Inspiring points

Reflective story from journey of life , Alam terkembang jadi guru

sajadah panjang, luas terhampar (management mesjid)

Angin semilir dari lereng gunung menghantarkan alunan suara azan dari surau di tepi kolam di balik kebun yg indah, mengingatkan diri  pada waktu sholat, subhanallah menakjubkan sekali suasana menjelang waktu sholat di surau yg asri di  Bukittinggi, sumatera barat, memori masa kecil yg selalu teringatkan.

Dari kesibukan kerja sehari2 , biasanya orang2 baru teringatkan dengan mesjid setelah mendengar suara azan tsb. Mesjid sebagai tempat ibadah biasanya baru ramai saat waktu sholat, hari jumat atau perayaan kegiatan2 keagamaan lain nya. Namun sebenarnya dibalik itu semua, kegiatan pengelolaan mesjid tak hanya saat itu saja dan banyak pula  orang yg terlibat dalam pengelolaan kegiatan di mesjid. Setelah sekian lama di negeri  gurun pasir, Abu Dhabi, UAE  ini, mengamati bagaimana mesjid dikelola, ada hal menarik yg bisa jadi pelajaran bagi kita2 di Indonesia, yaitu bagaimana mesjid dikelola.

Mesjid kalau diandaikan bagai sebuah computer, ada hardware dan software nya, hardware, perangkat keras, adalah mengenai bangunan mesjid dan berbagai fasilitas nya. Software pada mesjid, adalah berupa kegiatan2 dan pengelola mesjid, mulai dari Imam, muazin, pengelola mesjid ( DKM) sampai pembersih mesjid.

Membandingkan antara mesjid di Indonesia dengan mesjid2 di negeri timur tengah ini, khususnya UAE, kalau mengenai bangunan, secara umum bangunan mesjid relatif sama di berbagai tempat, hanya berbeda dalam arsitektur dan kelengkapan nya, masing2 negara/ daerah memiliki ciri khas arsitekturnya tersendiri. Di Abu Dhabi sini, saya perhatikan mesjid dibangun dengan perancangan yg baik dan besar ukuran nya, karena sebagian besar mesjid di bangun oleh negara, sebagian kecil  dibangun secara mandiri oleh masyarakat.

Hal yang berbeda dengan Indonesia , saya kira ialah mengenai perangkat / pengelola mesjid. Kalau di Indonesia, dikenal DKM ( Dewan kemakmuran mesjid ) sebagai pengelola mesjid yg biasanya berasal dari masyarakat sekitar, disini kegiatan mesjid dikelola oleh Awqaf, semacam badan wakaf negara. Jadi tak ada semacam DKM karena semua diatur negara, yg pasti ada di tiap mesjid adalah Imam mesjid, Muazin dan pembersih mesjid ( cleaning service ), semuanya mendapat gaji dari Negara. Imam masjid adalah kedudukan yang penting dan ada persyaratan tersendiri untuk bisa diangkat menjadi Imam. 

Imam mesjid mendapat gaji yg cukup dan layak. Saya perhatikan Imam mesjid di mesjid jami,  hidup berkecukupan, ada rumah, punya mobil, pendidikan dan kesehatan tercukupi pula. BIsa dikatakan menjadi  Imam mesjid , kehidupan keluarganya bisa tercukupi dengan baik, sehingga ia bisa menjalankan tugasnya dengan tenang. Tugas utamanya adalah memimpin sholat 5 kali sehari , memberikan ceramah jumat, tarawih, memberikan nasehat dan jadi tempat bertanya masalah agama  dari jamaah mesjid yg biasa suka bertanya langsung selepas sholat.

Sebenarnya di beberapa mesjid besar di Indonesia pun, ada Imam mesjid yg diangkat oleh Negara dan mendapat gaji dari Negara pula, tapi sebagaimana kita fahami, seringkali gaji tersebut tak cukup, sehingga mereka pun sibuk mencari penghasilan tambahan untuk mencukupi kebutuhan keluarganya, sehingga tak mudah untuk menemui Imam mesjid, biasanya bisa kita temui saat sholat jum’at atau sholat malam hari, semisal magrib, isya & Subuh. Siang hari, saat sholat dzuhur atau ashar, seringkali Imam mesjid tak ada di mesjid.

Disini karena memang tugas utamanya memimpin kegiatan keagamaan di mesjid dan kebutuhan hidupnya tercukupi dengan baik, ia tak perlu sibuk mencari tambahan penghasilan dan bisa fokus dalam kegiatan di mesjid. Dan kalau sampai , sholat di mesjid tersebut tak ada imam nya, ia bisa mendapat penilaian yg jelek, mendapat teguran. Di Indonesia, sering kita temui mesjid tak begitu ramai saat sholat siang , dzuhur dan ashar , antara lain karena Imam tak hadir di mesjid. Karena bisa focus di mesjid, di waktu senggang nya Imam, bisa menambah keilmuan nya, hapalan al qur’an nya, atau melakukan pengajaran al quran.

Persyaratan menjadi Imam mesjid cukup ketat pula, antara lain ; memiliki pengetahuan agama yg dalam, hafal al qur’an 30 juz, hafal hadits nabi dan persyaratan lain nya. Karena persyaratan yg berat tersebut, tak mudah untuk mendapatkan nya, sehingga di sebagian mesjid di Abu Dhabi sini, Imam mesjid berasal dari luar negeri, biasanya dari Negara arab sekitar pula, spt Mesir, Syria, Yaman, Sudan dll, sampai dulu di  Abu dhabi ada juga Imam mesjid yg berasal dari Indonesia. Di mesjid jami dekat rumah, Imam mesjid berasal dari Syria, muazin nya dari Pakistan dan cleaning service nya dari Bangladesh. Hal yg biasa di UAE sini bahwa para pekerja banyak dari luar negeri, karena penduduk asli setempat hanya 20 % dari populasi total Negara.

Mungkin sebagian orang berpikir, Imam mesjid pekerjaan yg ringan saja, hanya memimpin sholat, sehingga tak perlu ada orang khusus yg jadi Imam, itulah yg banyak terjadi di mesjid kecil di negeri kita, dimana tak ada Imam mesjid yg ditunjuk khusus dan hanya itu kerja nya. Kalau muazin dan penjaga mesjid biasanya ada, tapi itupun banyak yg sukarela atau dibayar ala kadar nya. Sehingga kegiatan2 perangkat mesjid tersebut ( Imam, muazin, petugas kebersihan) dianggap sebagai kerja ringan atau sampingan saja , sehingga bayaran nya pun ala kadar nya. Sehingga selain kegiatan mengurus mesjid, mereka sibuk pula mencari tambahan penghasilan, sehingga seringkali kegiatan mesjid terbengkalai.

Begitulah yg banyak terjadi selama ini, dimana orang lebih terfokus dalam pembangunan fisik ( bangunan ) mesjid, namun tak begitu menganggap penting  perangkat mesjid spt Imam, muazin dan petugas kebersihan, kalaupun mendapat gaji/ honor, rendah saja nilai nya, sehingga ia tak bisa focus dalam mengelola kegiatan mesjid, akhirnya akan berdampak pada kualitas kegiatan mesjid.

Hal itu menggambarkan pula, seberapa penting kita menilai ibadah sholat, kalau kita memandangnya sekedar melaksanakan kewajiban, kita lakukan sekedarnya saja, asal kewajiban sudah tertunaikan, siapapun Imam nya tak jadi masalah. Namun  kalau kita memandang ibadah sholat sebagai sebuah kegiatan penting dan utama, kita akan berusaha menyiapkan nya sebaik mungkin mulai dari mesjid yg bagus sampai Imam sholat yg bagus pula. Sebagai bandingan untuk profesi2 lain semisal penyanyi, pembawa acara (mc), dosen, motivator, trainer, tukang masak ( chef), sampai supir dll , dilakukan oleh orang2 yg  professional , khusus melakukan hal tsb, agar hasil performance bagus pula, masa untuk urusan memimpin sholat, kita tak melakukan hal yg sama ( Imam mesjid yg professional )

Kalau dianalogikan naik kendaraan, Imam adalah bagaikan supir kendaraan, kita sebagai penumpang bisa merasakan sendiri betapa nyaman dan aman, kalau kendaraan dikemudikan oleh supir professional yg bagus dan berpengalaman, beda sekali kalau disupiri oleh supir omprengan angkot yg suka bawa mobil ugal2an.  Dari pengalaman saya sendiri sholat 5 di pimpin Imam yg berkualitas tersebut, tinggi pemahaman agamanya, hapal al Qur’an dan khusus kerjanya memang memimpin sholat, terasa sekali betapa kualitas sholat kita pun bagus karena nya, lebih khusyu dalam ibadah. Beda sekali kalau Imam sholat kita orang sembarangan saja.

Seperti pengalaman saya sholat tarawih disini, dimana Imam nya adalah seorang ulama dari Syria yg hapal al qur’an serta bagus dan merdu pula bacaan Al Qur’an nya ( qiroa’ah ), sholat pun menjadi pengalaman batin yg mendalam, sholat yg berkualitas yang kelak akan memberi dampak kebaikan nyata dalam kehidupan sehari. Suasana mesjid pun tenang, karena tempat sholat utama ( laki ) dipisahkan dengan tempat sholat wanita dan anak2. Coba kita bandingkan dengan suasana sholat tarawih di mesjid2 di perumahan kita yg seringkali gaduh dg suara anak yg main2, imam nya cukup bacaan sholatnya tak begitu bagus, selain itu cepat2 lagi bacaan nya. Bagaimana kita bisa mendapatkan kualitas sholat yg bagus dalam kondisi seperti itu ?. tapi karena sudah terbiasa dengan hal tsb, kita anggap biasa saja, padahal sebenarnya kita bisa melakukan perbaikan, sungguh disayangkan ibadah ramadhan kita terlewat dg kualitas yg biasa2 saja.

Di beberapa daerah di Indonesia sebenarnya jaman dahulu, sudah ada tradisi dimana Imam mesjid mendapat kedudukan yg tinggi dan tercukupi pula kehidupan nya, sehingga ia bisa focus dalam kegiatan dakwah dan ibadah. Di beberapa pesantren di daerah jawa barat, semisal Garut dan Tasikmalaya, Kiyai / Ajengan pesantren, adalah juga imam di mesjid pesantren atau mesjid pada suatu perkampungan. Kegiatan sang Kiyai bisa terfokus di pesantren . Ia bisa memimpin sholat berjamaah di mesjid jami/ pesantren 5 kali sehari, sholat jumat , tarawih, ied dll, karena kehidupan keluarga nya telah tercukupi.

Di beberapa tempat, pesantren memiliki tanah wakaf, berupa sawah/kebun/kolam, dimana hasil nya adalah untuk mencukupi biaya hidup keluarga kiyai. Selain itu biasanya suka ada sumbangan wakaf dari para pengusaha yg adalah juga alumni dari pesantren tersebut.  Di beberapa tempat di Sumatera barat, di dekat mesjid biasanya ada sawah/kebun/ tanah ladang yg diwakafkan untuk  Imam dan petugas mesjid, dari sanalah ia mencukupi kebutuhan hidup keluarganya, dan ia bisa focus dalam kegiatan ibadah dan dakwah di mesjid tsb. Kultur seperti itu masih berlangsung di pesantren2 tradisional di berbagai daerah di Indonesia, namun sudah mulai banyak ditinggalkan di kota2 besar.

Dalam jaman modern saat ini, dimana pembagian peran kerja dilakukan secara profesioanl , tiap2 pekerjaan dilakukan secara spesialis oleh orang2 yg memiliki keahlian tersendiri, mulai dari dokter spesialis, mekanik, trainer , seniman sampai tukang masak professional  (chef ) , sudah pada tempatnya pula, mesjid memiliki Imam yg profesional pula dan masjid dikelola dengan manajemen modern. 

Bagi seorang muslim, ibadah adalah kegiatan yg penting dalam hidup ini, maka kita perlu melakukannya dengan baik pula, seperti kegiatan ibadah sholat di mesjid. Mesjid yg dikelola dengan manajemen modern dan ibadah sholat dipimpin oleh Imam yg dalam ilmu agamanya, hafal al Qur’an dan focus pada pekerjaan nya , akan menghasilkan ibadah yg berkualitas pula. Dan kalau kita sadar bahwa kualitas ibadah adalah penting dalam pencapaian kebahagiaan dunia dan akhirat, sudah pada tempatnya kita untuk mementingkan nya dibanding hal2 lain nya.

9 comments on “sajadah panjang, luas terhampar (management mesjid)

  1. Taufik
    26/10/2011

    Assalaamu’alaikum wR wB,

    alhamdulillah mesjid di kompleks kami di Bontang,Kalimantan timur, perlakuannya sudah seperti itu. Imam2 masjid (karena ada 3 masjid maka ada 3 imam) kami sediakan perumahan, gaji tetap dan tunjangan2 layaknya pekerja perusahaan, dan sekolah untuk anak2nya. Rekrutmennya pun sama seperti rekrutmen pekerja perusahaan, ada seleksi, ujian dan interview.

    Karenanya imam2 masjid di sini juga merangkap juga sebagai khotib, guru ngaji anak2 dan orang dewasa, dan bahasa Arab.

    Mudah2an sama pula halnya di perusahaan2 besar lainnya.

    Wassalaam,

    M. R. Taufik
    Badak, Bontang, Kaltim

  2. Darwin Chalidi
    26/10/2011

    Silahkan datang ke Masjid Raya Bintaro Jaya.
    Masjid ini mempunyai 20 orang karyawan tetap 3 orang imam yang semuanya Hafidz, Muazin 1 orang, karyawan staff 4 orang, marbot dan teknisi 6 orang. Semuanya dengan rantang gaji diatas UMR Tangsel, sampai tertinggi sesuai dengan gaji seorang staff S2.

    Punya layanan kesehatan umat (klinik) terdiri sari spesialis, dokter gigi, dan dokter umum.

    Pengajian rutin dari ibu2 majlis taklim 150 orang 2x seminggu, sholat shubhuh dihadiri paling kurang 125 orang setiap hari. kalau sholat siang hari bisa sekitar 200 orang.

    Kiatnya sebuah masjid yang baik adalah dengan niat ibadah dan DKMnya ikhlas berbuat tanpa imbalan dari masjid.

    Seluruh karyawan masjid diikuttan Jamsostek. Alhamdulillah masjid ini menjadi acuan masjid se Jabodetabek dalam manajemen Masjid.

  3. hdmessa
    27/10/2011

    wa alaikum salam,
    menarik sekali sharing ceritanya pak Taufik, pak Darwin,
    alhamdulillah sudah mulai banyak mesjid2 di indonesia yg dikelola dg profesional

    semoga kegiatan mesjidnya tambah maju dan bisa jadi contoh utk mesjid2 lain nya

    salam

  4. Seno
    27/10/2011

    Bismillah.

    Kembali pertanyaannya mendasarnya, Kang Hendra :
    1. Dana dari mana (saya yakin pasti ada donatur).
    2. Siapa yang mengelola dana itu dan harus berintegritas tinggi (ini yang susah, bahkan untuk selevel Masjid besar).
    3. Bagaimana mengelolanya.

    Menurut saya, masalah zaman sekarang ada di nomor 2. Kalau hal ini bisa
    dipecahkan, tentu masjid-masjid kita bisa dikelola dengan lebih baik lagi

    pengalaman saya sekitar 6 tahun beraktivitas di sebuah mesjid besar, kadang ada saja oknum yang mengkorupsi uang yang seharusnya untuk aktivitas masjid … Itu yang saya maksud …

    Kalau negara2 timur tengah spt UAE atau Arab Saudi dengan uang berlimpah ruah, dikorupsi 10% mungkin nggak masalah, kalau Indonesia ? :->

    Wallahu’alam bishshowab.
    Wassalam.

    (Seno Pradono)
    Jakarta

  5. Fajar
    27/10/2011

    kang Seno, menambahkan, mengenai pembiayaan mesjid, donator nya ada kang..

    kalau di Abu Dhabi sini mah yg namanya shodaqoh/infaq dikelola penuh sama oleh lembaga spt MUI disini namanya AWQAF.. jadi kalau kita mau infaq teh kita beli kupon gitu.. ada 5 dirham, ada 10 dirham, dll..

    nah soal integritas.. rasanya negara ini mah sepertinya orangnya jujur2.. pada gak korupsi..

    pengelolaannya sebenarnya mungkin sederhana aja :
    1. bikin anggaran
    2. realisasikan anggaran.

    yg saya perhatikan.. untuk tahun ini.. di abu dhabi.. sepertinya fokus anggaran itu di arahkan ke perbaikan kamar mandi.. (jadi bener2 bersih n enak..) n perbaikan a/c dll,

    di sini mah beda pisan dg arab saudi.. di sini mesjid dari yg paling kecil sampe yg paling gede semuanya :
    1. bangunan nya bagus
    2. ruangan ber-a/c
    3. bersih
    4. kamar mandinya bersih

    gitulah kira2..

    semoga indonesia bisa seperti UAE ini..🙂

    Ahmad Fajar Firdaus
    Abu Dhabi, UAE

  6. Rispiandi
    31/10/2011

    Beberapa masjid di Indonesia yang uang kenclengnya tiap jum’at besar sudah menerapakan sistem gaji kepada pengurus masjid.

    Tetapi kalau masjid yg kenclengnya 200 rb tiap jum’at. hanya cukup untuk membayar transpor khatib, bayar listrik dan PAM. Tidak bisa melakukan sistem penggajian seperti itu.

    Masjid di tempat saya diurus oleh orang-orang yang lillahi Ta’ala tanpa gaji, terdiri dari para pensiunan dan anak-anak muda yang menghabiskan sisa waktunya. wal hasil keadaan masjid apa adanya karena diurus dari sisa waktu.

    Rispiandi,
    Bandung

  7. Hendrawan
    31/10/2011

    Nambahin utk komentar kang Rispiandi,

    Jadi inget pak Zainudin MZ almarhum, dalam salah satu ceramahnya ia pernah berkata ; “Hutan dijaga macan..kalau macan yang jaganya macan ompong yah..hutan nya dijarah orang”…

    ( diskusi yg nga abis abis….)

    Hendrawan
    Bekasi

  8. Joko
    01/02/2012

    Assalamu alaikum Wr. Wb.

    Kalau di salah satu masjid yg cukup besar di Kota saya, pengurus nya seperti kurang menghargai Imam dan Mu’adzin nya….yakni disamakan dengan karyawan biasa….padahal rata2 Imam dan muadzinnya sudah mengabdi lebih dari 10 tahun…

    Awalnya para Imam dan mu’adzinnya, konon yang saya dengar dari keponakanku yg menjadi salah satu imamnya di beri honor tetap/bulan kurang lebih 1 juta ditambah uang permen (uang prestasi) yg dihitung sesuai absen kehadiran, Namun mulai bulan Januari 2012 ini uang honor tetap para imam/muadzin yang sudah berjalan begitu lama dipotong separuhnya dan dijadikan tunjangan dengan dan dibayarkan berdasarkan kehadirannya…dalam 5 waktu…dan setiap waktu dinilai 15.000 sd 30.000…..kalau tidak datang walaupun ijin tetap dihitung tidak masuk…yg sudah barang tentu tdk akan dikasih.
    Aku jadi bingung sendiri setelah diceriterakan keponakan…

    Ada ya…? pengurus Masjid yg tega memperlakukan Imam dan muadzinnya demikian…sementara karyawan lainnya tidak diatur sistem honor seperti para imam dan mu’adzin, padahal sama2 karyawan tetap…..

    Semoga para imam dan muadzin tsb, bisa mendapatkan rizki yg layak

    Wassalam
    Joko

  9. Pingback: sajadah panjang, luas terhampar (management mesjid) | MASJID AR-ROYYAN

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on 02/10/2011 by in horizon - insight.
%d bloggers like this: