Inspiring points

Reflective story from journey of life , Alam terkembang jadi guru

dari kota santri sampai pantai pangandaran

 pangandaran-2.jpg

“Suasana di kota santri , asyik senangkan hati

Tiap pagi dan sore hari, muda mudi berbusana rapi

Menyandang kitab suci, pulang pergi mengaji” 

Alunan lagu tersebut menghantar kita saat sampai di kota Tasikmalaya, salah satu daerah di Jawa barat yg banyak terdapat pesantren (sekolah agama). Berada di daerah tasikmalaya, khususnya saat melewati daerah pesantren kita akan merasakan suasana yang khas, dimana terihat banyak santri berjalan beriring hendak pergi mengaji, santri pria dengan sarung dan pecinya, santri wanita dengan kerudung putih dan baju panjang nya sungguh indah.  Terasa kontras sekali dengan pengalaman saat dulu bekerja di kawasan industri pulogadung, dimana lain lagi suasananya, kalau sore hari banyak juga  berjalan beriringan pulang kerja, karyawati dari pabrik garment yg berjalan terburu2 dengan wajah gelisah, hendak mengejar biskota untuk pulang ke rumah sempitnya. 

Sebelum bulan Ramadhan , saya dan teman2 pesepeda mengadakan penjelajahan bersepeda. Kota Tasikmalaya, menjadi tempat awal perjalanan bersepeda, dengan tujuan akhir pantai pangandaran, pantai selatan jawa barat. Turut serta pula 6 orang expatriat bule di Bandung yg hobi naik sepeda juga, total ada sekitar 40 orang pesepeda yang ikut dalam perjalanan tersebut. 

Dari kota Tasikmalaya kami melewati jalur selatan yang agak sepi, namun mendaki pebukitan daerah Cikatomas. Jalur yang dilalui ialah, dari kota Tasik ke arah selatan  – manonjaya – salopa terus ke kota kecamatan Cikatomas. Setelah melintasi sungai cimedang, perjalanan berlanjut sampai ke Cimerak kemudian berbelok lagi ke arah timur lewat Cijulang – Parigi menyusuri jalan lintas pantai sampai ke Pangandaran. Total jarak sekitar 120 Km, kita berangkat jam 7 pagi, sampai ke Pangandaran sekitar jam 5 sore, perjalanan panjang yang cukup melelahkan, namun banyak hikmah berharga sepanjang perjalanan.  

Pagi itu cukup dingin, mentari bersinar temaram, karena awan cukup kelam, gerimis pun sedikit turun. Kami berangkat dari depan sebuah hotel, tempat menginap, melewati jalanan kota yg mulai ramai. Terlewati pula beberapa pesantren / sekolah agama yg tampak mulai ramai santrinya jalan beriringan.    

Setelah melewati daerah kota yg cukup ramai, kami sampai di batas kota yg mulai sepi dan jalanan mulai berbatu. Sekitar setengah jam perjalanan kita sampai ke sebuah kota kecil di selatan Tasik, namanya Manonjaya, Setelah melewati rel kereta api jalur ke jogja-surabaya, kita akan bertemu dengan sebuah pesantren besar, Miftahul Huda namanya. Pesantren yang didirikan oleh KH Khoer Afandi, seorang ulama yg juga pejuang kemerdekaan. Melihat gerbangnya saya jadi teringat akan sebuah kenangan manis  disana, karena dulu saya pernah berada di sana.

Berada di pesantren kita akan merasakan sebuah suasanan dunia pendidikan yang menentramkan batin, khas sekali suasananya, bila dibandingkan suasana sekolah umum. Sekolah2 umum apalagi yang berlatar belakang eksakta / teknik seperti di ITB, memang membuat otak ini tajam, namun hati dan rasa jiwa akan kosong. Di Pesantren lah saya menemukan kondisi yg bisa mengisi kekosongan batin tersebut. Alhamdulillah saya bisa memahami kitab kuning literatur pesantren yg berbahasa arab, sama lancarnya dengan membaca textbook technical standard. Kiyai / ustadz pesantren yang kharismatik terasa begitu dekatnya, dan tentram hati menyimaknya saat belajar, kiyai serasa jadi orang tua bagi para santri. Beda sekali dengan guru atau dosen di sekolah umum, yg serasa ada jarak dengan kita, seringkali kita malah jemu mendengarkan nya saat mengajar. Persahabatan dengan teman santri akrab juga, karena sama2 tinggal di asrama, beda dengan teman di sekolah umum di kota besar, yang bisa jadi dengan teman sekelas kita tak begitu akrab.

Pesantren juga mengajarkan kemandirian. Para santri yang tinggal di asrama harus bisa mengurus sendiri berbagai hal kebutuhan sehari2 nya, seperti memasak dan keperluan lain nya. Saya punya pengalaman menarik, bagaimana kita harus bisa memasak sendiri makanan. Kami teman2 satu asrama, urunan mengumpulkan beras dan lauk pauk utk makan siang. Nasi liwet dimasak dengan panci kecil yg di pesantren di kenal dg nama kastrol, masaknya pun pakai kayu bakar. Sambil masak nasi, teman lain memasak ikan yg dipancing dari kolam pesantren, teman satu lagi membuat sambel dengan campuran tomat, bawang dan garam. Setelah semua masak, kami gelar tikar di bawah pohon mangga, di halaman rumput sebelah ruang asrama. Seorang teman mengambil daun pisang, yang kemudian dihamparkan di atas tikar tersebut. Nasi liwet yg masih hangat ditebarkan di daun pisan, dimasukkan pula ikan bakar dan disampingnya diletakkan sambel cabe. Kita duduk berlima mengelilingi daun pisang tersebut dan makan bersama. Teman sebelah cerita sebenarnya kita makan dengan ayam juga, maksudnya ayam yg sedang berdiri di dekat kita, sambil menunggu lemparan sisa makanan. Nikmat sekali rasanya, makan siang yang sederhana di bawah pohon mangga tersebut…

Kompleks pesantren tersebut cukup luas, karena selain tempat belajar, disana juga tersedia asrama (kobong bahasa sundanya), jadi santri tinggal dan belajar di kompleks tersebut. Asrama putra dan putri dipisahkan lokasinya , biasanya dibatasi oleh rumah kiyai atau para ustadz pengajar, Barulah di mesjid atau saat di kelas ada pelajaran bersama, mereka akan bertemu. 

Di pesantren ini pulalah dulu saya sempat terpesona dengan seorang gadis santri yang cantik, kecantikan alami yg tak perlu pulasan make up, selain cantik ia juga pintar dan baik hati. Karena kalau di kota saya seringnya bertemu dengan gadis yg biasanya jadi angkuh karena karena kecantikan nya. Saya sering mencuri pandang bila ia pergi mengaji dengan langkah anggun nya, dengan kerudung putih dan jilbab panjang nya yang walau dari bahan yg sederhana, namun tampak begitu serasi. Kalau bertemu ia akan tersenyum malu, kemudian menundukkan pandangan nya. Bila bicara ia akan berbicara dengan suara yg lembut bagai orang berbisik, menggunakan bahasa sunda halus. Bila membaca al qur’an atau sholawatan, sungguh merdu suaranya, mendengarnya jantung pun berdegup keras karena nya. Ia tak hanya cantik secara fisik, namun lebih lagi pada kecantikan jiwa dan perilakunya, inner beauty, istilah orang kota. Dan saya merasakan adanya  sebuah kecantikan religius, karena ia begitu soleh, taat beribadah dan indah akhlaknya. Bila dibandingkan dengan cewek2 kota besar yg saya temui baik saat sma, kuliah, gadis kantoran di Jakarta yang ber make up tebal atau cewek mall dg rok pendek sekalipun, mereka semua tak ada apa2 nya. 

Butiran gerimis pagi yang menimpa wajah, menyadarkan saya akan lamunan masa lalu tersebut. Jalanan mulai sepi , karena telah melewati batas kota, jalanan mulai menanjak, mengarah ke daerah Salopa, yang berada di daerah pegunungan  selatan Tasikmalaya bersepeda menapaki jalan menanjak dan berkelok2 ini, memang terasa melelahkan, tapi pemandangan alam pebukitan sekitarnya yang indah, sedikit mengobati rasa lelah tersebut. Saat sampai di ujung kelokan kita berharap selanjutnya jalan akan mendatar atau menurun, tapi ternyata menanjak lagi. Dari kejauhan tampak puncak bukit akan terlewati setelah melewati sebuah kelokan, kami berharap itu adalah kelokan terakhir, tapi ternyata di balik bukit itu, ada bukit yg lebih tinggi lagi. hahhh, kecewa juga, kirain sudah habis tanjakan nya. Karena sangat melelahkan, kami beberapa kali istirahat dibawah pohon rindang. 

Analoginya dalam kehidupan sehari hari, kita sering menghadapi sebuah masalah yg berat, kita berharap bahwa masalah tersebut cepat selesai dan kita terbebas karena nya. Tapi seringkali setelah habis suatu masalah, kelak akan ada masalah hidup lain nya. Memang demikian lah hidup ini, tak lepas dari masalah, tinggal bagaimana kita mensikapi nya saja. Bila terlalu berat beban hidup, dan kita tak kuat menghadapinya, istirahatlah sejenak, jangan lupa selalu berdoa pada Allah, yang maha Kuasa dibanding diri kita yg lemah ini. 

Matahari telah sampai di puncak siang, saat kami sampai di daerah dataran tinggi Cikatomas, sungguh melelahkan perjalanan menapaki pendakian yang cukup panjang dalam terik siang hari. Hampir sekitar 40 km, kami jalan mendaki sejak dari kota tasik, dimana kita berangkat tadi. Kami pun beristirahat siang di sebuah rumah makan pinggir jalan. Nikmat sekali nasi bakul dengan hidangan ala kadarnya, menu kampung, kami pun makan dengan lahap nya. Beberapa teman ada yg tak bisa kenyang kalau tak makan nasi juga. Tapi lain lagi dengan rekan2 bikers expatriat, mereka cukup makan makanan ringan seperti coklat, roti, buah buahan dan minuman berenergi, yang telah dipersiapkan, sebentar saja untuk kemudian melanjutkan perjalanan. 

Setelah istirahat kita melanjutkan perjalanan, beberapa rekan yg kebanyakan makan, malah akhirnya jadi keberatan dan sakit perut saat menggenjot sepeda lagi, yah salah sendiri kenapa kebanyakan makan, memang kalau dalam perjalanan, ada strategi tersendiri bagaimana memenuhi kebutuhan nutrisi kita. Para expatriate bule tersebut, telah memberikan contoh yg baik, bagaimana memenuhi kebutuhan nutrisi seperti dalam perjalanan jauh ini. Bagi bule2 tsb yg penting ialah kualitas asupan makanan yg menambah tenaga ; protein, karbohidrat dan air. Kalau kita2 yah yang penting makan sekenyang2 nya, dengan harapan banyak tenaga, tapi ternyata kalau hanya banyak nasi doang, yah nggak kuat juga, malahan sakit perut.  Hal tersebut sebuah pelajaran berharga pula, bagaimana bahwa orang2 asing (orang barat pada umum nya ) selalu menyiapkan segala sesuatu secara terencana dan dengan ilmu, termasuk dalam hal2 sederhana seperti perjalanan bersepeda ini. Mereka selalu serius walau untuk hal kecil sekalipun. 

Dari Cikatomas ke arah selatan, jalanan turun naik melewati pebukitan, dan tak mulus lagi, banyak jalan rusak dan berbatu atau malahan hanya jalan tanah, hal yg biasa kita temui di daerah pedalaman yang tak tersentuh pembangunan. Kondisi jalan yg berat dan siang terik panas matahari, cukup menyita tenaga juga dan memerlukan keterampilan bersepeda yang handal pula. 

Sepanjang jalan di daerah pedalaman yg cukup sepi tersebut, di desa2 tertentu saya lihat banyak papan nama proyek2 bantuan pembangunan, baik dari pemerintah pusat atau program bantuan luar negeri. Kebanyakan hanya tinggal papan nama saja, tanpa kegiatan atau tinggal berupa bangunan2 kosong tanpa aktivitas.  Memang demikian lah banyak terjadi pada program2 bantuan pembangunan untuk daerah pedesaan seringkali tak efektif. Antara lain karena pendekatan top down (gemana bagusnya menurut orang di pusat) dan bersifat temporer, tanpa memperhatikan bagaimana sebenarnya keinginan masyarakat setempat yg lebih tahu dengan keperluannya, kita sering melupakan kearifan lokal ( local genious ). Selain banyak nya dana pembangunan dan bantuan luar negeri yg di korupsi, banyak juga program2 tsb akhirnya mubazir setelah sampai di lapangan. Bisa sedikit dimengerti mengapa setelah puluhan tahun pembangunan, negara kita tetap miskin. Saya cukup memahami juga hal tersebut, karena dulu pernah juga terlibat dalam proyek2 seperti itu. 

Usaha2 peningkatan kesejahteraan, pengurangan kemiskinan dengan cara tersebut banyak yg tidak efektif karena nya, seperti terbukti selama jaman pembangunan ini, malahan di beberapa tempat menyebabkan ketergantungan dan kemiskinan berkepanjangan. Berkaitan dengan bantuan luar negeri untuk negara2 miskin seperti Indonesia, ada sebuah teori dari teman LSM yg menyatakan sebuah hipotesa bahwa dari  setiap 1 dollar, dana bantuan luar negeri, akan kembali lagi 5 dollar ke negara bersangkutan dalam jangka panjang nya. Karena itulah bantuan atau hutang  dari negara kaya pada negara miskin, di sebalik itu tanpa disadari adalah proses pemiskinan juga.  

Perjalanan turun naik bukit dengan kondisi jalan yg buruk,  cukup melelahkan membuat kami ingin beristirahat lagi, biasanya kita cari warung pinggir jalan saja, tapi di daerah yang sepi ini, jarang juga ada warung. Sampai akhirnya kami bertemu sebuah warung kecil di tempat yg terpencil sebelum jembatan sungai cimedang yang menjadi batas alam kabupaten Tasikmalaya dan Ciamis.  

Di warung kecil pinggir jalan, saya masuk warung melepas lelah, beli minuman dan makanan ringan. Sambil duduk melepas kepenatan kaki di bangku kayu, terdengar dari dalam warung suara lagu dangdut yg mendayu 2 , yang berasal dari TV kecil yg dipasang di sana. Saya heran siaran TV apa yg masuk ke tempat yg terpencil ini ? . Tapi kok seru amat mereka menonton saya pun coba mendekat, eh ternyata mereka sedang asik menonton TV yg memutar VCD dangdut, tapi diperhatikan lagi, wah kok erotis banget goyangan nya, seperti tari strip tease di night club mangga besar, Jakarta, menjijikan juga melihat nya…. Wah parah juga nih, ternyata sampai ke tempat2 terpencil juga goyangan2 erotis tersebut. Apalagi di setel di siang hari bolong di tempat terbuka seperti warung pinggir jalan tersebut, yang ditonton terbuka oleh berbagai kalangan usia, saya lihat, ada anak2 remaja, ibu2 sampai kakek2 tua. Di negara barat yg bebas sekalipun, tak sembarang orang bisa dapat akses melihat hal2 tersebut.  Kalau kita lihat tempat penjualan VCD murahan, bahkan sampai ke kota2 kecil, VCD yg paling laku saat ini, antara lain ialah VCD Dangdut erotis tersebut.  

Bayangkan bagaimana dampak kejiwaan nya, bagi anak2 desa yg masih polos melihat pornoaksi tersebut ? , Bagaimana pula anak2 muda kita akan penuh semangat menyongsong masa depan, kalau waktu dan pikiran mereka banyak terhabiskan oleh fantasi2 porno seperti itu ? Tak tega saya melihatnya, setelah sedikit makan jeruk dan minum teh manis segar, buru2 saya pergi lagi dari warung tersebut.  

Selepas jembatan sungai cimedang yg cukup lebar dan dalam, kami masih melintasi beberapa bukit yang tak begitu tinggi. Sepanjang jalan mulai banyak terlihat pohon kelapa, menandakan kita telah mencapai dataran rendah tak jauh dari pantai, jalan pun mulai melandai.  Sangat terasa kelelahan fisik setelah bersepeda hampir 90 Km, dengkul terasa mau copot, duduk di jok sepeda pun terasa panas, kepala agak pusing2. Beberapa teman akhirnya memilih menyerah saja, dan naik mobil pick up sampai ke Pangandaran. 

Analoginya dalam kehidupan sehari2, dalam kondisi2 tertentu dalam perjuangan hidup, kita akan merasakan keletihan atau bahkan patah semangat.Pada saat seperti itulah kita mengalami ujian mengenai motivasi dan tujuan kita. Hanya orang yg tegar dan ulet bisa tahan berhasil menuntaskan perjuangan sampai ke tujuan, orang yg gampang patah semangat dan menyerah, hanya akan menuai kegagalan dalam perjalanan hidup nya. 

Saat matahari mulai condong ke barat, kami pun sampai di pertigaan daerah Cimerak, berbelok ke kiri arah ke Pangandaran. Perjalanan masih tersisa 30 Km lagi, tapi tak begitu berat lagi karena melewati jalan mulus sepanjang tepi pantai, rasa lelah cukup terobati dengan pemandangan indah sepanjang jalur tersebut. Angin laut yg menyelusup lewat daun nyiur yang melambai, sampai ke tubuh cukup menyegarkan dan menguatkan hati untuk menyelesaikan perjalanan walau tubuh sungguh sangat letih sekali. 

Jam setengah enam sore sampailah kita di pantai pangandaran. Saya bawa sepeda ke tepian melewati pasir pantai yg halus namun basah terkena hempasan air ombak. Saya pun duduk di sana, memandang langit biru yang seolah tanpa batas dengan horizon samudra luas. Air ombak yg berlarian ke tepi pantai, seolah mengejar kita. . Masya Allah indah sekali, rasa letih pun terasa sirna karenanya.

Saya bawa sepeda ke dekat hempasan ombak, sekedar untuk membersihkan debu dan kotoran di sepeda sepanjang perjalanan tadi. Dengan hempasan buih ombak, kotoran dan debu, cepat terbersihkan. Jadi introspeksi diri pula, mungkin perlu hantaman sekeras ombak pula, untuk membersihkan kekotoran2 dosa dalam diri ini. Moment yang pas membersihkan diri menjelang bulan ramadhan, ingin berenang juga jadinya, tapi sayang ada larangan berenang di tepi pantai itu. 

Tak sadar buih ombak yg sama pula lah yg pernah meluluh lantahkan tempat ini tahun yg lalu. Di tepi pantai masih terlihat beberapa bangunan sisa hantaman gelombang tsunami tahun lalu.  Susah untuk dibayangkan buih ombak pantai yg lembut ini , pulalah yang telah begitu perkasanya tahun lalu menjadi gelombang tsunami menghantam pantai. Mungkin begitu pulalah karakter alam ini, suatu saat ia sangat ramah dan lembut, namun pada saat lain ia bisa jadi begitu perkasa dengan kemurkaan nya. Itu pulalah gambaran dari Allah, pemilik alam semesta ini, yang begitu pengasih dan penyayang, namun bisa penuh dengan keperkasaan nya bila kita berbuat dosa, sebagaimana menakutkan nya siksaan api neraka. 

Saya duduk di atas pasir pantai yg lembut, sampai matahari tenggelam di ufuk barat, langit yang berwarna biru pun, kemudian berganti oranye, indah sekali. Nun dari kejauhan terdengar suara adzan magrib, menandakan malam telah tiba. Selepas sholat magrib dan makan malam, saya ngobrol2 dengan rekan2 expatriat yg turut bersepeda tadi. Ternyata mereka telah tiba, hampir 1 jam lebih awal dari kita2 semua. Mereka yg berasal dari negeri dingin, bisa mengalahkan kami sepedahan di negeri kita sendiri, melewati lintasan yg panas udaranya. Saya coba ngobrol kenapa bisa begitu, ternyata mereka telah mempersiapkan dengan baik sebelumnya untuk perjalanan ini. Mereka pelajari rute nya, bagaimana kondisi alam nya (suhu, ketinggian dll), apa saja dan berapa banyak nutrisi yg dibutuhkan, dan banyak latihan.

Pantesan saja, karena kami tak melakukan persiapan2 seperti itu, latihan juga nggak dilakukan sebelumnya. Ia sempat heran pula, kenapa kalau orang Indonesia, sepedahan jauh, kalau ada warung sering berhenti, makan dan minum, kalian mau olahraga, atau wisata kuliner ? …ha..ha..ha..saya ketawa, yah mungkin begitulah kita, menganggap ini sekedar jalan2 atau main2, bukan olahraga seperti yang mereka lakukan.  

Sebuah pelajaran berharga, bagaimana mereka selalu serius dalam segala hal , termasuk untuk hal yg sederhana seperti pergi jauh bersepeda ini.  Namun bagi mereka tak sesederhana itu, karena waktu seharian penuh untuk sepedahan ini bagi mereka tetap waktu yg berharga. Bagaimana agar waktu tersebut efektif juga, setidaknya untuk kesehatan dan refreshing.  Sebuah pelajaran berharga mengenai bagaimana mengelola waktu dan aktivitas sehari hari. Bagi saya sendiri menuliskan perjalanan ini, adalah salah satu usaha juga, agar ada manfaatnya, selain kesehatan. Setidaknya hikmah sepanjang perjalanan tersebut bisa jadi sekedar refleksi, renungan. 

Malam hari, selepas makan malam, saya pergi lagi ke tepi pantai. Langit telah kelam, namun terasa indah bertaburan bintang. Dari kejauhan tampak pula kerlap kerlip lampu2 perahu nelayan yg pergi melaut. Walau di malam kelam saatnya istirahat, namun ombak laut tak ada letihnya berlarian, menghempas tepi pantai sepanjang waktu. Dari warung sea food di tepi laut, terdengar pengamen menyanyikan lagu sunda yg terkenal mengenai pantai pangandaran dari Doel sumbang. ; 

Harita basa usum halodo panjang    Calik paduduaan, dina samak salambar 

Hmmm.. saksina bulan anu sapotong                  Hmmm.. saksina bentang anu baranang 

Aya kasono aya katresna                                  Aya kadeudeuh aya kanyaah                    

Ngabagi rasa bungah jeung bagja duaan               Tina ati pada pada kedal jangji

Urang silih asuh silih asih silih jadi   Deg ngadegkeun arti asih saenyana

Deg ngadegkeun arti deudeuh saenyana 

Ulah dugika rasa katresna,  Kerep ngagedur ukur amarah

Nu balukarna nuntun kana jalan salah 

Terjemah singkat bahasa Indonesia ; 

Takkala musim kemarau panjang Kita datang ke tepi pantai pangandaran, Duduk berdua di atas selembar tikar Disaksikan bulan sabit dan bintang yg gemerlap Kita saling berbagi rasa kasih & bahagia, Dengan makna kasih yang sebenarnya.  Bukan sekedar pelepas nafsu, yang akan menuntun pada jalan yg salah

gambar2 sepanjang perjalanan bisa dilihat di : http://hdmessa.multiply.com/photos/album/15

23 comments on “dari kota santri sampai pantai pangandaran

  1. Uwak Haji
    24/09/2007

    Sae eusina komo upami diserat ngangge basa sunda, kanten munelna
    Wilujeng ka Jang Hendra. Pun anak oge lulusan ITB taun 2004 jurusan Fisika murni (MIFA).
    Wassalam

  2. Hendra Messa
    25/09/2007

    nuhun uwak haji,

    comment na,

    mugia ngkeu urang cobian, terjemah versi sunda na

    salamet oge atuh ka tuang putra, nu tos lulus ti ITB

    salam baktos

  3. candra
    25/09/2007

    kang saya miluan nyeun blog kieu atuh ,saya oge hoyong carita tentang pantai pangandaran kira2 tahun 2000 saya jeung kaluargi ulin ka ditu di tengan jalan mobil nu di tumpakan ku urang ban na lesot jeong mobilna asup ka jurang ,alhamdulillah abi jeung kaluargi slamet kabeh ngan lecet2 hungkul.

  4. trisetyarso
    25/09/2007

    Salam, kang Hendra, dari Yokohama.

  5. Hendra Messa
    25/09/2007

    terima kasih atas kunjungan nya,
    Trisetyarso yg jauh2 dari yokohama,
    nuhun oge kang Candra.

    mangga atuh , kang Candra, dameul oge blog na

    selalu ada hikmah dari pengalaman hidup kita sehari hari

    salam

  6. nadia
    27/09/2007

    Assalaamu’alaykum
    Kang Hendra, saya Nadia dari Mikro ITB 05. Alumni 3 juga… Kelahiran Tasik juga ^_^

    wah! paling seneng deh baca postingan kang hendra.Saya juga suka traveling lho kang.. Traveling yang bisa mengantarkan qt untuk semakin dekat dengan Allah. nad juga sepakat dengan pepatah “Alam terkembang menjadi guru”.. Spakat skali. dan saya merasakan betul makna pepatah itu.. jadi ingin banyak share. tempat2 yang kang hendra sebutkan ada beberapa yang sudah saya kunjungi juga. Kalo pantai selatan Jabar dan Banten pernah berkungjung, alhamdulillaah. Tapi Ujung Genteng belum… Ingin sekali kang.. kapan ya?

    Syukran wa Jazakallaahu khairan. Atas hikmah dan pengalamannya yang berharga…

  7. Hendra Messa
    28/09/2007

    wa alaikum salam,

    terima kasih Nadia, atas kunjungan dan komentar nya.

    senang juga , ketemu dg adik “seperguruan se ilmu”.

    cobalah, Nadia juga untuk sekedar share, berbagi cerita dari perjalanan2 dan pengalaman yg menarik selama ini.

    bisa dimulai dari hal2 yg kecil dan sederhana dulu, nanti juga lama kelamaan akan mendalam juga.

    perjalanan panjang pun dimulai dengan langkah kecil yg ringan

    salam
    HM

  8. amalia
    30/09/2007

    It’s very inspiring.. Terima kasih karena sudah menuliskan pengalaman perjalanannya, semoga bisa menjadi pelajaran buat saya juga yang sering kehilangan motivasi dalam hidup..

  9. Hendra Messa
    30/09/2007

    sama2

    terima kasih juga Amalia,
    atas comment nya,

    syukurlah, ada manfaatnya cerita tsb.

    salam
    HM

  10. rudiyana
    07/10/2007

    hatur nuhun pisan artikelna… meski belum pernah ke tempat2 tsb, deskripsi kang hendra benar2 membuat saya kangen kampung halaman. Sungguh beruntung kang hendra bisa tinggal & kerja di lingkungan yg sangat indah.

    Salam dari Dubai, kota di negara islam namun sangat hedonis…..

  11. Hendra Messa
    07/10/2007

    sami2, kang Rudi,

    dimana pun kita ditakdirkan berada, harus selalu kita syukuri.

    sok, atuh kang Rudi, cerita2 juga tentang Dubai yg katanya penuh paradox

    salam

  12. kusnadi
    14/11/2007

    terkesan dengan tulisan disekitar alam pegunungan malabar sebab saya berasal dari sana jadi rindu kampung halaman

  13. Hendra
    14/11/2007

    terima kasih pak Kusnadi atas kunjungan nya,

    syukurlah tulisan2 dan foto2 di blog ini, bisa menjadi pengobat rindu

    salam
    hm

  14. InfoPangandaran.Com
    28/02/2008

    Portal Informasi Online Pangandara
    klik http://www.infopangandaran.com

    terima kasih

  15. hdmessa
    28/02/2008

    terima kasih link info nya

    salam
    HM

  16. dewi ra
    25/12/2008

    hatur nuhun pisan carita2nya. nepangkn ieu dewi USA oge, urang sunda asli, tasikmalaya.
    iya, benar, saya sering kagum dengan sikap dan hidup orang luar (tentunya yang positif). mereka selalu detail dalam merencanakn hidup apalagi untuk masa depan. saya berharap bisa menerapkannya dalam kehidupan keluarga saya dengan masih berbekal iman dan takwa.
    tentang cerita2nya, saya juga jd kepengin atuh kang bkin cerita perjalanan hidup, apalagi waktu pertama lulus SMA lgsung go to batam, duh inget nju masa culun2na.tapi alhamdulillah di batam dpt lingkungan yang sehat, islami, dan akhirnya mendapat jodoh disni, amin.
    tapi, kang, ntar lamun saya jadi bkin cerita kayk akang ini, minta dikomentarin ya,,,
    he…

    terima kasih ah, sakieu heula wen ti sim kuring anu sono k kampung halaman…

    dewi rahayu & suami

    salam kanngo putra nu masih 9 bulan di kampung tasikmalaya, antosan Ayah Dan Bunda nya, insya Allah tahun payun mulang sakalian jalan2 ka pangandaran n keliling jawa, ka bumi Ayah, he…..(mun artosnya cekap, he….)

    nb : sekarang tinggal dan kerja di batam

  17. hdmessa
    26/12/2008

    sami2, nuhun oge teh Dewi tos ngalongokan ka dieu

    sok mangga atuh, di serat oge cariosan perjalanan na, insya Allah , aya hikmah di mana wae urang ditakdirkan aya na, di Batam oge pasti se eur oge cariosan hikmah na

    tapi utama na mah, lembur urang sorangan tong hilap keudah di majeung keun oge.

    salam kanggo kulawarga

  18. ani sumartini
    23/02/2009

    Assalamualaikum Wr. Wbr.
    Aduh ceritanya sae pisan kang…mani Waas jeung kangen ka lembur. sim abdi asli urang salopa ayena nuju merantau di pelaihari,banjarmasin Kalsel.

    salam kanggo baraya di tasik sereung di salopa.
    hatur nuhun.
    Wss.

  19. hdmessa
    24/02/2009

    wa alaikum salam,

    hatur nuhun teh Ani, koment na,

    senang bisa juga ketemu dg orang salopa yg terpencil tapi ternyata banyak yg pergi merantau jauh

    2 minggu lalu, saya dan teman2 bersepeda lagi ke daerah tasik selatan , tapi melewati jalur yg lain, lewat manonjaya-cineam , langkap lancar-cigugur-parigi sampai ka pantai batukaras. lewat jalur pegunungan, wah geuningan daerah eta mah, leuwih sepi deui, tapi pemandangan nya indah sekali.

    gambar2 perjalanan ke daerah tasik selatan, bisa di lihat blog flickr saya dg alamat ;
    “http://www.flickr.com/photos/hdmessa”

    salam
    HM

  20. retno
    13/04/2009

    wilujeng hapunteunnya

  21. hdmessa
    14/04/2009

    hatur nuhun,
    sawangsul na, teh Retno

  22. Salam kenal,

    Mungkin ada yang berminat untuk menginap di Hotel dan Resort Pantai Carita, kami mengelola beberapa unit owner Kondominium Lippo Carita dan Mutiara Carita Cottages. Untuk lebih jelasnya, bisa kunjungi website kami di http://www.caritafantasi.com

    Terima Kasih

  23. hdmessa
    13/05/2010

    salam kenal juga, terima kasih kunjungan dan informasi nya.

    salam

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on 23/09/2007 by in journey inspiration.
%d bloggers like this: