Inspiring points

Reflective story from journey of life , Alam terkembang jadi guru

Saving vs Consumerism (belajar dari rumah gadang)

rumah-gadang2.jpg

Dalam budaya tradisional Minang, pada sebuah rumah gadang (rumah adat minang ),  di depan rumah terdapat deretan lumbung yg berisi padi. Ada 3 lumbung padi yg berdiri berjajar, yang mana masing2 lumbung, memiliki fungsi tersendiri, masing2 lumbung diberi nama sebagai berikut ;

 1. sitinjau lauik ( peninjau orang melaut / bepergian jauh ) berfungsi untuk keperluan mereka yg akan bepergian jauh, baru pulang dari perjalanan, atau mereka yg kemalaman di tengah perjalanan ( musafir )

2. sibayau bayau, persediaan untuk keperluan sehari hari dan acara2 khusus seperti perhelatan dll. 

3. sitangka lapa ( penghilang rasa lapar ), persediaan untuk membantu fakir miskin, saat kesulitan pangan atau paceklik. 

Sungguh menakjubkan, orang2 tua kita dulu telah memiliki sistem logistik yg baik, Untuk bersiap menghadapi berbagai kejadian yg tak terduga, bahasa modern saat ini Mungkin itulah bentuk saving ( tabungan ) atau persediaan, sehingga bisa terhindar dari kesulitan saat masa susah.

Dan mereka berpikir secara komunal ( masyarakat ) bagaimana masyarakat bisa saling bantu dalam kesulitan , tak hanya memikirkan keselamatan diri pribadi saja ( saat ini orang2 cenderung individualis , yg kaya enggan untuk mau membantu mereka yg miskin ) 

Dengan keberadaan lumbung2 tsb,  masyarakat minang masa lalu, bisa hidup makmur dan bisa terhindar dari kesulitan pangan pada saat2 kondisi darurat, seperti musim kering atau bencana alam.  Bisa kita fahami bahwa daerah ranah minang yg berada di jalur bencana gempa bumi, tapi walau demikian dalam sejarah masa lalu, masyarakat minang saat itu termasuk berada dalam kondisi makmur, sebagaimana pernah dinyatakan dalam sebuah laporan pemerintah belanda dulu, bahwa daerah tsb adalah salah satu daerah yg masyarakatnya bisa hidup makmur. 

Lumbung pagi tersebut adalah salah satu bentuk kearifan masyarakat lama kita ( local indigineous ) yg makin lama makin terkikis. Saat ini rumah gadang telah mulai berkurang, kalau adapun hanya sekedar hiasan. Masyarakat minang sendiri saat ini cenderung lebih hidup individualis, jarang kita temui lagi saat ini ada keluarga besar yg tinggal di satu tempat spt rumah gadang dalam kultur minang lama. 

Dalam kaidah ekonomi modern, kebiasan tersebut , menyimpan padi di lumbung, adalah sebuah tindakan yg cerdas, dan memang negara yg maju ( kaya ) saat ini, adalah negara yg memiliki cadangan keuangan negara dan tabungan masyarakat yg banyak.Justru negara2 miskin ( seperti Indonesia ) adalah negara2 yg sedikit cadangan keuangan nya, malah terlilit hutang.

Trend makro ekonomi saat ini menunjukkan bahwa negara kaya makin kaya, makin banyak tabungannya, negara miskin makin miskin, tak sempat menabung, malah terlilit hutang berkepanjangan. Hal tsb diperparah oleh pola hidup yg individualis, tak mau peduli orang lain. Sebenarnya ada juga di negeri kita ini , orang2 superkaya yg bergelimang harta, di sekitar banyak orang miskin. Secara sederhana bilamana distribusi kekayaan, bisa lebih merata, banyak orang miskin yg bisa hidup layak.  

Budaya lumbung tadi, adalah sebuah bentuk kesalehan sosial, dimana orang2 kaya atau mereka yg memiliki harta berlimpah, menyimpan nya di tempat bersama yg bisa digunakan orang2 lain yg mengalami kesusahan , spt musafir atau saat2 paceklik seperti jenis2 fungsi lumbung dalam cerita diatas. Membangun masyarakat yg kaya adalah lebih bermakna daripada membangun kekayaan masing2 individual. 

Sayang kebiasaan bagus tersebut, salahsatu kearifan lokal kita, telah hilang , terbius oleh budaya kredit, bahasa halus untuk berhutang. Di masyarakat kita pun kondisinya sama, orang kaya, banyak tabungan, orang miskin banyak hutang, sehingga tak salah kata syair lagu Rhoma Irama, yg kaya makin kaya, yg miskin makin miskin.

Tapi yg sebenar terjadi bukan sekedar miskin uang, tapi memang bermental miskin, yg diperparah lagi oleh serbuan budaya konsumerisme, obat bius dari ekonomi kapitalis. Orang2 yg terkena racun konsumerisme dan kebiasaan berhutang, memilih untuk hidup dalam hutang daripada menabung, dan ini menjadi karakter juga mereka yg hidupnya berkecukupan. 

Budaya kredit, dimana barang2 bisa dibeli secara kredit, penggunaan credit card dan berbagai iming2 konsumerisme, telah menjadi sebuah kultur sebagian besar masyarakat kita saat ini. Bahasa kasarnya, ngapain nabung, kalau kita bisa dapat sesuatu dengan cara kredit. Iming2 kredit dan budaya konsumerisme, membuat banyak kita membeli barang2 yg sebenarnya tak begitu dibutuhkan, namun malah menjebak kita dalam hutang. Bank sebagai institusi keuangan akan lebih royal memberikan kredit konsumsi daripada kredit untuk usaha.

Hal ini membuat orang lebih cenderung untuk berhutang untuk mendapatkan keperluan nya, namun pada sisi lain membuat orang2 malas untuk berusaha secara produktif. Kebiasaan berhutang masyarakat kita, ternyata menjadi kebiasaan negara kita juga, yg mana saat ini terlilit hutang yg makin melipat, karena hutang, negara tak bisa leluasa membangun negeri dan dampaknya pada masyarakat juga yg jadi hidup susah karena kesulitan ekonomi negara, barang2 kebutuhan pokok jadi mahal, tapi penghasilan kecil.

Bahkan saat ini sebagian masyarakat kita hidup susah, bahkan ada yg kelaparan. Mereka yg terlilit hutang , susah untuk bisa berpikir rasional dalam jangka panjang, gali lobang tutup lobang, membuat mereka selalu hidup dalam survival mode ( pola bertahan hidup, tak sempat mengembangkan peradaban yg lebih tinggi ). Bahkan kita saat ini mengalami apa kata pepatah lama ;“ bagaikan tikus mati di lumbung padi” yg menggambarkan sebuah paradox, dalam bahasa makro nya, masyarakat indonesia hidup susah walau berada di tengah alam yg kaya. 

Kembali ke cerita lumbung padi di rumah gadang tadi, saya jadi coba merenung mengapa orang2 kita saat ini, tak lebih cerdas daripada nenek moyang kita dulu yg telah memiliki budaya keuangan yg sehat ?? Saya bukan ahli ekonomi yg bisa menjelaskan paradox tsb dan bagaimana solusinya.

Cerita ini semua hanya sekedar sebuah perenungan untuk kita bersama, mudah2 an masing2 kita cukup pintar utk mencari solusinya. Yang terpikir hanyalah secara praktis kita bisa memulai dari diri kita sendiri, dari keluarga kita sendiri. Saya mengajak keluarga untuk membiasakan diri menabung, baik menabung dalam bentuk uang atau dalam bentuk lain ( ilmu, relasi, nama baik dll ) 

Kurangilah sedikit demi sedikit kebiasaan berhutang atau kredit dalam bahasa modern nya. Waren Buffet, miliuner, Amerika, pemilik perusahaan investasi Bershirk Hathaway,  punya saran yg terasa aneh untuk bisa hidup makmur, berhati2 lah dg kebiasaan berhutang ( kredit ) 

Jagalah diri dan keluarga kita agar tak terkena racun manis ekonomi kapitalis; konsumerisme, kredit (kebiasaan berhutang)  dan individualisme. 

Marilah kita mulai menyalakan lilin2 kecil daripada hanya mengutuk kegelapan

2 comments on “Saving vs Consumerism (belajar dari rumah gadang)

  1. widjayanto djaenudin
    22/02/2008

    blog-nya sangat bagus dan bermanfaat.

    sebuah penghayatan dan perenungan yang dalam mengenai hakikat kehidupan. membuat pembacanya serasa terasing sejenak dari kondisi hiruk pikuk kehidupan. berkomunikasi dengan diri sendiri dalam hening. mempertanyakan eksistensinya dalam kehidupan ini. merenung.. bertanya jawab.. menangis..

    sebuah oase di padang gurun kehidupan..

  2. hdmessa
    24/02/2008

    terima kasih pak Widjayanto, komentar nya,

    syukur banyak manfaatnya tulisan2 ini,

    saya hanya berusaha utk sekedar sharing dari apa yg kita alami sehari hari dan mengambil hikmah nya.

    salam
    HM

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on 27/08/2007 by in horizon - insight.
%d bloggers like this: