Inspiring points

Reflective story from journey of life , Alam terkembang jadi guru

saat merah putih berkibar di kota gurun pasir

Sorot mentari sore hari, menembus diantara barisan gedung2 tinggi pencakar langit, di rumput hijau lapangan bola di tengah kota Dubai ini. Suasananya begitu hiruk pikuk oleh para penonton yg memenuhi pinggir lapangan. Banyak para penonton adalah orang2 indonesia yg bekerja di Dubai, mereka ingin menyaksikan pertandingan final sepakbola futsal outdoor, antar komunitas masyarakat  Negara ASEAN di Dubai. Sore ini berlaga di final tim dari masyarakat Indonesia melawan tim dari masyarakat Singapore di Dubai.

Lapangan bola penuh sesak oleh penonton yg berdiri dipinggir lapangan,  sebelum pertandingan sepakbola antara tim indonesia lawan singapore, lagu kebangsaan masing2 negara pun dikumandangkan. Saat lagu Indonesia raya dikumandangkan, orang2 indonesia yg banyak menonton di pinggir lapangan pun langsung berdiri dan bernyanyi bersama, sambil sebagian mengibarkan bendera merah putih.

“Indonesia tanah airku,  Tanah tumpah darahku,
Disanalah aku berdiri, Jadi pandu ibuku,
Indonesia kebangsaanku,  Bangsa dan tanah airku,
Marilah kita berseru: “Indonesia bersatu!”

sungguh mengharukan sekali suasananya , saat lagu tsb dinyanyikan, baru sadar, sudah lama sekali tak menyanyikan nya, rasanya terakhir waktu kuliah puluhan tahun yg lalu, sebagian ada yg lupa lagi syairnya. saat itu saya yang ikut menonton di pinggir lapangan, tak sempat ikut menyanyikan penuh lagu tersebut, bukan hanya karena sebagian lupa syairnya, tapi karena kerongkongan ini serasa tersumbat, dada bergetar, air mata pun hampir mengalir, tak kuat menahan haru….., subhanallah…

Walau telah lama meninggalkan negeri sendiri, sering sedih mendengar berita2 tentang negeri kita sendiri, dg berbagai permasalahan, ada rasa kekecewaan,  tapi tetap saja kerinduan dan kecintaan terhadap negeri sendiri tak bisa dilupakan.

Sungguh mengesankan suasana saat turnamen bola Asean dubai cup, di lap Al Ahli sport club,  Dubai yg berlangsung tgl 2 desember bertepatan dg hari nasional negara UAE. Turnamen tersebut diselenggarakan oleh komunitas Singapore di Dubai, SMG -Singapore Malay Group, untuk memperingati juga hari nasional UAE. pesertanya dari berbagai komunitas negara2 ASEAN di Dubai ; Malaysia, Singapore, Filipina & Indonesia.Walau bukan pemain bola professional, tapi suasana pertandingan begitu seru. Dan kita bangga, bahwa tim2 dari Indonesia berhasil menjadi juara pada beberapa kategori pada turnamen tsb, mengalahkan peserta dari negara2 lain nya. Tim sriwijaya, jadi juara di kategori utama, dan tim Ruwais muda, menjadi juara di kategori U-16 thn ( remaja di bawah usia 16 thn ), kemenangan tersebut  sungguh membanggakan semua masyarakat Indonesia di Dubai yg banyak hadir pada acara tsb.

Tim Ruwais Muda, adalah anak2 remaja dari kampung Ruwais, dimana anak saya ikut bermain juga. Mereka berhasilkan mengalahkan tim2 negara lain dg score telak. Saya baru tahu belakangan ternyata anak2 remaja Singapore dan Malaysia yg ikut tanding tsb, banyak yg jebolan football academi MU, MC dan Arsenal di Dubai/ Abu Dhabi. Padahal anak2 hanya pemain bakat alam, tak khusus ikut sekolah sepakbola, mungkin hanya anak remaja sy yg di Bandung dulu pernah ikutan sekolah sepakbola persib, terbukti  anak2  jebolan sekolah sepakbola persib, bisa juga mengalahkan jebolan football academi spt MU dan Arsenal tsb.  Alhamdulillah anak2 remaja kita bisa mengalahkan mereka semua  dan menjadi juara pertama.

Pada pertandingan final liga utama (dewasa), antara tim komunitas Indonesia melawan komunitas Singapore, suasana nya heboh sekali, para supporter tim Indonesia yg banyak hadir saat itu, membawa bendera merah putih dan menyanyikan yel2 khas Indonesia, saya lihat sebagian ada yg pakai atribut klub2 sepakbola Indonesia, spt  Arema, Persib dll. pelatih tim kita, terlihat aktif sekali di pinggir lapangan memberi arahan, ternyata pelatihnya adalah mantan pemain liga Indonsia yang saat ini bekerja di Dubai . Pertandingan cukup seru, walau secara ukuran tubuh tim Indonesia lebih kecil ukuran fisiknya dibanding singapore, ternyata mereka sangat lincah dan akhirnya tim kita  bisa memenangkan pertandingan dan menjadi juara. Para pendukung Indonesia pun bersorak sorai, ada juga yang membawa bendera merah putih ke tengah lapangan, seru sekali.

Seru juga menonton pertandingan bola langsung di pinggir lapangan tsb, penonton bebas bersorak, dan kalau ada bola keluar, penonton pun perlu minggir sebentar. Suasana spt itu mengingatkan saya pada masa kecil di Bandung dulu, saat ada pertandingan bola antar kampung ( tarkam ) hanya ini bedanya lebih tertib dan lapangan nya bagus. Saat tarkam dulu, hanya di lapangan tanah, dalam pertandingan final, anak2 kampung kami tanding lawan anak2 kampung lain nya,  pertandingan seru sekali, para orang dewasa pun ikut menonton langsung di pinggir lapangan. Ejek2an antar pendukung dan permainan yg keras, membuat suasana semakin panas. Sekali waktu terjadi ada pemain yg terjatuh, karena kakinya terantuk kaki lawan, ia pun mengaduh dan berguling2. Pertandingan terhenti sejenak, para pemain lain nya datang mengerubuti nya, terjadi keributan antar pemain, pertama hanya adu mulut, lama kelamaan tangan dan kaki pun main, sambil berkelahi beneran.

Suasana pun semakin panas dan kisruh, wasit tak bisa melerai, akhirnya para pendukung di pinggir lapangan pun ikut masuk ke lapangan, terjadilah tawuran massal. Saya, anak kecil yg menonton disana, hanya terpana melihat itu semua. Saya melihat beberapa pendukung ternyata membawa juga senjata tajam yg disembunyikan dibalik tas nya, keributan makin meluas, pendukugn dengan senjata tajam pun maju ke tempat keributan di lapangan, melihatnya, para pemain dan pendukung lain yg hanya berkelahi dg tangan kosong pun jadi ketakutan, melihat ada pendukung membawa senjata tajam, sebagian orang berlarian menghindar ke luar lapangan. Wah keributan besar tambah menjadi2, apalagi ada para pendukung yang bersenjata tajam antar pendukung. Saya dan teman2 anak remaja lain nya, ketakutan melihatnya dan memilih untuk lari menghindar, secepatnya pulang ke rumah. Memori tanding bola antar kampung di masa kecil yg begitu berkesan itu, masih selalu teringat sampai sekarang.

Tapi pertandingan bola antar komunitas pendatang yg saya lihat di Dubai ini , beda sekali suasanya, walau bukan pertandingan pemain bola professional, semuanya berlangsung tertib dan teratur, lapangan dan fasilitasnya bagus dan pertandingan aman2 saja tak ada keributan. Setelah semua pertandingan usai, dilakukan pemberian medali dan piala oleh panitia. Panitia dari komunitas Singapore, mengundang juga para diplomat Negara lain utk memberikan piala. Untuk tim Indonesia, pemberian piala diberikan oleh pak Mansyur Pangeran, Konsulat Jenderal Indonesia di Dubai.

Setelah selesai pemberian hadiah dan piala, Saya dan anak2 langsung pulang ke Ruwais, masih lama perjalanan sekitar 4 jam perjalanan.  Dari kompleks stadium Al Ahli di daerah timur Dubai dekat perbatasan Sarjah, kita langsung pulang melintasi jalan utama Dubai, Syekh Zayed Road , tampak bangunan2 menjulang di pinggir jalan, penuh berhiaskan warna bendera UAE, karena hari ini adalah hari nasional Negara UAE yg ke -40 . Saat melintas jalan utama tersebut, di kejauhan tampak menjulang Burj khalifa, gedung tertinggi di dunia, yg bermandikan cahaya, biasanya saat perayaan national day ini, malam harinya ada pesta kembang api yg dilepaskan dari ketinggian gedung tersebut. Di sepanjang jalan kita melihat, mobil2 dihiasi bendera2 UAE dan juga gambar para tokoh negara nya, klakson mobil pun, riuh rendah saling menyahut, meriah sekali suasananya, menghangatkan suasana malam kota Dubai yg gemerlap dg gedung2 tinggi berbentuk unik yang membuat orang berdecak kagum melihatnya.

Mengalami suasana meriah seperti itu sepanjang perjalanan pulang, pikiran saya kok malah jauh mengawang2 sampai ke negeri nyiur melambai, teringat suasana hari kemerdekaan, 17 agustus di Bandung dulu. Dimana suasananya hampir mirip, bendera merah putih terpampang dimana2. Namun ada suasana khas yg lebih seru lagi di negeri kita, yaitu perlombaan dan pertandingan2 olahraga yang sungguh menarik, spt lomba panjat pinang atau lomba balap karung antar anak2, suasananya jauh lebih heboh lagi, tiap tgl 17 agustus rasanya bagai pesta rakyat saja.

Kalau membandingkan suasana alam nya, alam Indonesia tetap jauh lebih indah dan sejuk daripada alam gurun pasir yg panas ini. Alam gurun pasir yg kaya minyak telah memberi banyak keberkahan pada negara ini yg membangun negerinya jadi negara maju yg modern dg segala fasilitasnya. Kota Dubai yg gemerlap dg bangunan2 tinggi, jalanan lebar, taman yg apik dan berbagai fasilitas umum lainnya yg tertata rapi, kira2 sebanding dg kota Singapore. Musim dingin di bulan desember dimana cuaca sejuk, membuat nyaman sekali berada disini. Mengitari kota Dubai ini, suka sedih kalau membandingkan dengan suasana di kota2 besar negeri kita dimana fasilitas umum masih kurang, jalanan banyak yg rusak , macet dan segudang permasalahan lain nya.

Tapi walau bagaimana pun kecintaan pada negeri sendiri tak bisa dilupakan begitu saja, negeri dimana kita lahir dan dibesarkan, walau bagaimana pun keadaan nya. Lagu Indonesia raya yg dinyanyikan bersama tadi, kibaran bendera merah putih, walau sederhana begitu mengesankan, mengingatkan kerinduan dan kenangan indah tentang negeri nyiur melambai, negeri indah dimana kita semua dilahirkan, dibesarkan.

Mungkin kita banyak mengkritik negeri kita sendiri dg segudang permasalahan nya, bahkan ada yg sampai spt org patah hati segala, tapi walau bagaimana pun juga , dalam alam bawah sadar kita telah tertanam memori sejak masa kecil sampai saat ini, memori ttg Indonesia. Kata pepatah sunda, buruk2 papan jati, hade goreng nu sorangan ( kayu jati walau telah lama/tampak jelek sekalipun tetap kuat, sejelek2nya kalau milik kita sendiri harus kita hargai apa adanya ) , walau telah jauh merantau meninggalkan  negeri sendiri, rasa kerinduan tetap menghambur kuat. Walau sebagian ada yg mengkritik, kecewa, sedih dll, tapi kita tetap mencintainya apa adanya, bagai kata pepatah, “benci tapi rindu”.   Tak salah ada yg berkata, bahwa rasa nasionalisme itu bagai udara, tak terlihat, tapi bisa dirasakan.

Kita semua yg ditakdirkan terlahir sebagai orang Indonesia, berada di negeri indah bernama Indonesia, akan tetap mencintai negerinya sendiri, walau bagaimana pun keadaan nya, karena itulah takdir hidup ini, berusahalah berbuat sebaik mungkin, memberi makna dalam perjalanan hidup yg hanya sekali ini kita lalui.

Jadi teringat pepatah melayu lama ;  sebutir emas, walau terbenam di tanah kotor sekalipun, tetaplah akan berkilau dan berharga.

Demikianlah renungan dalam perjalanan jauh melintas gurun pasir di malam hari, dari Dubai ke Ruwais , 2 December 2011

Note ; Berita mengenai turnamen tsb, sampai pula beritanya ke Indonesia, lihat link berikut ;

http://www.rakyatmerdekaonline.com/read/2011/12/03/47718/Sriwijaya-Sabet-Gelar-The-4th-ASEAN-Cup-Tournoi-2011-

http://www.antaranews.com/berita/287522/tim-indonesia-juara-asean-cup-di-dubai

17 comments on “saat merah putih berkibar di kota gurun pasir

  1. Jufron
    08/12/2011

    Pernah nggak ada yang menyadari bahwa dalam teks lagu Indonesia Raya yang asli, kalimat yang ada adalah “Marilah kita berdo’a, Indonesia berjaya”, bukan “Marilah kita berseru, Indonesia bersatu.” (Lihat “Api Sejarah 1”, Mansur Surya Negara).

    Tepatlah kalau sekarang bangsa ini lebih memilih berseru-seru, berteriak, dll daripada berdo’a dan mendekatkan diri pada Tuhan.

    Salam

    Jufran Helm

    • hdmessa
      08/12/2011

      terima kasih sharing informasinya bang Jufron,

      menarik sekali, kalau memang spt itu syair asli nya ,
      tapi sejak kapan berubah dan mengapa berubah ya ?

      salam

    • Furqon
      11/12/2011

      Kang Jufran, saya komentar sedikit mengenai kalimat “berseru” dengan “berdoa”. Dalam bahasa Arab, kata da`a–akar kata du`a (دعاء) dan da`wah (دعوة)– mempunyai banyak makna, di antaranya ‘memanggil’, ‘menyeru’, ‘berdoa’, dan ‘berdakwah’.Â

      Jadi, tidak salah juga teks lagu Indonesia Raya, karena kalimat “marilah kita menyeru” merupakan indonesianisasi dari kalimat “hayya nad`u”, artinya ‘marilah kita memanggil’, ‘marilah kita menyeru’, ‘marilah kita berdoa’ dan ‘marilah kita berdakwah’.

      Problem kita adalah: Kita berhenti hanya sampai pada nyanyian dan slogan. Keadaan ini mirip doa2 umat kita sehari-hari, yang kebanyakan hanya berhenti pada kebiasaan/latah (ada rasa enggak enak kalo enggak doa), demi kebutuhan seremoni/upacara, atau yang lebih lucunya mirip sebuah mantera yang tidak mereka ketahui makna dan maksudnya.

      Jadi lagu kebangsaan kita sudah cukup buat kita.

      Btw. Seandainya lagu kebangsaan kita berubah tiga kali sehari pun, itupun tidak banyak mengubah keadaan, karena akar determinannya bukan di situ. Bagaimana, Kang Jufran?

      Furqan Al Faruqi
      Jakarta

  2. Estananto
    08/12/2011

    Sebenarnya tidak berubah syairnya, lagu tersebut diciptakan oleh WR Supratman dalam 3 stanza. Hanya stanza pertama yang sekarang dipakai untuk lagu kebangsaan. Dua stanza lain terlupakan.
    Coba kang dilihat di youtube, lagu Indonesia Raya di zaman Jepang ada bait2 seperti itu ( marilah berdo’a )

    sebagai bandingan lagu kebangsaan Jerman (Einigkeit, Rechts, und Freiheit) juga sebenarnya hanya stanza nomor tiga dari Lied der Deutschen karya Joseph Haydn. Stanza pertama (Deutschland ueber Alles) pernah dipakai sampai kalah perang 1945.
    Jadi perkara begituan biasa saja. Tidak ada yang dihilangkan.

    Wassalaam,
    Nano

  3. Saiful
    09/12/2011

    berikut syair lengkap lagu Indonesia raya dalam 3 stanza /bait syair ;

    Stanza 1:

    Indonesia Tanah Airkoe Tanah Toempah Darahkoe
    Disanalah Akoe Berdiri ’Djadi Pandoe Iboekoe
    Indonesia Kebangsaankoe Bangsa Dan Tanah Airkoe
    Marilah Kita Berseroe Indonesia Bersatoe

    Hidoeplah Tanahkoe Hidoeplah Negrikoe
    Bangsakoe Ra’jatkoe Sem’wanja
    Bangoenlah Djiwanja Bangoenlah Badannja
    Oentoek Indonesia Raja

    (Reff: Diulang 2 kali, red)
    Indonesia Raja Merdeka Merdeka Tanahkoe Negrikoe Jang Koetjinta
    Indonesia Raja Merdeka Merdeka Hidoeplah Indonesia Raja

    Stanza 2:

    Indonesia Tanah Jang Moelia Tanah Kita Jang Kaja
    Disanalah Akoe Berdiri Oentoek Slama-Lamanja
    Indonesia Tanah Poesaka P’saka Kita Semoeanja
    Marilah Kita Mendo’a Indonesia Bahagia

    Soeboerlah Tanahnja Soeboerlah Djiwanja
    Bangsanja Ra’jatnja Sem’wanja
    Sadarlah Hatinja Sadarlah Boedinja
    Oentoek Indonesia Raja

    (Reff: Diulang 2 kali, red)
    Indonesia Raja Merdeka Merdeka Tanahkoe Negrikoe Jang Koetjinta
    Indonesia Raja Merdeka Merdeka Hidoeplah Indonesia Raja

    Stanza 3:

    Indonesia Tanah Jang Seotji Tanah Kita Jang Sakti
    Disanalah Akoe Berdiri ’Njaga Iboe Sedjati
    Indonesia Tanah Berseri Tanah Jang Akoe Sajangi
    Marilah Kita Berdjandji Indonesia Abadi

    S’lamatlah Ra’jatnja S’lamatlah Poetranja
    Poelaoenja Laoetnja Sem’wanja
    Madjoelah Negrinja Madjoelah Pandoenja
    Oentoek Indonesia Raja

    (Reff: Diulang 2 kali, red)
    Indonesia Raja Merdeka Merdeka Tanahkoe Negrikoe Jang Koetjinta
    Indonesia Raja Merdeka Merdeka Hidoeplah Indonesia Raja.

  4. Husein
    09/12/2011

    Yang benar: “Marilah Kita Mendo’a Indonesia Bahagia” itu ada di stanza 2,
    sedangkan “Marilah Kita Berseroe Indonesia Bersatoe” itu ada di stanza 1.
    Lengkapnya ada 3 stanza, beberapa tahun terakhir ini yang sering
    dinyanyikan hanya stanza 1.

    Haidarah Hussein

  5. Oyin
    09/12/2011

    mantap bung hendra,
    jadi inget merah putih dan penjabarannya (by “some one)

    MERAH ADALAH NASIONALISME ,
    PUTIH ADALAH RELIGIUS

    Oyin Kasmir
    Bandung

  6. andrey ahmad
    15/09/2012

    assalamualaikum uda hendra, terimakasih telah memposting berita ini, sungguh senang rasanya mengenang hari itu. tahun ini 10 minggu menuju kejuaraan tersebut. kami telah melakukan persiapan di bawah arahan coach Sammy haurissa, mas kunyadi wasimoen,dan bapak sugih.kebetulan hari itu saya di tunjuk sebagai capt. tim senior. di tunggu kehadiran uda beserta masyarakat indonesia di uae semoga kami dapat kembali mempertahankan piala ini. tahun ini banyak anggota tim kita yang pulang ke tanah air karena habis masa kerja kontrak mereka. persaingan semakin berat karena kami dengar tim singapore banyak dari akademi sepakbola al ahli, begitu juga tim lainnya. walau begitu kami akan terus berusaha yang terbaik yang kami bisa berikan…..amin

    andrey ahmad
    dubai

    • hdmessa
      15/09/2012

      wa alaikum salam,

      sama2 mas Andrey, senang bisa silaturahmi dg mas Andrey, yg jadi kapten saat itu,salut dg tim nya semoga bisa mempertahankan juara nanti.

      insya Allah , anak2 remaja kita dari Ruwais di ujung barat UAE, bisa pula mempertahankan piala di kategorei U-16

      salam

  7. Sammy
    04/12/2012

    Bangga dengan bakat2 muda dari alruwais… Terus latihan dan harumkan sepak bola indonesia di UAE…

    • hdmessa
      04/12/2012

      sama2, om Sammy, terima kasih apresiasinya,
      senang sekali suatu waktu kelak, anak2 di kampung Ruwais sini, bisa latihan bareng dg mantan pemain yg hebat spt om Sammy, salam

  8. Fathi Faizmovic
    04/12/2013

    Mengharukan!

    • hdmessa
      06/12/2013

      terima kasih komentar nya,
      kang

      salam

  9. Susilo
    05/12/2013

    Mantab nih mas Hendra!! Terima kasih sharingnya.

    Sukses ya,..
    Habis merayakan national day di Dubai, lanjut ke Doha ya mas,
    national day nya Qatar, 18 december.

    Salam,
    Susilo
    Doha, Qatar

    • hdmessa
      06/12/2013

      terima kasih mas Susilo,

      selamat merayakan juga “17 agustusan” nya, komunitas indonesia di qatar tgl 18 desember nanti,
      semoga sukses juga tim Indonesia di Qatar yg akan bertanding juga di sana

      salam

  10. Utomo
    06/12/2013

    menarik untuk dicermati pada suatu diskusi budaya di acara tvri:

    seorang nara sumber berpendapat bangsa kita secara nature melahirkan banyak
    bibit unggul untuk bidang olah raga. Kita memiliki sederetan olahragawan
    yang berprestasi kelas dunia yang secara kebetulan mereka lahir dari upaya
    sendiri, atau lahir dari klub2 yang ditangani oleh pelatih / pemilik yang
    benar2 mencintai dunia olah raga.

    Kegagalan bangsa kita untuk lebih banyak menghadirkan olahragawan yang
    berprestasi dunia disebabkan ketika memasuki pembinaan lanjut para
    olahragawan mengalami proses pencemaran / terkontaminasi sebagai akibat
    intervensi birokrat. Hal ini menjelaskan kenapa di usia remaja kita bisa
    berprestasi dunia untuk sepak bola, namun kemudian memudar ketika para
    pemain menjadi dewasa.

    Mudah2an ada jalan keluar untuk timnas U-19 untuk mengukir sejarah sepak
    bola dunia.

    Salam,

    Utomo S
    Jakarta

    • hdmessa
      06/12/2013

      terima kasih koment nya pak Utomo,
      betul skali, secara individu, kita memiliki potensi yg hebat,
      tapi saat sampai pada bagaimana mengelola nya, manajemen & kerja kelompok, kita seringkali tak bisa
      melakukan nya dg baik

      semoga kita bisa mengambil pelajaran

      salam

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on 08/12/2011 by in journey inspiration.
%d bloggers like this: