Inspiring points

Reflective story from journey of life , Alam terkembang jadi guru

badai gurun, menghembus jiwa

Cakrawala berselimut sutra putih tapi bukanlah kabut, langit mendung bukan tanda hendak hujan, angin kencang yang membawa debu halus membuat burung camar pun tak bisa melayang jauh, pasir halus melayang beriringan di permukaan jalan bagaikan air mengalir, udara kering membelai kian kemari dg suara siulan khasnya. Badai gurun ( desert storm ) menyapa di perjalanan lintas gurun pasir dari abu dhabi menuju tanah suci….

Hembusan kencang angin kering menerbangkan pasir sehalus tepung, terbang sampai ke atas langit yang membentuk awan gelap yg menutupi cahaya mentari, pasir halus yg tebang kian kemari menutupi cakrawala bagaikan kabut tipis. Saat badai gurun berderu, pasir yang hanya benda mati, bagai mendapat nafas kehidupan, bersiul kencang dan terbang riang kian kemari sampai ke atas langit sana. Namun saat tiupan angin berhenti, ia akan kembali ke kodratnya, benda mati yang jatuh terhempas ke permukaan bumi.

Pasir dan angin tersebut, bisa pula dianalogikan dengan ruh dan jasad pada manusia. Karena ruh lah manusia hidup dan saat ruh telah tiada, maka terhenti pula gerakan tubuh manusia. Angin bisa dirasakan tapi tak bisa diraba.

Jasad manusia berasal dari bumi ini ( unsur2 tanah) sedangkan ruh adalah ciptaan Yang Maha Kuasa, bagai ditiupkan dari atas sana.  Jasad dan ruh bertemu dalam proses penciptaan manusia, pada janin bayi di perut ibu yang hamil pada usia 4 bulan.

Hakikatnya ruh adalah suci dan bersih, namun saat sampai ke atas dunia ini, ia terbawa oleh karakter duniawi ; nafsu, keserakahan, kejahatan dan setumpuk karakter negative lain nya. Bagai membuka kotak Pandora dimana segala sifat jelek bertebaran, namun tetap masih tersisa sikap kebaikan dan harapan di dalamnya.

Sifat dasar manusia adalah penuh dg kebaikan, spt bayi yg baru lahir, tak ada bayi yg lahir dg wajah jahat  , pergaulan hidup lah yg memberi warna karakter manusia selanjutnya. Ssejahat jahatnya sifat manusia, tetaplah ada kebaikannya walau sedikit.

Pasir2 yg terbawa oleh angin sampai jauh ke atas langit dan terbang jauh, adalah pasir2 yg ringan sehalus tepung. Sedangkan pasir  yg berat, hanya bergerak sedikit di atas permukaan bumi oleh tiupan angin, tak bisa terbang jauh..

Jiwa yg bersih dan halus, adalah bagai pasir yg ringan, akan terbawa terbang tinggi. Sedangkan jiwa yg kotor, jiwa yg berat karena banyak kesalahan  (dosa) tak akan terbang tinggi, tak akan pergi jauh, bagai pasir yg berat yg hanya sedikit tergerak di permukaan tanah, dan biasanya turut membawa terbang pula berbagai kotoran di permukaan, seperti daun2 kering dan sampah2.

Begitu pula lah manusia dalam perjalanan hidup nya ini, manusia dg jiwa yg bersih akan termudahkan untuk berbuat kebaikan dan akan dimuliakan. Sedangkan manusia yg jiwanya kotor, akan bergelimang dengan berbagai dosa dan terhinakan.  Hidup adalah pilihan , apakah kita akan terbang tinggi ( jiwa bersih, spt pasir halus tsb ) , atau terbang rendah saja ( jiwa kotor spt pasir berat tsb )

Tiupan angin kencang yg membawa terbang pasir pasir halus bagai bersenyawa  selama badai gurun berhembus. Analoginya itu adalah bagaikan bagai ruh dan jasad yang bersenyawa sepanjang jalan kehidupan seorang manusia. Ketika angin berhenti, badai gurun pun telah reda, maka pasir2 halus tersebut akan berhenti pula beterbangan dan akan turun ke permukaan bumi untuk duduk diam dengan manisnya bersama miliaran teman2 nya membentuk hamparan gurun pasir penuh lekukan. Begitu pula lah manusia, suatu saat ruh akan berpisah dengan jasad, ruh yg mulia akan kembali pada Sang Maha Pencipta, sedangkan jasad akan kembali membumi, itulah saat kematian.

Saat badai angin bertiup dengan begitu kencang nya, namun saat reda angin bagai hilang tanpa bekas, tak tampak, tak bisa diraba, tapi hanya dirasakan. Begitu pulalah kira2 perumpamaan ruh dalam tubuh manusia, kegaiban yang hanya diketahui oleh Yang Maha Mengetahui. Badai guru nada jangka waktunya, suatu saat akan berhenti pula, badai pasti berlalu.Berbeda beda lamanya waktu badai berlangsung, begitu pula lah kira2, berbeda2  pula saat ruh dan jasad bersenyawa dalam tubuhnya. Berbeda beda jangka hidup manusia di dunia ini, ada yg berusia panjang, namun ada juga yg pendek saja usianya, semua rahasia Yang Maha Kuasa.

Semuanya berawal dari ketiadaan dan kelak akan kembali lagi pada ketiadaan,  ada pertemuan, ada pula perpisahan, semuanya berasal dari Sang Maha Pencipta. Saat seorang manusia meninggalkan dunia yg fana ini, saat ruh terlepas dari jasad, hakikatnya kita kembali ke awal kita, kembali pada Sang Maha Pencipta, jasad tubuh ini kembali pula pada bumi dimana ia hakikatnya berasal. Hidup di dunia hanya sementara ada awal, ada akhirnya.

Bedanya manusia dg pasir tsb, ialah bahwa manusia harus mempertanggungjawabkan semua perbuatan nya kelak, sedangkan pasir badai yg jatuh ke permukaan bumi tak ada yg perlu dipertanyakan lagi.

Dalam al Quran surat An Naba : 40 ada dinyatakan penyesalan  org2 yg berdosa di akhirat kelak, menyesal karena menyia-nyiakan kesempatan hidup di dunia ;

Sesungguhnya Kami telah memperingatkankepadamu (hai orang kafir) siksa yang dekat, pada hari manusia melihat apa yang telah diperbuat oleh kedua tangannya, dan orang kafir berkata: “Alangkah baiknya sekiranya aku dahulu ( saat hidup di dunia) adalah tanah (pasir)”

manusia hadir ke atas dunia ini dengan tangisan, walau orang sekitarnya tersenyum gembira, saat kelak meninggalkan dunia yang fana ini, orang sekitarnya akan menangis sedih, walau ia tersenyum sekalipun.

8 comments on “badai gurun, menghembus jiwa

  1. Eriawan Rismana
    08/06/2010

    Ass. Tulisan yang menyentuh. Mengingatkan bahwa kita pasti kembali kepadaNya. Alam banyak memberikan inspirasi dan contoh bagi manusia, bila manusia mau belajar. Dan Insya
    Allah, apa yang kita lihat dari alam tak ada satupun yang cacat. Al Mulk 3 -4. Salam saya dari Ina. Wass Eri/KI-ITB-88
    Nb: boleh saya share dengan yang lain

  2. hdmessa
    09/06/2010

    wa alaikum salam,
    sama2 Eri, thanks comment nya.

    silahkan saja di share

    salam

  3. abualisha
    25/09/2010

    Kang Hendra,

    Boleh sharing ilmunya dikit, bagaimana proses penulisan artikel yg akang tulis, apakah ilham datang ketika mentafakuri padang pasir, ataukah ilham datang ketika sedang mentadaburi ayat 40 surat Annaba…

    Hatur Nuhun
    Abu Alisha@Wayang Windu

  4. hdmessa
    25/09/2010

    kang Anto,

    kalau sy pribadi dalam menulis, biasanya memang ada semacam ilham saat berada di alam terbuka, dan itu datang tiba2 saja, tapi hanya ide dasar saja.

    Setelah itu biasanya sering terhubungkan dg pengalaman2 lain nya spt saat mendengar surat an naba tsb, ada pengalaman2 lain nya.

    cerita penjelasan mengenai karakter jiwa manusia tsb ( ruh & jasad) , justru saya dengar waktu di Wayang windu dulu, ceramah dari pak Supramu dan sangat berkesan.

    nah saat mengalami badai gurun, tiba2 saja 2 hal tsb spt terhubungkan, jadilah tulisan ini. jadi proses panjang juga, semacam akumulasi pengalaman. Biasanya berbagai pengalaman tsb saya tulis dalam buku harian, point2 nya saja, suatu saat ada pengalaman lain yg berkaitan, jadilah ide tulisan, jadi tak jadi langsung, tapi bertahap.

    konsep dasarnya ialah berdasar falsafah minang, “alam terkembang jadi guru” dan ayat iqro (bacalah)

    demikian kira2 proses nya, dan utk masing2 org berbeda2 pula caranya

    sok atuh, kang Anto, mulai juga utk buat tulisan, pak Nasir, saya kira sudah bagus juga tulisanya stelah rutin membuat renungan jumat.

    salam
    HM

  5. abualisha
    25/09/2010

    Kang Hendra…
    Saya setuju sekali “alam terkembang jadi guru”, proses iqro buat saya agak berbeda, kalo kang Hendra biasanya membaca alam, kalo disaya ternyata Allah anugerahi membaca manusia. Hampir seluruh perjalanan hidup saya, selalu ada orang yg saya jadikan guru walau yg bersangkutan tidak mengetahui…
    Salah satunya ya Kang Hendra sendiri…sayang waktu di WW saya terlalu sibuk sok mjd guru, jadilah terlewat kesempatan emas belajar dari sang guru yg sekarang dah pindah alam…he..he..
    Alhamdulillah Allah msh kesian sm sy, jadi proses iqronya skrg bener2 baca “Sang Guru” dari blognya aja..hi..hi..
    Saat ini sy bener2 lagi kepengen banget belajar ilmu hikmah…untuk nantinya diamalin.
    Kalo buat nulis sy tau kekurangan saya lah….

  6. hdmessa
    25/09/2010

    insya Allah, silaturahmi masih bisa tersambungkan,

    wah kang Anto, agak berlebihan nih, kita sama2 belajar kok,

    btw, adalah kelebihan juga bisa membaca karakter manusia, semoga bisa jadi ilmu yg bermanfaat pula.

    ilmu hikmah, kalau kita ada niat insya Allah, bisa diraih, walaupun melalui perjuangan dan ujian juga utk meraihnya.

    salam
    HM

  7. Erwin
    27/05/2011

    Subahanallah, Analogi pasir, debu dengan beratnya dosa sungguh menarik. Allah menciptakan alam semesta ini memang sempurna, apa yg ada di alam menjelaskan apa2 yg ada di dalam diri manusia.. thx for sharing.. salam

  8. hdmessa
    27/05/2011

    sama,2 terima kasih Erwin,
    alam terkembang jadi guru, kata pepatah minang, Iqra, dalam al Qur’an, kita bisa belajar di mana pun juga

    salam

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on 02/05/2010 by in Contemplation, journey inspiration.
%d bloggers like this: