Inspiring points

Reflective story from journey of life , Alam terkembang jadi guru

the journey of time

jalan-berliku2.jpg

Dalam kehidupan sehari hari kita , ada moment2 waktu istimewa yg sering ditunggu2, sebagai contoh ingatlah betapa waktu kita bersekolah dulu ingin sekali mendengar bel pulang, bagi pekerja ingin sekali rasanya cepat waktu pulang kerja atau hari libur. Begitu pula bagi masyarakat umum moment2 waktu spt lebaran, tahun baru, hari pernikahan, wisuda, kelahiran anak, saat gajian, sampai saat yg sangat istimewa , ketika kita sendiri dimakamkan kelak.

Biasanya orang sering menunggu2 saat2 istimewa tsb, berharap agar waktu tersebut cepat sampai ( kecuali mungkin hari pemakaman kita sendiri ) Sebenarnya kita tunggu atau tidak , hari2 tsb akan datang dengan sendiri nya, hari yg telah berlalu, hari ini dan hari esok , sebenarnya sama saja setelah hari istimewa tsb berlalu, seolah terlupakan, kita kembali lagi dalam kehidupan rutin sehari hari, padahal sebelumnya kita sangat menunggu2 moment waktu tsb. 

Karena menunggu2 moment waktu yg istimewa tsb, sering kita melupakan hari2 saat ini yg kita lalui, kita ingin hari2 menunggu tsb berlalu dg cepat, bahkan ada istilah “killing the times”  (membuang waktu), wasting time, mengisi waktu dan istilah2 lain nya yg utamanya agar waktu tsb bisa berlalu dg cepat seolah2 tak dikehendaki kehadiran nya demi menunggu saat2 yg istimewa tsb. 

Mengapakah pula kita seperti tak menghendaki nya ?  Ingatlah bahwa hidup kita berada diantara rangkaian waktu yg sama dan waktu tak memiliki sifat, apakah jelek atau bagus.  Kita tak hanya hidup di saat2 istimewa spt hari libur, lebaran, tahun baru, hari pernikahan dll. Namun hari2 biasa ataupun saat2 yg menyedihkan pun harus kita lewati pula Hidup kita bukanlah hanya di hari sabtu dan minggu saja, kehidupan juga adalah hari senin, selasa, rabu, kamis dan jum’at. 

Kita tak bisa berharap bahwa suatu hari atau detik sekalipun, berputar lebih cepat dari yg lain nya, kita tak bisa berharap waktu2 tsb berlalu dg cepatnya, karena satu jam tetaplah hanya 60 detik saja tak bisa lebih atau kurang, selama bumi masih mengelilingi matahari, sehari semalam. waktu adalah anugrah kesempatan yg diberikan Allah pada kita,

mengapakah pula kita spt ingin membuang2 waktu tsb ? seolah2 ingin membuat jarum jam berputar lebih cepat.padahal, waktu kesempatan hidup yg diberikan Allah pada kita semua, bukanlah demi sebuah kesia sia an belaka 

Sebenarnya orang yg ingin agar waktu berputar dengan cepat, tanpa sadar sebenarnya sedang bergerak lebih cepat pula, menuju liang lahat nya. 

pepatah arab mengatakan “Waktu bagaikan mata pedang”, bila digunakan dg baik, akan sangat berguna, tapi bila tidak, ia akan bisa mencelakakan dirimu sendiri. 

Waktu kehidupan yg kita alami sebenarnya adalah pada saat ini, sekarang ini juga. Kemarin telah berlalu hanya tinggal dalam memori, esok belum lah tentu bisa kita rasakan pula, masih dalam harapan. Dan bila kita tak memanfaatkan waktu saat ini dengan sepenuhnya, saat inipun akan secepatnya berlalu menjadi masa lalu, sehingga kita bagaikan orang yg hidup sebatang kara di pulau yg terpencil, jarum jam serasa tak berputar. 

Waktu kehidupan saat ini, apapun juga yg terjadi, nikmatilah dengan semua pengalaman, kebahagiaan, kesedihan, janganlah lari dari kenyataan saat ini. Kebanyakan kita tak menyadarinya, selalu menunggu hari esok dan melupakan hari ini, karena merasa bahwa kita bisa hidup selamanya di dunia yg fana ini.. 

Marilah kita nikmati hari ini , apa adanya, gunakan waktu sebaik mungkin, karena hari ini adalah anugrah kesempatan yg berharga dari Allah yang takkan pernah datang lagi.Hari ini yg digunakan dg sebaik mungkin, akan membuat pula perencanaan hari esok yg lebih baik akan meninggalkan masa lalu yg penuh arti pula 

Menggunakan waktu dengan sebaik mungkin adalah sebuah bentuk rasa bersyukur pada Allah, atas anugerah waktu yg diberikan pada kita

5 comments on “the journey of time

  1. hsakti
    15/09/2007

    Mas Hendra,
    Saya sangat terkesan dengan inspiration Journey of time. Maaf ya, aku telah forward tulisan ini ke beberapa teman dekat, untuk bisa ikut membaca dan saling mengingatkan.

    Saat kesendirian (aku di Perth), tulisan Mas, sangat memperkuat aku dan sadar bahwa sebenarnya kita ini tidak punya siapa-siapa, selain hanya berserah kepada Allah semata.

    Terima kasih, salam buat semuanya.
    Sakti

  2. Hendra Messa
    16/09/2007

    alhamdulillah,
    mas Sakti,

    syukur, ada manfaatnya tulisan ini

    silakan saja di forward, untuk kebaikan bersama

    saat kita sadar, kita tak punya siapa2, selain hanya berserah diri pada Allah semata, sebenarnya, kita telah tak sendirian lagi, yang ada di sekeliling kita akan bersahabat jadi nya

    terima kasih
    salam juga utk sahabat2 di sana

    HM

  3. Mithi
    14/11/2007

    Assalammu’alaikum..
    Salam kenal Pak hendra …
    Nice Blog🙂

  4. Hendra
    14/11/2007

    wa alaikum salam,

    salam kenal juga Mithi, thanks for the comment
    terima kasih sudah singgah

    salam
    hm

  5. wenk
    26/12/2007

    mudah-mudahan saya gak buang-buang waktu ketika membaca tulisan ini ya kang hehehe.. Tapi, sekali lagi kang saya bilang, saya bersyukur bisa jalan-jalan ke tulisan kang Hendra & kang Omdien (tadinya cuma iseng-iseng).
    Tulisannya ga cuma menginspirasi kita untuk jadi lebih baik tapi memang kita ga boleh buang-buang waktu untuk jadi manusia yang lebih arif & bijaksana. Selalu belajar dari hidup kita dan hidup orang lain… Selamat

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on 05/08/2007 by in Essay - concept.
%d bloggers like this: