Inspiring points

Reflective story from journey of life , Alam terkembang jadi guru

Merdeka & pencerahan jiwa

merah-putih.jpg

Dalam sejarah, ada diceritakan bahwa beberapa tahun menjelang kemerdekaan Indonesia, dua proklamator kita sempat berdebat panjang, mengenai bagaimana memerdekakan Indonesia. Bung Karno berpendapat kita perlu mempersiapkan rakyat yg revolusioner, bersemangat tinggi, pemberani, sedangkan bung Hatta berpandangan lain, beliau berpendapat bahwa rakyat Indonesia yg sudah hampir 3,5 abad terjajah, perlu dicerahkan , dicerdaskan sehingga mereka bisa memerdekakan bangsanya.

Sejarah berkata, akhirnya pola bung Karno lah yg terpakai, dan memang terbukti benar pendapatnya, rakyat Indonesia yg berani dan bersemangat tinggi, bisa memperjuangkan kemerdekaan tersebut.

Setelah beberapa tahun merdeka, kedua proklamator kita tersebut, bersilang pendapat juga tentang bagaimana mengelola negara, dan berbagai perbedaan pendapat lain nya.

Demi kebaikan bersama dan kesantunan jiwa, bung Hatta memilih untuk mundur dari pemerintahan dan tetap menjaga hubungan secara pribadi dg bung Karno.

Ide awal Bung Hatta tentang perlunya bangsa Indonesia tercerahkan, tercerdaskan yang belum terlaksana juga semenjak sebelum merdeka, akhirnya setelah merdeka pun, terus terlupakan oleh para pemimpin bangsa kemudian.

Dan memang terbukti kemudian walau telah puluhan tahun merdeka, sampai saat ini negara Indonesia, masih dirundung banyak masalah, kita belum tercerahkan.

Mungkin terlalu kasar mengatakan kita tak cerdas, namun bukti2 menunjukkan betapa berantakan nya kita saat ini. Contoh sederhana saja, di tanah yg subur ini, kita sering mengalami kesulitan hidup, bahkan ada yg kelaparan. Saat musim hujan kita kebanjiran, di musim kemarau kekeringan ,susah air. Kalau datang ke kota2 besar, kita akan lihat kota yg semrawut, jalanan macet, kotor dan masyarakat yg tak disiplin, di beberapa tempat orang saling berkelahi hanya demi urusan kecil, para pemimpin malah saling menyalahkan diantara mereka dan banyak cerita2 miris lain nya.

Kalau melihat ke luar negeri, terlalu kasar juga kalau mengatakan kita dibodoh2i oleh negara lain, tapi lihatlah betapa hasil2 alam2 kita ( minyak, hasil tambang, hutan dll ) dikeruk oleh perusahaan negara2 asing, setelah sekian puluh tahun, tetap saja kita tak kaya karena nya, tak beda jauh dengan cerita bisnis VOC jaman belanda dulu. Bahkan untuk saat ini , bukan lagi dibodohi oleh bangsa asing yg jauh, dengan negara kecil, tetangga dekat pun ( Singapura ) kita dibodohi.  Padahal dulu pemimpin negara seperti bung Karno, sampai ditakuti oleh pemimpin negeri adikuasa.

Mungkin kita marah, sedih, putus asa, saling menyalahkan, atau kalau pun diajak perang mau saja, namun terbukti tanpa kecerdasan semua itu tak ada artinya, sekedar nangkap koruptor di Singapura saja kita tak bisa, “apa kata dunia” kata si Nagabonar.

Mungkin kita terlalu gengsi untuk menutupi kenyataan bahwa kita bagaikan masih terjajah dalam bentuk lain. Cobalah tengok barang2 yg kita gunakan, HP, alat elektronik, motor, mobil dll, adalah bukan buatan Indonesia. Kalau kita beli komputer, harganya dihitung dg US Dollar, bukan rupiah, kalau kita menyewa ruangan kantor di gedung bertingkat di Jakarta, harganya pakai dollar. Anak2 kecil kita menonton film2 kartun dari luar negeri, remaja kita mendengar musik luar negeri, keluarga kita nonton film buatan luar negeri di televisi rumah, mahasiswa kita di perguruan tinggi, dicekoki teori2 dari barat sono. Beberapa tanah dan asset penting di tempat kita sendiri, malah telah dikuasai penuh oleh negara lain.

Kalau ada pertemuan di kantor, ada 10 orang Indonesia dan 1 orang asing, kita terpaksa ngobrol pakai bahasa inggris, bahkan antara sesama kita. Kalau ke luar negeri kita dicurigai, tapi kalau ada tamu asing datang ke sini, kita tinggi2 kan. Dan akan banyak daftar panjang lainnya, yang secara tidak langsung menunjukkan kita bagaikan terjajah dalam makna lain, namun tak banyak orang menyadarinya

Dulu saya sering bermain ke daerah perkebunan teh di daerah Bandung selatan , kebun teh pertama yg dibangun belanda di Indonesia. Saya sering tak habis pikir dari tanah subur makmur ini, negeri kecil nun jauh di ujung dunia sana, Belanda, bisa kaya raya karena nya, namun sampai saat ini pun para pemetik teh masih hidup pas pasan, tak jauh beda dg jaman belanda baheula. Ada teman ahli teh yg bilang, bahkan produktivitas tanaman teh saat ini, tak lebih baik daripada jaman belanda dulu. Teh yg kita minum pun, bisa jadi bukanlah teh terbaik, tapi tingkatan yg rendah, mungkin berasal dari batang atau daun yg tua, teh kualitas terbaik, pucuk muda nya, kebanyakan di eksport ke luar negeri, tak jauh berbeda dengan cerita jaman belanda dulu.

Boscha, pengusaha teh belanda di sana, saking kayanya, bisa menyumbang untuk pendirian sekolah tinggi seperti ITB dan mendirikan peneropongan bintang di utara kota Bandung. Sampai saat ini tak bertambah jumlah peneropongan bintang

Ini sekedar ilustrasi , untuk urusan bagaimana mengelola hasil alam, tanah yg subur ini pun kita tak bisa lebih pintar daripada orang Belanda dulu. Apalah lagi untuk mengurus hal2 lain yg lebih rumit dibanding sekadar tanaman teh.

Nampaknya tak salah juga bung Hatta dulu berpendapat, bahwa kita perlu mencerdaskan rakyat, bangsa yg cerdas akan bisa merdeka. Terbukti beberapa negara yg merdeka kemudian ( terlambat ) dibanding Indonesia, ternyata saat ini bahkan lebih maju dari negeri kita sendiri ( misal Malaysia , Singapura ).

Pencerdasan, pencerahan bagaimana kita berpikir dan bertindak, sering disederhanakan hanya sekedar melalui bangku pendidikan di sekolah

Orang2 berebut masuk ke sekolah yg berkualitas, favorit istilah pasarnya, sebenarnya bukanlah karena ingin benar2 mencari ilmu, agar otaknya tercerahkan, tapi sebenarnya adalah karena dari sekolah favorit, bisa mudah ke perguruan tinggi favorit dan dari sana, akan mudah mendapatkan pekerjaan yg bergengsi pula, bisa dikata “ilmu” sendiri telah dikhianati, karena anak didik sebenarnya bukan cari ilmu, tapi agar kelak dapat kerja yg layak, sekolah telah menjadi sarana untuk menaikkan level sosial seorang manusia ( masuk kalangan orang kaya, terpandang, terkenal dll ).

Pendidikan kita tak jauh beranjak dari pola politik etis Belanda dulu, dimana dibuka kesempatan sekolah bagi orang pribumi yg sebenarnya hanya untuk mengisi keperluan tenaga kerja pada perusahaan2 belanda atau kantor2 pemerintahan.

Terbukti saat ini pun, salah satu cita2 mereka yg belajar sampai perguruan tinggi, adalah agar bisa bekerja di perusahaan2 asing kelas dunia yg bergengsi (world class – multinational company) , tak jauh beda dg jaman belanda baheula, menyedihkan sekali hampir seabad kita tak banyak berubah.

Masyarakat yg cerdas, tercerahkan, adalah lebih luas maknanya daripada sekedar bersekolah agar dapat kerja layak.

Pencerdasan, bukan sekedar mengisi gelas kosong dengan berbagai ilmu pengetahuan, yang malah membuat ia tak memiliki jati diri,  karena tak berhasil mengembangkan keilmuan pada dirinya sendiri.

Hanya bisa mengeluh , putus asa dan menyalahkan orang lain, tanpa berbuat apa2, adalah salah satu bentuk kekurang cerahan kita dalam berpikir.

Idealnya proses pencerdasan, adalah bagaikan kita menyiram tanaman, kita bantu seorang anak didik tumbuh sendiri, sesuai dg kapasitas dirinya yg dikaruniakan oleh Allah swt, bagaikan tanaman yg subur, ia akan tumbuh ke arah matahari ( pencerahan )

Ide bung Hatta tersebut saya kira masih relevan sampai saat ini, belum ada kata terlambat bagi mereka yg mau berpikir.

Jangan mengeluh dan putus asa, sepanjang hari esok matahari masih terbit, masih terbuka kesempatan.

Kalam hikmah mengatakan , belajar lah dari buaian bayi sampai ke liang lahat, belajar hakikatnya adalah sepanjang hidup kita, jadilah manusia pembelajar,

alam terkembang jadi guru , sejarah dan kehidupan sehari2 adalah guru juga,pengalaman hidup kita sendiri adalah pelajaran pribadi yg sangat berharga

hanya keledai bodoh yg tak mau belajar sehingga terjatuh lagi ke lubang yg sama.

Kalau kita berbicara dalam skala kecil, untuk kehidupan kita di dunia yg fana ini,  andaikanlah diri ini bagaikan pendaki gunung, dalam perjalanan menuju puncak gunung, saat berhenti di perjalanan, cobalah tengok jalan setapak yg telah kita lalui tadi, renungkanlah usaha dan perjuangan yg telah dilalui, ambillah pelajaran.

Agar perjalanan selanjutnya sampai ke puncak gunung ,bisa berhasil dg baik

Suatu saat kelak kita akan sampai ke puncak kehidupan ini, akhir kehidupan, kematian,

orang yg cerdas akan melakukan persiapan dan membawa bekal sebaik mungkin ,

menuju kemerdekaan hakiki di akhirat kelak

Merdeka…

2 comments on “Merdeka & pencerahan jiwa

  1. arsud
    18/08/2007

    Anda tulis :
    Masyarakat yg cerdas, tercerahkan, adalah lebih luas maknanya daripada sekedar bersekolah agar dapat kerja layak.
    Pencerdasan, bukan sekedar mengisi gelas kosong dengan berbagai ilmu pengetahuan, yang malah membuat ia tak memiliki jati diri, tak berkarakter, tanpa integritas.
    Hanya bisa mengeluh , putus asa dan menyalahkan

    Comment saya:
    Tulisan anda tampak seperti benar, tetapi sebenarnya tanpa dasar data dan argumen yang jelas, sehingga tampaknya hanya menyalahkan saja.

    Semua proses itu ada tahapannya, dan tiap masalah pun harus disolusi secara bertahap juga, tak bisa tiba2 beres dengan “sim salabim”, bukan ?

    Kalau anda sudah bisa memformulasikan masalahnya, bisakah anda juga berikan saran tahapan solusinya ?

    Terima kasih.

  2. hdmessa
    20/08/2007

    Terima kasih banyak atas komentar nya pak Arsud ( maaf saya tidak tahu nama jelas nya )

    Apa yg saya sampaikan hanyalah sebuah pendapat berbentuk hipotesa awal, bukan teori.
    Dalam kaidah ilmiah, hipotesa awal perlu sebuah eksperimen dan data yg valid untuk menjadi sebuah teori.

    Pepatah mengatakan “perjalanan jauh dimulai dengan langkah kecil” . apa yg saya sampaikan hanyalah sebuah langkah kecil yg untuk kemudian harus di ikuti oleh langkah2 besar yg lebih detail, seperti formulasi masalah, analisa dan solusi nyata nya.
    Saya bukan ahli pendidikan yang bisa melakukan tahapan detail spt itu.

    Sekedar ilustrasi saja, dalam kaidah pendidikan ada dikenal istilah taxonomi bloom yg menguraikan mengenai khazanah tahapan keilmuan yg perlu tersampaikan dalam proses pendidikan.

    Knowledge, comprehension,application, analysis, sintesys & evaluation.

    Proses pendidikan saat ini, kurang memberi penekanan pada peningkatan kemampuan sisi aplikasi ( penerapan ) dan sintesa, sehingga dikenal istilah NATO ( no action , talk only ) banyak orang hanya bisa ngomong, bisa terteori, tapi tak bisa melakukan penerapan praktis.

    Ahli pendidikan lain, Barbara Givens menyampaikan pendekatan lain dalam pendidikan, dimana ada 6 kecerdasan dasar yg perlu tersampaikan dg proses pendidikan.

    Kecerdasan kognitif ( rasional ) , afektif (rasa-emosi ) , cerdas sosial, komunikasi, fisik ( motorik ) dan reflective thinking

    Pendidikan saat ini banyak bertumpu pada pengembangan kecerdasan kognitif dan fisik ( skill & motorik ) , sehingga timbul ketimpangan. Antara lain sikap yg ingin serba instant, tanpa banyak melalui proses dan sikap banyak mengeluh, tanpa bisa menemukan solusi nya.

    Demikian pak Arsud, kira2 uraian singkatnya dari buku pendidikan yg sempat saya baca , mudah2 bisa menjelaskan.

    Salam

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on 17/08/2007 by in Contemplation.
%d bloggers like this: