Inspiring points

Reflective story from journey of life , Alam terkembang jadi guru

lintas kabut

fog3Saat musim penghujan, perkebunan teh di lereng gunung malabar, yg berada di ketinggian 1700 m dpl, sering tertutup kabut. Pemandangan alam yg penuh warna warni saat musim kemarau; merah merekah bunga dadap di tengah hamparan hijau kebun teh yg jauh terhampar sampai ke lereng gunung yg membiru tua, kemudian bersambung dg langit biru cerah bertabur awan halus. di jalanan yg membelah hamparan hijau kebun teh menjulang tinggi pohon2 mahoni yg telah tegak disana sejak jaman penjajahan belanda dulu.

Nun jauh di bawah sana tampak pantulan langit dari permukaan danau cilenca yg berada di seputaran kebun teh. Indah sekali,  Namun di musim hujan yg penuh kabut ini, semuanya seolah sirna, hanya kabut putih yg terlihat. 

Bila kabut tebal turun jarak pandang pun jadi terbatas, hanya sekitar 5 meter kita bisa melihat jelas, di luar itu kabut putih bagaikan menyelubungi kita.Betapa sebenarnya keindahan, kemegahan duniawi, sebenarnya hanya bersifat sementara, suatu saat bisa berlalu dalam sekejap. 

Bila kita berjalan seorang diri melintas di tengah hamparan kebun teh saat kabut turun akan terasa sebuah suasana yg sangat khas.Kita bagaikan dikelilingi dinding kapas yg mengurung kita, di depan, belakang, samping dan atas , kita tak bisa melihat jauh, hanya sebatas sekitar kita berada. Hening tak ada suara sedikitpun kelopak daun teh pun tak bergerak, angin pun berhenti berhembus.   

Timbul rasa sunyi, sepi, takut, seorang diri , tak bisa melihat jelas, terkurung di tengah kabut, rasanya ingin sekali sampai ke tempat yang lebih terang tanpa kabut, namun rasanya dunia ini berputar lambat sekali… 

jadi teringat cerita seorang teman yg pernah mati suri ( koma ) namun bisa hidup lagi, betapa saat mati suri, ia merasakan tubuhnya melayang dan kemudian memasuki sebuah lorong panjang yg berdindingkan kabut putih ,bagaikan berjalan di atas awan. Saat berjalan di lorong putih tersebut dari kejauhan ia bisa melihat masa lalu nya, ia lihat sendiri, tubuh kecilnya saat masa kanak2 yg penuh kebahagiaan. Kemudian teman2 di masa muda , berlanjut dg rekan2 sekerja , sampai bertemu dengan wajah2 tua, yg salah satu diantaranya mirip dg diriku…, ah mulai menakutkan perjalanan ini ….., tiba2 tubuh tergoyang kencang dan tampak sorot sinar yang tajam yang ternyata adalah lampu senter perawat menyadarkan nya. Ternyata ia masih berada di tempat tidur rumah sakit dimana aku dirawat. Alhamdulillah aku masih diberi kesempatan hidup, gumam nya. Setelah kejadian itu, ia begitu menghargai waktu walau hanya sedetik dalam hidupnya, betapa kita malah sering menyia nyiakan kesempatan hidup yg sangat berharga ini, namun sering kita anggap biasa2 saja…. 

Berjalan di tengah kabut tebal di tempat yg sunyi ini, serasa melewati lorong jalan kehidupan setelah kematian, seperti cerita temanku tadi.  Namun memang begitulah salah satu hakikat kehidupan ini, walau kita banyak bersama dg orang lain, sejak dalam keluarga, pertemanan, tempat kerja dll, sebenarnya kita harus seorang diri mempertanggungjawabkan amal perbuatan selama di dunia ini, saat di akhirat kelak 

Salah satu tempat yg terkenal dengan kabut tebalnya ialah dataran tinggi Dieng di Jawa tengah dengan ketinggian, sekitar 2000 m dpl, dulu saya pernah ke sana. Saat kabut tebal, saya perhatikan malah petani kentang menghentikan kerjanya dan berdiam di tempat nya menunggu kabut berlalu, karena untuk mencangkul saja mereka agak khawatir jangan2 kena kaki lagi. Saat saya berada di sana dan di perjalanan terkurung oleh kabut tebal, akhirnya saya pun, berhenti di tempat saja dulu, seperti yg dilakukan para petani tersebut.

Berdiam seorang diri di tengah kabut tebal membuat diri ini termenung juga, ada rasa kesepian berada di tempat antah berantah jauh dari orang lain, tak ada teman yg bisa dimintakan bantuan, tak ada sinyal HP,jauh dari mana mana, sebuah kesendirian yg sunyi. Kalau kita sering berada di alam, dekat dengan alam, setidaknya kita bisa mengerti bahasa alam. Sehingga walau berada seorang diri di tengah alam terbuka, kita akan bisa merasakan betapa alam, tumbuhan dan makhluk2 lain nya menyapa kita dengan mesranya. Kabut yg mengurung kita, sebenarnya adalah ungkapan dari kabut yg membelai kita dengan lembut penuh keakraban. Begitu pula kelopak pucuk teh yg berwarna hijau muda di dekat kita, sebenarnya dari tadi ia melirik kita dengan gemulainya. Cacing di tanah, atau serangga di balik batang teh pun sedang bermain dengan riang nya. Betapa sebenarnya alam ini sangat ramai dan akrab dengan kita, kita tak perlu merasa sendirian lagi… 

Justru saat berada di keheningan seperti itu, timbul kesadaran betapa bersyukurnya kita meyakininya adanya Tuhan, saat tak ada siapapun, di tempat yg jauh, tak ada tempat bergantung, sadarlah diri bahwa Tuhan tetap berada di sana, Allah tetap menyertai kita , karena alam yg melingkupi kita semua, adalah ciptaan Tuhan pula. Kalau kita merasa dekat, maka Tuhan pun akan dekat. Namun bila kita merasa jauh dari Tuhan, berada sendirian di tempat yg sepi akan menjadi sebuah siksaan batin.. 

Bila berjalan di tengah kabut yg tebal, kita tak tahu arah, karena matahari pun tak terlihat, kita hanya mengandalkan ingatan atau alur jalan yg pernah kita lewati sebelumnya. Kita tak tahu ada apa di depan kabut itu, kita hanya bisa meraba.  Kalau di hamparan kebun teh memang ada jalur jalan diantara tananam teh, kalau kita mengikuti jalur tersebut tak akan tersesat. 

Begitu jugalah masa depan , kita sebenarnya tak tahu jelas apa yg akan terjadi di masa depan, bagaimana nasib kita esok hari pun, masih penuh kabut misteri, walau kita telah merencanakan dengan baik, namun bagaimana kelanjutan nasib kita esok hari, belumlah menjadi suatu hal yg mutlak pasti kita ketahui. Banyak kemungkinan bisa terjadi, hanya Tuhan yg tahu. Bila kita tak tahu arah jalan tujuan hidup ini, maka hidup kita bisa tersesat karena nya. Banyak orang ingin hidup semaunya, dan telah banyak kita dengar akhirnya ia tersesat.

Dalam perjalanan hidup ini telah ada petunjuk hidup, pada ajaran agama yg kita terima, kalau kita turuti pedoman tersebut kita akan terhindar dari kesalahan dalam jalan hidup ini. Namun kabut tak selamanya berlangsung, bila ada angin kencang berhembus, kabut pun bisa berlalu dengan cepat nya, mentari pun akan tampak kembali, hamparan hijau kebun teh dan pegunungan di kejauhan akan jelas terlihat kembali. 

Begitu pula dalam kehidupan ini, kabut suram dan badai masalah, yg menghampiri kita, janganlah membuat kita putus asa, karena semuanya akan ada akhirnya,  kabut pasti berlalu, sama halnya dg badai pun pasti berlalu.

Janganlah patah semangat dan putus asa dengan berbagai masalah yg kita hadapi, yakinlah semua ada akhirnya dan kalau kita selalu positive thinking semuanya , baik kesulitan atau kesenangan hanya proses alami yg biasa terjadi. Biarkan hidup ini mengalir bagaikan aliran air di sungai yg jernih di batas kebun teh dengan hutan pinus di atas gunung sana…

Bila kita telah bisa memahami dengan baik bahasa alam, setingkat lagi kita akan bisa memahami bahasa kehidupan yang lebih tinggi lagi, bahasa keTuhanan. Dengan memahami bahasa Ketuhanan kita bisa membaca makna dan rahasia kehidupan, tak ada lagi rasa takut, sepi dan sedih, dimanapun dan kapanpun…

12 comments on “lintas kabut

  1. rijadi
    12/11/2007

    Ok..good article…and touch softly..

    kasih bahasan pak…kenapa kelompok Al Qiyadah lebih banyak pesertanya di SumBar …

    Thanks

  2. Hendra
    12/11/2007

    thanks, sama2 pak Rijadi,

    wah, kalau masalah Al Qiyadah tsb,
    saya belum sempat mempelajarinya pak Rijadi,

    nanti deh, coba saya pelajari dulu

    salam
    hm

  3. katenzo
    12/11/2007

    Waduh jadi kangen… pengen liat kabut lagi nih..

  4. Ronald P Putra
    12/11/2007

    Goooooooood article Hen, keep it up !

  5. Hendra
    12/11/2007

    Nuhun kang Gary ,

    sungguh menakjubkan naik sepeda gunung melintasi kabut di tengah kebun teh, tapi nampaknya perlu lampu kabut euy..

    tarimo kasih pulo uda Ronal,
    lah manyilau kasiko

    salam
    hm

  6. zrie
    12/11/2007

    Aslm. Wah.. jadi inget kampuang halaman neh🙂
    Bravo menulis ya

  7. Hendra
    12/11/2007

    wa alaikum salam,

    thanks comment nya , Alzrie,

    salam
    hm

  8. wenk
    25/12/2007

    keren.. bahasanya bagus, rapi & teratur. Ceritanya ngena banget. Senang bisa ketemu orang-orang kaya kang Hendra, kang Omdien yang bisa melihat kehidupan dengan mata hati… Untuk kehidupan yang lebih baik.. keren & saluuut

  9. hdmessa
    25/12/2007

    terima kasih Wenk atas comment nya.

    syukurlah ada manfaatnya cerita2 tsb

    salam
    HM

  10. Dewi N.K.
    21/11/2008

    Assalamu’alaikum mas Hendra…
    Bagus banget “Lintas Kabut”_nya. Apalagi kisah teman yang mati suri itu. Jadi inget beberapa waktu lalu saya mendampingi seorang saudara yang sedang sakaratul maut. Saya terhenyak, takut, dan entah perasaan apalagi yang berkecamuk. Saya menangis, tapi bukan air mata atas kepergiannya. Saya terharu karena di saat terakhir dia memanggil-manggil Sang Pemilik, seolah-olah sedang menyambut uluran tangan-Nya. Saya menangis karena takut bahwa diri ini tak cukup bekal bila suatu saat akan memenuhi panggilan itu. Padahal saat itu akan datang sewaktu-waktu, tanpa terlebih dahulu mengetuk pintu.
    Terima kasih mas Hendra artikelnya mengingatkan saya tuk lebih menghargai waktu, hidup, dan mengingat mati. Oya, kapan ke Dieng lagi? Nenek moyang saya asli sana lho…Saya selalu ada waktu kalau mas Hendra dkk mau ke sana lagi…Tak jauh dari tempat tinggal saya, +-2.5 jam
    Salam…sukses selalu

  11. hdmessa
    23/11/2008

    wa alaikum salam Dewi,

    thanks comment dan sharing nya,
    memang kita semua, akan sampai ke sana pula, semoga kita bisa bersiap dari sekarang, karena tak tahu kapan datang waktunya pada kita.

    ohh, Dewi dari sekitar Dieng juga, dimana, wonosobo atau dekat danau batur ?
    indah sekali pemandangan di sana, hadir di sana kita bagaikan berada di negeri “atas langit” ,
    saya ke sana thn 2005.
    Mudah2 an suatu saat bisa sampai ke sana lagi

    salam
    HM

  12. Dewi N.K.
    25/11/2008

    Assalamu’alaikum…
    Yang asli Dieng orang tua sih, kalau saya lahir dan besar di Pekalongan. Masih banyak saudara di Dieng, dan tiap tahun saya mewajibkan diri ke sana…Apalagi kalau lagi suntuk dengan sumpeknya kota pesisir…Sebenarnya di sekitar Pekalongan juga masih banyak “warna hijau” yang menyejukkan. Tapi entah kenapa kalau Dieng dan Bandung terasa beda. Suatu saat… mimpi saya : INGIN MENETAP DI BANDUNG SELATAN…Percaya dengan KEKUATAN MIMPI mas Hendra? Saya percaya banget…sebab mimpi juga merupakan doa yang memotivasi diri untuk berjuang menggapai tujuan dan cita-cita itu…Ceilah…
    Salam, sukses tuk mas Hendra

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on 20/01/2009 by in Contemplation.
%d bloggers like this: