Inspiring points

Reflective story from journey of life , Alam terkembang jadi guru

lampion imlek si bungsu

 lampion.jpg

Di jalanan lampion merah bergelantungan di hari imlek, warna merah menyala nya tak luntur walau terkena hujan gerimis, menandai saat saat kehadiran si anak bungsu ke dunia yg fana ini. Di Dalam kamar bersalin terdengarlah suara tangisan bayi, yang terasa begitu merdu bagi sang ibu, yg telah melalui perjuangan berat saat melahirkan nya, serasa sirna kepedihan yg sangat berat saat melahirkan.

Saya hanya bisa menunggu di luar ruangan bersalin, tak kuat melihat kepedihan sang istri saat melahirkan. Walau tak merasakan sakit, namun pikiran tak bisa tenang karena nya.Terbayang betapa sebenarnya seorang wanita mengalami perjuangan yg berat dalam proses lahirnya seorang anak manusia. Membawa beban berat di perut nya kemana2 selama sembilan bulan, dan kepedihan yg tak terperi saat2 melahirkan. Saya tak bisa membayangkan apakah akan kuat pula seorang lelaki yg katanya tubuhnya lebih kuat bilamana mengalami kepedihan seperti itu ? , rasanya seorang pria perkasa sekalipun belum tentu kuat juga mengalami kepedihan seperti itu.

Demikianlah Tuhan memberikan takdir yg berbeda utk pria dan wanita. Marilah kita menghargai wanita yg telah melahirkan anak2 kita, janganlah pula melecehkan wanita makhluk ciptaan Tuhan yg mulia. Namun saya tak mengerti mengapa ada pula wanita yg mau saja melecehkan diri nya sendiri.

Pada proses kelahiran si anak bungsu, saya lebih banyak menunggu di luar bersama ibunda yg turut pula menemani proses kelahiran cucunya. Sambil menunggu yg cukup lama juga waktunya, ibunda pun sempat bercerita betapa dulu beliau melahirkan saya di rumah bidan di kota kecil dengan fasilitas yg sangat sederhana, tidak selengkap saat ini. Betapa beratnya perjuangan saat melahirkan, namun ibunda tak kuat bercerita lama, karena kemudian air mata nya berlinang, teringat kembali masa puluhan tahun yg lalu. Saya pun terharu karenanya, kemudian memegang tangan ibu dengan hormat, terima kasih Ibunda tercinta

Mendengar ceritanya saya jadi membayangkan juga saat2 dilahirkan dulu, betapa beratnya perjuangan seorang ibu,mengandung selama sembilan bulan dan saat2 yg penuh kesakitan saat melahirkan kita. Karenanya marilah kita hormati ibu2 kita, berbaktilah selalu kepada mereka, walau tak kan bisa kita membalas jasa mereka.

Proses kelahiran mengajarkan kita, betapa kita semua berasal dari ketiadaan, bukanlah atas kehendak diri sendiri, kita hadir ke dunia ini. Ini semua anugerah Yang Maha Kuasa, kita bisa menikmati kehidupan di dunia. Perjalanan hidup yg berujung dengan kematian, adalah saat kita kembali ke asal. Kelahiran dan kematian hanyalah sebuah proses, yg penting adalah bagaimana kita mengisi kehidupan ini, karena dari sanalah Allah akan menilai kita.

Setelah sang bayi lahir dan dibersihkan, saya dipanggil perawat, mendoakan nya sesuai syariat agama. Terlihat betapa sempurnanya bayi itu, tangan nya, kakinya, mulut mungil dan semua anggota tubuhnya. Kita mungkin biasa saja melihat bayi seperti itu, tapi cobalah bayangkan, apakah saja peran kita sebagai ayahnya dan istri kita sebagai ibunya, dalam proses terjadinya seorang anak manusia tersebut.

Orang2 bilang anak manusia adalah hasil karya ayah dan ibunya, proses ibu melahirkan pun disebut sebagai proses reproduksi. Cobalah kembali dicermati apa saja yg telah kita perbuat pada proses terbentuknya seorang anak manusia yg sempurna tersebut. Apakah kita turut membentuk tangan nya? , memasangkan matanya ?, meng install anggota2 tubuh lain nya ?, memasukkan ruh pada tubuhnya ?. Tidak sama sekali, manusia hanya terlibat pada proses awal dan akhirnya saja. Awal saat bertemunya air kehidupan dan diakhir saat kelahiran, proses diantaranya selama 9 bulan, manusia tak ada campur tangan sedikitpun dalam proses tersebut.

Dalam manajemen produksi, utk proses terbentuknya sebuah produk perlu dilakukan perencanaan yg cermat sejak awal, bagian PPC ( Production planning & control) , membuat perkiraan kebutuhan material, komposisinya dan rangkaian prosesnya, bagian logistik menyiapkan suplai material, bagian produksi melakukan proses manufacturing dan diakhirnya bagian quality control mengecek kondisi akhir produk sebelum dikeluarkan. Demikianlah proses panjang dan rumit dalam pembuatan sebuah produk, walau produk yg sederhana sekalipun semisal membuat tahu-tempe.

Dengan logika manajemen produksi tersebut, bayangkanlah betapa rumit dan canggihnya proses terbentuknya seorang anak manusia. Saat usia kandungan 4 bulan, janin pun mendapat nyawa, sehingga mulai bergerak2 dalam perut ibu, tak terbayang bagaimana prosesnya ruh bisa masuk ke dalam perut seorang ibu ?. Semua proses itu terjadi di dalam perut seorang ibu, yang mana sang ibu sendiri tak tahu pula, proses apa yg sedang berlangsung di perutnya. Seorang ilmuwan atheis sekalipun tak kan bisa menjelaskan nya.Jadi tak pantas rasanya kita menyebut bahwa anak adalah “hasil produksi” , kedua orangtuanya, karena kita tak banyak berbuat dalam proses tersebut, kita hanya terlibat di awal dan di akhir proses.

Anak bukanlah milik orangtuanya, tapi kepunyaan Allah yg dititipkan pada kita. Dengan merenungi proses lahirnya seorang anak manusia kita bisa menyadari, betapa Maha Besarnya Allah, Maha Pintar dan Maha Segalanya, sebagai manusia kita ini sebenarnya tak banyak berbuat. Hanya kesombongan manusia lah yg melupakan itu semua dan tak mensyukuri nya.

Kepedihan, darah (ibu) dan tangisan (bayi) menghantar kehadiran seorang manusia ke muka bumi. Tak sedikit kelahiran bayi bersamaan pula dengan meninggalnya sang ibu.Sesuatu yg dilalui dengan proses yg berat, adalah pertanda betapa penting dan berharganya proses tersebut. Hal yg sangat mudah keluarnya pertanda rendahnya juga nilainya, semisal mudahnya kotoran keluar dari tubuh manusia.

Proses penciptaan yg sangat rumit, serta proses kelahiran yg berat, itu semua terjadi pasti tidak dengan sia2. Berbeda dengan binatang yg mengalami proses penciptaan serupa, manusia adalah makhluk yg mulia dan memiliki tujuan yg mulia pula mengapa ia hadir ke dunia ini. Allah Maha Bijaksana.

Seorang bayi sampai masa kanak2 tak berpikir panjang mengenai kehidupan ini, ia jalani saja. Namun bilamana seorang manusia dewasa yg telah memiliki pikiran yg matang, namun tak juga memiliki tujuan hidup yg jelas dan hanya menghabiskan hidupnya dalam kesia siaan, sungguh makhluk yg merugiAnak adalah titipan Allah pada kita, kedua orangtuanya yang memiliki tanggungjawab besar, bagaimana mengarahkan anaknya pada lintasan jalan yg sebenarnya.

Kahlil Gibran berkata, orangtua bagaikan busur anak panah yg melontarkan anaknya ke masa depan, masa yang tak sampai umur kita kesana. Orangtua lah yg bertanggungjawab, ke arah mana “busur panah” itu akan tersampaikan, tepat pada sasaran nya atau melenceng jauh dari “jalan lurus”. Pada pundak orang tua lah terletak beban untuk memberikan pencerahan pada anaknya mengenai kehidupan, agar ia bisa melalui kehidupan ini dengan penuh makna.

Hewan seperti tikus tanah yg mana imlek saat ini menandai tahun nya dalam perhitungan China, memiliki tujuan hidup yg sederhana saja, hadir ke dunia untuk mencari makan, keturunan, kemudian mati.  Sungguh disayangkan bilamana ada juga manusia yang mengisi kehadiran nya di dunia ini, hanya sekedar untuk mencari “makan” pula, betapa banyak orang2 yg hidup nya hanya demi materi belaka.

Kapitalisme yg mewarnai pola dominan kehidupan di dunia saat ini, termasuk di negeri kita, adalah pola hidup yg sangat memuja materi, materi lah yg menjadi ukuran keberhasilan hidup seorang manusia. “Harta, tahta, wanita” dan kesenangan hidup lain nya antara lain pertanda pola pikir materialisme menjadi tujuan hidup sebagian besar manusia saat ini.Kalau kita mau berpikir jernih, rasanya tak serendah itu, maksud Allah menghadirkan kita ke dunia yg fana ini.

Manusia makhluk yg mulia, memiliki tujuan hidup yg mulia pula, mengisi setiap waktu dalam kehidupan nya dengan kebaikan dan itu semua akan dipertanggung jawab kan di akhirat kelak, yang mana tak berlaku bagi hewan seperti tikus tanah tersebut.

2 comments on “lampion imlek si bungsu

  1. Rizka
    10/10/2008

    Q bner2 terharu dech ktika bca. Q jd tw klo prjuangan orang tua membesrkan ankx 2 berat bnget.

  2. hdmessa
    11/10/2008

    yah, begitulah Rizka betapa berat nya perjuangan ibunda kita,
    marilah kita selalu berbakti pada mereka, walau tak dapat membalas jasa mereka yg begitu besar

    terima kasih atas komentar nya Rizka

    salam

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on 18/02/2008 by in Inspiration story.
%d bloggers like this: