Inspiring points

Reflective story from journey of life , Alam terkembang jadi guru

sun rise & new hope

Butiran pasir halus masih menempel di kening ini, selepas sholat subuh di hamparan pasir tepi pantai , deburan suara ombak menemani zikirku di pagi itu.

Kutengadahkan wajah ke langit yang sunyi bertaburkan bintang.  Langit sebelah barat masih sunyi kelam bertaburkan bintang gemintang, bergeser ke arah atas warnanya jadi biru tua  kemudian bergradasi menjadi biru muda, terus ke arah timur menjadi kuning sampai berupa garis oranye bercahaya, sepanjang kaki langit yang bersambung dengan ujung samudera luas. Di langit sebelah timur tampak pula bulan sabit bagai tersenyum ditemani venus sang bintang timur.

Dari tengah laut tampak lampu kapal nelayan, beriringan menuju bibir pantai, dalam perjalanan pulang mencari rizki di tengah laut.  Di sepanjang bibir pantai kota nelayan Dibba, berpendar pula lampu2 rumah penduduk yg mulai menggeliat dari tidur malam nya…

Saat ku duduk memandang samudra luas, ke arah timur tampak garis orange di kaki langit bertambah terang, sangat terang di bagian tengah nya, dengan pantulan sinarnya yang memantul di hamparan samudra bagaikan garis lurus yg menuju pinggir pantai tempatku duduk ini.

Setitik sinar terang itu, kemudian jadi tambah terang dan tambah besar, naik terus ke atas samudra, berubah sedikit demi sedikit mulai dari sekedar titik terang sampai menjadi bulatan sempurna.  Deburan suara ombak yg bergema ketika memantul dari tebing karang di tepi pantai, seperti musik orkestra alam yang menghantar kedatangan mentari pagi di pantai semenanjung musandam, negeri Oman, tepian samudra hindia ini.

Kupandang jauh ke ujung samudra, nun jauh di ujung timur sana, seperempat lingkaran bumi jauhnya,  mentari yg sama telah tiga jam yg lalu menerangi langit negeri gemah ripah loh jinawi, tanah airku Indonesia. Ku bayangkan sobat2 lama ku di atas gunung Malabar, Bandung selatan sana, sedang menikmati pagi yang indah di tengah hamparan kebun teh…

Dulu ketika disana saya juga suka menikmati terbitnya mentari pagi, yang muncul dari balik lekuk kawah gunung wayang yang cahayanya menembus ranting daun pohon pinus sampai pula kemudian menghangatkan butiran embun di pucuk daun teh.

Jauh sekali bandingan suasana saat mentari terbit di tepi pantai dengan di atas gunung, namun masih sama sebuah sebuah peristiwa alam yg menggetarkan jiwa dan dimanapun kita berada,  tetaplah itu mentari yg sama yang beredar di atas langit dunia yg sama pula.

Langit, mentari, deburan suara ombak, tebing karang dan hamparan pasir pantai, semuanya adalah alam ciptaan Allah semata, dan manusia yg duduk di tengah alam yg luas ini hanya bagaikan noktah kecil yang tak berarti diantara alam yg besar, kokoh dan telah lama ada.

Mentari tak pernah lelah, selalu menerangi kita tiap pagi, tak pernah terlambat sedetik pun, begitu pula halnya ombak yang tak pernah lelah berlarian sepanjang pantai. Sekuat2 nya manusia pasti ada lelahnya dan perlu istirahat. Sekeras2 nya suara manusia, tak ada yg menandingi suara gempuran ombak, sekuat2 nya manusia, tak ada yg menandingi kekuatan batu karang yg telah ribuan tahun lamanya, menahan deburan ombak.

Sadarilah manusia hanya makhluk lemah dan kecil dibanding alam yg luas ini

Namun walaupun bagai kecil tak berarti, Tuhan telah menciptakan manusia sebagai makhluk yang mulia, lebih mulia dari semua ciptaan Nya. Sungguh disayangkan tak semua manusia benar2 mau menjalani hidup yg mulia, mengisi masa kesempatan hidup di dunia yg hanya sekali ini. Sebagian lagi bahkan menyia nyiakan kemuliaan tersebut.

Menghayati terbitnya mentari pagi, kita bisa belajar bahwa setiap pagi, adalah juga saat timbulnya semangat baru, harapan baru di kesegaran pagi hari yg ceria.

Sekelam apapun malam gelap, akan tiba saatnya mentari pagi menerangi nya. Seberat dan sekelam apapun permasalahan yg kita hadapi, tetap akan tiba saatnya secercah sinar terang penyelesaian masalah yang kita hadapi tersebut. Janganlah berputus asa, harapan selalu terbentang….

Dalam kisah kuno yunani tentang kotak pandora, ada dikatakan saat kotak tersebut dibuka, maka bertebaran lah semua keburukan yg tersimpan selama ini, namun tetap ada tersisa disana sesuatu hal berharga yang bernama harapan.

Bagaimana lah pula seandainya mentari pagi, tak menghampiri kita, atau malah tak terbit sama sekali ?

Terbayang betapa membingungkan dan menakutkan nya, bilamana matahari sehari saja, absen, tak hadir mendatangi kita, mungkin sebagian akan menyangka dunia akan kiamat karenanya.

Saya jadi teringat, waktu kecil pernah mengalami hal tersebut, suatu hari mentari pagi tak tampak. Saat masa kecil di Bandung dulu, sekitar tahun 1982, saya masih sekolah SD, saat hendak pergi sekolah, sudah beres sarapan terus keluar rumah mau pergi sekolah, tapi serasa hari masih gelap seperti subuh, padahal jam sudah menunjukkan jam tujuh pagi, matahari tetap tak tampak, hanya gelap di atas langit, ada apa gerangan ? akankah dunia kiamat ? menakutkan juga suasananya hari itu.

Di jalanan orang2 pun bertanya2 mengenai hal tersebut dengan berbagai rumor apa yg  terjadi, sampai baru kemudian tahu setelah dapat berita dari radio, bahwa gunung galunggung di daerah Tasikmalaya, sebelah selatan kota Bandung, meletus dan debu tebal nya menutupi langit sampai beberapa hari kemudian.

Pengalaman tersebut memberikan saya pelajaran berharga, betapa kita harus selalu mensyukuri terbitnya mentari pagi, sinar mentari di pagi yg ceria adalah sebuah rahmat yg besar yang akan menemani kita selama siang hari. Sebuah nikmat yg patut disyukuri, yang akan membuat kita menjalani satu hari itu dengan penuh kebahagiaan, bersemangat dan mengisinya dengan kebaikan, suatu hari yang istimewa diantara hari hari yg kita alami dalam perjalanan hidup ini. Sehingga saat sore hari gelap malam, mulai membelai sang mentari dalam pelukan nya, kitapun bisa beristirahat dengan tenang nya.

Janganlah sampai terjadi, kita bagaikan orang yg takut menghadapi mentari pagi, karena berbagai permasalahan yg kita hadapi, wajah asam cemberut dan kening berkerut mewarnai pagi hari kita, siang hari tambah panas, stress dengan berbagai masalah hidup dan saat malam tiba, tak bisa beristirahat, walau diatas tempat tidur empuk sekalipun, mata sulit terpejam, insomnia, susah tidur menghantui malam gelap, setelah terlelap tidur, mimpi buruk menyergapnya, angin badai berawan gelap menggantung di langit yg bagaikan akan runtuh, hari esok jadi begitu menakutkan, bagaikan tulisan yg pernah kutemui di dinding gerobak sampah seorang pemulung di jakarta, “lavender madezu” , singkatan; laki2 venuh derita, masa depan zuram, sungguh menyedihkan dan menyesakkan dada…., akan seperti itukah kita menyongsong hari hari dalam perjalanan kehidupan ini ?

Sadarlah mentari pagi yg terbit di pagi yg ceria, adalah selalu membawa kebaikan, membawa harapan baru, janganlah berputus asa, sadarilah harapan masih luas terbentang, seluas hamparan langit biru. Setiap lembaran hari yg dihadirkan pada kita adalah sebuah kesempatan baru, sebuah nikmat Tuhan yg patut disyukuri dan diisi sebaik mungkin.

Janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya tiada yg berputus asa dari rahmat Allah, melainkan kaum yg kafir ( Al Qurán , Yusuf : 87 )

Sesungguhnya sesudah kesulitan itu (akan) ada kemudahan   ( Al Qurán , Al Insyirah:6)

Mentari pagi memberi semangat baru, seperti syair lagu lama abah Iwan Abdurahman berikut, Mentari ;

Mentari menyala disini ,
Disini… di dalam hatiku ,
gemuruh apinya di sini ,
di sini.. di urat darahku

meskipun tembok tinggi mengurungku
berlapis pagar duri di sekitarku
tak satupun yang mampu menghalangiku
bernyala di dalam hati ku

hari ini, hari milikku
juga esok masih terbentang
dan mentari kan tetap menyala , disini, di urat darahku

Dibba beach, musandam peninsula,  Oman , middle east

November 2009

7 comments on “sun rise & new hope

  1. Saepul
    30/11/2009

    ada lagu sunda juga tentang mentari pak ,
    “Mentari “Menuju Takwa diRi” ,

    “panon poe mawa caang
    unggal isuk tangtu datang
    manuk recet nitah hudang
    ngajurungkeun nu rek miang

    hayu batur digarawe
    ulah sok bari talangke
    ibadah tong hararese
    tong eleh ku panon poe”

    nuhun pak,
    tulisan pak hendra selalu menginspirasi kami.

    Saepul,
    Pangalengan, Bandung selatan

  2. hdmessa
    30/11/2009

    sami2, nuhun lagu sunda na kang Saepul,
    baik saya buat terjemahan juga supaya yg lain bisa mengerti pula;

    matahari membawa sinar terang
    tiap hari pasti datang
    burung yg ribut menyuruh bangun (pagi)

    ayo teman kita bekerja
    jangan suka berleha leha
    kalau ibadah jangan bermalas2an
    jangan kalah oleh rajin nya matahari

  3. Iftikar
    01/12/2009

    Ketika tulisan ini saya baca,
    masa shalat subuh di Sydney baru saja berlalu, matahari tak tampak karena ditutup awan tebal, tapi langit memang sudah tak dapat disebut lagi malam.

    Tujuh jam lagi Hen, insyaAllah saat serupa akan tiba di semenanjung Musandam, tanda hari di sana akan bermula. Selamat berkelana, selamat bekerja.

    Iftikar
    Sydney, Australia

  4. Dina
    01/12/2009

    “Rasa mu terasa sampai di sini..
    gemuruh nya menyala ..
    di sini di urat darahku..

    Nyalakan selalu mentarimu…sahabat…”

    Dina Aditya
    Jakarta

  5. Yogas
    01/12/2009

    subhanalloh….
    setelah kesempitan pasti ada kelapangan..
    dan setelah kesulitan pasti ada kemudahan..

    namun saat belum sanggup terlepas dari ujian hidup..
    kadang segalanya terasa begitu menghimpit
    secara jiwa ataupun harta
    bahkan sebagian orang tampaknya terus dalam tekanan
    karena ketiadaan keadilan dan keperdulian sebagian terhadap sebagiannya yang lain..

    mari saling membantu saudara kita bila ada yang sedang kesulitan dan kita merasakan di kelapangan
    untuk meringankan..
    dengan cara apa saja yang bisa kita saling lakukan..

    wassalam

    Yogas
    Bandung

  6. Radiah
    01/12/2009

    Beautiful writing…

    Apapun yang kita hadapi, ternyata setiap hari masih selalu berjalan seperti biasa…
    Segelap apapun malam..pagi tetap tak mampu terkalahkan..
    Dan meski mendung dan hujan bisa menyembunyikan matahari, tapi suatu saat tetap akan reda dan menepi, mengembalikan senyum mentari…

    Yang abadi semata perubahan itu sendiri, untuk selalu jadi harapan, ketika kegelapan datang…dan menjadi pengingat ketika sekitar tengah benderang…”

    Radiah
    Bandung

  7. Ginanjar
    01/12/2009

    ada lagu sunda juga,berkaitan dg matahari, panon poe ;

    Bubuy bulan, Bubuy bulan sangray bentang
    Panon poe, Panon poe disasate

    Unggal bulan, unggal bulan
    Unggal bulan abdi teang
    Unggal poe,unggal poe
    Unggal poe oge hade

    Situ Ciburuy , laukna hese dipancing
    Nyeredet hate ,Ningali ngeplak caina

    Duh eta saha nu ngalangkung
    unggal enjing , Nyeredet hate
    Ningali sorot socana

    Ginanjar
    Bandung

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on 30/11/2009 by in Contemplation.
%d bloggers like this: