Inspiring points

Reflective story from journey of life , Alam terkembang jadi guru

berkelana ke masa lalu [sma]

sma3-y1Kembali hadir ke bangunan sekolah, dimana dulu masa sma dilewatkan dan bertemu kembali dengan teman2 lama, seolah membangkitkan kembali memori lama. Masa sma yg walau hanya 3 tahun, tapi menimbulkan ikatan emosi yg mendalam.

 

Beberapa waktu yg lalu, teman2 sekolah seangkatan dulu, mengadakan acara reuni , setelah hampir 20 tahun tak bertemu, acara dilaksanakan di gedung lama yg penuh kenangan, SMAN 3 Bandung, di jl belitung 8 Bandung.

 

bagi saya acara seperti itu, bukan hanya sekedar bisa bertemu teman lama, tapi juga sebuah kesempatan menengok kembali sekolah dimana kita pernah melewatkan sebagian masa kehidupan ini. Bagaikan perjalanan berkelana ke masa lalu yg sebenarnya tak kan pernah bisa kembali.

Saya masih hapal sudut2 bangunan tersebut, karena dulu pada berbagai kegiatan sekolah sering sampai bermalam di sekolah. Saking sering nya menginap malam hari, akhirnya saya pun tahu ada suara2 aneh di malam hari di bangunan tua ini, yg sering jadi bahan obrolan untuk menakut-nakuti anak2 gadis. Gedung tua ini menjadi saksi bisu berbagai kisah seru, bermain bersama, sampai cerita patah hati karena cinta.

Sempat datang juga, ke tempat jualan makanan di area reuni ini, dimana dijual pula berbagai jajanan jaman SMA dulu. Saya datang ke stand roti bakar dan , takjub juga ternyata rasanya tak jauh berubah selama 20 tahun. Sempat ngobrol dg penjualnya, ternyata ia adalah anak dari si mang yg dulu jualan, ooh pantesan saja, racikannya pun diwariskan. Tapi kasihan juga nasib keluarga penjual roti bakar ini, tak berubah banyak dari dulu, padahal anak2 SMA yg sering jajan padanya telah jauh bertambah makmur nasibnya.


Memori lama

Bangunan sekolah ini, dulunya adalah sekolah HBS di jaman belanda yg telah berdiri sejak tahun 1920, yang dulu hanya bisa dimasuki orang Belanda dan priyayi pribumi. Bangunan khas jaman dulu dg pintu, jendela dan langit2 nya tinggi Sebelum acara reuni dimulai, saya menyempatkan diri mengelilingi bangunan lama ini, seolah napak tilas masa lalu, mulai dari koridor antar kelas yg berupa lorong, memasuki ruang kelas, ruang osis, ruang mushola, ruang pramuka, pencinta alam, tempat jajan dan tempat lain nya, yg seolah menjadi saksi bisu banyak kenangan lama.

Sejak waktu kecil, sebenarnya saya sudah akrab dengan bangunan lama tersebut, karena selalu terlewati saat diajak bermain ke taman lalu lintas yg lokasinya berseberangan. Dulu saya hanya bisa melihat dari jauh dan tak bermimpi sedikitpun akan bisa bersekolah di bangunan tua tersebut, yang baru saat SMP saya ketahui adalah SMA terbaik pada masa nya yg rasanya mustahil bisa dimasuki seorang anak dari keluarga sederhana yg berasal dari sekolah tak bermutu dimana kebanyakan muridnya anak2 keluarga miskin. Namun jalan takdir memberikan keajaiban pada saya untuk bisa juga sampai ke sekolah ini, Alhamdulillah sebuah kenikmatan yg selalu saya syukuri.

 

Bagi saya pribadi sekolah ini, tak sekedar sekolah, tapi telah menjadi bagaikan padepokan silat seperti cerita ko ping ho atau pesantren, teman2 pun adalah bagaikan saudara seguru se ilmu. Karena tak sekedar ilmu SMA yg didapatkan, tapi banyak hal berharga lain nya yg didapatkan saat melewatkan sebagian masa hidup disana.Bangunan ini telah menjadi bagaikan saksi bisu dari sekelumit episode kehidupan.

 

Bertemu teman2 lama, setelah sekian puluh tahun tak berjumpa, seolah membangkitkan kenangan dan cerita2 lama. Rasanya tak cukup waktu hanya beberapa jam untuk bertukar cerita puluhan tahun, dari berbagai penjuru dunia.

Beragam cerita, mulai dari obrolan tentang keindahan hamparan hijau kebun teh di gunung Malabar ini dengan Dewi Wulan teman sekelas dulu, yang ternyata memiliki kenangan yg indah dg kebun teh tak jauh dari tempat saya bekerja sekarang. Ia pernah melalui masa kecilnya yang penuh kenangan di kebun teh yang indah ini.

Sampai cerita tentang tambang emas di tengah hutan belantara Burkina faso, di benua hitam Afrika sana, dimana si Awaludin, teman bareng di mushola dulu sekarang bekerja.

 

Bertemu teman lama dengan berbagai jalan hidupnya yang beragam, sebenarnya bisa jadi cerminan bagi diri kita sendiri, sudah sejauh mana pula kita menempuh perjalanan hidup ini, karena setidaknya kita memulainya dari langkah awal yg sama saat lulus sekolah dulu.

Saat bertemu kita masih membayangkan teman2 kita masih seperti masa muda dulu, padahal perjalanan waktu berpuluh tahun telah merubah kita semua, mulai dari tampilan fisik sampai pola pikir. Sebagai makhluk Tuhan, manusia mengalami perubahan, menjadi tua sesuai perjalanan waktu. Kita tidaklah seperti bangunan sekolah ini yg tak berubah setelah puluhan tahun, bukan pula seperti roti bakar yang rasa dan aromanya tak banyak berubah.

 

Cinta monyet tak bersemi kembali

Saat bertemu lagi dengan teman2 lama, satu hal yang sering membuat kita penasaran, ialah saat bertemu dengan teman yang mana kita pernah mengalami kaitan emosional, entah karena sangat akrab atau pernah bertengkar, atau pernah jatuh cinta atau sekedar naksir tapi malu2.

Bertemu muka atau ngobrol kembali, akan membangkitkan kenangan lama. Tapi sebagian mungkin agak kecewa, karena si dia yang kita temui lagi saat ini telah banyak berubah, khususnya tampilan fisiknya karena usia. Si dia yg dulu sempat membuat kita tergila2, sekarang sudah berubah, bukanlah lagi buah segar yg ranum seperti dulu lagi, cerita masa lalu pun telah terhapus dari memori. Si dia telah menjadi istri atau suami orang lain, rasa cinta masa lalu pun meluruh karena nya.

Sewajarnya anak usia sma, saya pun pernah mengalami rasa ketertarikan pada teman gadis sekolah. Sekolah terkenal dimana anak2 orang kaya sekolah, pintar,rapih dan cantik. Jauh sekali dengan tampilan teman2 saya waktu SD dan SMP dari kalangan menengah bawah, yang pakaian nya kucel, jerawatan dan kulitnya pun tak terawat. Namun sebagai orang dari kalangan menengah bawah, saya sering minder kalau berhadapan dengan gadis2 kaya tsb. Pernah pula sakit ngebetnya sama seorang teman, akhirnya saya pun nekad mendekati dan mengirim surat ( jaman itu belum ada email atau hp), apa daya ditolak mentah2, patah hati deh, bak kata pepatah ” maksud hati memeluk gunung , apa daya gunung meletus…he..he.he… Tapi memang siapa pula gadis yg mau dg anak kucel & miskin spt saya , “ngaca dong” katanya..hiks..hiks..hiks….kasihan deh lu..

Berbagai aktivitas sekolah yang saya ikuti, terutama pengembaraan ke alam terbuka dengan teman2 pramuka dan pencinta alam, mengobati sakit hati tsb, dalam hati saya bilang, sementara selamat tinggal dulu deh utk para cewek2 tsb, saya akan mencari “cinta” lain di atas gunung sana, cinta pada alam yg jauh lebih cantik.. he..he….he…he..


Saat bertemu kembali dg seseorang yg dulu kita pernah dekat secara emosi cinta, walaupun mungkin masih ada sedikit tersisa rasa kedekatan batiniah, namun hanya sebentar untuk kemudian akan sirna. Karena perasaan cinta anak muda jaman sma, cinta pada pandangan pertama, lebih dikarenakan faktor tampilan fisik dan dorongan libido, cinta eros istilah ilmiahnya atau cinta monyet istilah praktisnya, yang akan bertahan lama.

Mungkin hanya ada dalam kisah2 seperti cerita ”Laila – Majnun” , orang yg tergila2 seumur hidupnya karena cinta pada seseorang. Kalau kita mengingat lagi, kisah2 rasa hati kita masing2 pada jaman muda dulu, mungkin kita akan tertawa sendiri mengingatnya, mengingat kembali, betapa banyak tebaran cinta gombal atau cinta sampai mati dulu..he..he….( buktinya orang yg sudah menikah dengan istri yg cantik yang dulu dikejar2 setengah mati, akhirnya tetap saja senang bermain2 api asmara dengan gadis muda )

Bagi orang2 yg memasuki paruh kedua kehidupan di usia awal 40-an, sudah saat nya meningkatkan kualitas cinta , tak hanya sekedar cinta berlandaskan nafsu, namun meningkat pada cinta yg lebih berkualitas dalam makna, tak sekedar melihat tampilan fisik, tapi lebih pada inner beauty, melihat keindahan dari hati dan perilaku seseorang, sikap dan tindakan memberikan kebaikan pada sesama.

 

Sudah saatnya kita mencapai level cinta agape/platonik dalam istilah ilmiahnya, yaitu jenis cinta untuk memberi kebaikan tanpa mengharapkan balasan. Cinta sebagai bentuk pengabdian, kebahagiaan dalam memberi ,

Cinta yang membangkitkan manusia untuk berbuat kebaikan pada sesama manusia, menolong manusia yg dalam kesulitan, memberi kebahagiaan bagi sesame. ”The authentic love is pleasure in giving and sharing the happines”. Hakikat cinta, ialah kesenangan untuk memberi dan berbagi kebahagiaan..

 

Sesuai dengan proses perjalanan usia seorang manusia, meningkatkan kualitas cinta seorang manusia adalah juga gambaran dari peningkatan kualitas pemaknaan seorang manusia tentang perjalanan hidupnya. Sebagai bandingan, “bandot” tua yg suka berselingkuh adalah gambaran dari ketidakmatangan dalam proses perjalanan hidupnya.

 

Apakah benar kita mencari ilmu di sekolah ?

Melanjutkan cerita reuni, saat berkumpul dengan teman2 sekelas , kita sepakat untuk menengok bersama kelas kita dulu. Melihat kelas menemui bangku2 sekolah yg kosong ini, seolah menyimpan banyak cerita lama.

Saya pun mencoba duduk kembali di bangku belakang dengan sukamto teman sebangku dulu, mencoba mengingat kembali masa2 di kelas dulu.

“To, masih ingat kan di depan itu bangkunya si Budi, anak ciwidey yg pinter itu, dimana tiap pagi anak2 ngantri, nyontek tugas PR dari si Budi. Budi anak pintar yg baik hati, telah meninggalkan dunia yg fana ini, 2 tahun selepas kita lulus SMA, bak pemeo , orang baik mati muda. Mengingat teman yg meninggal kita menyadari bahwa tak selamanya kita selalu bisa bertemu kembali dengan teman lama kita, ingatlah suatu saat pun kita akan meninggalkan dunia yg fana ini, meninggalkan teman2 lama.

 

Karena duduk di barisan belakang, saya pun tahu, siapa saja teman2 yg mencontek saat ujian, entah kenapa saya tak tergiur pula untuk mencontek, padahal sama2 susah juga menjawab soal2 ujian. Dalam sebuah pengajian, guru saya pernah bilang bahwa mencari ilmu adalah amal yg mulia, tak boleh dicampuri oleh tingkah laku yang tak terpuji, seperti mencontek. Setelah itulah saya tak pernah mencontek sejak jaman sma , bahkan sampai lulus kuliah, walau hasil nilai akademis rendah, saya tetap merasa bangga, pelajaran kejujuran ini sungguh berharga.

 

Saat ngumpul2 di ruang kelas tersebut, melihat ke papan tulis, tampak masih bertuliskan rumus2 matematika, pelajaran yg anak sekolah kemarin, yg belum sempat dihapus. Kita pun ngobrol2 disana.

“Nang, masih ingat nggak dg rumus2 matematika spt yg tertulis di papan tulis itu ?”, kata si Deni,

wah, sudah lupa lagi euy, lama nggak kepake dilagi .., kata Nanang.

“kalau bagi saya mah, dari pelajaran matematika yg sangat berguna dan masih kepake sampai saat ini, ialah ilmu ttg persentase” , kata si Yayat.

maksudnya apa Yat ? , tanya Bimo

maksudnya kepake untuk menghitung persentase harga pada proyek atau bisnis, berapa persentase komisi atau fee nya …he..he..he., kata Yayat sambil ketawa..

ayak ayak wae maneh mah ( ada2 saja kamu), tapi dipikir2 benar juga , realitas sehari2 bagi mereka2 yg terlibat project atau bisnis, harus bisa dg tepat menghitung persentase tsb, agar untung.

 

Tetap menjadi sebuah pertanyaan menarik, setelah puluhan tahun berlalu, sebenarnya apa yg didapatkan dari bangku sekolah dulu ? apa yg didapat dari pelajaran2 yg kita hadiri di kelas tiap hari ?

Sebagian besar nampaknya seperti tak relevan dengan kehidupan kita sehari2 , baik di dunia kerja , bisnis atau kehidupan sehari2 lain nya. Kebanyakan kita sudah lupa dengan rumus2 matematika, fisika, hapalan2 biologi , sejarah dll. Mungkin pelajaran berhitung dan membaca dari guru SD dulu, adalah ilmu yang paling banyak manfaatnya sampai saat ini.

Dalam jaman yg materialis ini, sekolah telah menjadi bagaikan pabrik otak belaka untuk batu loncatan mendapatkan materi (kekayaan) . Yang banyak dicari dari sekolah ialah dapat nilai ujian yg tinggi, indeks prestasi yang tinggi saat kuliah agar bisa dapat kerja yg bagus pula kelak, kesana akhirnya semua bermuara. Saya sempat kecewa karena sebagian besar orang bersekolah tak sepenuhnya jujur dalam hatinya, bahwa ia benar2 mencari ilmu, karena hakekatnya hanya selembar ijazah dengan nilai yg tinggilah yg dicari.

 

Kalau hanya keuntungan materi yg dituju dari sekolah, tidaklah relevan lagi untuk ditanya ilmu apa yg didapat dari bangku sekolah ?, karena yg penting mah dari sekolah saya bisa dapat ijazah yg nilainya tinggi untuk bisa mendapatkan kerja yang bagus pula ( besar gaji nya ).

Bersekolah demi tujuan materialis, sungguh suatu hal yg mengecilkan makna sekolah sebagai tempat menuntut ilmu, membuat seorang manusia menjadi lebih baik dalam menjalani hidup ini.

 

Saat bersekolah dulu, kalau dinilai dalam ukuran akademis, mungkin saya bisa dianggap kurang berhasil, nilai ujian kurang begitu bagus, rangking kelas pun biasanya di papan bawah, baik saat sma maupun jaman kuliah. Namun saya tetap merasa banyak “ilmu” yang telah diraih. Ilmu yg tak selalu didapat di ruang kelas, namun juga ilmu2 lain di luar kelas, istilahnya sekolah kehidupan.

 

Saat di SMA dulu maupun jaman kuliah, saya banyak ikut kegiatan selain hanya sekedar belajar di dalam kelas, sampai jarang belajar di rumah. Mengikuti pengajian di mushola, mengikuti kegiatan2 sosial kemasyarakatan dengan teman2 pramuka, pergi mengembara ke alam bebas dengan teman2 pencinta alam dan berbagai kegiatan lain nya.

Namun justru dari berbagai “pelajaran luar kelas” di alam terbuka tersebut saya banyak mendapat pelajaran berharga. Pengajian2 di mushola sekolah, memberikan arahan yg sangat mendasar mengenai apa sebenarnya tujuan hidup kita ini, suatu pelajaran yg tampak terlalu dini bagi anak usia sma ( sungguh menyedihkan, sampai umur 40-an ini, masih banyak orang2 yg tak mengerti juga, apa makna dan tujuan hidup ini ) .

Hampir sebagian besar pebukitan seputaran kota Bandung, pernah saya jelajahi. Berada di tengah keheningan alam terbuka, jauh dari masyarakat, membuat diri ini jadi sering melakukan perenungan.

 

Saat sebagian teman2 terjerembab dalam pelukan buku2 cabul, saya tenggelam dalam buku cerita silat dan mulai mendalami buku2 filsafat. Dari buku silat saya sangat terobsesi untuk juga memasuki perguruan sebagaimana halnya para pesilat belajar di biara shaolin, seperti itu idealnya mencari ilmu di sekolah seperti sma ini. Dari buku2 filsafat, saya mulai belajar mengenai filsafat keilmuan, ternyata ada esensi , nilai filosofis dari ilmu2 yg kita pelajari. Dalam pelajaran ilmu alam, sosial, bahkan matematika sekalipun ada makna filsafatnya. Kalau seseorang telah bisa memahami makna filosofis dari ilmu yg dipelajarinya, maka ilmu tersebut akan membuat kita menjadi orang yang lebih berkualitas dalam arti luas, bukan sekedar tahu atau punya keahlian. Di sekolah jarang filsafat ilmu tsb disampaikan , orang hanya dididik agar tahu dan bisa melakukan sesuatu, karena sekolah hanya bagaikan pabrik otak yg menghasilkan para pekerja, nilai ujian yang tinggi lah yg diharapkan. Karena itulah sering kita temui, ada orang yang banyak bersekolah, sampai sekolah tinggi , tapi kelakuan nya dan kualitas dirinya, tak bertambah baik, karena ia tak mendapatkan esensi dari ilmu yg dipelajarinya.

Pikiran anak usia sma yang masih polos saat itu, membuat saya sampai berpendapat agak naif pula seperti yang penting mah cari ilmu, bukan cari nilai. Saking ingin mencari makna filosofis dari ilmu diajarkan di sekolah, akhirnya jadi tak mempedulikan berapa nilai ujian yg didapat, sehingga hasil nilai akademis kurang baik.

Bersyukur sekali waktu itu saya masih bisa mendapatkan pengajaran dari para guru sma3 yg idealis dan memiliki metode mengajar yang bagus, mereka para guru senior didikan gaya belanda dulu, dari mereka saya banyak mendapatkan pelajaran berharga.

 

Mungkin terasa aneh saat anak2 sma lainnya pulang sekolah sibuk belajar, buat PR atau pergi pacaran, saya malah banyak ngeluyur kemana2. Sampai nilai pelajaran pun jadi jeblok, ranking kelas pun selalu di papan bawah, bahkan pernah sampai hampir tak naik kelas.

Namun walau begitu sekali lagi keajaiban berlaku, saya bisa tembus juga ke ITB pada jurusan yg persaingan masuknya paling ketat, hal tsb membuat teman2 sekelas pun jadi heran, kenapa si Hendra yang rangkingnya di bawah bisa lulus ujian masuk perguruan tinggi, padahal mereka yg rangking nya lebih tinggi banyak yg nggak masuk?.

 

Jujur saja saya akui, bisa masuk SMAN3 Bandung ataupun ke ITB, lembaga pendidikan terbaik di jaman nya, bagi saya adalah sebuah kemujuran yg besar, saya hanyalah anak bodoh yang beruntung diantara anak2 pintar di sekolah tersebut.

Saat kuliah di ITB pun, sekali lagi, saya selalu terseok2 di papan bawah nilai2 ujian, beberapa kuliah pun harus diulang, waktu kuliah lama, lulus pun dengan Indeks prestasi yg pas pasan. Tapi kemujuran terjadi lagi, walau lulus dengan IP yang rendah, saya bisa juga mendapatkan tempat kerja yg bagus dan memberikan gaji yg besar.

Mengingat itu semua, saya hanya teringat pesan guru ngaji dulu, bahwa orang yang berbuat di jalan kebaikan, maka Tuhan akan memudahkan semua urusan nya.

Persahabatan

Salah satu hal berharga yg kita raih dari sekolah, ialah persahabatan, sahabat adalah asset berharga yg akan terus terasa manfaatnya dalam jangka waktu yg lama, mungkin lebih berharga daripada selembar ijazah.

Sahabat sejati lah yg akan banyak menolong saat kita menghadapi kesulitan, sahabat lah yg akan mengobati kesedihan hati. Namun kondisi kehidupan materialistik saat ini cenderung membuat orang jadi individualis, hidup sendiri2, tak merasa perlu banyak teman, yg sebenarnya mengurangi keuntungan dari persahabatan. Belum lah terlambat untuk menjalin persahabatan, mencari sahabat baru dan selalu menjaga hubungan dengan sahabat lama.

Ada kata hikmah yg menyatakan bahwa dg memperbanyak persahabatan akan memperluas pula rizki dan memperpanjang umur, setidaknya akan banyak sahabat di berbagai tempat yg akan membantu kita. Persahabatan adalah bagaikan kepompong, mengubah ulat yg hanya bisa merangkak dekat menjadi kupu2 indah yang bisa terbang jauh.

Bagi mereka yg terjun dalam dunia bisnis, persahabatan atau relasi adalah kekayaan yg berharga. Kita bisa belajar dari para pebisnis chinese yang selalu menjaga persahabatan lama dan menjadikan nya sebagai tumpuan dalam berbisnis, ho-peng istilahnya.

 

Cita cita setengah jalan

Di usia pertengahan hidup, usia 40-an, sebagian besar orang bisa mencapai apa yg dicita2kan waktu kecilnya dulu, walau banyak yg berubah haluan, tapi setidaknya sebagian besar sudah bisa mencukupi hidupnya, setidaknya telah bisa menghidupi keluarganya, walau sebagian ada juga yang agak kerepotan dari sisi materi.

Bila pada usia belasan tahun kita bercita2 yang akan tercapai pada usia sekitar 40 tahunan, seharusnya seseorang yg berusia 40-an, haruslah pula memikirkan hendak jadi apa ia 20 tahun kelak, hendak jadi seperti apa ia di masa tua nya ? mungkin terasa naif

Tapi sadarilah perjalanan hidup ini baru setengah jalan ditempuh, oleh orang yg berusia 40 tahun, dimana secara pertumbuhan fisik telah terhenti dan akan terus berkurang kekuatan nya, namun hidup ini masih belum terhenti.

Bilamana kita tidak tahu kemana kita hendak menempuh jalan hidup ini yg masih penuh jalan berliku, sungguh sebuah kerugian besar, karena sampai di akhir hayat kehidupan ini, kita tak menjalani kehidupan yg penuh makna, padahal Tuhan tidaklah dg kesia sia an pula menciptakan kita di dunia ini…

 

Sekolah kehidupan dan reuni Akhirat

Bertemu dan bertukar cerita dengan teman2 lama adalah bagaikan bercermin tentang perjalanan hidup ini. Kita perlu banyak mengambil pelajaran dari masa lalu, untuk menempuh masa depan yg lebih baik.

Kita tetap harus belajar untuk kehidupan yang lebih baik. “Alam terkembang jadi guru” kata pepatah minang, kita bisa berguru pada berbagai hal dalam kehidupan ini. Hadis Nabi ada mengatakan, tuntutlah ilmu dari buaian bayi, sampai ke liang lahat, berarti belajar adalah seumur hidup. Kita belajar di sekolah kehidupan

Ujian2 kehidupan akan selalu menghampiri kita, malaikat yg suci dan tak bisa dibohongi akan selalu mengawasi kita saat menempuh ujian kehidupan ini. Kehidupan yang hanya sekali kita tempuh dan tak memungkinkan kita berpulang ke masa lalu.

Ingatlah masa depan tak hanya sampai kita tua kelak, sampai masuk ke liang lahat, tapi masa depan, adalah juga kehidupan di alam akhirat selepas kita meninggalkan dunia yg fana ini. Kita perlu mempersiapkan diri pula menghadapi alam akhirat tsb, dimana semua kita akan mempertanggungjawabkan apa yg telah kita lakukan dalam kehidupan ini. Semua orang akan menempuhnya, baik yg percaya atau tidak sekalipun.

Semua manusia akan dikumpulkan lagi di alam akhirat kelak, untuk mempertanggungjawabkan semua lakunya di dunia, kita semua akan ber “reuni” di akhirat.

Belajarlah dengan baik dalam sekolah kehidupan ini agar kelak kita bisa bertemu kembali dalam reuni kebahagiaan ( surga), bukan nya bertemu dalam kesengsaraan ( neraka)

“Jika aku pergi,

Sebagian pikiran ku masih tertinggal di rumah

Tak bisa ku bawa pergi

 

Jika aku mati,

Sebagian kisahku tertahan di rumput bertabur embun pagi

Seakan bertahan dari bumi yang hendak menarik pulang ke dalam tanah

 

Aku bertanya,

Jika aku mati kelak ,

Kisahku yang fana berumah kemana ?

Sahabat lama ku terkumpul dimana ?

 

( rumah – Ook N )

 

 note :

gambar2 kenangan lama, bangunan SMA3 Bdg, bisa dilihat di ;

<http://hdmessa.multiply.com/photos/album/7/

23 comments on “berkelana ke masa lalu [sma]

  1. buahpikiran
    16/01/2009

    tulisannya bagus pak. reuni akherat,…semoga reuni akhiratnya ditempat yg bagus ya pak. salam kenal

  2. hdmessa
    16/01/2009

    terima kasih ,

    amien, semoga kita semua bisa lulus dalam ujian kehidupan, dan berkumpul dalam kebaikan di akhirat kelak

    salam kenal juga

  3. HaPo
    17/01/2009

    hmm…. saya rindu masa2 SMA juga =)

  4. hdmessa
    18/01/2009

    memang masa muda tsb, indah dikenang,
    tapi waktu tak bisa berputar balik

  5. Radiah
    18/01/2009

    “Saya selalu berpikir hal2 yang baik adalah hadiah kehidupan. Hadiah selalu menyenangkan, tapi tidak mengajarkan apa-apa.
    Sementara hal-hal yang buruk adalah guru, tentang hidup itu sendiri.
    Ketika kita bisa mengambil pembelajarannya, kita tidak semata jadi korban, tapi bisa memperbaiki diri sendiri dari hari ke hari.

    Mm… kenapa cinta monyet tidak kembali…? Apa karena lebih superfisial?”

    Radiah

  6. Husni
    18/01/2009

    di kalangan gadis2 timur tengah ada istilah untuk menolak cinta monyet itu ;

    :” enta majenun wa ana mus laila”.
    :”kamu majenun dan saya bukan laila”.

    yang kemudian di jadikan lagu oleh penyanyi lebanon dan pernah menjadi hit beberapa bulan lama nya

    salam

    Husni

  7. Uni
    18/01/2009

    Aduh…duh..
    kang Hendra ini emang paling bisa deh kalau cerita tentang nostalgia… apalagi nostalgia SMA. Saya sampai senyum-senyum sendiri bacanya…

    terutama tentang cinta-monyet dan patah hati…ha.ha.ha…

    Saya jamin teman-teman yang baca tulisan Hendra
    ini pada ikut senyum2 juga…

    Uni

  8. Soni
    18/01/2009

    Ooo… Ceritanya waktu cinta monyet dulu itu Hendra pernah patah hati toh,
    sehingga semangat ikutan Pramuka sampai2 serius ikutan kemping di Gn Bukit tunggul guna menemukan cinta sejatinya kepada monyet…

    Bertemukah Hendra dgn cinta sejatinya ?

    Mari kita tanyakan pada anak2 monyet di gn bukit tunggul sana… Bila mengenal Hendra Messa berarti cinta sejatinya ditemukan…

    Maaf ya Kang Hendra, sekedar morning joke ditengah perjalanan menuju cirebon, dan tadi ketemu monyet di jalan cadas pangeran… he…he…he

    Soni

  9. hdmessa
    19/01/2009

    Dear Radiah,
    Terima kasih utk sharing nya,
    benar kita bisa banyak belajar dari kegagalan, namun sayang tak banyak orang bisa mengambil pelajaran.

    Agak sulit juga pertanyaan cinta artificial nya, baik coba jelaskan sesuai pemahaman saya ;

    Rasa cinta yang mulai tumbuh di masa remaja , timbul karena 2 hal, proses biologis mulai bangkitnya hormon seksual / libido dan perwujudan rasa kasih sayang pancaran dari kasih sayang ibu ( keluarga ) yg diterimanya saat masa kecil.

    Cinta karena libido, di istilahkan dg cinta Eros , yg cenderung bersifat egosentris ingin memiliki, menikmati, inilah yg di istilahkan dg cinta monyet.

    Namun cinta yg tumbuh dari ketulusan hati yg masih polos, karena pancaran kasih sayang keluarga, yang terpercik oleh pandangan pertama, adalah sebentuk cinta yg berasal dari jiwa yg dalam. Cinta spt inilah yg diceritakan pada kisah2 klasik spt cerita laila-majnun, atau romeo-juliet.

    Banyak juga kita temui, pasangan berasal dari pertemuan cinta di masa muda nya yg berlanjut ke jenjang pernikahan, dan cinta mereka tetap lestari.

    Pada kisah Laila majnun, cinta tumbuh alami diantara mereka dan berasal dari hati yg dalam, hanya karena hambatan keluarga lah, mereka tak bisa mewujudkan nya, sampai sang pria gila karena cinta ( majnun = gila bhs arab ).

    Dikisahkan, untuk menyembuhkan kegilaan sang majnun, keluarga majnun coba mencarikan wanita lain yg cantik juga, tapi majnun tak mau, hatinya telah terbakar cinta pada Laila. Kisah ini bermula pada saat mereka muda dan bisa langgeng sampai kematian menjelang, diceritakan bahwa majnun pun mati di kuburan Laila.

    Kembali ke pertanyaan Radiah, tsb, jadi ada 2 macam cinta saat muda. Cinta monyet yg berasal dari libido, memang hanya sesaat , bersifat supertifisial ( sementara) , dan tak kembali seperti semula.

    Tapi pada masa muda bisa terjadi pula cinta pertama yg berasal dari hati yg tulus, yang akan terkenang sepanjang masa

    Mudah2an bisa sedikit memberi pencerahan, mungkin ada rekan lain yg bisa menambahkan

    Salam

  10. S. AMRIL
    19/01/2009

    Salam kenal,
    kang Hendra lulus SMA3 thn berapa?
    dan di ITB di jurusan apa? angkatan brp?
    Artikel anda, saya fwd ke buletin Alumni SMA3’68plus,
    agar bisa dibaca oleh yang lainnya. Nuhun.
    Wassalam,
    S.Amril – lulus SMA 1968
    Studi di Arsitektur ITB 1969, FH Unpad 1978 (tdk
    diteruskan), STM PPM batch 12A 1993/1994.

  11. hdmessa
    19/01/2009

    salam kenal juga pak Amril,

    terima kasih apresiasinya.

    angkatan saya jauh dibawah bapak, saya lulusan thn 1988 , kuliah di teknik industri itb – ’88

    silakan saja di forward pak,
    mudah2 an ada manfaatnya

    salam

  12. aris
    19/01/2009

    Nuhun pisan, kang Hendra ….

    Kedah emut teras kadinya , rumah masa depan yg abadi tea ….

    Aris , Bekasi

  13. agus
    19/01/2009

    Untung, saya tidak jatuh cinta waktu di SMA 3 he he …

    Agus Saepul, Riau

  14. sam
    19/01/2009

    assalamualaikum

    Ndra saya sudah baca tulisan Hendra disini jujur saya kagum sekali dengan tulisan Hendra. Dulu saya pernah bilang kalau hendra sebaiknya nulis buku atau novel saja. Tulisannya betul betul membawa ingatan org org selalu ke masa lalu.

    Apapun yg Hendra tulis sepertinya mengalir begitu dalam dan keluar dari hati yg dalam sekali.

    Mendingan hendra jadi penulis juga ndra hehheheh. Bisa jadi sebenarnya sudah jadi penulis dan bebrapa bukunya di terbitkan tapi saya tidak tahu.

    Seandainya ada tolong kasih tahu saya ndra buku apa yg pernah kamu tulis.

    thanks
    salam

    Syamsudin, Bintaro , jakarta

  15. hdmessa
    19/01/2009

    terima kasih rekan2 semua atas komentarnya,
    pak Husni, kang Aris, kang Agus, kang Soni, teh Uni, Radiah dll.

    terima kasih juga Syam, atas dorongan nya utk menulis buku beneran,

    sampai saat ini saya belum sempat menerbitkan buku, mudah2an suatu saat kelak bisa terwujud

    salam

  16. Agus
    20/01/2009

    Cerita bagus boss.

    Menyaingi “Laskar Pelangi” … he he he.
    Ada kisah cinta juga … he he he.

    Lu nampaknya cocok jadi penulis Broer ….

    Regards,
    Agustiamsyah

  17. hdmessa
    20/01/2009

    thanks pak Agus,

    Nampaknya , kemampuan menulis, adalah sedikit sisa bakat orang minang yg masih mengalir di darah ini,

    Yah, karena banyak teman yg bilang,
    nampaknya kelak saya mau jadi penulis beneran saja deh,

    Ambil pensiun dini , setelah banyak ngumpul duit ..he…he..he., terus jadi pekerja bebas, spt penulis

    salam

  18. Mimma
    22/01/2009

    Makasih buat tulisannya…

    (sayang kemarin ga bs ikutan reuni… abis sampe di bandungnya kesorean)

    saat membaca bagian tentang untuk apa kita masuk sekolah jadi ingat kata2 almarhum Bapak saya:

    “Bapak nyekolahin kamu dan adik2 bukan karena ingin kalian jadi orang kaya tapi karena ingin kalian hidup dengan benar”.

    Kata-kata itu selalu saya ingat sampai sekarang.

    Saat ini saya masih sekolah di sekolah informal kehidupan dan masih terus berusaha (biarpun berdarah-darah) untuk hidup benar di dunia dimana batas-batas antara yg benar dan yg salah semakin kabur….

  19. hdmessa
    22/01/2009

    sama2 Mimma,

    thanks juga sharing nya, syukurlah kita bisa memaknai dg baik proses pencarian ilmu tsb,

    belajar di dunia kehidupan memang tak ada habisnya dan ujian nya jauh lebih sulit daripada ujian di sekolah formal.
    semoga sekolah kehidupan nya, bisa dilalui dengan penuh kebaikan

    salam

  20. agus
    26/01/2009

    Baca cerita tentang reunian SMA3 , he-he-he, koq ceritanya mirip yah ,
    siapa yang nyontek nich? . he..he….he

    Zaman sekolah di SMA3 saya juga rada-rada persis begitu. Ikut pelajaran itu mah kewajiban. Tapi gaul jalan terus. Ranking juga nggak tinggi-tinggi amat. Orangtua juga nggak kaya. Deketin cewek juga dicuekin, nggak tampil mentereng sih. Bisa mirip begitu cerita kita. Masuk ITB juga untung-untungan.

    Salam untuk kang Hendra sekeluarga, kalau lagi jalan-jalan ke Eropa, jangan lupa mampir ke tempat saya di Jerman.

    Agus Setiawan
    Redakteur
    Deutsche Welle (DW)/Indonesische Redaktion
    Kurt-Schumacher-Str.3
    53113 Bonn
    GERMANY
    Tel : + 49 228 429 4733
    Fax : + 49 228 429 4739

    Web :http//www.dw-world.de/Indonesia

  21. hdmessa
    27/01/2009

    terima kasih kang Agus, komentar dan sharing cerita masa lalu nya,
    wah ternyata banyak teman senasib juga nih, sampai ada juga yg jadi orang hebat yg melanglangbuana spt kang Agus..he…he…

    terima kasih kang Agus, undangan nya, mudah2 an kalau sempat juga sampai ke Jerman sana, kita bisa silaturahmi

    salam

  22. Diego
    24/03/2009

    Assalamualaikum wr.Wb..

    “Wow”
    itulah komentar yg bsa saya ucapkan..
    Tulisan kang hendra bgitu menarik dan inspiratif,,
    saya kagum..😀

  23. hdmessa
    30/03/2009

    terima kasih Diego

    mungkin diego, bisa coba cerita nya jaman sma dulu

    salam

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on 16/01/2009 by in journey inspiration.
%d bloggers like this: