Inspiring points

Reflective story from journey of life , Alam terkembang jadi guru

kisah kapal karam

kapal1 

Alkisah ada sebuah kapal kayu besar yang dek penumpang nya bertingkat tingkat. Di tingkat bagian atas adalah kamar mewah yg ditempati orang2 kaya, sedangkan dek penumpang bagian bawah adalah kelas ekonomi yg ditempati orang2 miskin.

Dalam perjalanan di tengah laut, suatu saat kapal kekurangan air tawar bersih. Para penumpang kaya di bagian atas masih memiliki air tawar yg cukup, karena kekayaan nya mereka bisa mendapatkan air dengan mudah dan memiliki persediaan yg cukup. Sedangkan para penumpang di bagian bawah, orang2 miskin hanya memiliki persediaan air yg sedikit dan saat persediaan air tawar habis, mereka kehausan karena nya.  Para penumpang miskin di bagian bawah pun, meminta pada para penumpang kaya di tingkat bagian atas kapal, agar membagikan juga persediaan air mereka.“enak saja minta , beli dong” kata penumpang kaya menanggapi permintaan tersebut. Tapi orang miskin tak punya uang lagi, persediaan air habis, mereka kehausan, putus asa karena nya. 

Ada penumpang di bagian bawah kapal yang karena saking kehausan nya, melihat ke jendela kapal, betapa sebenarnya di luar banyak air juga. Karena tak diberi air juga akhirnya ia pun membolongi dinding kapal dengan harapan bisa mengambil air laut. Melihat hal tersebut para penumpang lain nya mengikuti, membolongi kapal agar dapat air, mereka tak menyadari bahwa air laut tak bisa mengatasi rasa haus mereka. Akhirnya bagian bawah kapal pun banyak yg bolong bolong karena nya. Air laut pun masuk ke dalam kapal, mulai dari bagian bawah sampai ke atas, sehingga akhirnya seluruh kapal pun karam karena nya. Semua penumpang tenggelam, baik penumpang miskin di bagian bawah, maupun para penumpang kaya di bagian atas. 

Kisah tersebut diceritakan oleh seorang pengelana dari Bangladesh yg saya temui di sebuah mesjid, sebenarnya itu hanya sebuah cerita perumpamaan bukan cerita sebenarnya. Sebuah cerita untuk menggambarkan betapa manusia harus saling tolong menolong demi kebaikan, orang yg diberi kelimpahan materi (orang kaya) perlu membantu mereka yg mengalami kesusahan hidup (orang miskin). Kalau sesama manusia tak mau saling tolong menolong, maka semuanya tanpa kecuali akan mengalami kemalangan hidup, semua akan menderita karena nya. 

Misal di sebuah bukit ada perambah hutan yg menebangi pepohonan di atas bukit, kalau para penduduk desa yg berada di bawah bukit tersebut semua orang acuh2 saja , merasa itu bukan urusan nya dan membiarkan nya. Suatu saat akan terjadi tanah longsor atau banjir besar di musim hujan, atau kekeringan di musim kemarau, maka semua orang akan menerima akibat nya. 

Analogi yg sama berlaku pula antara orang yg baik2 (soleh) dengan orang2 yg berbuat kejelekan / kerusakan (dosa). Orang2 yg soleh harus saling mengingatkan pada sesama nya yg berbuat kejelekan. Sebab bila tidak semuanya akan mendapat celaka. Sebuah daerah yg mana ada orang yg soleh dan ada juga orang yg berbuat kerusakan (dosa), maka bila ada musibah atau azab semuanya akan merasakan nya. 

Kepedulian pada sesama, saling tolong menolong adalah sikap yg mulai banyak berkurang saat ini di masyarakat kita. Dalam keadaan ekonomi yg susah ini, orang cenderung ingin cari selamat sendiri, tak peduli orang lain. Orang kaya, hidup berfoya2 menikmati kekayaan yg menurut nya telah dengan susah payah dicarinya, mengapa pula harus berbagi dengan orang lain seperti orang miskin yg dianggap nya pemalas.

Orang miskin pun mencari segala cara untuk mencukupi keperluan hidupnya, sampai menggunakan cara2 yg tidak halal mendapatkan nya. Karena ketidakpedulian pada orang2 miskin, maka akhirnya orang2 kaya pun akan terganggu pula kenyamanan hidupnya. Kalau bermobil lewat perempatan jalan banyak diganggu pengemis atau penodong. Mereka tak nyaman tinggal di perumahan mewah nya yang bagaikan pulau di tengah masyarakat miskin di sekitarnya, takut dirampok, takut anaknya diculik, dimintai duit cepek’an tiap lewat perempatan jalan, dan setumpuk kekhawatiran lain nya.  Kita harus menyadari kita hidup bersama di dunia ini, saling peduli, saling berbagi, kebersamaan dengan beragam manusia adalah sebuah keniscayaan hidup. 

Sebenarnya kita adalah masyarakat yg guyub, saling berbagi, gotong royong, dan agama pun mengajarkan pada kita saling membantu, kasih sayang pada sesama manusia. Nabi yang mulia menyatakan bahwa orang yg terbaik ialah orang yg banyak berbuat kebaikan pada sesama manusia, berkebalikan dengan logika kapitalis material, dimana manusia terbaik ialah manusia yg paling banyak memiliki materi (kekayaan). Namun terpaan budaya global, ekonomi kapitalis-sekuler yang hembusan nya sampai juga pada relung2 terdalam jiwa kita, telah mengubah perilaku kita. Individualisme dan materialisme adalah salah satu bentuknya.

Dalam kaidah kapitalis, orang yg paling berhasil dalam hidup ini , ialah orang yg banyak materinya (kekayaan), orang yg menguasai sumber2 kapital (modal/ kekayaan). Karena dengan kekayaan ia bisa menguasai semuanya termasuk kekuasaan politis dan membeli kehormatan diri. Logika persaingan nya adalah berdasar kaidah Darwin, survival of the fittest, siapa yg terbaik ialah yg berhasil, meraih kekayaan dan kehormatan. Orang yg pemalas dan tidak beruntung, terimalah saja nasibnya sebagai orang miskin, dan maaf saya tak bisa membantu, apa yg saya raih ini adalah atas usaha saya, ngapain pula saya harus membantu orang lain?. Orang kaya akan menghabiskan sisa hidupnya menikmati kekayaan nya sendiri, konsumerisme dan hedonisme adalah sisi lain dari budaya kapitalis. 

Harun Yahya penulis Turki, dalam salah satu bukunya menyebutnya sebagai sebuah bentuk “Darwinisme sosial” , logika Darwin yg diterapkan dalam kehidupan sosial. Peperangan adalah salah satu bentuknya juga, dimana peperangan dianggap sebagai sebuah proses alami, dimana yg lemah harus disingkirkan dan hanya orang2 yg kuat / unggul lah yg tersisa melanjutkan kehidupan. 

Dalam dunia pendidikan di negeri kita, sekolah pun telah mulai berpola seperti itu, anak2 yg pintar diberikan penghargaan dan perhatian lebih, sedangkan anak2 yg bodoh disepelekan, padahal justru sekolah sebagai lembaga pendidikan, harus bisa memberi pencerdasan, pencerahan kepada semua muridnya, termasuk murid yg bodoh sekalipun, sekolah harus berusaha agar murid2 yg bodoh jadi pintar karena nya. 

Sebenarnya pada masyarakat barat sendiri, ada pula bentuk positifnya dalam lingkungan sosialnya, semisal altruism atau kepedulian orang2 kaya. Dimana ada kebiasaan orang2 yg berlimpah kekayaannya, menyumbangkan kekayaan nya utk kegiatan sosial, seperti menyumbang lembaga pendidikan, memberikan beasiswa bagi anak sekolah atau kegiatan sosial membantu orang2 miskin.  

Ada sebuah pemeo dari sebuah lembaga sosial di sebuah negara maju, bahwa secangkir kopi yg saya minum ini, nilai uangnya sama dengan biaya makan dalam sehari sebuah keluarga tak mampu di sebuah negara miskin di afrika misalnya. Jadi tak apalah saya tak minum kopi saat ini, uang nya bisa saya sumbangkan kesana. 

Di negara kita pendidikan dan penghargaan terhadap sumber daya, sungguh terabaikan, padahal justru dari sanalah bisa tersemaikan anak2 bangsa yg tercerahkan pikiran nya dan kelak bisa memberikan kemajuan bagi kita semua. Setidaknya belajar untuk menyadari bahwa kita hidup bersama dan perlu saling membantu sesama.

Bagaikan cerita kapal karam tadi, diandaikan negara kita ini, kapal tersebut, negara ini nampaknya menjelang karam pula…Kesulitan hidup, masalah ekonomi, bencana dan berbagai masalah lain nya, banyak menimpa kita, dalam kondisi seperti itu, orang akhirnya cenderung bagaimana ia bisa selamat (sendiri), tak peduli orang lain. 

Ekonomi kapitalisme modern yg mewarnai kehidupan dunia saat ini secara langsung maupun tak langsung mendorong pola hidup individualis, egois yang tercermin pula pada perilaku hedonisme (menikmati kesenangan hidup sepuas2 nya) dan konsumerisme ( keinginan menguasai materi/jasa dengan membeli).  Sikap pola hidup seperti itu, mirip sekali dg sikap para penumpang kapal di dek atas, pada cerita kapal karam tadi, yang tak peduli pada orang lain ( yang mengalami kesulitan hidup). Mereka menganggap dengan telah membayar pajak pada negara, maka negara lah yg mengurusi itu semua, tanpa disadari bahwa negara kapitalis tidaklah seramah pola sosialisme dalam melayani masyarakat nya, apakah lagi pada “negara yg tanggung” , seperti Indonesia ini, dimana negara sudah disibukkan dengan permasalahan internal nya sendiri, sehingga seperti sudah kehabisan energi untuk memperhatikan sebagian besar rakyat nya yang mengalami kemiskinan. 

Kalau kita mau sedikit peduli, dengan coba melihat kenyataan hidup sehari hari saat ini di Indonesia, lihatlah para pengemis di persimpangan jalan, perkampungan kumuh, gelandangan dan anak2 jalanan yg tak tahu siapa orang tua nya.Kita akan bisa menyadari betapa banyak orang yg mengalami kesulitan hidup, bagaikan para penumpang kapal yg kehausan tadi , karena kekurangan air. Rasanya sudah kering mulut mereka berteriak minta tolong, sudah patah hati mereka bahwa akan ada orang lain yang peduli pada kesulitan hidup mereka. Padahal pada sisi lain, kita akan lihat sebagian orang kaya yg berkelebihan rezeki, menghambur2kan uang nya , memuaskan diri dengan kenikmatan hidup. Walau ada juga sebagian orang kaya yang penuh kepedulian juga pada sesama. Kalau proses seperti itu terus berlangsung, tunggulah suatu saat kita bersama benar2 akan “tenggelam”, tanda2 alam seperti bencana alam ,banjir dll, sudah menjadi sebuah pertanda awal sebenarnya. 

Kalau kita merenung dari sudut pandang lain, karam atau tidak karam kapal tersebut, kita semua akan mati juga (kita semua akan “tenggelam” dari kehidupan dunia menuju kehidupan akhirat), dari sisi transedental orang akan dinilai dari usahanya , motivasi diri dan tindakan nya. Orang yg berusaha dengan sekuat tenaga mencegah kapal karam, ataupun kalau karam, membantu menyelamatkan diri dan orang banyak dengan kapal sekoci pertolongan, adalah orang yg dinilai dengan kebaikan, walau gagal sekalipun. 

Karena kita hidup di dunia hanya dalam waktu terbatas umur dan hanya sekali, amal soleh dan kebaikanlah yg menjadi ukuran keberhasilan hidup di dunia ini.Manusia terbaik, ialah orang yg paling banyak berbuat kebaikan. Martin Selignman dalam bukunya Authentic Happines menemukan bahwa kebahagiaan tertinggi bukanlah pada kenikmatan pribadi, tapi kebahagiaan karena kita telah pula berbagi kebahagiaan pada orang lain, berbuat kebaikan pada orang lain, saling membantu yang lain nya, membantu semua makhluk ciptaan Allah, sesama manusia, binatang, tumbuhan dan alam sekitar. 

Semua agama pun mengajarkan hal yg sama, bahwa manusia yg terbaik ialah manusia yg suka menolong sesama nya, kepedulian pada sesama adalah sikap yg mulia. Paradigma yg sebaliknya dari logika Darwin “survival of the fittest” , (orang) yg terbaik ialah mereka yg bisa bertahan dalam pertarungan hidup, hanya kelompok manusia unggul yg bisa terus bertahan hidup, sebuah logika yg hanya cocok untuk dunia binatang, karena memang Darwin menganggap pola hidup manusia sebagai karakter lanjutan dari pola hidup binatang, padahal manusia adalah makluk ciptaan Tuhan yg mulia dengan maksud hidup yg mulia pula

10 comments on “kisah kapal karam

  1. Suprapto
    19/02/2008

    Intinya terletak pada totalitas dan keikhlasan kita dalam hal darmabakti beribadah

  2. hdmessa
    19/02/2008

    betul pak Suprapto,

    terima kasih komentar nya

    salam
    HM

  3. toni
    24/02/2008

    Mari mulai dari diri sendiri. Menyadari bahwa kita ini bukan siapa-siapa dan tak berarti apa-apa di hadapan sang Pencipta. Dan hidup tak pernah bisa berjalan sendiri-sendiri, selalu ada tempat untuk berbagi.
    Patut kita renungkan..
    Salam,
    Toni

  4. hdmessa
    25/02/2008

    thanks, Toni

  5. mukhlason
    26/02/2008

    Makasih tulisan2nya Mas,
    bagaikan air segar di tengah gurun.

    Mukhlason

  6. hdmessa
    26/02/2008

    terima kasih mas Mukhlason,

    syukurlah banyak manfaatnya.

    salam
    HM

  7. HR
    15/04/2008

    mari berbuat baik agar orang lain tidak berbuat buruk. Bila kita tidak menolong mereka, maka perbuatan mereka kepada diri mereka dapat menjadi bencana bagi kita. aku kok jadi bingung

  8. hdmessa
    15/04/2008

    manusia adalah makhluk sosial, kita hidup bersama. Apa yg diperbuat manusia akan berdampak pula pada manusia lain nya.

    contoh sederhana, bila ada orang yg mengalami kesusahan hidup, bila tak ditolong oleh orang lain, ia bisa jadi bertindak kejahatan yg tidak rasional dan suatu saat akan merugikan kita juga, kira2 begitu contoh nya

  9. Amal
    28/02/2014

    Ternyata dalam dunia yang sesungguhnya, ketidakpedulian dapat melintasi batas stereotip kaya-miskin dan kebodohan menyengsarakan lebih dalam. Jadi begini…

    Sebagian penumpang kaya di dalam kapal tsb. ternyata juga penderma atau mereka yang peduli keadaan sosial. Sebagian dari mereka mulai mengajak orang-orang terdekat di lantai atas untuk menyisihkan sebagian dari air tawar guna disumbangkan ke lantai bawah. Seperti halnya semua ajakan kebaikan di dunia ini, tentu diterima dengan aneka ragam sikap; tapi akhirnya terkumpul juga beberapa galon air tawar untuk dibawa ke bawah.

    Entah penyampaiannya kurang tepat, entah karena rasa bosan dan penat perjalanan di lantai bawah, atau benar-benar ketidaktahuan yang menyengsarakan: sebagian air tawar tadi setelah diminum sebagian malah sisanya habis terpakai secara mubazir, bahkan terciprat ke sana ke mari menjadi genangan yang tidak dapat dimanfaatkan di sudut-sudut di lantai bawah.

    —-

    * hehe, namanya juga ilustrasi, dapat diarahkan sesuai motif penulisnya.🙂

    Salam hangat akhir pekan.

    Ikhlasul Amal
    Jakarta

    • hdmessa
      28/02/2014

      Terima kasih Amal,
      tambahan cerita nya , menarik skali,

      yah, itu salah satu realita yg terjadi juga,
      mudah2an keikhlasan beramal nya dicatat oleh malaikat

      salam

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on 21/02/2008 by in Contemplation.
%d bloggers like this: