Inspiring points

Reflective story from journey of life , Alam terkembang jadi guru

pendakian rezeki, karunia Illahi

Ada sebuah cerita menarik mengenai peternak ayam, yg punya banyak ayam, yang karena tiap hari bertemu dg ternaknya, bisa pulalah mengenal kelakuan ternaknya. Ia bisa tahu ada ayam yg baik, jinak yg jadi kesayangan nya, namun ada pula ayam yg baginya tak menyenangkan kelakuan nya, semisal sering mengotori atau kelakuan jelek lain nya, sehingga ia tak senang. Untuk ayam yg jinak, bilamana memberi makanan ia akan memanggilnya, menaburkan makannya di dekatnya, atau pakai tangannya sendiri, sambil mengelus2 kepalanya, saking sayangnya. Namun untuk ayam yg lainnya, mungkin ia akan sekedar menaburkan saja ke tanah dan ayam2 tersebut berlarian mengejar makanan tsb. Demikianlah pula kira2 perumpamaan bagaimana Allah memberi rezeki pada makhluk Nya, ada yg dimudahkan rizkinya, namun adapula yg begitu susah dalam mencari rezeki penghidupan sehari2 nya. Saya ingin menemui org2 soleh yg dimudahkan rezekinya tersebut.

Waktu mudik lebaran ke Bandung bulan lalu, saya menyempatkan diri bersilaturahmi ke beberapa tempat, teringat guru ngaji dulu, kalau ingin bertambah iman dan ilmu nya, maka bersilaturahmi lah dg org2 soleh, walau hanya sekedar ngobrol bertatap muka, insya Allah akan membawa kebaikan.  Alhamdulillah sempat pula bertemu dg teman lama yg soleh, tutur bahasanya halus, lembut, tak banyak ngomong, tapi sekali ngomong sangat dalam sekali isi nya. Ia berasal dari keluarga yg hidup sederhana.

Ngobrol2 ttg keluarga dan kehidupan sehari2 nya, membuat saya tertegun, ia tetap seperti dulu, berdakwah kemana, sekali2 ngajar ngaji dan untuk penghidupan sehari2nya, biasa nya ia berjualan buku2 islam, parfum atau peralatan ibadah, tapi kalau dihitung2, waktunya dalam sebulan, lebih banyak bepergian berdakwah ke berbagai tempat. Jadi praktis secara ekonomi, hanya sebagian kecil waktunya utk mencari rizki. Keluarganya tinggal di rumah kecil disamping mesjid yg sengaja disediakan utk petugas mesjid, karena memang tugas sehari2nya, adalah menjaga kemakmuran mesjid tsb, jadi imam/muazin, mengajar ngaji atau sekalian membetulkan kerusakan mesjid. Anaknya banyak sebagian telah bersekolah, sebagian lagi masih di rumah, karena masih kecil.

Dalam ukuran hitung2an, ekonomi sederhana, gemana caranya ia bisa menghidupi keluarganya dg penghasilan yg pas2an spt itu, apalagi waktunya kebanyakan dalam kegiatan keagamaan, dibanding berjualan dan usaha lain nya, Tapi kenyataan membuktikan, ia bisa menghidupi keluarganya dengan layak, anak2 nya bisa sekolah semua, yg paling besar malah dapat beasiswa, keluarga nya sehat, jarang ke dokter, pokok nya mah, bagi saya cukup membingungkan gemana caranya ia menghidupi keluarga nya, ajaib pisan lah . Saya coba tanya langsung hal tsb, tapi ia hanya tersenyum, tak mau menjelaskan, hanya bilang, ini semua dari Allah semata, Allah lah yg mengatur rizki hambanya.

Akhirnya saya ngobrol dg teman yg lain, ia pun bercerita, bahwa sahabat saya tsb, sering mendapatkan rizki dalam bentuk yg terduga dan diluar perkiraan, kasarnya  rizkinya lah yg mendatangi dia, bukan ia yg mengejar rizki. Karena ia melakukan tugas utama berdakwah, menyebarkan kebaikan. Ia bilang, ndra, kalau org benar2 ikhlas menjalankan perintah Illahi dalam hidup ini, berdakwah, berjuang di jalan Allah, maka Allah lah yg akan menjamin rizkinya, barangsiapa yg membantu agama Allah, maka Allah pula yang akan membantunya (dalam penghidupan sehari2) mungkin spt hal utopia saja, tapi saya melihat bukti langsung.

Ia bercerita satu kisah yg rada aneh, bagaimana ia mendapatkan rizkinya. Suatu  waktu ia bertemu dengan sobat lamanya, ngobrol2 cerita lama antara lain mengenai rumah besar keluarganya dimana mereka sering bermain saat kecil. Sang teman bercerita, bahwa keluarganya bermaksud ingin menjual rumah besar tersebut, sebuah rumah besar dengan halaman luas, khas rumah jaman dulu. Sudah lama ditawarkan tapi tak laku2 juga, mungkin karena cukup mahal juga harganya, sampai hitungan milyaran rupiah. Setelah tahu teman saya tersebut tak punya pekerjaan yg tetap, ia bilang, daripada rumah tersebut kosong, gemana kalau dia tinggal saja di rumah tersebut utk sementara waktu, mudah2an ada yg mau beli rumah tersebut, dan nanti ia akan dapat semacam komisi ( fee ) dari penjualan rumah tersebut,ia pun setuju,ia menganggapnya sekedar amal membantu teman dan berbuat kebaikan pada masyarakat sekitar rumah tersebut. Akhirnya tinggallah ia disana dengan teman nya, selama beberapa waktu, kegiatan sehari2nya tetap seperti dulu, berdakwah dan melakukan kebaikan sosial pada masyarakat sekitar. Tak dinyana, setelah sekitar seminggu disana, tiba2 ada datang seorang kaya ke rumah tersebut yg berniat ingin membeli rumah tersebut, setelah menemani, melihat2 sekilas rumah tsb, nampaknya ia sangat cocok dan serius ingin membelinya. setelah proses negosiasi, akhirnya rumah itupun terjual dg harga yg cukup tinggi juga ( order milyaran rupiah ). Akhirnya ia pun dapat fee yg lumayan besarnya, orde puluhan juta rupiah, yg cukup untuk menghidupi keluarganya sekian bulan lamanya. Ia pun kembali ke tempat asalnya dan menjalankan aktivitas social sebagaimana biasanya dan menabung uang hasil fee penjualan rumah tsb, utk penghidupan keluarganya yg hidup sederhana utk beberapa bulan. Tak hanya sekali, banyak ia mengalami kejadian2 yg  unik spt itu, dimana tak tahu gemana juntrungan nya, ia bisa mendapat rizki yg besar, yg bisa mencukupi keperluan keluarganya.

Tak banyak org spt dia, sebagian besar masih juga yg tetap hidupnya pas pasan, istilahnya senin kemis, walau sama2 kegiatannya. Tapi ada sebagian org istimewa yg maqam nya ( tingkat keimanan/ keikhlasan nya )  tinggi, maka rizki lah yg akan mendatangi dia, dimudahkan oleh Allah rizkinya. Ada semacam ambang batas ( threshold limit ) utk maqam seorang muslim, dimana kalau dibawah batas itu, ia masih harus bersusah payah mengejar rizki, tapi kalau melewati maqam tsb, maka rizki lah yg akan mendatangi dia, masya Allah, saya hanya termenung mendengar penjelasan nya dan bisa masuk akal juga.

Jadi teringat lagi dg ajengan ( kiyai ) di pesantren tempat saya mengaji dulu, juga mirip seperti itu, sehari2 kerjanya hanya di mesjid, ngajar ngaji, sekali2 saja dagang, anaknya banyak, tapi semua keperluan hidup keluarga nya, bisa terpenuhi, ia bisa hidup layak, masya Allah. Ada cerita menarik saat di pesantren dulu, sudah menjadi kebiasaan, sekali waktu istri pak Kiyai, mengundang santri2 nya utk makan bersama di rumahnya. Sekali waktu beliau mengundang anak2 santri untuk makan ke rumahnya, teman saya si Dede turut membantu memasak di sana, sang istri kiyai bilang Alhamdulillah ada cukup beras dan lauk pauk, tapi tak banyak, hanya cukup untuk sekitar 6-8 org santri, jadi undang teman2 secukupnya saja, jangan banyak2 nanti tak cukup makanan nya. Disampaikanlah pula pemberitahuan kepada sebagian santri sesuai amanah, namun karena mereka tinggal bersama di asrama (kobong) yg sama, akhirnya informasi tersebut tersebar luas ke banyak santri. Sehingga akhirnya banyak santri yg datang ke rumah kiyai utk makan bersama, lebih banyak dari perkiraan sebelumnya, ada sekitar 40 org, si Dede pun bingung wah gimana nih, nggak akan cukup makanan utk semua org yg datang, tapi sang Kiyai hanya tersenyum saja, dan bilang, tak apa, siapkan saja makanan utk secukupnya. Nasi dan lauk pauk pun dibagikan ke semua santri yg hadir, sungguh mengherankan ternyata, makanan itu bisa cukup untuk semuanya, padahal Dede tahu sendiri, ia hanya masak utk keperluan sekitar 8 org saja. Namun ternyata bisa mencukupi untuk 40 org ?.., itu hanya contoh kecil, dan banyak kejadian2 lain nya yg seperti tak masuk akal, khususya berkaitan dg rizki, makanan dan keperluan sehari2 lain nya, selalu cukup tersedia, walau secara akal sehat ilmu ekonomi tak akan cukup. Akhirnya saya baru mengerti, bahwa mungkin sang kiyai tsb, telah sampai pula pada maqam/ derajat yg tinggi tersebut, dimana rizki lah yg mendatangi dia, Allah lah yg mencukupi keperluan nya.

Jujur bagi saya, maqam saya masih rendah, jauh dari org2 saya ceritakan tsb, jadi masih perlu mengejar rizki bahkan sampai jauh ke gurun pasir ini, namun ada pelajaran berharga yg bisa dipetik, bahwa urusan rizki, bukan sekedar usaha manusia, tapi adalah karunia dari Allah, Allah yg menyebarkan rizki bagi semua makhluknya, namun memang berbeda2 pula kadarnya.  Bukan sekedar berhubungan dg berapa banyak rizkinya ( kaya atau miskin) , tapi berkaitan dengan amal kebaikan dan kebersihan hati orang bersangkutan, ada sebagian orang yg susah rizkinya, namun adapula sebagian yg dimudahkan. Sesuai dengan ayat kitab suci, barangsiapa yg membantu agama Allah, maka Allah lah yg akan membantunya pula (dalam penghidupan dunia ) .

Namun tetap ada rahasia Illahi, karena adapula yg karena kasih sayang Nya pula, seseorang  kehidupan nya miskin, tapi ia tetap sabar dengan kondisi itu, insya Allah ia mendapatkan tempat yg mulia di akhirat kelak seperti pula kehidupan Rasulullah. Pada sisi lain, adapula orang yg hartanya berlimpah, tapi malah tambah jauh dari moralitas agama. Harta yg berlimpah di dunia ini malah menjauhkannya dari agama dan menjerumuskan nya ke neraka kelak.

Bagi rekan2 sekalian, rentang usia 30- 40-an, adalah saatnya kita menghadapi realita kehidupan sehari2, perjuangan untuk mencari rizki menghidupi keluarga, ada yg berhasil, namun ada juga yg masih susah kehidupan ekonominya.  Menurut saya, kita harus bisa melihat dari sudut pandang lain , bahwa masalah rezeki, pencarian penghidupan sehari2, bukan hanya sekedar didasarkan pada sekedar usaha duniawi belaka, mencari materi, namun juga usaha ukhrowi ( kebersihan hati, ikhlas dan amal dakwah) dari seseorang, sampai sejauh mana tingkat perjuangan dan usahanya, sampai sejauh mana tingkatan  maqam nya ( tingkatan amal soleh ) ?

Dalam buku Minhajul Abidin  ( jalan pengabdian) , karya Imam Al Gazali, ada dijelaskan juga tentang, tahapan2 yg dilalui manusia dalam proses pengabdian nya pada Allah, sepanjang jalan kehidupan ini, dalam buku tsb diistilah dg Aqabah yg diterjemahkan dengan pendakian/tanjakan ( terjemah Abdullah bin Nuh ), semuanya ada 7 aqabah. Dijelaskan aqabah ketiga adalah aqabah awaiq ( pendakian penghalang )  dimana ada beberapa ujian pada pendakian tersebut, dan salah satunya ialah masalah rizki, bagaimana usaha kita memenuhi penghidupan diri dan keluarga selama hidup di dunia ini, adalah semacam ujian juga . Kalau ia bisa melewati aqabah ini, maka itulah saatnya ia telah ikhlas berjuang di jalan Allah, dan rizkinya akan dimudahkan dan dicukupkan. Pada tahap selanjutnya akan ada lagi  tantangan2 yg lebih tinggi lagi, sesuai dengan kadar kemampuan nya. Menurut saya pribadi, apa yg disampaikan Imam Gazali pada buku tersebut, adalah semacam perumpamaan tentang tahapan2 perjuangan yg dilalui manusia dalam perjalanan hidup ini…., semoga kita semua bisa menapaki nya dengan baik…

24 comments on “pendakian rezeki, karunia Illahi

  1. Dadang Rukanta
    12/10/2010

    Subhanallah.. Inspiratif bang Hendra..
    Menggapai maqom ..

    Banyak ‘godaan’ terutama meyakinkan diri, dan orang2 terdekat kita..

  2. Sunu
    12/10/2010

    Waalaikum salam Hendra,

    Terimakasih dgn tulisannya,

    bagaimana khabarnya skarang ?..,
    satul agi adalah: setiap masalah datang – maka lengkap dgn kunci jawabannya ..
    Quran surat. ath thalaaq.

    Entah apakah akan sampai pada derajat ini ..

    Salam, Sunu
    Bandung

  3. Zaenal
    12/10/2010

    Luar biasa sobat!

    Saya pernah mengalami kehidupan semacam itu. Dikelilingi oleh orang-orang yang ikhlas dalam berdakwah. Namun saya tidak tahan….., saya minta izin untuk berusaha mencari rizki dengan harapan dapat “meringankan” beban sahabat dan guru2 saya tersebut.

    Secara nominal mungkin saya ada kontribusi pada mereka, tapi rasanya mereka jauh lebih bahagia, tentram dan tidak stress menghadapi kehidupan. Sementara saya….tahu sendirilah bagaimana hidup di Jakarta. “Di dalam diam tiada permata” begitu katanya semboyan hidup orang2 di Jkt.

    Salam sukses Ndra. Kalau kebetulan ke Bandung lagi, kita tengok Pesantren Wa Khoer. Salah satu putranya (Kang Asep Maoshul) sekarang ada di Senayan, kebetulan di komisi V, mitra kementerian kami di PU.

    Wass.
    Dudung Zaenal Arif ,
    Jakarta – Tasikmalaya

  4. Toto
    12/10/2010

    terima kasih ,

    Pencerahan yg menyejukkan di pagi hari yg sejuk pula di kota bogor.

    Apakah keluarga juga dibawa kang hendra?

    Damiri toto ,
    Bogor

  5. Abu Alisha
    13/10/2010

    Alhamdulillah…
    Hampir sebulan lebih menunggu kalam hikmah dari Kang Hendra…hatur nuhun…
    Makin sering berjumpa dgn orang, bersilaturahmi, dan bertukar pikiran, makin banyak hikmah yg didapat…Allah memberi pemahaman (hikmah) ke dalam hati..
    Banyak org bicara tentang ilmu agama tinggi2, tapi tidak menyentuh hati, hanya menambah sakit hati, karena tanpa hikmah…ilmu menaklukan hati…

    Oh ya Kang Hendra, Insya Allah dalam minggu ini, tokoh dalam tulisan Akang akan bersilaturahmi ke Banjaran-Bandung, beserta rombongan, dalam acara perjalanan dakwah selama 40 hari keliling Bandung, mereka juga mengajak isteri mereka…
    Mudah2an makin banyak muslim yg memahami betapa pentingnya silaturahmi…

    Salam
    Abu Alisha@Gunung Wayang Windu
    Pangalengan – Bandung

  6. Heru
    13/10/2010

    Kalau bill gate bukan orang soleh tapi rejekinya dimudahkan Allah..tanpa mengejar rejeki (dalam hal ini harta) dia setiap hari masuk ke rekeningnya jutaan dollar…
    pada tahap tertentu soal rejeki Allah akan mudahkan kepada siapa saja..mungkin yg sulit dilihat adalah rejeki iman..kalau miskin tidak beriman yg susah juga, kalau kaya tapi beriman atau bahkan bertaqwa itu lebih baik…
    pendekatan diri dg bermiskin2 memang sepertinya lebih mudah karena godaannya sedikit..tp jika kaya bisa lolos dari godaan maka dia pasti lebih hebat dan bermanfaat…

    saya pikir rasulullah bukan miskin karena beliau berzakat..jadi tahapan pendekatan diri kepada Allah tidak harus dipersulit rejekinya..wallahu alam..

    Heru Nurhayadi,
    Jakarta

  7. Fatkhan
    13/10/2010

    Kalau baca tulisan bang Hendra ini, jadi mengingatkan kita arti “sukses hakiki” dimana kebanyakan manusia menganggap sukses adalah pencapaian puncak2 titel/jabatan, karir, harta, kekuasaan dan penghormatan manusia.

    Bukankah hidup ini adalah ujian untuk dilihat siapa yg terbaik amalnya ( liyabluwakum ayyukum ahsanu ‘amala)?

    Syukron katsir buat bang Hendra

    Fatkhan Saqib
    Jakarta

  8. Dandi
    13/10/2010

    “subhanallah…hatur nuhun kang….”

    Dandi Budiman,
    Bandung

  9. Aden
    13/10/2010

    “Semoga kita termasuk orang” yg ikhlas,dan menerima apa adanya rejeki pemberian Illahi,karena setiap manusia sudah ditentukan sesuai dengan kapasitasnya masing – +. nuhun boss.”

    Aden
    Pangalengan,

  10. Frita
    13/10/2010

    Mas Hendra ,
    Ijin mengcopy ya. Sekarang ini, saya sampai pada kesimpulan yang namanya rizki itu tidak dapat dicela dan dipertengkarkan. itu hak prerogratif Allah SWT, yang
    menguasai segala sesuatu.

    Saya prihatin sekali kalau melihat orang jadi marah,
    karena merasa sudah berusaha sekuat tenaga tapi hasil tidak seimbang

    Ya, saya istighfaar – mohon ampun – saya bermohon jangan sampai kelebihan/kesempitan rizki menjadikan kita jauh dari arena kasih dan sayang
    Allah SWT.
    Bertambahnya rizki, semoga juga diikuti tambahan syukur, tawadlu dan pemurah juga. aamiin.

    Salam,
    Frita

  11. Oyin
    13/10/2010

    “kang hendra, mau tanya, kalau rahmat dan rizki itu berbeda ya?”

    Oyin Kashmir,
    Bandung

    • hdmessa
      13/10/2010

      kang Oyin, Rezeki biasanya lebih berupa materi, utk kebutuhan hidup sehari2, sedangkan Rahmat lebih luas lagi, hakikatnya rezeki sebentuk rahmat juga. Semisal rahmat kesehatan, karena sehat kita tak perlu keluar uang utk ke rumahsakit misalnya.

      Rezeki diberikan pada semua makhluk Allah, tapi rahmat Allah, tercurah pada makhluk yg disayanginya, hamba yg mengabdi padanya.

  12. Duddy
    13/10/2010

    Subhanallah, hatur nuhun Kang Hendra kanggo pencerahannya.

    please send me, your email adress kang.

    Have a nice day in desert country.”

    Duddy Arisandi ,
    Kendari

  13. Nilna
    13/10/2010

    Sangat menarik Hen. Saya juga banyak menemukan fakta-fakta seperti yang diceritakan itu. Saya jadi semakin yakin ada hukum kausalitas lain yang bekerja antara dimensi ilahiah dengan urusan keduniaan.

    Sementara masih banyak kita hanya menyandarkan diri pada hukum kausalitas yang berlaku di atas dunia ini saja. Seperti misalnya bagaimana sedeqah kok bisa menambah rezki, memperpanjang umur dan bahkan menolak bala.

    Sedeqah yang kita lakukan di dunia dibawa ke “langit” lalu kembali ke “dunia” dalam bentuk hasil seperti yang juga dijanjikan rasulullah saw.

    dan ini sangat berbeda dengan hukum ekonomi yang kita pelajari di “dunia” ini.

    wallahu a’lam

    • hdmessa
      13/10/2010

      terima kasih tambahan nya uda Iqbal, setuju sekali,
      memang hidup ini , tak sesederhana dimensi logika linier , sangat kompleks, Allah saja yg maha Tahu, wallahu a’lam

      salam

      • Nasir
        29/11/2010

        Alhamdulillah kang Hendra,
        tak habis2 nya ……….. petuah2 yang di postingkan, moga2 menjadi berkah buat kita semua amin………

  14. Seno
    14/10/2010

    Subhanallah …
    Kisah nyatanya sangat inspiratif, kang …
    ditunggu kisah-kisah selanjutnya … :->

    Wassalam.
    Seno Pradono

  15. rudy harwono
    14/10/2010

    Betul betul inspiratif hendra…. kenapa gak dijadikan buku saja….. biar banyak orang yg terinspirasi dengan cerita2 hendra. Membaca tulisan ini ,membuktikan bahwa ternyata soal rejeki Allah punya matematika sendiri.

    Rudi Harwono,
    Jogja

    • hdmessa
      14/10/2010

      terima kasih mas Rudi, apresiasinya,

      terima kasih idenya, mas Rudi,
      insya Allah, memang ada niat suatu saat kelak, tulisan2 di blog ini saya jadikan buku, mudah2an akan lebih besar manfaatnya

      salam

  16. hdmessa
    14/10/2010

    terima kasih rekan2 sekalian, atas komentar nya,
    mas Sunu, kang Dudung, Anto, Seno, pak dokter daeng, oyin, nilna, duddy, Frita, Aden, Dandy, Fatkhan, mas Heru, Toto, mas Rudi dll ,

    mohon maaf tak sempat dibalas satu persatu, tapi senang dg sharing dan tambahan nya, yg memperkaya tulisan ini

    salam

  17. Ahmad
    23/10/2010

    Terima kasih atas tulisannya.

    Apa yg Hendra sampaikan itu benar & saya sendiri banyak menyaksikan org2 yg ikhlas dlm usaha Dakwah wa Tabligh mendapatkan pertolongan dr Allah SWT langsung.
    Banyak dr mereka yg sudah lebih mengutamakan usaha Dakwah & Tabligh dr pada memenuhi keperluan2 duniawinya. Namun benar kata Hendra, mereka sampai pd maqam ikhlas macam itu juga penuh dg ujian.

    Dengan Hendra saya salut, krn masih mau menyempatkan diri sewaktu di Bdg kmrn ke markaz Tabligh Bdg. Sungguh kadang2, walau kita tak banyak memahami ajaran Masyaikh Tabligh & mengamalkannya, namun dg kehadiran kita di pusat2 (markaz2), kita akan mendapatkan suasananya (mahol); yakni suasana Kebesaran Allah SWT & suasana akhirat.

    Sebagaimana Hendra ketahui, kita ini selalu terpengaruh oleh teman2 & lingkungan kita, walaupun kita tidak satu pemikiran dg teman atau lingkungan tsb. Karena itu hadir dikalangan org2 yg ada Kebesaran Allah & ada pemikiran akhirat, akan mempengaruhi kita juga.

    Lain dari itu, saya salut dg kejelian & kemampuan Hendra mengungkapkan apa2 yg mengesankan hati Hendra, ini sebenarnya termasuk kemampuan bertafakkur (merenungkan sesuatu, memikirkan). Karena jalan untuk mendapatkan Kebesaran Allah SWT adalah dg banyak merenungkan, memikirkan, mentafakkuri ciptaan2-Nya.

    Dalam Qur’an; yg perlu kita tafakuri adalah; alam semesta ini (semua ciptaan2 Allah SWT), sejarah umat manusia (termasuk perbuatan2 manusia) & diri kita sendiri (mental/ruhani kita). Dengan tafakkur2 itulah, Allah SWT akan menurunkan hikmahnya (ibrah, pelajaran) pada kita.

    Karena itu, teruskan untuk selalu mentafakkuri (memikirkan, merenungkan) hal2 yg mengesankan Hendra secara pribadi. Dan jangan lupa sharing hasil tafakkur tsb ke teman2, insya Allah ini akan membuat kita semua sadar akan Kebesaran Allah SWT.

    Ini saja Hendra yg bisa saya sampaikan pd kesempatan ini.

    Alhamdulillahi ala kulli hal.
    Wassalam.

    • hdmessa
      23/10/2010

      sama2, terima kasih komentar nya kang Ahmad,

      insya Allah, saya hanya berusaha berbagi pengalaman berharga yg mudah2an memberi manfaat bagi org banyak, mudah2an ini sebentuk dakwah juga berupa tulisan

      salam

  18. Yaya
    25/10/2010

    Salam, artikelnya mampu memberikan kesan kpd pembaca..Membuatkan saye fokus dgn pembacaan dan sedar bahawa Allah akan membantu dan memberi kecukupan kepada hamba yang membantu agama Allah..Sungguh, saye juga pernah mengenali sahabat yang mudah dlm melakukan semua urusan dan pada masa yg same aktif dgn kegiatan dakwah di kampus..Moga saye juga berpeluang berdakwah dan istiqamah..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on 12/10/2010 by in Essay - concept.
%d bloggers like this: