Inspiring points

Reflective story from journey of life , Alam terkembang jadi guru

Filsafat Gitar

 gitar2.jpg

Sebuah gitar, sebelum digunakan oleh pemain nya, harus lah di setel dulu senar gitarnya, perlu keahlian khusus dan rasa seni yg tepat untuk menyetel nya, agar bisa dihasilkan melody yg indah. Sebagus apa pun gitar, bila senarnya tak disetel dg baik, tak akan menghasilkan melody yg baik pula.

Begitu pula lah halnya dg analogi seorang manusia. Allah telah membekali setiap manusia selengkap mungkin, namun tak semua manusia telah bisa menyetel hati, akal dan kompetensi diri lain nya. Tak semua potensi diri termanfaatkan.

Kita perlu menyetel senar jiwa ini, agar bisa keluar nada yg indah, sebab bila tidak hanya nada sumbang atau nada tak beraturan lah yg keluar.

Pada gitar terdapat beberapa senar dawai gitar yg berbeda beda pula nadanya. Melody yang bagus akan tercipta bila harmoni dan ritme senar senar tersebut, dimainkan dengan serasi pula.

Filosofinya, banyak aspek dalam diri kita dan hidup ini yang harus kita kelola ( “mainkan”) agar harmonis pula hasilnya. Demikian pula, banyak faktor eksternal di luar diri kita yang harus kita atur agar bisa memberikan nilai tambah yang sinergis dan menimbulkan hubungan yang harmonis dengan sesama manusia ataupun dengan alam sekitar.

Bagaimana menyetel senar jiwa ini, bisa dilakukan oleh kita sendiri atau dengan perantara guru atau pemimpin yg mengarahkan kita, atau oleh kita sendiri. Beberapa caranya antara lain, olah pikir ( belajar ) dan olah nalar ( perenungan ), berbuat kebaikan membantu sesama manusia atau aktivitas vertikal, ibadah pada Allah. Hal2 tersebut antara lain akan membantu proses tertata dg baik nya, “senar – jiwa” kita.

Bagi seorang muslim, amal ibadah secara vertikal, seperti sholat adalah bagaikan mencerahkan getaran jiwa ini, dengan aura getaran religius yg menentramkan batin. Hal tersebut akan lebih terasa bagi mereka yg sering melakukan ibadah sunat, seperti sholat tahajud. Karena kondisi saat sholat tahajud, di tengah keheningan dua pertiga malam, sekitar jam 2 – 4 shubuh, adalah saat2 yg penuh ketenangan dan menurut ahli astronomi , saat tersebut gelombang elektromagnetik dari kosmik ( alam semesta ) tercurahkan dg halusnya ke muka bumi. Sholat tahajud, adalah ibadah tambahan (sunah) yg sering dilakukan oleh nabi Muhammad saw. Masing2 agama memiliki cara tersendiri pula bagaimana mencerahkan jiwa.

Mereka yg banyak beribadah dengan khusyunya, akan terlihat di pagi hari memiliki wajah yg cerah, teduh hati kalau memandang nya, ucapan nya penuh makna dan senang hati kalau bertemu dg mereka, hidup ini terasa indah, itulah cerminan dari hati yg jernih, senar jiwa nya melantunkan melody kehidupan yg indah..

Senar jiwa yg telah disetel, dididik dg baik, akan tercerahkan, akan memberikan dampak yg cerah juga pada kejiwaan dan kehidupan kita sehari hari. Setiap hari yg kita lalui, terasa indah penuh makna.

Sebaliknya senar jiwa yg tak terawat, akan memberikan dampak hati yg gundah gulana, tak jelas arahan hidup nya. Tiap hari terasa hampa, ataupun terisi penuh tekanan ( stress ) hari esok pun terasa mengkhawatirkan, tak ada ketenangan dalam hidup ini. Yang keluar hanyalah keluhan dan stress , kalau dalam istilah musik, gitarnya menghasilkan suara yg sumbang . 

Pada seorang manusia, hal tsb bisa terlihat dari suasana wajah dan sorot matanya yg hampa. Ucapan nya pun serasa tanpa isi, bertemu dengan orang seperti itu pun, serasa gelisah hati ini..

Bagi mereka, pagi hari tidaklah indah, hujan gerimis di pagi yg dingin, berlanjut dg mendung yg gelap, mentari pagi pun tak bersinar ceria, jalan hidup serasa hampa…

Hidup hanya sekali, waktu terus berjalan, marilah kita selalu mencerahkan hati ini, karena hati lah yg menggerakkan arah kehidupan kita sehari hari…

11 comments on “Filsafat Gitar

  1. det
    27/08/2007

    Kang Hendra, sae pisan filsafatna.
    Ngomong2 gitar, saya teringat gitar (beneran) digudang ngagantung saja tdk pernah lagi dimainkan sdh sekian lama… barangkali juga sama seperti gitar jiwaku…

  2. Hendra Messa
    28/08/2007

    nuhun pak Deddy,

    syukur masih ingat pada “getaran-jiwa” nya

    sok atuh, mari kita mulai setel lagi “senar gitar” nya. agar tercipta alunan melody kehidupan yg indah

    jangan sampai “sumbang” suaranya, karena lama tergantung

    salam

  3. rio
    28/08/2007

    mantaps da hendra..
    btw, salam kenal dari saya rio..

  4. Hendra Messa
    28/08/2007

    thanks Rio,

    salam kenal juga

  5. keceng
    04/10/2007

    wah.. sudah lama saya ga menyentuh gitar, dan sudah lama juga saya tidak memainkan dawai qolbu saya, mungkin karena setelannya sudah ga pas lagi, harus direparasi semuanya atau hanya diganti senarnya saja ya…???

  6. Hendra Messa
    04/10/2007

    thanks komentar nya ,

    syukurlah kita masih bisa teringatkan dg dawai qolbu nya,

    dengan niat tulus, kita bisa “mereparasi” dawai qolbu tsb, sedikit demi sedikit

    salam

  7. wenk
    27/12/2007

    kang Hendra.. Saya setuju dengan kawan2 yang lain. Saatnya buat kita mulai me-stel / men-stel (bagaimana ejaan yang benarnya?) dawai hati kita, sehingga terpancar kehidupan yang baik. Saya percaya apa yang keluar dari mulut dan nampak di mata adalah sebenarnya yang keluar dari hati. Jika hati kita mengeluarkan lagu yang elok, maka itu juga yang nampak pada air muka kita. Amin.

  8. mhive
    19/07/2009

    trim’s… stelaah baca artikel dr maz… q mraasa ada siraman rohani yg q taak prnh terbyangkan itu brasal dr gitar… pdhal q suka maen gitar tp g smpai brfikir k sana… trims…

  9. hdmessa
    20/07/2009

    sama2, mas Mir ,

    mudah2an utk selanjutnya petikan gitarnya akan lebih bermakna lagi melodi suara yg dihasilkan nya

    salam
    HM

  10. sutrisno2629
    20/10/2011

    menarik kang n thanks

  11. hdmessa
    27/10/2011

    sama2,
    mas Sutrisno,

    salam

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on 27/08/2007 by in Contemplation.
%d bloggers like this: