Inspiring points

Reflective story from journey of life , Alam terkembang jadi guru

meaningfull of empty desert

Tak terasa telah jauh juga berjalan melintasi gurun pasir ini, aku berhenti sejenak di atas sebuah bukit pasir kecil, diam sejenak, melihat sekitar menakjubkan sekali pemandangan nya .  Di depan masih terhampar luas gurun pasir ditingkahi bentuk gundukan2 pasir indah yg halus permukaan nya, warnanya merah bata, sampai ke ujung cakrawala sana, bertemu dg kaki langit yg jernih membiru tanpa awan, beda dengan alam tropis Indonesia yg penuh warna, di gurun pasir ini hanya merah bata dan biru langit warna alamnya, tapi tetap indah mengagumkan.

Pemandangan gurun pasir yg jauh terhampar ke depan, bagai jauh tak terhingga tak bertepian,  walau bagaimana pun juga tetap ada ujung nya.  Bila orang2 bepergian jauh melintasi gurun pasir ini, mereka harus menyiapkan bekal yg cukup sampai ke ujung sana , karena jarang ada oase/mata air tempat persinggahan perbekalan di tengah jalan.

Hal ini mengingatkanku pada analogi mengenai perjalanan kehidupan ini, betapa jauh dan lamanya  waktu kita menempuh perjalanan kehidupan ini, tetap akan ada ujungnya juga, kematian lah yang mengakhirinya. Dan kita harus mempersiapkan bekal hidup yg cukup untuk sampai ke sana (saat kematian) , bukan dengan bekal uang atau materi, tapi amal kebaikan lah yg akan membekali perjalanan hidup kita ini.

Ku tengok ke belakang, tampak jejak jejak kaki di atas pasir, mulai terhapus oleh pasir2 halus yg terbawa tiupan angin. Permukaan alam gurun pasir ini yg khas bentuknya, dibentuk oleh hembusan angin, yg membentuk lekukan2 indah penuh harmoni dari bukit2 pasir, permukaan pasir pun bergelombang halus seperti permukaan air, saking halusnya pasir disini, mungkin lebih bisa mirip bagaikan hamparan samudra pasir. Karena dibentuk oleh angin, maka bentuk permukaan gurun pasir ini bisa berubah2 dg cepatnya, bukit yang kududuki saat ini, bisa jadi esok pagi telah berpindah ke tempat lain, tertiup angin, alam gurun pasir ini mengajarkan tentang alam  yg penuh kesementaraan tak ada keabadiaan di dunia ini..

Menengok langkah2 yg telah dilalui di belakang, adalah bagaikan menengok jejak langkah perjalanan hidup yg telah kita tempuh selama ini, masa lalu yang telah berlalu, tapi tapak langkahnya masih membekas, itulah masa lalu lah yg menghantar kita sampai pada masa kini. Jejak2 langkah di hamparan pasir pun mulai terhapus oleh pasir2 baru yg tertiup ke sana, dan lama kelamaan akan hilang sama sekali, sebagaimana halnya bukit pasir ini pun suatu saat akan hilang pindah ke tempat lain, karena tiupan angin kencang. Masa lalu telah berlalu tak kan kembali lagi, masa lalu memang enak dikenang tapi tak bisa kembali lagi. Tapi walau tak kembali lagi, hakikatnya masa lalu tetap memberi bekas pada hidup ini, apa yg telah kita lakukan di masa lalu, baik berupa amal kebaikan atau kejahatan akan dimintai pertanggungjawaban nya kelak, karena masa lalu adalah sebuah kesempatan hidup, anugerah dari Tuhan, bukan sekedar kesia sia an belaka bagai angin lalu, ada tujuan nya mengapa kita ditakdirkan menjalani kehidupan di dunia ini.

Manusia bukanlah pasir yg pasrah sumerah diterbangkan angin, manusia adalah makhluk yg jauh lebih mulia daripada butiran pasir tersebut, Walau pasir atau tanah adalah bukan ciptaan yg mulia, tapi ternyata di akhirat kelak adapula manusia yg saking menyesalnya karena telah banyak berbuat kerusakan di muka bumi ini, berkata dengan penuh penyesalan nampaknya lebih baik ia ditakdirkan jadi tanah/pasir saja, karena pasir tak dimintai pertanggungjawaban kelakuannya selama di dunia, seperti dinyatakan dalam  Al Quran surat An Naba : 40.

“ Sesungguhnya kami Telah memperingatkan kepadamu (hai orang kafir) siksa yang dekat, pada hari manusia melihat apa yang Telah diperbuat oleh kedua tangannya; dan orang kafir berkata:”Alangkah baiknya sekiranya aku dahulu adalah tanah”.

Suasana disini sungguh hening sekali, tak ada suara jangkrik tanah, tak ada burung yg beterbangan di langit, hanya suara siulan angin dan bisikan pasir yg terdengar, konon inilah tempat paling sepi di dunia ini, sehingga dinamai gurun pasir kosong ( empty quarter desert atau rub al khali dalam bahasa arab nya), jarang sekali ditemukan oase dan pepohonan tumbuh disini. Di tempat paling sepi di Indonesia pun , seperti di tengah hutan belantara, masih kita dengarkan suara jangkrik tanah, kumbang pohon, gemericik air atau riuh rendahnya suara burung beterbangan.

Saat seorang diri, di tempat sunyi sepi, di gurun pasir yg kosong ini, kita merasa kecil di tengah kemegahan alam, sekecil butiran pasir disini. Saat sepi, seorang diri, kalau kita mau berpikir dengan sudut pandang lain, sebenarnya pada kondisi seperti inilah kita akan merasa dekat dengan Sang Maha Pencipta, tak ada orang lain, makhluk lain disini,tak ada orang, hewan atau tumbuhan sekalipun, tapi yakinlah Sang Maha Pencipta, tetap ada disini, Ia tetap ada dimanapun juga. Tapi tak semua orang bisa merasakan kedekatan tersebut, bilamana hatinya kotor.

Gurun pasir ini yg dinamai juga empty quarter adalah salah satu gurun pasir terluas di dunia, terhampar di empat negara,Saudi Arabia, UAE, Oman dan Yaman. Saya menelusurinya di selatan UAE, tak jauh dari tempat pengembaraan saya di  Ruwais, tepian empty quarter di pantai teluk Persia.  Tempat ini telah lama kosong  tak berpenghuni, tak ditemukan jejak peradaban disini, sejak lama tak ada juga negara besar yg berminat utk menjajahnya. Kecuali sejak ditemukan sumber minyak di beberapa tempat, gurun pasir ini  jadi berharga sekali , pasti tak ada kesia sia an dalam penciptaan alam ini, walau gurun pasir kosong sekalipun, pasti ada hikmahnya.

Gurun pasir kosong yg tak ada tumbuhan sekalipun, bagaikan permukaan bumi y g jujur telanjang apa adanya di hadapan langit,bagai cermin jernih yang memantulkan sinar mentari sepenuhnya. Kekosongan, kepolosan adalah juga gambaran dari bayi yg baru dilahirkan, bersih suci tanpa dosa. Gurun pasir kosong ini mengajarkan juga pada kita untuk coba membandingkan diri kita saat ini dengan kondisi saat kita masih bayi dulu, betapa lintasan hidup yg telah kita lalui menggoreskan banyak kesalahan dan dosa pada diri ini dan itu semua memberi warna pada jiwa dan hati kita, gurun pasir ini mengingatkanku utk juga membersihkan jiwa ini.

Merenung di tempat sunyi sepi ini, tiba tiba aku serasa bertemu dengan sang Alkhemis guru misterius di gurun pasir dalam buku world best seller nya Paulo Coelho, the Alchemist, saya  serasa bertemu dengan nabi Khidir, guru nabi Musa dan juga guru misterius kamu sufi, sang guru pun seolah bercerita padaku, mengenai tahap pencerahan jiwa yang dimulai pula dengan kaidah pengosongan, dikenal di kalangan sufi dg istilah , takhalli, tahalli dan tajalli ;

Bilamana kita memasukkan air ke dalam gelas yg telah berisi air pasti akan tumpah jadinya, air meluber sia sia, itulah perumpamaan kalau hati ini telah penuh dengan hal2 selain Allah dan karenanya bagaimana mungkin hati tersebut bisa mendapat pencerahan, menampung  ilmu dari Allah, jika penuh , jadi hati harus dibersihkan, dikosongkan dulu , dalam istilah bahasa arabnya, takhalli.

Sesudah bersih, hati harus diisi dengan hal2 yang baik. Ini adalah tahalli, menghias diri.  Kebaikan itu bisa diperumpamakan bagai  pantulan asma Allah, asma al-husna. Dalam terminologi sufi, “hati anak Adam itu laksana cermin.” Jika cermin itu bersih, maka ia akan memantulkan asma Allah. Ibn ‘Arabi guru sufi, mengatakan alam, kosmos, adalah cermin, tapi cermin yang sempurna adalah adam ( Adam dalam bahasa arab yang juga bermakna kekosongan ).

Karena itu semua yang ada di alam memantulkan asma Allah dalam tingkat tertentu, dengan tingkat kejelasan yang berbeda-beda. Dan yang paling jernih dan jelas pantulannya adalah hati Adam, yakni insan kamil, hati yang sudah dibersihkan sebersih-bersihnya.

Tahap pembersihan jiwa ini, adalah saat ketika manusia berjuang untuk mengikis penyakit-penyakit dalam hatinya: hasad, iri, dengki, kikir, bakhil, takabur, ‘ujub, senang memfitnah, berghibah, dan sebagainya. Dalam metode tasawuf, penyembuhan atas sifat-sifat buruk ini diawali dengan satu kata: berkhidmat, memberi pelayanan.

Bila pada saat takhalli kita menjauhi diri dari perbuatan yang tercela, maka pada tahalli kita menghias diri dengan memperbanyak amalan dan perbuatan yang mendatangkan rida Allah. Dalam bahasa praktisnya adalah setiap bentuk peribadahan dan sumbangsih kita dalam berbuat kebaikan pada sesama manusia (tindakan sosial)

Tahap selanjutnya, ialah Tajalli, berasal dari kata jalla, yang artinya agung, tajalli adalah manifestasi keagungan. Ia adalah tahap ketika manusia menyerap sifat-sifat Ketuhanan  dalam dirinya. Ketika seorang hamba berusaha menjadi khalifah di muka bumi. Inilah tahap ketika kita berakhlak, sesuai pesan Nabi, dengan akhlak Allah: takhallaqu bi akhlaqillah. Disinilah ketika kita belajar lebih mengenali Tuhan dan menerapkan sifat dan asma-Nya dalam kehidupan kita sehari-hari. Bila Tuhan rahim (penyayang), maka sifat penyayang mesti kita pupuk juga dalam diri kita, diamalkan dan begitu pula sifat2 kebaikan lain nya.

Manusia  yang mampu menyerap seluruh sifat Tuhan dan memanifestasikannya dalam kehidupan sehari-hari disebut pula dengan istilah insan kamil, manusia sempurna. Pada tahap inilah seorang hamba merasakan kehadiran Tuhan dalam dirinya. Ketika ia menjadi “bagian” dari Tuhan dengan makna yang sebenarnya.

Alhamdulillah, perenungan di gurun pasir ini serasa memberi pencerahan jiwa, gurun pasir gersang pun  terasa sejuk bagai taman bunga, walau sepi seorang diri, tapi serasa penuh kedamaian, karena kita merasa begitu dekat dengan Sang Maha Pencipta.

Waktu pun telah mulai beranjak siang, aku pun meneruskan perjalanan ke arah Liwa, oasis mata air terdekat di tepian gurun pasir kosong ini. Memasuki daerah Liwa, kita serasa memasuki tempat dengan peradaban, karena dari kejauhan mulai tampak warna hijau tumbuhan2 , menyelangi warna merah bata gurun pasir ini. Tambah dekat memasuki daerah Liwa tampak banyak kebun kurma di sekitarnya. Sungguh sebuah pemandangan alam yg berbeda dan terasa kontras dibandingkan perjalanan sepanjang gurun pasir kosong tadi, gersang tak ada tumbuhan, disini kita akan menemui daerah hijau yg subur dan di beberapa tempat terhampar taman hijau dengan telaga dan air mengalirnya, rasanya seperti sampai ke sorga saja ( jannatun firdaus  naim, taman penuh kenikmatan ) .  Kenikmatan akan didapatkan setelah perjuangan panjang,

Ya Allah mudahkan aku menempuh perjalanan sampai ke sorgaMu kelak, jauhkanlah dari jalan kesesatan  neraka Mu..

Akupun beristirahat sejenak di bawah pohon kurma yang rindang, tiba2 serasa terngiang kembali syair nadzoman, lagu nasyid merdu yg sering ku dengar dulu saat sempat mondok di  pesantren tradisional, di pedesaan tanah priangan  ;

Illahi lastulil Firdausi ahlaa,                         wa la aqwa alaa naaril jahiimi

Fahabli taubatan, waghfir dzunuuhi,      fainnaka ghafirun dzanbil adziimi

Ya , TuhanKu, rasanya aku tak layak masuk sorga Mu,

Tapi aku pun tak kuat menghadapi siksa neraka Mu

Maka terimalah Taubat pengampunanku, ampunilah dosa dosa ku,

Sesungguhnya, Engkau ya Tuhanku, Maha pengampun dosa dosa besar

(silakan dengar  syair merdu kaum sufi,tersebut di link youtube berikut )

http://www.youtube.com/watch?v=85hJrQhTtLY

On the edge of empty quarter desert, Liwa, UAE

January 2010

8 comments on “meaningfull of empty desert

  1. Aris
    23/02/2010

    Syukron, kang Hendra ….

    Pada saatnya nanti, kita akan terperanjat dengan perjalanan hidup yg tak terasa sudah dilalui, dan berkata : ‘CELAKALAH AKU ! “

    Aris Gumilar,
    Bekasi

    • hdmessa
      23/02/2010

      sami2 kang Aris,

      semoga kita dijauhkan dari hal tsb

      salam

  2. Rijadi
    23/02/2010

    Dear Pak,

    Thanks for sharing this subject ….it is meaningful to face this unstable life….

    Rijadi TIAS ,
    Jakarta

    • hdmessa
      23/02/2010

      sama2 pak Rijadi,

      semoga dimudahkan pula segala urusan nya

      salam

  3. Asep
    23/02/2010

    Hatur nuhun kang Hendra,

    Mudah2an dengan tulisan ini semakin mendekatkan kita pada Sang Pencipta, amin.

    Salam,

    Asep Rusman
    Abu Dhabi, UAE

  4. Rika
    23/02/2010

    Apa benar tdk ada jejak peradaban manusia di sana?,
    bukankah salah satu penyebab terjadinya gurun pasir antara lain adalah akibat perbuatan manusia juga?
    Adanya minyak di bawah permukaan menunjukkan dulu sekali tempat tersebut asalnya bukanlah gurun pasir.”

    Rika Suwana Budi
    Serpong, Jakarta

    • hdmessa
      23/02/2010

      yah, memang selama ini belum ada bukti arkeologi ataupun kisah sejarah peradaban disana.

      tapi bisa saja memang ada dulu sekali dalam jangka waktu yg lama, berdasar kandungan minyak tsb

      saya kira gurun pasir terjadi dalam jangka waktu lama, lebih karena faktor alam, walau mungkin ada juga peran manusia nya

      ( mudah2an negeri gemah ripah loh jinawi, kelak tidak menjadi gurun pasir karena ulah manusia nya )

      salam

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on 22/02/2010 by in Contemplation.
%d bloggers like this: