusahaan juga meliputi sistem kekuasaan
    berjenjang. Dan seringkali dalam menjalankan amanah
    kekuasaan dan kewenangannya seorang pejabat
    melibatkan visted interest-nya.

    Politik adalah ilmu tentang kekuasaan.
    Dimana ada orang di situ ada politik. Politik juga ada
    di tingkat mikro dan makro. Termasuk di keluarga
    juga ada politik, dan seringkali justru kekuasaan ada
    di tangan anak….kepada anak2 berprestasi orang tua
    rela mengalah menyerahkan kuasanya…

    Salah satu quote dari Cacuk waktu itu adalah

    “Ternyata pandai saja tidak cukup, tapi mesti “pandai-pandai”,
    pintar saja tidak cukup tapi mesti “pintar-pintar”.

    salam,
    myusron

  8. Luhut
    21/03/2014

    Kentalnya pertemanan dalam rekrutmen dalam pengisian gerbong jabatan, baik
    di swasta maupun di instansi pemerintah, nilah yang menjadi salah satu
    faktor penghambat kemajuan kita.

    Tak dapat dipungkiri, pertemanan ini penting dalam komunikasi efektif
    membangun kerjasama tim. Namun, kalau semua lini diisi pertemanan, apa
    jadinya..

    Dapat kita bayangkan timnas sepakbola kita diisi oleh hasil rekrutmen
    berdasarkan pertemanan, apakah akan bisa bermain baik di liga internasional?

    Mungkin inilah motivasi pengisian jabatan harus melalui test terbuka alias
    lelang

    Semoga tidak akan terjadi rekrutmen tak baik dalam pemerintahan mendatang.

    Salam
    Luhut
    Jakarta

  9. Yusron
    21/03/2014

    Bila ada suksesi kepemimpinan sering kali
    sekaligus bawa gerbong tersendiri. Ke bawahnya
    diganti semua, tapi biasanya hanya orang pandai
    yang bisa pandai2 bermain bisa eksis dalam segala
    karakter dan situasi kepemimpinan.

    Budaya kita memang masih budaya bancakan.
    Kalo bisa pokoke direncak bareng2
    dulur-kadang-konco-tonggo teparo.

    Istilah bagi rejeki menjadi simbol kemuliaan
    dan kedermawanan.

    salam,
    M Yusron
    Surabaya

  10. Yayuk
    21/03/2014

    Untuk perbandingan yg fair di tempat kerja, gunakan key performance indikator, yang over time dibandingkan dng best practice. Selebihnya gunakan timesheet yang dikumpulkan setiap 2 mg.

    Gap antara pencapaian kpi (bcwp) dan actual (acwp) dibandingkan, dianalisa, referensi perusahaan lain/ best practice, sama2 introspeksi diri. Mdh2an empowerment bs jln dng sistem

    Salam
    Yayuk
    Jakarta

  11. Amal
    21/03/2014

    Pada awal tahu istilah Machiavelli, saya juga melihatnya pada sisi
    negatif, sesuai banyak ulasan secara umum. Namun sekarang ini akhirnya
    saya lebih dapat memaklumi. Ya seperti itulah kekuasaan, siapapun yang
    sedang menggenggam.

    Ikhlasul Amal
    Jakarta

  12. Hernowo
    21/03/2014

    Kasihan si katak. nggak ikut-ikutan tapi namanya jadi jelek.

    Salam,
    Hernowo
    Jakarta

  13. Buroqi
    24/03/2014

    Kalau mau cari korporasi yg bukan psikopat, coba baca buku berikut:

    “ Bank Kaum Miskin: Kisah Yunus dan Grameen Bank Memerangi Kemiskinan”
    (Terjemahan dari buku “Banker to the Poor: Micro-lending and the Battle
    against World Poverty”)

    Di buku ini M. Yunus menawarkan bentuk korporasi yg lain.

    Soal lain, dogma atau prinsip yg kita pegang adalah “Tuhan tidak pernah
    tidur” (Gusti Allah ora tau sare, kata orang Jawa) dan hukum atau sunnahNya
    berlaku pasti dan tetap. Setiap ketidakberesan (yg dilakukan “Machiavel
    kantor”) pasti ada konsekuensinya. Sedang kurang beruntungnya ‘orang baik’
    menunjukkan ada yg perlu diperbaiki dari orang baik tsb, dg kata lain tidak
    dibenarkan utk menyalahkan “Machiaveli kantor” sepenuhnya.

    Salam,

    Buroqi Tariq
    Jakarta

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on 02/06/2007 by in Essay - concept.
%d bloggers like this: