Inspiring points

Reflective story from journey of life , Alam terkembang jadi guru

lintas kabut dewata

kabut-dewata3b.jpg 

Hutan lebat yang kita lalui pepohonannya begitu rimbun, daun2 pohon tinggi serasa menutupi langit, sehingga tengah hari pun serasa sore. Jalan melewatinya kita bagaikan melalui sebuah lorong penuh belokan. Sunyi senyap jarang ketemu ada orang lewat, yang terdengar adalah musik orkestra hutan, gesekan daun, suara kicauan merdu burung2 hutan dan gemericik riang suara air sungai mengalir.

Selepas kelokan ujung jalan yang kita lalui tampak membentang alam yg terbuka, dengan hamparan hijau menutupi lembah dan bukit, indah sekali.. Lembah besar yg diapit oleh pegunungan di sekeliling nya. Di tengahnya terhampar menghijau perkebunan teh sampai ke hutan kaki gunung, kebun teh ini berada di tengah hutan belantara, menakjubkan sekali. Di dasar lembah mengalir sungai yg berkelok2 mengikuti alur bukit, tampak di bawah lembah sebuah telaga dimana air sungai dibendung dan di sekitarnya berjajar rumah2 kebun teh dengan bangunan besar pabrik teh di tengah nya. Seorang teman berkata, itulah kawasan perkebunan teh Dewata yg berada di tengah hutan cagar alam gunung tilu. Dinamai dewata karena  menurut kepercayaan orang2 dulu, daerah itu adalah tempat bersemayamnya para dewa.

Sampai ke lembah indah tersebut saya serasa masuk ke Shangrila lembah indah misterius penuh kebahagian di balik pegunungan tinggi Himalaya, terisolasi dari dunia luar, sebagaimana diceritakan  dalam novel Lost Horizon , karya James Hilton. 

Jadi teringat pula akan gambaran mengenai surga pada kitab suci; sebuah tempat berupa taman2 indah yg di bawahnya mengalir sungai yg airnya jernih. Namun surga kelak adalah jauh lebih indah dan nyaman. Ya Allah mudah2 an aku bisa disampaikan ke surga Mu kelak, jangan sampai tersasar ke neraka penuh penderitaan.

Demikianlah kira2 gambaran alam di perkebunan teh dewata yg berada di tengah cagar alam gunung tilu, sekitar 60 Km selatan Bandung. Kebuh teh Dewata ini adalah daerah yg kita lintasi saat melakukan penjelajajah bersepeda yang bermula dari kawah putih dekat puncak gunung patuha Ciwidey sampai ke danau Cilenca di Pangalengan. Total jarak sekitar 50 Km ditempuh selama 7 jam, sebuah perjalanan yg menakjubkan.

Kita memulai perjalanan dekat kawah putih di area puncak gunung Patuha (  2434 m ). Kawah putih berupa telaga yg berwarna putih di tengah hutan dekat puncak gunung, sungguh menakjubkan berada di sana.

Puncak gunung Patuha , termasuk area sekitar kawah putih, sejak jaman dulu tak pernah ada orang yg berani ke sana karena menurut masyarakat sunda dulu, daerah tersebut angker, karena merupakan tempat bersemayamnya arwah para leluhur serta pusat kerajaan bangsa jin,

bahkan burung pun tak pernah terbang di atas nya. Pada tahun 1837 ada seorang peneliti Belanda, Junghun yg tak percaya dengan cerita tersebut dan mendaki puncak gunung Patuha. Di dekat puncak gunung , Junghun menemukan ada sebuah telaga luas berwarna putih kehijauan yg mengeluarkan bau belerang yg menusuk hidung, itulah kenapa burung2 pun tak mau terbang melintasi daerah tersebut.

Junghun adalah seorang peneliti Belanda yang banyak berkelana ke berbagai daerah di Indonesia. Ia adalah perintis penanaman pohon kina di daerah Pangalengan, pertama di Indonesia, sampai saat itu Indonesia menjadi produsen utama kina dunia. Junghun dimakamkan di bukit Jayagiri, sebelah utara kota Bandung.

Dari kawah putih kita menuruni lereng gunung Patuha sampai ke kebun teh Rancabolang dan area project geotermal Patuha yang telah lama terbengkalai. Sungguh disayangkan bahwa project pembangkit listrik tenaga panas bumi ( geotermal ) ini terbengkalai pada saat kita kekurangan energi listrik seperti sekarang ini. Betapa sebenarnya alam kita kaya, namun belum termanfaatkan.

Selepas kebun teh Rancabolang kita terus menuruni lereng gunung patuha memasuki hutan lebat cagar alam gunung tilu yg berada di antara gunung patuha, gunung tilu dan gunung2 lain di sebelah selatan nya. Hutan ini ditetapkan sebagai cagar alam semenjak tahun 1927 oleh penjajah Belanda saat itu. Saya lihat betapa orang Belanda dulu telah melihat jauh ke depan betapa pentingnya menjaga kelestarian alam.

Cukup panjang jalan bebatuan berkelok2 di tengah hutan ini, sepanjang jalan jarang sekali kita berpapasan dengan kendaraan lain, sepi sekali. Di beberapa tempat kita temui air terjun kecil di pinggir jalan dimana kita beristirahat. Selepas hutan alam ini sampailah kita ke perkebunan teh Dewata.

Kebun teh Dewata ini berada di sebuah lembah besar diantara gunung patuha, gunung tilu , gunung dewata dan gunung pal lima. Dibuka oleh seorang pengusaha perkebunan Belanda pada awal abad ke 20. Bisa dikata tempat ini tak banyak berubah setelah seratus tahun berlalu. Karena terpencilnya, kendaraan jarang ke sini, listrik pun tak masuk, sehingga mereka membuat sendiri pembangkit listrik skala kecil memanfaatkan sungai yg mengalir di tengah lembah tersebut, dimana berada pula perumahan karyawan kebun teh dan pabrik pengolahan teh. Saat kami melintas ke sana, dari balik jendela anak2 kecil melihat aneh pada kami, karena memang jarang orang yg datang ke sini, apalagi pakai sepeda.

Di lembah ini diantara hamparan kebun teh mengalir air yg sangat jernih, saya pun beristirahat sholat dzuhur disana. Sungguh menyegarkan membersihkan badan dengan air jernih yg dingin tersebut, sesekali tampak burung elang terbang dengan anggun nya dari tebing batu atas gunung. Betapa serasa kecilnya manusia saat berada di tengah alam yg luas terkembang ini. Hutan, gunung dan lembah ini telah berada disini dalam jangka waktu yg sangat lama, jauh lebih lama daripada usia manusia yg tak lebih dari 70-80 tahun. Waktu kehidupan seorang manusia di dunia ini, serasa tak berarti dibanding waktu keberadaan alam.

Semoga alam yg indah ini tak terkotori oleh perilaku manusia yg penuh dosa. Sholat menghadap Allah di alam terbuka yang indah tersebut sungguh khusyu, kita serasa sangat dekat dengan Tuhan. Ya Allah bersihkanlah hati ku sejernih air sungai mu ini, Baguskanlah perilaku ku, sebagaimana keindahan alam Mu ini.

Dari dasar lembah kita melanjutkan perjalanan ke arah timur menyusuri jalan kebun teh yg berkelok2 memutari pebukitan sekitar. Dalam perjalanan kabut pun mulai turun menutupi hamparan kebun teh. Syahdu sekali rasanya melintasi kabut di lembah dewata ini, jarak pandang tak jauh, kita bagaikan memasuki sebuah tempat yg tak tahu sampai di mana ujung nya, seorang diri. Konon demikianlah pengalaman dari seorang teman yg pernah mengalami mati suri, yang serasa pergi ke alam lain, memasuki sebuah lorong panjang yg diliputi kabut…

Hari pun sudah mulai mendung, saat jalanan berliku di kebun teh berujung di kaki gunung pal lima yg tertutup hutan. Teman berkata kesana lah arah kita kalau ingin sampai ke danau cilenca, Pangalengan. Saya pun menarik nafas, haahhh, wah masuk hutan lagi, tanjakan tajam lagi. Sampai

ke tepi kebun teh kami pun melewati jalan mendaki ke gunung memasuki area hutan. Jalan setapak yg menanjak dengan kemiringan sampai 45 derajat, membuat sepeda pun harus digotong membawanya.

Karena perjalanan yg cukup berat, teman2 agak berjauhan posisinya,  saya agak terpencar jauh dari rombongan lain.  Di tengah perjalanan turunlah hujan lebat, jalanan setapak pun tambah licin.  Badan basah kuyup kedinginan, jalan pun susah apalagi membawa sepeda, badan letih, tak ada tempat istirahat, tapi dipaksakan juga sampai akhirnya kaki kanan pun keram.

Haaahh sempat putus asa juga berada seorang diri di tengah hutan lebat dalam kondisi hujan lagi, mau teriak tak terdengar pula, tak ada teman yg bisa dimintai tolong. Sinyal HP tak ada, uang dan setumpuk credit card platinum, kartu ATM tak ada artinya saat itu. Dalam kondisi nestapa yg ekstrim seperti itu, sebenarnya kita dilatih untuk bisa tetap bertahan, untunglah jaman kuliah dulu saya pernah ikut survival training pencinta alam, sehingga tak mudah putus asa dalam kondisi seperti itu, mencari segala cara agar bisa bertahan.

Kalau kita percaya dan dekat dg Tuhan pencipta kita semua, pencipta hutan dan hujan lebat , yakinlah walau di tengah hutan sekalipun, Allah selalu ada di dekat kita, kepada Allah lah pertolongan kita mintakan.  Dalam kondisi pasrah karena kaki keram tak bisa jalan, saya hanya bisa berdoa, ya Allah tolonglah hamba mu ini.

Tiba2 dari balik kerimbunan pepohonan tampaklah si Ahoy teman seperjalanan tadi, ia menyusul saya, karena telah lama ditunggu tak ada juga. Syukurlah datang si Ahoy  jacky chan , Pangalengan menolong, ia membantu memijat kaki yg keram sehingga bisa jalan lagi walau tertatih2 dan sepeda dibawa nya saya menyusul di belakang.

Penjelajahan di tengah hutan di atas gunung, mengajarkan juga pada kita siapa sebenar teman sejati kita, ialah teman yg mau saling membantu saat kesusahan.

Seorang teman seperjalanan yg kita kenal dg sifat egois dan individualis nya, dan selama ini merasa bisa menyelesaikan sendiri semua masalahnya, akhirnya menyadari juga bahwa, kita tak bisa hidup sendiri, kita hidup bersama, perlu bantuan orang lain, betapa bernilainya persahabatan.

Saat hujan mulai reda, sampailah kita di lereng gunung ke arah pangalengan yg sudah terbuka lahan nya jadi kebun2 penduduk. Senang sekali rasanya bisa selamat melewati hutan belantara tadi. Menuruni kebun2 penduduk sampailah kita di desa terdekat, desa Wates yg berbatasan dengan kebun teh Pasir Malang. Kita beristirahat sejenak di tempat berteduh yg biasa tersedia di tengah kebun teh.

Karena hujan lebat tubuh pun  basah kuyup menggigil karena kedinginan dan lapar, saya pun membuka rangsel untuk mengambil bekal. Tapi ternyata semua bekal, baik makanan maupun pakaian telah basah. Karena hujan yg sangat lebat, air hujan pun merembes masuk ke dalam tas rangsel. Wah basah semua nih, abis deh bekal, bisa masuk angin dan menggigil kedinginan nih. Saya baru sadar harusnya dari tadi sudah mengantisipasi dengan menggunakan pembungkus plastik tambahan di dalam rangsel, kalau perlu di double bungkusnya, agar bekal tak kebasahan.

Pelajaran nya untuk perjalanan selanjutnya khsusunya musim hujan, kita harus mengemas bekal perjalanan sebaik mungkin, sebab bila tidak, rusak , kebasahan di tengah jalan tak ada artinya juga saat bekal tersebut dibutuhkan kelak. Hikmahnya pula kalau di tarik pada perjalanan hidup ini, bekal yg kita bawa dalam kehidupan ini, baik utk masa tua atau untuk kehidupan di akhirat kelak, haruslah dikemas sebaik mungkin.

Bekal amal soleh dan ibadah yang kita bawa selama hidup di dunia ini untuk kehidupan di akhirat kelak haruslah dikemas dengan sebaik mungkin, dikemasnya dengan keikhlasan dan ilmu. Sebab bila tidak, sampai di akhirat kelak amal kita tak diterima karena banyak kekurangan nya seperti tidak ikhlas atau bercampur dengan ketidak baikan ( seperti beramal menggunakan uang yg haram), sholat pun kalau salah caranya atau tidak khusyu bisa tak berguna pula. Dalam hadis nabi banyak diceritakan orang2 yg merasa telah beramal banyak di dunia ini, ternyata di akhirat kelak, amalnya tertolak sia sia, seperti orang yg beramal, tapi salah niat dan cara nya ( riya – sombong )

Karena lelah dan kedinginan sedangkan bekal tak bisa dimakan, kita pun secepatnya mencari warung terdekat, kebetulan di desa tersebut ada warung kecil, kita pun menyerbu ke sana. makan dan minum bagai orang kelaparan turun gunung. Pisang goreng yg walau telah dingin dan secangkir teh hijau hangat, serasa nikmat sekali.

Dari desa wates kita melanjutkan perjalanan menurun melewati jalan kebun teh pasir malang sampai bertemu jalan raya pangalengan – cisewu garut. Karena hujan dan berkabut tebal, keindahan danau cilenca tak tampak, padahal kalau musim kemarau akan tampak indah danau cilenca di berada di arah bawah diapit pebukitan sekeliling nya.

Danau Cilenca adalah danau buatan, yg dibuat Belanda sekitar tahun 1920 dengan membendung aliran sungai Cisangkuy dan sungai2 kecil sekitarnya. Dari danau buatan air dialirkan pada pembangkit listrik Plengan yg adalah salah satu PLTA tertua di Indonesia. Dari aliran air sungai Cisangkuy inilah pula salah satu sumber air bersih utk kota Bandung. Betapa dulu orang Belanda telah merancang dengan baiknya bagaimana dari sumber daya alam ini bisa dikembangkan energi listrik dan kebutuhan air.

Di Daerah Pangalengan inilah pula Junghun , pertama kali mengembangkan tanaman kina, serta Bosscha membuka kebun teh Malabar, salah satu penghasil teh kualitas terbaik saat itu

Setelah menuruni jalanan dari atas bukit, sampailah kami di tepi danau cilenca, kita pun beristirahat sejenak. Sambil melihat lepas ke danau yg bertepikan kabut tipis, jadi teringat bahwa perjalanan kita sejak tadi pagi, mulai dari sekitar kawah patuha sampai ke danau cilenca ini, adalah juga bagaikan napak tilas, peninggalan orang2 Belanda dulu.

timbul kekaguman pada orang2 belanda yg membuka daerah tsb dulu, mulai dari Junghun yg menemukan kawah putih dan juga orang yg pertama menanam pohon kina di Indonesia di daerah Pangalengan. Orang2 onderneming ( perkebunan ) belanda yg membuka hutan untuk membuat kebun teh, sampai ke area2 yg terpencil seperti kebun teh dewata yg berada di tengah hutan rimba diantara gunung2 yg menjulang tinggi.

Dan mereka telah mempersiapkan semuanya, sumber air, sumber pembangkit (listrik) sampai transportasi. Untuk transportasi hasil perkebunan, belanda dulu sampai membuat rel kereta api sampai ke ciwidey yg bercabang dari Bandung. Jalurnya bercabang dari jalur kereta api ke arah timur Bandung di daerah kiaracondong berbelok ke selatan – memotong area yg sekarang jadi BSM, terus ke buah batu- dayeuhkolot- banjaran-soreang sampai ke ciwidey.

Jadi jaman baheula hasil alam dari kebun2 teh yg terpencil di tengah hutan bisa dg mudahnya dikirim untuk eksport dengan melalui sarana kereta api, dari ciwidey hasil bumi tsb, bisa sampai ke pelabuhan tanjung priok jakarta. Bandingkan dengan saat ini, betapa tak mudahnya mengirim barang dari tempat di bandung selatan ini sampai ke jakarta. Jadi walau telah beratus tahun berlalu, transportasi kita tak lebih baik, sungguh mengherankan.

Bayangkan dari keuntungan satu area kebun teh saja, dulu Bosscha ( kebun teh malabar-pangalengan) bisa membantu pendirian ITB, gedung merdeka dan peneropongan bintang. Betapa berpuluh2 kebun teh di seputaran priangan, saat itu memberikan kekayaan yg sangat besar ( bagi Belanda saat itu ), sampai bisa terbayar pula biaya besar untuk membuka jalan kereta api sampai ke dataran tinggi ciwidey. Sungguh menyedihkan saat ini jalur rel tersebut telah terbengkalai dan tertutup bangunan di berbagai tempat. Seratus tahun telah berlalu, transportasi ke arah Bandung selatan malah bertambah buruk, sering kena macet dan kebanjiran.

Jalur kereta api dari Bandung sampai ke ciwidey telah berpuluh2 tahun dibiarkan terlantar, sebagian masih bisa kita lihat bekasnya seperti jembatan2 kereta di jalur jalan menuju ciwidey, sebagian lain sudah rusak, tertimbun tanah di isi oleh pemukiman dan sarana2 lain.

Nampaknya kita lebih senang bermacet2 ria dan menghambur2kan BBM untuk transportasi ( saat liburan, jalan2 menuju tempat wisata di ciwidey sering macet). Dalam masalah energi  (listrik dan BBM ), kita masih kesulitan listrik , padahal alam kita begitu kayanya. Saat ini para petani di pinggir hutan pun sudah mulai kembali mencari kayu bakar ke hutan, karena minyak tanah susah dan listrik pun sering mati.

Kekayaan alam2 yg sama, seperti kebun2 teh tersebut, ketika dikelola oleh kita, setelah kemerdekaan, sungguh menurun hasilnya. Hukum alam berlaku, siapa yg berusaha dg sungguh2  dan cerdas  ialah yg mendapatkanya hasil keuntungan yg besar pula, mereka2 yg tak bisa mengelola nya dengan baik ( spt kita2 saat ini )  yah tetap hidup sengsara karena nya. Alam dengan segala kekayaan nya yg kita lewati tadi telah ada sejak dulu kala, namun bagai diterlantarkan saja oleh para leluhur kita dulu, barulah setelah Belanda datang, alam tersebut diolah, sehingga menghasilkan kemakmuran.

Saya kira orang2 Belanda dulu, seperti mereka yg membuka perkebunan teh telah berpandangan jauh ke depan, tentang sumber air, transportasi, energi dan hal2 pendukung lainnya. Entah kenapa sampai saat ini , kita tak bisa lebih cerdas dari mereka, walau telah beratus tahun berlalu, kita masih miskin, listrik susah, bbm susah, jalanan macet dan setumpuk permasalahan lain nya.kalau kita mau jujur mengakui, kita tak lebih cerdas walau telah beratus tahun waktu berlalu.

Seandainya benar kata2 orang dulu, para arwah leluhur bersemayam di gunung2 tinggi tersebut.  Mungkin arwah2 para tuan2 kebun teh belanda dan para kuli2 pribumi yg membuka lahan tsb dulu, sangat sedih melihat betapa pengorbanan mereka2 dulu, membuka hutan menjadi kebun teh , seperti tak terasa lagi hasilnya sampai saat ini, karena kita semua  rakyat  Indonesia, masih “miskin” dan hidup susah.

Di sebelahnya duduk si kabayan yang hanya bisa termenung nyengir (seolah2) memikirkan nya, sambil berkata ; lieur ah, meundingan sare ( pusing2 amat sih, mendingan tidur aja deh , EGP , emang gue pikirin ).

Memang kita telah merdeka dari penjajahan, tapi kita belum merdeka dari kebodohan. Karena kita menjadi miskin dan hidup susah, di tengah alam yg kaya raya ini, bagaikan tikus mati di lumbung padi.

Ndra, hayu jalan lagi, jangan kelamaan istirahatnya, ajakan si Iman membuyarkan lamunan saya. Kemudian kami melanjutkan perjalanan menyusuri jalan berkelok sepanjang tepian danau cilenca ke arah kota Pangalengan sampai ke rumah di lereng gunung wayang windu.

Dari kejauhan tampak indah pelangi dari batas kaki bukit di tepian danau cilenca, melepas perjalanan kita, kabut sore disertai gerimis tipis menemani perjalanan pulang melewati jalanan di pinggir kebun teh sampai ke rumah. Dari kejauhan terdengar sayup sayup terdengar suara adzan maghrib, “hayya alal faalah’ ( marilah menuju kejayaan / kebahagiaan ) …..

Terima kasih Allah, syukur satu hari telah berlalu dengan penuh pelajaran, alam terkembang jadi guru

semoga selalu bertambah kebaikan setiap sehari berlalu

 

note : gambar2 indah selama perjalanan ini bisa dilihat di ;

http://www.flickr.com/photos/hdmessa/sets/72157604258308251

 

22 comments on “lintas kabut dewata

  1. omdien
    02/04/2008

    Subhanallah…
    Tafakur alam kang
    Jadi pengen menyusuri jalan yang Kang Hendra lewati itu, jigana bisa menggugah inspirasi sambil menikmati perkebunan teh peningalan keluarga Kerkhoven (Gambung & Dewata).
    Berarti klo di pangalengan, munculnya dari arah cukul ya…?

  2. hdmessa
    02/04/2008

    betul kang Dien,
    betapa sebenarnya alam negeri kita indah dan kaya.

    di pangalengan muncul nya di daerah wates, jalan pangalengan arah ke cisewu ( garut )

    daerah gn pal lima/ warnasari, ada kebun teh disana nampaknya pasirmalang atau warnasari
    ( sore waktu lewat sana kurang jelas , hujan deui )

    salam

  3. sggowes
    02/04/2008

    om messa, saya juga temennya om budi ama dokter syaiful lho….

  4. hdmessa
    02/04/2008

    matur nuwun , sudah nengok mas Nurhasyim,

    yah pak Budi , pernah cerita2 juga ttg para pesepeda dari semen gresik.

    salam utk rekan2 yg lain nya
    HM

  5. irza
    02/05/2008

    Jazakallah Hen, sy irza, sering main2 + baca2 artikelnya dan banyak dapat pencerahan, terutama cara kita memaknai hidup dan belajar dari alam…
    Subhanallah betul yang Hendra bilang, “alam tak banyak berubah (karena mereka selalu taat pada sunatullah) sedangkan manusia banyak berubah (karena banyak ingkarnya, naudzubillah), meski seringnya kita lupa….

    BTW, sy ada temen dekat namanya Yogi Subaktyana, lulusan alat-mesin pertanian unpad 89. org lampung kerja di PTPN juga, kl sempat ketemu salamin ya…

    Barokallah.
    Sherbrooke, QC, CA
    irza

  6. hdmessa
    04/05/2008

    wa alaikum salam, Irza,
    terima kasih sudah nengok ke sini.

    yah, banyak pelajaran bisa diambil dari alam sekitar,
    kalau kita mau merenungi nya.

    makin dekat dg alam, maka resonansi jiwa ini, bisa lebih senada, beda halnya kalau kita tenggelam dalam kehidupan modern di kota, misalnya.

    Irza, pergi jauh sampai ke luar negeri ( Canada ? ) , kalau mau merenungi nya, pasti banyak pelajaran berharga juga di sana.

    btw, lagi sekolah atau ngapain disana Irza ?

    cobalah sharing juga cerita2 perjalanan nya ke sana, dalam bentuk blog, menarik deh.

    baik, nanti kalau ketemu teman nya Riza, saya sampaikan salam nya, PTPN berapa ? , karena banyak perusahaan perkebunan nya.

    salam
    HM

  7. Toni
    10/05/2008

    Hhmm. Saya terharu, takjub, senang…dan sekali lagi bersyukur.
    Bersyukur, karena selalu ada orang-orang yang mengingatkan saya akan sosok sang Khalik yang begitu sangat baik.
    Bersyukur, karena ada orang-orang yang mau berbagi cerita tentang hidup dan kehidupan.
    Bahwa kita selalu membutuhkan orang lain. Bahwa kita tidak pernah bisa hidup sendiri.
    Bahwa kita harus selalu belajar dari alam, dari hidup, dari kehidupan.
    Karena, Dia, sang guru yang Agung begitu sayang akan orang-orang yang selalu berserah dan selalu ingat akan kehadiran-Nya. Dan Dia selalu ingin mengajar kita dengan banyak perkara2 yang tak terpikirkan dan terbayangkan.
    Sungguh pengalaman yang mengasyikan… dan saya pun dapat ikut merasakan.

  8. hdmessa
    12/05/2008

    terima kasih Toni

    mudah2an Toni, bisa mendapatkan inspirasi juga dari perjalanan menjelajahi belantara beton di kota besar spt jakarta

    salam
    HM

  9. Robi putra dewata
    04/07/2008

    kang saya ucapkan terimakasih buat akang yang udah melakukan perjalanan ketempat kelahiran saya yaitu dewata,jadi mengetuk hati saya untuk liburan kesana……kang kapan lagi atuh melakukan perjalanan ke kebun teh dewata lagi saya pengen ikut donk
    ni no hp saya 085294554694….
    sekali lagi terima kasih kang udah ngingetin saya pada tempat terindah tempat saya dilahirkan…………..

    by……Robi putra dewata

  10. hdmessa
    07/07/2008

    Terima kasih Robi,
    Telah menengok rumah maya ini,

    Senang sekali bertemu dg Robi yg lahir di kebun teh Dewata yg pernah saya kunjungi, tempatnya benar2 indah, karena berada di lembah antara2 gunung besar, di tengah hutan cagar alam yg masih terjaga keasrian nya. Jarang sekali saat ini ada tempat seperti itu.

    Waktu itu saya pergi ke sana barengan dg teman2 sepeda gunung dari pangalengan, ingin ke sana lagi, tapi perlu buat rencana dg teman2 juga, karena jalan ke sana perlu persiapan yg lumayan cukup dan banyakan, karena daerahnya cukup terpencil.

    Ke sana bisa juga dg mobil atau motor cross, naik dari ciwidey, atau sekalian turun kalau pergi wisata ke kawah putih.

    Sementara ini belum ada rencana ke sana lagi, baik nanti kalau ada rencana ke sana, saya kabari.

    Btw, Robi sekarang tinggal di mana ?
    Orangtuanya kerja di kebun the juga dulu nya ?

    Salam
    HM

  11. Robi putra dewata
    09/07/2008

    kang robi sekrang tinggal di turangga jl. martanegara bandung lagi kuliah…..ya tujuanya suatu saat nanti pengen balik ke dewta dan pengen memajukan kehidupan masyarakat disana kang ………oya blh robi mnta no hp/telpnya?

  12. hdmessa
    10/07/2008

    niat yg bagus Robi,

    ini no HP saya , 0813 224 80 200

  13. Dewi N.K.
    13/11/2008

    Assalamu’alaikum…
    Beautiful Serene Places…Mimpi banget bisa ke sana, mas Hendra. Selama ini bolak-balik ke Bandung paling banter ke Lembang doang. Kalo kesampaian, kira-kira bisa ketemu gak ya?

  14. hdmessa
    13/11/2008

    wa alaikum salam,
    terima kasih kunjungan nya Dewi,

    mudah2 an mimpinya bisa terwujud, lokasinya tak begitu jauh kok dari Bandung, tapi karena terpencil dan jalan nya kurang bagus, jadi jarang yg sampai ke daerah tsb

    silakan saja kalau mau main ke daerah sini,

    kalau saya sendiri sering berada di daerah pangalengan. Sedangkan kebun teh dewata, berada di tengah hutan cagar alam gunung tilu, lokasinya diantara daerah pangalengan-ciwidey , 2 daerah wisata alam bandung selatan

    salam

  15. Casman Gunawan
    23/02/2010

    kang Hendra, ketika mendengar Perkebunan Dewata pemukimannya terkubur, saya langsung ingat postingan Kang Hendra ini,

    Inalillahi Wa Innailahi Rojiun….
    Tempat Indah ini terkubur tanggal 23 February 2010
    Ya Rabb, Semoga semuanya diterima Alloh SWT….

  16. hdmessa
    23/02/2010

    Inna lillahi wa inna ilaihi rajiun,
    terima kasih info nya kang Casman,

    Tempat indah yg terpencil tsb, memang pernah saya lewati dulu, saya amati area pemukiman pekerja kebun teh, memang berada di lereng pebukitan dimana di lembah di bawahnya ada mengalir sungai yg deras, mungkin karena musim hujan ini, terjadi pergerakan tanah di sana..

    amien, mari kita doakan bersama mereka yg meninggal dan keluarga yg ditinggalkan diberi ketabahan dan dibantu sebisa kita, mungkin tman2 mtb’ers bdg, ada juga yg sempat nyumbang ke sana, spt minggu lalu, B2W bandung, bantu korban banjir di bandung selatan

    salam

  17. antoix
    23/02/2010

    Ikut sedih dan prihatin…

  18. kharistya
    24/02/2010

    tulisannya bagus.

  19. Dewi
    16/12/2012

    SubhanaLLah catatan perjalannya menyentuh sekali kang..,
    hatur nuhun nya…

    kang Hendra, kita juga pernah melakukan perjalanan bersepeda dari gn patuha sampai situ pangalengan , tapi lewatnya ke daerah Cile-eur, memang indah skali alam nya

    Dewi Najmi

  20. hdmessa
    16/12/2012

    sama2 bu Dewi

    salam

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on 23/03/2008 by in journey inspiration.
%d bloggers like this: