Inspiring points

Reflective story from journey of life , Alam terkembang jadi guru

big dream, from sand to silicon

dreams-707326Masa muda awal kita menapaki kehidupan dewasa, kata sebagian orang adalah saatnya mimpi mimpi tentang kehidupan ini mulai bersemi. Masa muda saya lewati di kota Bandung, kota yg begitu berkesan bagi banyak orang, dan di kota ini pula lah , mimpi2 itu mulai bersemi. Segala macam mimpi berseliweran di dalam kepala ini, mulai dari mimpi yg sederhana saja, semisal ingin punya sepeda, sampai mimpi yg hiperbolik, semisal Persib, klub sepakbola kebanggaan orang Bandung bisa jadi juara dunia, sampai kota ini menjadi kota kelas dunia dg segala kenyamanan hidup dan kehebatan nya, sampai misalnya bisa juga dipakai untuk ritual duniawi semisal menjadi tempat penyelenggaraan balap mobil ep-wan ( Grand prix F-1 ), seperti kota Monte Carlo, montreal atau Singapura ( baca < https://hdmessa.wordpress.com/2008/03/25/balapan-ep-wan-di-bandung/   ).

Tulisan saya tersebut ditertawakan si Asep, teman sekolah dulu,  “ndra, gemana caranya jalanan kota Bandung jadi arena balap grand prix, dg segala kemacetan, jalan bolong , galian dan seribu masalah transportasi perkotaan lain nya. Sebenarnya tulisan itu hanya sekedar komedi satire terhadap masalah perkotaan yg kita hadapi sehari2. Dan banyak lagi mimpi2 hebat lainnya yg bersemi, namun kemudian hanyut terendam air banjir sungai citarum yg kerap merendam bandung selatan.

Realita sehari2 yg kita temui dan berbagai permasalahan hidup sehari2, membuat kita tak mau untuk bermimpi besar, berpikir besar untuk kemajuan. Istilah kasarnya utk bermimpi saja kita telah tak berani, pasrah saja menjalani kehidupan ini apa adanya…

Satu2nya, mimpi mulia yg bisa saya raih di Bandung, ialah mendapatkan pendamping hidup seorang gadis mojang priangan yg geulis dan soleh, yang saat ini menemani perjalanan hidup ini bersama dengan empat orang anak2 kami yg lucu..

Awal tahun ini, bagaikan datang berhembus angin badai yang menerbangkan nasib saya jauh sampai ke negeri gurun pasir abu dhabi, UAE  ( Uni Emirates Arab ). Pergi jauh ke negeri gurun pasir ini, di tempat yg kondisi alamnya, tak sesubur, senyaman dan seindah alam priangan, saya malah menemukan banyak mimpi2 lama saat di Bandung dulu, bisa diwujudkan oleh negeri ini. Menyadarkan saya bahwa sebuah mimpi semustahil apa pun ternyata bisa diwujudkan.

UAE dengan Dubai dan Abu Dhabi sebagai icon nya, telah menjadi kota megapolitan kelas dunia yang berawal dari berkah minyaknya. Dubai dan Abu Dhabi, 2 kota megapolitan dunia yg bisa dikatakan mulai setara dengan kota2 kelas dunia seperti Singapore , padahal dibangun dari sepetak gurun pasir tandus, mereka sendiri dg bangga menyebutnya bagaikan mengubah pasir dan debu menjadi silicon dan emas.

Dubai yg jadi salah satu kota sensasional di timur tengah saat ini, akan memiliki bangunan tertinggi di dunia, hampir 800 meter menembus langit, Burj Dubai yang akan diresmikan bulan Januari 2010. Sedangkan Abu Dhabi, akan menggelar acara olahraga motor, Abu dhabi F-1 grand prix, 1 november 2009.

Dan itu semua berawal dari sekedar impian besar para pemimpin negeri di tengah gurun pasir gersang ini. Kalau kita lihat foto dubai atau abu dhabi, 40 tahun ke belakang, tempat itu hanyalah sepetak kampung nelayan kecil di pinggir pantai, yang tak lebih menarik daripada kampung nelayan kecil di salah satu propinsi di Indonesia timur sana. Daratan nya sebagian besar hanyalah gurun pasir tak berpenghuni, yang dikenal dg istilah empty desert ( gurun pasir kosong ) sampai perbatasan Saudi Arabia. Bisa dikata 40 tahun yg lalu, Indonesia jauh lebih maju dan kaya daripada sepetak negeri gurun pasir ini. Tapi dalam 30 tahun belakangan ini mereka membuat lompatan besar peradaban dan ekonomi yg mengagumkan dunia.

Sirkuit balap mobil F-1, Yas Marina , Abu Dhabi, yg kata orang2 di kalangan balap mobil, dianggap sebagai salah satu sirkuit yg menakjubkan, 3 tahun lalu hanyalah berupa pulau pasir kosong di lepas pantai Abu dhabi. Benar2 kosong melompong, tak ada air dan tumbuhan sejumput pun, bahkan bisa dikata kecoa kudisan pun, tak sudi utk main ke sana….

Disamping kedua hal tsb, banyak hal2 menakjubkan lainnya yg telah berhasil mereka wujudkan, seperti perancangan tata kota, peraturan dan social ekonomi kota secara umum. Berbagai hal mengenai bagaimana bisa hidup nyaman dan tenang di sebuah kota, jalanan rapi, pemukiman teratur, peraturan ditaati, orang saling menghargai, ada rasa aman dan nyaman dan hal2 lain yg dulu hanya jadi mimpi saja saat berada di Bandung, disini mereka nampaknya bisa mewujudkan nya.

Contoh bandingan sederhana saja, di Bandung yg berada di antara pegunungan yg banyak sumber airnya, masih banyak orang yg kesulitan dapat air bersih, di rumah saya sendiri air dari PDAM hanya mengalir di malam hari itu pun kecil, di tempat lain malah tak mengalir sama sekali. Menakjubkan sekali di negeri gurun pasir ini yg saya tak temui sungai, danau atau sumber air lain nya, kecuali beberapa oasis yg jarang juga, tapi air ledeng mengalir terus ke rumah dg derasnya, sepanjang hari, sepanjang tahun. Orang Indonesia yg katanya ramah dan baik2, tapi jangan berani2 , di tengah malam jalan sendirian di tengah kota. Di kota negeri gurun pasir ini, seorang wanita akan dengan aman nya berjalan sendirian di tengah malam, tanpa ada yg berani mengganggu.  Ini hanya contoh sederhana, banyak hal2 lain nya yg rasanya mustahil di negeri gurun pasir yg panas dan jarang hujan ini, tapi bisa terwujud. Contoh spektakuler lain nya mereka berhasil membangun pulau buatan berbentuk pohon palem, palm al jumeirah island, sungguh sebuah karya teknologi sipil yg mengagumkan.

Saya kira, mereka membuat hal2 spektakuler tersebut, bukanlah sekedar foya2, namun pasti ada perhitungan nya pula, kita semua tahu, orang Arab pintar dagang, jadi semua itu ada hitungan untung ruginya. Hal lain yg mendasari apa yg mereka lakukan itu semua, ialah bagaimana membuat negeri mereka, bisa maju dan setara dengan negara2 maju di dunia lain nya, semacam proses membangun harga diri bangsa.

Pelajaran utamanya, ialah bahwa mimpi besar dan  visi yang jauh ke depan bagaimana mewujudkan kehidupan yang membahagiakan, bisa diwujudkan dengan sepenuh daya usaha. Janganlah pernah takut untuk bermimpi.

Si nanang teman main bola nyeletuk, ’ndra kalau dg uang, segala apa pun bisa diwujudkan, dan karena mereka negara minyak banyak duitnya, yah bisa saja membuat hal tsb.

Nang, negara gurun pasir ini memang kaya dg minyak nya, tapi kalau dibanding dg Indonesia , sebenarnya kita lebih kaya lagi. Mereka hanya punya minyak dan gas, selain itu hanya tanah kering gurun pasir yg gersang sulit air.
Sedangkan negeri kita, ada minyak walau sedikit, tapi kita punya yg lain, mulai dari emas, tembaga, batubara, hutan, hasil pertanian dan setumpuk kekayaan lain nya, yg kalau di jumlah total, sebenarnya, kita lebih kaya dibanding negeri gurun pasir tsb.

Selain kekayaan alam, faktor yang menentukan kemajuan suatu negara, ialah bagaimana mengelola negara, bagaimana pemimpin nya. Beruntungnya pula negeri gurun pasir ini memiliki pemimpin yg hebat dan memiliki visi jauh ke depan. Sehingga kekayaan alam yg ada, bisa dimanfaatkan sebaik mungkin.  Sedangkan negeri kita yg kaya raya, malah kita seperti mensia siakan kekayaan alam tsb, bahkan sampai seperti membiarkan saja kekayaan kita dirampok orang lain

Intinya saya kira kemajuan sebuah negeri, bukanlah bagaimana suatu negara memiliki sumber daya alam yg banyak, tapi bagaimana ia memiliki pemimpin yg hebat, saya kira dalam hal kepemimpinan lah, salah satu kelemahan terbesar kita selama ini, yang membuat banyak kita menjadi sengsara di tengah negeri yg kaya raya alamnya, bak kata pepatah, “bagaikan tikus mati di lumbung padi”.  Kunci kemajuan sebuah negara, ialah punya “strong vision and great leadership”.

“Ndra, jangan gitu dong, kata si Nanang, kamu mah biasa spt orang2 yg lama di luar negeri, suka menjelek2an negeri sendiri.  Maaf  Nang, bukan begitu, tapi maksudnya ini semua, ialah bagaimana kita bisa mengambil pelajaran dan membuat perbaikan di negeri kita sendiri. Bisa dimulai dari kita sendiri untuk mulai berpikir besar dan jauh ke depan, membuat perencanaan dalam hidup ini, ada sebuah mimpi besar dalam hidup ini, Setidaknya janganlah berhenti atau takut untuk bermimpi. Kalau untuk mimpi saja takut, gemana pula bisa berencana menghadapi perjalanan kehidupan ini ?,

Si Dadang, teman main bulu tangkis yg dari tadi diam saja memperhatikan obrolan kita, ikut nimbrung pula. “Ndra, saya mah bingung ah, nggak ngerti dg obrolan kamu berdua, tinggi amat ngobrol nya, mendingan kita bicara yg realistik dan menyenangkan saja. Ngobrol2 tentang balapan mobil ep-wan, atau keramaian kota dubai, bagi saya mah nggak menarik, akhir minggu ini justru saya mau ke Dubai saja, mau nonton dangdut !, ini menarik sekali.

Dang, lho emang nya ada acara dangdutan di dubai ?

Wah ketinggalan berita nih  Hendra, tgl 30 oktober 09, ada acara kesenian indonesia di Dubai, namanya, kampung budaya, dg menampilkan para artis dari Indonesia, spt Evi Tamala, Mell Shandy , Andi Rif dll,  jarang2 nih di negeri perantauan ini kita  bisa lihat acara musik melayu he..he, apalagi ketemu dg idola lama saya, Evi Tamala, sesama orang Tasikmalaya, katanya dg penuh semangat…, saya mah, ingat pisan lagunya, ”selamat malam” , si Dadang pun mulai bernyanyi dengan suara serak2 basahnya yang jauh dari merdu.

“Selamat malam, duhai kekasih,
bawalah aku, dalam mimpi yang indah,
di malam yang dingin, sesunyi ini “

“Dang, sudah2 ah,  cukup saja nyanyian nya , nanti orang2 pada ngeliatin kita semua”. Dang, kumaha atuh, kapan mau majunya, kalau mimpi nya hanya yg seperti itu2 saja, bandingkan dengan orang lain sudah punya mimpi2 besar utk kemajuan hidupnya. Janganlah seperti orang2 yg tidur di bantal yg sama, tapi berbeda jauh mimpinya..

tapi Dang, ngomong2 , geuningan ada di acara tsb si Mel Shandi juga yah ?  ,  tahu nggak Dang, dia itu teman istri saya, dia bareng sekolah SD di bandung baheula. Sampaikan salam yah kalau ketemu

Yah, begitulah si Dadang, penggemar musik melayu yg senang sekali mendengar acara musik indonesia, setelah sekian lama merantau kesini.  Bagi kang Dadang, acara musik melayu tgl 30 oktober di dubai, jauh lebih seru daripada riuh rendah balapan mobil ep wan di abu dhabi tgl 1 november.

Saya pun jadi termenung sejenak membandingkan antara 2 moment dalam waktu yg hampir bersamaan ini, antara musik dangdut yg mendayu dayu dan deru mesin mobil dan kemegahan balapan mobil F-1.

Saya sendiri sebenarnya tak begitu suka dengan acara balap mobil atau musik melayu. Namun saya ingin melihat esensi filosofis dibalik kedua hal tsb, ada hal yg menarik.  Dari moment grand prix F-1 ini, kita bisa belajar betapa tinggi dan besar nya semangat orang2 dari negeri gurun pasir ini, untuk maju, sejajar dg bangsa2 maju lain nya. Bagaimana mereka mencoba membangun kepercayaan dan harga diri bangsanya. Acara olahraga ini bagi mereka hanyalah sekedar simbol belaka, langkah awal mereka untuk membangun peradaban yg maju berkelas dunia di negeri gurun pasir ini.

Saat orang2 dari negeri gurun pasir ini, membangun peradaban nya, kita pada sisi lain sedang terlena dibelai angin sepoi2 saat duduk di bawah pohon rindang, sambil mendengarkan musik dangdut yg mendayu dayu…,

Berbeda jauh sekali mimpi nya, betapa kita terlena dan pasrah dg keadaan dan tak mau berpikir maju jauh ke depan….

Bahkan bisa digali pertanyaan yg lebih filosofis lagi,

Sebenarnya kita hidup di dunia ini untuk berjuang atau menikmati dunia ?

Si Dadang yg dari tadi ngedengaran omongan saya, tambah bingung saja, ah kamu mah ndra, ”ayak ayak wae” ( ada2 saja ) , jaka sembung bawa peuyeum, nggak nyambung atuh euy, antara balapan mobil ep-wan, dangdut evie tamala dg filsafat kehidupan.., lieur ah, mendingan dengerin lagu ”pasrah putus cinta” ini..he.he.h.e.. katanya sambil ketawa nyengir.

Dang, sebenarnya bagi saya balapaan ep wan atau dangdutan tsb, hanyalah jadi bahan pelajaran saja, bahan renungan bagi kita semua, saya tak kan datang pula ke kedua tempat itu, walau tak begitu jauh. Sungguh masih banyak hal berharga yang  bisa kita isi dalam hidup ini, daripada kedua hal tsb. Tapi maksud saya, bagaimana kita mengambil pelajaran dari kedua hal tsb, mengambil pelajaran dari gurun pasir dimana kita ditakdirkan berada saat ini, kata paman saya di Bukittinggi dulu, Alam terkembang jadi guru, gurun pasir terhampar, jadikanlah juga tempat mengambil pelajaran. Dari negeri gurun pasir ini kita belajar tentang mimpi2 besar dan usaha keras untuk meraihnya. Ahli filsafat yunani kuno ada berkata, ” perjalanan hidup yg tak direncanakan dengan baik, bukanlah perjalanan hidup yang terbaik yg kita jalani, dalam hidup yg hanya sekali ini….

Matahari sore yang mulai tenggelam dan angin kering dari gurun pasir mengakhiri obrolan kita di bawah pohon kurma ini.  Dari kejauhan hamparan luas gurun pasir yg luas sunyi itu, terasa ada yg aneh, seperti senyap senyap terdengar lagu dangdutnya Ike Nurjanah,

” Masih terngiang ditelingaku , bisikanmu ,

betapa lembut dan mesranya
Tiada terasa air mataku, basahi pipi
Aku terharu dan terbuai
Aku terlena……terlenaaaaaa…..
Ku terlena……….

hmmm….,  saat orang lain lain sudah jauh ke depan, bekerja keras mewujudkan mimpi2 besar nya, sebagian kita masih terlenaaa…

50 comments on “big dream, from sand to silicon

  1. Dodo
    27/10/2009

    Selamat bermimpi, kang,
    Semuanya bermula dari MAU, TAHU dan MAMPU.
    Mulai dari mau, untuk mau perlu juga tau. Kao udah mau dan tahu, insya Allah kita akan mampu..

    Saya ikut mendoakan semoga semua cita-cita anda bisa terwujud untuk kemaslahatan umat manusia.

    Salam,
    Dodo – MS74

    • hdmessa
      03/11/2009

      betul pak Dodo,
      kemauan adalah kuncinya,

      semoga doa kita terkabul

      salam

  2. Sigit
    27/10/2009

    Hatur nuhun Kang…ayo kita mulai membangun mimpi kita di masa datang dengan memperbaiki kondisi Indonesia tercinta saat ini…tapi mulai dengan 3M-nya Aa Gym: Mulai dari diri sendiri; mulai dari hal kecil seperti keluarga dan lingkungan sekitar; Mulai dari sekarang. Semoga kalau semua mau melaksanakannya dengan istiqomah, insya Allah perubahan besar akan terjadi. Amiin.

    Wassalam,
    SGT

  3. Ahmad
    27/10/2009

    Wah luar biasa Kang Hendra , Refleksina.
    Saya share ya…

    Ahmad Juwaeni,
    Dompet Dhuafa – Jakarta

    • hdmessa
      03/11/2009

      silahkan kang Ahmad,
      syukur bermanfaat

  4. Sonita
    27/10/2009

    Hebat …Setuju…
    Negeri kita ..
    memang perlu banyak belajar pada negara seperti ini

    Sonita, Jogja

  5. Amri
    27/10/2009

    Dare to dream, berani bermimpi ada enam tipe pemimpi ;

    (1) Pemimpi yang ingin bermimpi, namun tidak berani bermimpi, ini tipe orang penakut;

    (2) Pemimpi yang ingin bermimpi, namun mimpinya masa lalu, ini tipe orang rasionalisasi;

    (3) Pemimpi yang ingin bermimpi namun mimpinya kecil, ini orang minder;

    (4) Pemimpi yang ingin bermimpi, mimpinya besar namun tidak siap, ini orang tidak bersabar.

    (5) Pemimpi yg ingin bermimpi, mimpinya besar, namun mudah puas, ini orang tidak bersyukur

    ( 6) Pemimpi yg ingin bermimpi, mimpinya besar, stelah tercapai mimpi besar lagi, ini orang pandai bersabar dan bersukur

    ( 7) Pemimpi yg ingin bermimpi, namun hanya level mimpi basah, kalau ini tergolong manusia yg semakin dewasa, namun hanya dewasa fisiknya, bukan dewasa gagasan nya…he.he.he..,

    Tulisan nya bagus mas Hendra , saya nulis ini juga sambil mendengarkan lagu Rhoma Irama yg dulu pernah dicekal karena syair berikut , “yang kaya makin kaya, yang miskin makin miskin”…

    Mas Amri
    Darut Tauhid, Bandung

    • hdmessa
      03/11/2009

      thanks mas Amri,
      tambahan nya,
      menarik sekali

  6. Eko
    27/10/2009

    Ya kang !
    MIMPI … adalah KUNCI. kata Niji😀

    Itu kenapa, saya dan teman2 di Muslim Infocom Foundation menyebarluaskan beasiswa, merintis perpustakaan … agar lebih banyak generasi muda BOLEH BERMIMPI …

    Eko BS
    MIFA – Jakarta

    • hdmessa
      03/11/2009

      semoga terwujud pula mimpinya mas Eko

  7. Ronal
    27/10/2009

    Uda Hendra,
    Mimpi akan membuat sel sel darah dan seluruh energi tergerak untuk menggapai semua mimpi..impi juga mempertajam visi.

    Thanks

    Ronal Chandra,
    Pekanbaru

  8. Ginanjar
    27/10/2009

    Insyaalloh saatos munggah Haji, abdi bade ngadeuheus ka gurun pasir Abu Dhabi he..he..

    baktos ka sadaya , hatur nuhun

    Salamet Ginanjar
    Bandung

  9. Deny
    28/10/2009

    Kang Hendra, terima kasih untuk pencerahannya.

    Memang sering kali kita takut untuk bermimpi yang tinggi karena takut ga bakal kesampean, padahal ketakutan itu yang menghalangi kita untuk maju dan membuat loncatan besar.

    Gimana kabarnya di Timur tengah?
    keluarga sudah dibawa pindah semua?
    mudah2an selalu dalam keadaan sehat wal afiat.

    Salam,
    Deny Kurniawan
    Bandung

    • hdmessa
      03/11/2009

      sama2, Deny

      alhamdulillah kabar baik, keluarga sudah pindah kesini

      selamat atas kelahiran bayi nya,
      terima kasih doanya, salam juga utk keluarga

  10. Aris
    28/10/2009

    Hatur nuhun, kang Hendra dongeng na, ….
    Teu acan sempet nincak kadinya, janten teu tiasa ngabayangkeun (mimpi) Dubai sareng Abu Dhabi mah..

    Kumaha kulawargi sarimbit ?
    Bararetah atuhnya di ditu ?
    Ngan ulah kaget pami mulih ka Bandung , asa norobos lorong waktu uih deui ka 40 thn kamari meureun ….hi3x…..

    Aris Gumilar
    Bekasi

    note :
    Mimpi ngagentos sapedah panci teu acan kahontal wae…hiks

    • hdmessa
      03/11/2009

      alhamdulillah sae kang Aris,

      leres , mun uwih ka Bandung, jadi awet muda deui..

      btw, jiga na bogoheun pisan tak sapeda panci teh..

      salam

  11. Budi
    28/10/2009

    “Mantap.
    Strong vision, strong leadership.”

    Budi Youyastri
    Bandung

    • hdmessa
      03/11/2009

      betul mas Budi,
      itu adalah kunci keberhasilan sebuah negara

  12. Hariyadi
    28/10/2009

    Indah sekali tulisannya, serasa nonton kembali Dubai di History Channel, ….. he-he-he..

    Salam untuk keluarga yah Mas,.

    Hariyadi ,
    Bogor

    • hdmessa
      03/11/2009

      terima kasih Hariyadi,
      salam juga utk keluarga

  13. Iman
    28/10/2009

    Hidup Persib !

    Persib nu aing

    Iman Teguh ,
    fans Persib – Abu Dhabi

    • hdmessa
      03/11/2009

      nuhun,
      geuning aya fans persib oge di gurun pasir teh geuningan
      hebat lah

  14. Dedi
    28/10/2009

    kang Hendra…..di ending cerita ada bawa cerita ttg pohon korma segala, pohon korma yg sebelah mana tuh ?
    hati hati yah, salah satu pohon korma di Blok D ada wewe gombelnya ntar kesurupan repot deh cari pawangya…..he..he…he…

    ‘Mimpi itu pasti sama dengan seluruh rakyat Indonesia…

    tapi Moral dan kerja keras masih tertidur pulas…

    Bravo Mimpi

    Dedi Rakhan ,
    Ruwais, Abu Dhabi

    • hdmessa
      03/11/2009

      ah kang Dedi,
      ada2 sajah ,

      di gurun pasir mah, beda deui mereun “penghuni” na

      mudah2an kita tak terlalu lama tertidur pulas, karena terlena mendengarkan lagu dangdut yg menghanyutkan..

      salam

  15. Gustar
    28/10/2009

    Penjajah yang berhasil adalah penjajah yang menyedot sumber daya bangsa jajahannya,
    tanpa bangsa itu menyadari sedang dijajah

    Gustar Mono
    Bandung

    • hdmessa
      03/11/2009

      mudah2an ,
      kita masih terus terjajah sampai saat ini

  16. Taufik
    29/10/2009

    Tulisan yg menarik. Dalam salah satu edisi majalah National Geographic, kemajuan cepat negara tsb ternyata ada memberikan dampak negatif juga. Sampai sekarang saya berkesimpulan, tidak ada negara yg sempurna.

    Mungkin nantinya, kang Hendra bisa memberikan tulisan yang “utuh” mengenai negara tsb.

    Mengenai mimpi, saya masih terkesan dengan kisah lama mengenai impian besar beberapa pemuda yang menyusuri Sungai Kuning untuk menjadikan China spt sekarang ini. China memang memukau.

    Salam,
    Taufik , Jakarta

    • hdmessa
      03/11/2009

      betul juga kang Taufik ,
      memang selalu ada sisi lain dari apa yg kita lihat..

      yah, China telah berhasil pula mewujudkan mimpi2 besar mereka, kita bisa belajar pula dari negeri Cina

      salam

  17. Usman
    29/10/2009

    Mimpi masa kecil bukan suatu khayalan.

    Terkadang itulah impian, yang sebenarnya suatu keingin luhur dari anak-anak yang masih polos yang tanpa dia sadari, dia telah berjalan langkah demi langkah untuk mencapainya.

    Seperti berjalan dalam lorong yang gelap, langkah demi langkah dengan suatu keyakinan akan temukan setitik cahaya”

    An Usman ,
    Bukittinggi

    • hdmessa
      03/11/2009

      betul An,

      tapi memang perlu perjuangan juga dalam mewujudkan nya

  18. Zulidamel
    29/10/2009

    Bukannya tidak mau bermimpi besar atau tidak berani namun warna kehidupan yang membudaya selalu mencegah kita untuk menciptakan mimpi yang baru.

    Jalan kehidupan kita banyak diwarnai dengan mimpi2 tentang masa lalu yang indah, tentang negeri yang kaya, tentang negeri nan elok dengan peradaban timur sehingga kita selalu tenggelam dalam mimpi2 masa lalu itu.

    Bila saja kita menciptakan mimpi yang baru maka ada seruan untuk jangan bermimpi. Kita diperintahkan untuk menjalani kodrad. Jangankan bermimpi untuk esok hari untuk menikmati hari ini saja tidak leluasa. Seolah-olah kita tidak berhak sama sekali untuk merubah.

    Mulai sekarang kita harus berani merubah. Kita tidak boleh membiarkan diri kita tenggelam dalam mimpi itu. Kita harus menikmati hari ini, buang mimpi masa lalu yang indah dan melangkah ciptakan masa depan…

    Kita tidak lagi butuh pemimpin yang selalu bertanya tentang apa yang kita berikan pada negara tapi kita butuh pemimpin yang mampu mengangkat harga diri bangsa ini hingga kita dapat menikmati kekayaan yang dimiliki negara… Jangan lagi biarkan mereka merampok kekayaan alam kita…..

    Wassalam,
    Zulidamel st.Malin Marajo ,
    Jakarta

    • hdmessa
      03/11/2009

      Betul sekali mak Malin Marajo,
      Banyak kita masih terbelenggu oleh mimpi masa lalu tsb

      Semoga kita semua tersadarkan

  19. Duncan
    29/10/2009

    Tulisan Om Hendra lugas dan apik, selugas orangnya ketika menggiring dan mendrible bola dilapangan.
    Umpan2 terobosannya sering merepotkan barisan pertahanan lawan…. Bravo Om.
    Orange juice & setengah liter susu segar dingin belum mampu menghilangkan dahagaku setelah berjibaku bermain bola sore tadi.
    Sambil menghilangkan penat & dahaga kucoba untuk membaca kembali postingan Om Hendra dimilis IE dan menyambangi web nya, sambil mendengarkan lagu ndangdut ANGKA SATU.
    Dahaga hilang kantuk yang datang….!!!

    Salam,

    Duncan F-427
    Ruwais, Abu Dhabi

    • hdmessa
      03/11/2009

      Terima kasih mas Agus,

      Btw, kalau sudah ngantuk, tinggal ganti lagu dangdut nya Evie tamala, “selamat malam”

  20. Gunawan Ismail
    30/10/2009

    Alhamdulillah, kita mendapatkan pandangan yang menggugah dari sahabat kita nih di negeri jauh sana.

    Hanya yang saya ketahui dan selalu saya renungkan, apa yg diceritak itu, sebagian adalah salah satu tanda mendekatnya hari kiamat, akhir dari bumi kita – yang
    kita cintai bak kampung halaman kita yang kita rindukan
    setiap tiba bulan syawal setiap tahun.

    Wallahu ‘alam tentu masih perlu diuji kabar ini bahwa
    tanda kiamat adalah jika orang-orang berlomba-lomba
    mendirikan gedung-gedung tinggi dan tanah arab akan
    menjadi tanah yang subur (begitu diantaranya).

    Komentar ini bukan untuk membuat kita puas diri dengan
    yang telah ada dan pesimis dengan masa depan.
    Hanya untuk berwaspada diri saja, saling nasehat dalam kebaikan. Perubahan positif tentu harus selalu dicita-citakan dan diupayakan.

    Pertanyaannya, sudah berapa besar kontribusi kita menjadi
    wakil Tuhan di muka bumi ini untuk menjaga dan
    melestarikannya? dan seandainya adalah kehendak Tuhan
    untuk menghancurkannya itu adalah juga hak prerogatifnya.

    Utusan-Nya berpesan : “berkontribusilah!” Salah satunya
    dengan mengubah gaya hidup yang lebih ramah bagi makhluk Tuhan disekitar kita, menanam pohon adalah diantara sabdanya.
    Kick the Habit ……..begitu kata PBB mengajak
    kita semakin cinta lingkungan.

    Tiada kata paling mulia selain ajakan pada kebaikan dan
    pengakuan atas kebenaran milik-Nya. Tuhan kita lebih tahu
    segalanya.

    Salam dari Sahabat di Pinggiran kota Bogor…………
    Gunawan Ismail

    • hdmessa
      03/11/2009

      Terima kasih Gunawan,
      Benar, saya pernah dengar juga, mengenai hadits tanda akhir jaman tersebut, kalau memang demikian jadi nya, mudah2an kita semua bisa bersiap menghadapi nya..

      ( jadi rada deg degan juga, apa kita siap menghadapi nya ? )

      Salam

  21. Budi Juliman
    30/10/2009

    Bagus tulisannya, Hendra.

    Saya lagi coba inget inget, pernah ngga ya share mimpi sama Hendra. Mimpi untuk Bandung rasanya sih ngga jauh jauh dari agar supaya jalan jalan lebih rindang dan taman taman lebih banyak.
    Boleh share ya Hen, di Abu Dhabi gimana teknis-nya merawat pohon pohon di tengah kota sampai bisa tumbuh besar ngga meranggas?.

    Di Kalimantan/Sumatera terjadi deforestasi ( penghancuan hutan) secara besar besaran.
    Apa ini dalam rangka bikin gurun pasir juga untuk nantinya diubah jadi hamparan silikon, spt Dubai ya :-))

    Budi Juliman ,
    orang Bandung yg sedang mengembara di Denmark

    • hdmessa
      03/11/2009

      Terima kasih sama2 Bud,

      Mudah2an impian sederhana ttg Bandung yg rindang dan sejuk, tak makin menjauh.

      Bud, disini pengelolaan pohon dilakukan secara sungguh2, mereka sangat menghargai pohon dan bisa dikata mereka mau keluar uang mahal utk ngurus pohon.

      Karena disini jarang sumber air dan jarang hujan, maka pada setiap pohon yg ditanam disini akan tersedia pipa plastic yg menyalurkan air ke setiap pohon. Begitu pula rumput pun ada penyiram otomatis nya pula. Mereka menggunakan teknologi khusus utk menangani tanam2an disini.

      gemana kabar di Denmark Bud ?
      nampaknya mulai musim dingin ni yah ?

      Salam

  22. HTW
    06/11/2009

    Ngomong2x… Indonesia perlu orang2x yang banyak seperti Hendra Messa…. jadi sebaiknya orang2x yang berpikiran sama harus saling membantu untuk mewujudkan Indonesia “BARU”…. Jadi kapan atuh Kang Hendra teh bantu Indonesia…? Hatur Nuhun.
    HTW

    • hdmessa
      07/11/2009

      hatur nuhun kang Heddy,

      insya Allah, mari kita mulai mewujudkan mimpi besar tsb, dimulai dari langkah2 kecil..

      kang Heddy, saya juga disini sementara saja, nanti juga balik lagi ke Bandung, mengamalkan apa yg didapat selama perantauan ini

      btw, gemana pula kabarnya sekarang kang Heddy ?, semoga selalu dalam keadaan baik selalu, amien

      salam
      HM

  23. Riza
    11/11/2009

    selama mimpi dan harapan masih ada; itu tanda2 kehidupan…
    termasuk juga sebagai ‘survival mode’;

    Riza Hendrakusuma ,
    Paris

    • hdmessa
      16/11/2009

      terima kasih,
      betul sekali pak Riza,

      salam utk keluarga

  24. Darul
    11/11/2009

    “Dari dingin jadi panas, dari lembab jadi kering. Kehidupan dijalani melalui liku2 nya yang penuh pengalan berharga.
    Setelah jauh, baru terasa cinta negeri.
    Jalani saja dengan menikmati setiap waktu yang lewat.”

    Darul Makmur,
    Bukittinggi

    • hdmessa
      16/11/2009

      terima kasih mak Darul,

      nasihat yg bijak dari nakhoda kapal spt mak Darul yg dulu sering berlayar keliling dunia

      salam

  25. Hanson
    26/11/2009

    Kang Hendra, tulisan menarik sekali. Wah senang sekali tinggal Abu Dhabi ya. Impian di bandung yang menjadi kenyataan hanya ‘mojang bandung’?

  26. hdmessa
    26/11/2009

    terima kasih Hanson,

    he..he..he…,
    memang ada memori lama dg mojang priangan/bandung juga nih ?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on 27/10/2009 by in horizon - insight.
%d bloggers like this: