Inspiring points

Reflective story from journey of life , Alam terkembang jadi guru

salah kaprah teknologi

Sekitar 10 tahun yg lalu, saat nilai tukar US dollar meningkat tajam , maka harga2 produk perkebunan untuk pasaran eksport pun ikut naik. Para petani kakao di sebuah tempat di sulawesi menjadi kaya mendadak karena nya. Mereka membawa truk penuh kakao untuk dijual ke ibukota propinsi dan pulang membawa uang cash berkarung2 banyaknya. Karena kaya mendadak mereka pun bingung mau di apakan uang tersebut. Saat di kota besar, sebagian ada yang pergi ke showroom mobil, beli mobil secara hard cash, ada juga yang membeli alat2 elektronik seperti TV dan kulkas. Namun saat pulang kembali ke kampung halaman nya mereka yang beli mobil jadi bingung, jalan ke rumahnya rusak dan sempit, tak ada garasi pula.  Mereka yang beli TV dan kulkas bingung pula, karena listrik belum sampai ke kampung nya. Akhirnya kulkas pun dijadikan lemari tempat menyimpan baju…..

Demikianlah sekedar ilustrasi singkat betapa mereka yg langsung melompat jauh dari peradaban pertanian ke peradaban informasi & teknologi, sering tergagap gagap karena nya, istilah sosiologi nya , cultural shock (kekagetan budaya).

Namun tak hanya bagi masyarakat pedesaan terpencil, secara umum masyarakat indonesia lain nya pun banyak yg mengalami hal tersebut, walau dalam kadar yang lebih ringan. Betapa banyak teknologi maju yg kita gunakan, tak digunakan secara optimal sesuai esensi fungsinya, tapi lebih banyak sekedar pemenuhan gaya hidup, berikut beberapa contohnya ;

Beli handphone 3G model terbaru dengan segala kelengkapan teknologi nya, namun sekedar dipakai sms-an, ngerumpi atau kirim gambar2 tak senonoh. Banyak pula orang yg sering gonta ganti HP hanya karena ingin bergaya dengan model terbaru.

Beli mobil terbaru dengan segala kecanggihan dan asesories nya, namun tak optimal digunakan karena kemacetan dan jalanan yg sempit dan rusak. Mobil2 mewah yg canggih baru akan terasa nikmat digunakan kalau lewat jalan bagus dan lebar, seperti di jalan tol. Konon karena itulah ada relasi tak langsung antara penjualan mobil mewah dengan bertambah panjang nya jalan tol. Anekdotnya, ada mobil Ferrari, tapi dikemudikan dengan gaya supir angkot, lewat jalan kampung yang sempit dan berlubang, tak ada nilai lebih mobil dengan teknologi canggih seperti Ferrari, bila digunakan seperti itu. 

Namun jalan tol yang juga salah satu bentuk teknologi baru dalam pembuatan jalan sering tak optimal juga, karena sebagai jalan bebas hambatan, malah banyak hambatan.

Ada sebagian anak muda yg punya hoby aneh, memasang berbagai aksesories mahal dan teknologi tambahan pada mobilnya, tapi hanya sekedar untuk gagah gagahan.

Beli TV layar lebar, 30 inch lengkap dengan sound system home teathernya, namun di pasang di rumah kecil type 21. Yah tak nyaman lagi,  sakit mata karena terlalu dekat layarnya dan sakit telinga karena suara keras sound system nya.

Di tempat di pernikahan sering kita lihat pula dipasang sound system yg canggih dengan watt yg besar, namun karena terlalu keras suaranya, jadi tak nyaman pula , terlalu bising susah dengar untuk saling ngobrol.

Pasang wireless internet broadband, namun digunakan untuk sekedar chating, ngerumpi di mailing list atau download gambar2 tak senonoh. Kalau tak percaya, cobalah tengok ke warung-internet, apa saja akses internet yg kebanyakan digunakan.

Beli komputer canggih pentium 5, RAM 512, hard disk 40 giga dan berbagai kelengkapan lain nya, software nya microsoft vista, tapi kebanyakan hanya digunakan untuk ngetik, buat spreadsheet atau presentasi atau main game, banyak fungsi lain yg tak digunakan. Padahal harga yg kita bayar, adalah harga untuk seluruh fungsi tersebut.

Majalah bisnis terkemuka, Harvard Business Review, pernah memuat artikel penelitian berkaitan dengan inefesiensi penggunaan teknologi khususnya IT, judul nya “IT doesn’t matter” . Sebuah penelitian menunjukkan bahwa penggunaan perangkat IT, hanya 30 % yg berkaitan dg pekerjaan atau value added activity lain nya, sisanya digunakan untuk hal2 yg tak memberi nilai tambah atau sekedar aktivitas gaya hidup.

Beberapa perusahaan besar di Indonesia, banyak yg mengimplementasikan sistem komputer canggih seperti SAP, Oracle, tapi tak optimal, karena sebagian proses masih dikerjakan secara manual, dan prosesnya belum efisien.

Banyak juga perusahaan yang implement sistem manajemen kelas dunia, seperti ISO 9001, namun masih banyak prosesnya yg belum efisien, ada sebagian perusahaan implement sistem tersebut, sekedar demi gengsi manajemen saja.

Televisi yang hakikatnya adalah sarana informasi dan hiburan, akhirnya telah menjadi acuan gaya hidup melalui apa yg disiarkan nya. TV ditempatkan di lokasi yg paling strategis di tengah rumah kita, dimana banyak waktu dihabiskan di sana, TV telah berubah dari sekedar tontonan menjadi tuntunan hidup yang seolah telah mendikte aktivitas dan gaya hidup semua anggota keluarga, mulai dari anak2 sampai nenek2.

TV yang bisa dikata hidupnya dibiayai oleh para produsen telah menjadi sarana marketing product yg paling ampuh saat ini, sehingga TV telah menjadi agen paling kuat menyebarkan virus konsumerisme di tengah keluarga kita, termasuk konsumerism terhadap produk teknologi.

Kalau di urut lagi akan banyak kita temukan, dalam kenyataan sehari hari, betapa teknologi maju yg kita beli dengan harga mahal, akhirnya tak digunakan secara efisien atau malah mubazir sama sekali. Kebanyakan kita masih menggunakan teknologi sekedar gaya (style/fashion ) daripada esensi utamanya untuk lebih memberikan nilai tambah dan kemudahan.

Tapi bagi para pedagang atau produsen teknologi tersebut (multinational company dari negara maju), mereka tak ambil pusing dengan itu semua, yang penting bisa untung besar karena barang nya laku. Makin sering orang gonta ganti barang dengan teknologi terbaru, makin senang mereka, peduli amat, apakah teknologi tersebut telah digunakan sesuai fungsi nya, atau hanya sekedar gaya hidup.

Kebanyakan produk2 teknologi tersebut di import dari produsen di negara2 maju, yang kita beli dengan harga mahal, dibayar dengan menjual produk2 hasil alam kita, yg dijual dengan harga murah. Kita jual hasil tambang, minyak, kehutanan, perkebunan, pertanian dan lain lain, yang mana antara lain mengakibatkan harus dibayar mahal dengan banyaknya kerusakan alam.

Harga mahal untuk mendapatkan produk2 teknologi tersebut, tidak dengan serta merta memberikan dampak positif dalam arti menaikkan nilai tambah proses atau meningkatkan kualitas hidup kita secara umum, karena hanya sisi kulit luar dari teknologi yg kita dayagunakan dengan tak begitu menghiraukan esensinya.

Hukum ekonomi menunjukkan ada ketimpangan nilai jual beli antara produk teknologi yg mahal dengan produk alam yg murah. Analogi sederhana nya, seorang petani di kampung mengeluarkan keringat banyak dalam waktu yg lama untuk menghasilkan beberapa karung beras, namun hanya cukup diganti dengan seonggok produk teknologi seperti motor permintaan anak nya yg merengek2 minta dibelikan karena ingin bergaya pada temannya atau karena terbujuk rayuan konsumerisme. Begitu pula hal yang sama terajdi antara negara miskin seperti negara kita dengan negara kaya produsen produk teknologi, terjadi nilai tukar yang timpang, sehingga berlaku apa kata lagu Rhoma Irama, yg kaya makin kaya, yang miskin makin miskin.

Kalau di lihat dari sisi sejarah, memang begitulah hal yg berlaku sejak jaman kolonialisme belanda dulu, betapa hasil alam indonesia di jual murah ke luar negeri, namun rakyat indonesia keluar uang banyak untuk mengimpor produk2 kebutuhan modern dari negara eropa saat itu, semisal sepeda dan mobil.

Bisa jadi memang sejak dulu, kita mengalami kegagapan teknologi, karena proses yang tindak sempurna saat berubah dari masyarakat pertanian ke masyarakat industri / informasi. Tak ada pendidikan khusus tentang bagaimana menggunakan teknologi. Dari sisi pendidikan, pemerintah kolonial Belanda saat itu tak merasa perlu mendidik bangsa Indonesia dalam hal tersebut. Bahkan pendidikan yang dilakukan pun dilakukan bukanlah untuk mencerdaskan seperti bisa memahami tentang proses perubahan dari masyarakat pertanian ke industri. Pendidikan saat itu yg didorong oleh politik etis, lebih pada bagaimana memberi kemampuan orang indonesia bekerja pada pemerintahan atau perusahaan2 belanda saat itu.

Hal yg sama tak berubah sampai saat ini, pendidikan lebih pada penyiapan tenaga kerja siap pakai di berbagai perusahaan / pemerintahan. Pendidikan lebih menjadi sarana bagi seseorang untuk bisa masuk ke tingkatan masyarakat yg lebih tinggi ( kaya, berkedudukan dll ), itulah yg ada pada pikiran anak didik, masuk sekolah favorit, agar bisa kerja di tempat favorit pula ( gaji tinggi dan bergengsi ). Filosofis sebenarnya pendidikan untuk pencerdasan pikiran dan pencerahan jiwa sedikit terabaikan. Sehingga kebanyakan orang akhirnya jadi lebih melihat kulit daripada isinya, karena tak bisa memahami hakikat esensial dari suatu hal, karena memang pendidikan tak membukakan pikiran nya untuk proses tersebut.

Hal yang sama berlaku pula pada pendidikan teknologi, tak sampai kita diajarkan secara mendalam mengenai esensi atau nilai filosofis dari suatu teknologi, yang diajarkan hanya sekedar “how to”, bagaimana menggunakan teknologi. Masyarakat umum pun akhirnya tak bisa memahami dengan baik tentang esensi teknologi tersebut, sebagai alat untuk memberi nilai tambah dalam proses. Masyarakat umum lebih terpesona pada “kulit” (tampilan luar) dari suatu teknologi . Sehingga apapun juga teknologi yang kita gunakan, kebanyakan lebih dilihat kulit luar nya, semisal penggunaan komputer, internet, Handphone, alat elektronik, kendaraan dll, masyarakat lebih terpesona pada tampilan luar atau digunakan untuk sekedar gaya hidup.

Secara sosiologis pendidikan harus berfungsi pula untuk mengtransformasikan masyarakat dari dunia pertanian ke dunia industri, apalagi dunia informasi seperti saat ini. Lompatan budaya tanpa persiapan akhirnya hanya menyebabkan kegagapan (cultural shock). Contohnya adalah ketidak efektifan dalam penggunaan teknologi, sungguh aneh teknologi yg harusnya mencerdaskan, malah membodohkan karenanya.

Salah kaprah tersebut masih terus berlangsung, apalagi dengan merebaknya pola ekonomi kapitalis neo liberalisme yg mengglobal sampai ke negara kita, dimana akhirnya negara kita hanya sekedar jadi konsumen teknologi dari negara maju. Secara ekonomi pun tak mandiri karena nya. Para pemimpin dunia bukanlah malaikat yg mau ambil peduli, apabila negara miskin tetap miskin dan bodoh masyarakat nya.

Kecanggihan perkembangan ilmu pemasaran dan advertising dibantu dengan segala teknologi nya, telah membuat banyak masyarakat kita, terbuai dalam sikap konsumerisme yang merupakan salah satu karakter ekonomi kapitalis. Ditambah lagi dengan karakter rendah diri bangsa kita yang lebih menghargai produk luar negeri daripada buatan negeri sendiri.

Jadi bukan hal mudah untuk menyadarkan masyarakat banyak tentang esensi teknologi, bagaimana menggunakan teknologi sesuai fungsinya. Bagaimana bahwa sesungguhnya teknologi akan mencerdaskan kita semua. Tak mudah pula untuk menumbuhkan sikap hidup hemat dan penuh perencanaan dalam hidup ini.

Namun setidaknya kita bisa memulai pencerahan, pencerdasan dari diri kita sendiri, dari keluarga kita sendiri. Belajar memahami esensi , hakikat daripada sekedar bergelut dengan hal yg bersifat kulit (tampilan luar) .

2 comments on “salah kaprah teknologi

  1. fahroniarifin
    02/10/2007

    Budaya semacam ini kabarnya disebut sebagai Trading Up. Orang berusaha menjangkau barang diluar daya belinya. Kalau dulu biasanya hanya dianut oleh orang-orang aristokrat, untuk menaikkan derajat mereka ditengah kaum bangsawan, tapi sekarang sudah meracuni kaum menengah sampai miskin. Indonesia menurut saya adalah bangsa yang sangat terpengaruh oleh Trading Up. Mengenaskan.

  2. Hendra Messa
    02/10/2007

    terima kasih atas komentar nya ,
    Pak Fahroni.

    mungkin pak Fahroni, bisa sharing juga,
    bagaimana cara mengurangi dampaknya dan memperbaiki karakter trading up tsb.

    salam
    HM

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on 22/09/2007 by in horizon - insight.
%d bloggers like this: