Inspiring points

Reflective story from journey of life , Alam terkembang jadi guru

kisah ramadhan di negeri gurun pasir

Ramadhan tahun ini jatuh pada musim panas, saat kurma berbuah, saat gurun pasir suhunya di siang hari bisa sampai 45 derajat celcius. Siang pun lebih lama, matahari tenggelam, saat waktu berbuka sekitar jam 7.15. Cukup berat juga berpuasa bagi kita orang Indonesia yg terbiasa dg alam yg bersahabat. Terbayang pula betapa beratnya juga dulu Rasulullah dan para sahabat menjalankan ibadah ramadhan dalam cuaca spt ini, bahkan beberapa perjalanan perang nya berlangsung di bulan ramadhan.

Namun kondisi alam yang berat tersebut, saat berpuasa, menjadi tak begitu terasa, setelah mengalami suasana ramadhan yg mengesankan di negeri gurun pasir ini, mulai dari pengelolaan mesjid , kegiatan ibadah ramadhan dan aktivitas lain nya.

Di UAE, khususnya di emirate Abu Dhabi,  kegiatan keagamaan dikelola secara profesional, mesjid dan perangkatnya dikelola oleh Negara, mulai dari Imam, muadzin sampai tukang pembersih mesjid, di gaji oleh Negara, fasilitas spt air, listrik dan maintenance bangunan dibiayai negara. Kalau kita jalan2 ke seputaran UAE, tidak akan kita temui, mesjid yg jelek dan kotor, semuanya dibangun dg bagus, rapih dan bersih. Mushola di tempat pemberhentian, pom bensin atau di mall sekalipun, dibangun dg bagus , rapih, bersih ada yg mengurusnya. Sampai tempat wudhu dan toiletnya bagus dan bersih, gratis lagi ( teman org arab disini, agak heran, saat tahu bahwa di negeri kita, ke toilet saja harus bayar).

Sebagai negeri multikultur, dimana penduduk aseli hanya 23 persen, dan ada sekitar 200 kebangsaan yg tinggal di UAE sini, maka perangkat mesjid pun dari berbagai bangsa pula, begitu pula di dalam mesjid. Imam biasanya dari negeri2 arab spt Yaman, Mesir, Syria dll. Muazin nya dari Pakistan, mesir dll, sedangkan tukang bersih2nya biasanya dari Bangladesh & India.

Menjadi Imam di sebuah mesjid adalah sebuah jabatan yg penting juga dan berat syaratnya, salah satunya ialah hafiz ( hapal al Quran ), karena tak mudah pula mendapatkan org dg kualifikasi tsb, sehingga berasal dari berbagai negara. Gaji yg didapat bisa dikatakan lebih dari cukup utk bisa hidup layak disini. Dapat fasilitas rumah, serta tunjangan hidup lain nya dan sekolah  dan rata2 punya kendaraan. Kegiatan sehari2 nya adalah mengelola kegiatan keagamaan di mesjid tsb,  memimpin ibadah sholat 5 kali sehari, sholat jumat, sholat tarawih, memberi khutbah, ceramah dan kegiatan keagamaan lain nya. Kita yg menjadi jamaah di mesjid itu pun, bisa merasakan manfaat besarnya. Bayangkan tiap hari sholat 5 waktu dipimpin oleh Imam yg hafiz spt itu, begitu pula sholat jumat, tarawih dll. Selepas sholat biasanya ada jemaah yg minta nasihat beliau atau belajar ngaji. Betapa terasa kegiatan mesjid yg dikelola dg professional dan rapih, akan memberikan manfaat besar bagi jamaah di mesjid tsb.

Di mesjid  dekat rumah , Imam mesjid nya adalah syeh Yahya dari Syria, muazin nya org mesir. Syeh Yahya berusia sekitar 45 tahun, tinggi langsing, putih dg penampilan yg menarik . Orangnya ramah, selalu tersenyum saat bertemu, bila bertemu anak2 di sekitar mesjid, ia suka memberi hadiah berupa permen. Bila melihatnya ceramah di mesjid, wajahnya begitu teduh dan serasa bercahaya, suaranya pun merdu, hati pun serasa syahdu karenanya.

Guru ngaji saya dulu pernah bilang, ada kalam hikmah yg mengatakan bahwa dg bertemu org soleh, bahkan hanya melihat wajah nya saja yg spt bercahaya, maka hati serasa tenang dan bertambah keimanan. Jadi teringat pula dg almarhum KHR Ajengan Memed, kiyai di pesantren darul hidayah Bandung, tempat dulu nyantri, seorang kiyai tua yg kharismatik, wajahnya pun putih bercahaya, sampai2 saat mengajar sekalipun, murid2 nya tak berani menatap wajah beliau. Saat bertemu beliau di jalan atau di mesjid, memang terasa spt bercahaya wajah beliau, hati serasa terpesona dan kita tak kuat lama memandang beliau, saya sering tertunduk malu karena nya, seperti takut ketahuan saja dosa2  diri ini.

Syeh Yahya, saat memimpin sholat tarawih, suaranya mengalun merdu, dibaca dg intonasi  sesuai dg makna ayat yg dibaca, mengalun riang saat ayat2 berita gembira atau malah begitu dalam seperti merintih saat ayat2 azab dibacakan. Dengan mengerti bhs arab , dibacakan dg intonasi yg pas dan qiroah yg merdu, bagai buluh perindu. Sholat tarawih terasa begitu nikmat, tak terasa berlalu, suasanapun begitu khusyu, tak ada suara gaduh anak2 di belakang, spt biasa di negeri kita. Rasanya ingin malam ramadhan sepanjang tahun.

Selesai sholat, sebagian jemaah menyalami beliau dan ia membalas dg senyuman hangat, walau dg org tak dikenal sekalipun spt saya dari Indonesia, jemaah baru di mesjid tsb. Para jemaah mesjid menghormati dan mencintai beliau, begitu pula anak2, yg begitu senang bertemu beliau, karena selalu diberi oleh2 permen. Hanya wanita saja yg tak bisa bertemu langsung beliau, karena di negeri arab ini, tak biasa pria dan wanita bukan muhrim nya bertemu langsung spt itu.

Di bulan ramadhan, seperti biasa, disediakan pula makanan utk berbuka. Biasanya menu nya ialah kurma, air mineral dan nasi briyani atau nasi khoruf ( semacam nasi uduk dg gule kambing atau ayam). Saat makan bersama tersebut beragam pula pesertanya, ada org Mesir, Yaman, Pakistan, india, Bangladesh dan ikut juga beberapa teman Malaysia dan Indonesia. Makan nya pun khas pula, karena kita makan bersama ( 4-5 org) dalam satu nampan besar, biasanya kita org2 indonesia dan Malaysia, milih gabung dalam satu kelompok.

Saat sholat tarawih di mesjid pun akan kita lihat orang2 dengan berbagai kebangsaan ada disana. Akan mudah dikenali dg tampilan fisik atau pakaian nya. Orang2 arab sebagaimana biasa pakai jubah surban, atau kandura istilah disini, Orang Oman khas pula sorban nya, orang  Sudan, jubahnya lebih lebar dan surban nya dililitkan besar di kepala. Org2 pakistan ketahuan dari model baju panjang nya dg tutup kepala yg khas pula, sempat ketemu ada pula org Afganistan yg khas tutup kepalanya ( spt biasa kita lihat pejuang Taliban) , dan teman2 Indonesia seperti biasa dg peci atau baju koko nya. Tempat sholat untuk wanita lokasinya terpisah dari laki2, biasanya di basement atau di bagian lain dari mesjid tsb, jadi jemaah wanita hanya bisa mendengar suara imam saja. Cerita jaman masa remaja dulu, dimana sepulang sholat tarawih, biasanya anak2 laki2 suka menggoda anak2 gadis remaja, tak ada ceritanya disini.

Kebiasaan lain, orang2 arab disini, saat ramadhan, ialah biasanya mereka mendirikan semacam tenda di dekat rumahnya atau di lapangan. Di dalam tenda tersebut disediakan penganan untuk berbuka, tetangga atau orang yg lewat disana, dipersilakan untuk masuk mencicipi hidangan di dalamnya. Di kota Abu Dhabi, tenda2 besar juga didirikan oleh pemerintah kota atau lembaga2 sosial untuk memberikan makanan berbuka puasa, bagi para pekerja, masyarakat sekitar atau musafir yang lewast disana.

Untuk menghormati bulan ramadhan, di tempat kerja, waktu kerja pun dikurangi dari biasa 8 jam perhari menjadi 6 jam perhari nya. Untuk karyawan yg kerja shift waktu kerjanya tetap 12 jam, namun sisa kelebihan waktunya dihitung sebagai lembur (over time) dan disediakan makanan untuk buka dan sahur. Jadi walau disini tak ada THR, tapi para pekerja shift bisa mendapatkan upah yg cukup besar selama ramadhan ini.

Bulan Ramadhan saat ini bagi saya pribadi cukup berat juga, karena sebatang kara saat ini, istri dan anak2 sudah mudik ke Indonesia, sehingga saya biasa berbuka di mesjid dan sahur sendirian saja di rumah. Namun suasana keagamaan dan ibadah di mesjid yg begitu mengesankan, membuat ramadhan ini terasa begitu indah. Dalam kesendirian di tengah gurun pasir ini, terasa diri ini menjadi begitu dekat dengan Yang Maha Kuasa…

Demikian sedikit cerita ramadhan, dari negeri gurun pasir Abu Dhabi, UAE.

Semoga bulan Ramadhan yg penuh rahmat ini, membawa kebaikan bagi kita semua…

9 comments on “kisah ramadhan di negeri gurun pasir

  1. yasir
    13/08/2010

    cerita yg menyejukkan. terima kasih dah sharing. salam kenal🙂

  2. hdmessa
    13/08/2010

    sama2, Yasir,
    salam kenal juga

  3. bahtiarhs
    13/08/2010

    Membaca tulisan mas Hendra serasa menyeruakkan rindu menapakkan kaki ke gurun macam Abu Dhabi. Tentunya Makkah dan Madinah dulu. Apalagi bertemu dengan orang-orang shaleh dengan wajahnya yang bersinar menyejukkan hati.

    Salam kenal, Mas, dari Surabaya. Kalau boleh mau nanya2 sesuatu tentang UAE via Japri.

    Bahtiar HS

  4. hdmessa
    13/08/2010

    terima kasih mas Bahtiar,
    insya Allah, kita selalu berada
    dalam lingkungan org2 yg saleh…

    salam kenal juga,
    silakan saja kalau mau tanya2

  5. Alhamdulillah,

  6. Muhammad Teguh Ali
    14/08/2010

    Alhamdulillah..
    minta ijin sharing di fb ku ya..
    salam

  7. hdmessa
    14/08/2010

    sama2,
    terima kasih komentarnya Eri & Ali,
    silakan saja di share

    salam

  8. ridho banjarmasin
    01/04/2013

    Tak terasa air mata ini metes dengan lembut karena sa’at ini saya sadar belum juga menginjakkan kaki di negara gurunpasir dengan air penuh kemesra’an pohon kurma yang melambai,saya pengejar mimpi untuk belajar di abu dhabi tapi sampai sa’at ini belum juga saya dapatkan info yang lengkap dan teman dari sana,maukan anda berteman dengan saya berikanlah saya sedikit pengalaman dan info belajar disana supaya membuat saya kokoh kembali dengan air mata juga,tapi hanya dengan air mata bahagian dan senang telah bisa berpijak di abu dhabi.amin ini whatsapp saya +6287746265689 pin bb : 29D2DA8E

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on 13/08/2010 by in Inspiration story.
%d bloggers like this: