Inspiring points

Reflective story from journey of life , Alam terkembang jadi guru

Membaca dunia, mencerahkan masyarakat

Kisah Gola Gong dalam meningkatkan budaya literasi masyarakat dan komunitas baca rumah dunia

Saat bermain dg teman2 nya seorang anak kecil terjatuh dari pohon yg tinggi, dampaknya sangat parah ia mengalami patah tulang, sampai tangan nya harus diamputasi (dipotong). Orang tua mana yg tak sedih melihat anaknya jadi cacat kehilangan tangan kirinya. Untuk membangkitkan semangatnya, sang ayah pun memberikan buku dan raket badminton pada sang anak, dg harapan ia tak patah semangat dan masih bisa berbuat kebaikan mengisi kehidupan nya yg masih panjang kelak dg satu tangan nya yg masih ada. Kemudian ia menjadi anak yg senang membaca dan bahkan pandai menulis.

Walau hanya dg satu tangan ia masih bisa main badminton, bahkan jadi pemain badminton yg hebat di daerah nya, tak terbayangkan bagaimana ia menjaga kesetimbangan tubuh saat bermain badminton, namun terbukti kemudian saat mudanya ia menjadi juara 2 badminton di daerah Banten, bertanding dg pemain normal, karena prestasinya ia sempat ikut turnamen utk orang cacat (paralympic) dalam level asia pasifik, dan menjadi juara pertama. Ia pernah pula melakukan perjalanan bersepeda sampai ke Thailand. Walau salah satu tangan nya cacat  tapi ia mempunyai tekad dan semangat hidup yg kuat.

Dari buku2 yg diberikan ayahnya ia jadi rajin membaca dan juga pandai menulis. Ia jadi penulis handal yg banyak menulis antara lain di majalah remaja Hai di tahun 80-an dan banyak buku2 cerita dan novel yg telah ia tulis, antara lain novel “Balada si Roy” yg terkenal di tahun 80-an, sehingga ia pun menjadi penulis terkenal. Ia sempat pula bekerja di sebuah televisi swasta.

Di tempat tinggalnya ia pun ingin agar anak2 senang membaca pula, karena itulah di belakang rumahnya ia mendirikan taman bacaan bagi anak2 masyarakat sekitar, itulah yg kemudian menjadi sanggar baca Rumah Dunia, sebuah gerakan pengembangan masyarakat yg fenomenal di Serang, Banten yang meng- inspirasi tumbuhnya ribuan taman bacaan masyarakat di seluruh pelosok Indonesia.

Sebuah cerita perjalanan hidup anak manusia yg mengharukan, yang saya dengar langsung dari orang bersangkutan, yang jauh2 datang bersilaturahmi dari banten ke kampung gurun pasir kami di Abu Dhabi ini. Beliau lah Heri Hendrayana yg lebih dikenal dg nama pena Gola Gong. Saya telah mengenal nama tersebut saat remaja dulu, melalui majalah remaja Hai di tahun 80-an, dan juga berbagai tulisan dan buku karyanya, namun baru saat ini di rantau gurun pasir yg jauh ini, saya bertemu muka dg beliau, Alhamdulillah.

Ngobrol2 dg beliau, saya tanya, apa sebenarnya tujuan beliau banyak membuat taman bacaan yg sepertinya hal sederhana saja. Ia berkata bahwa ia ingin mengembangkan budaya membaca dan menulis pada masyarakat. Saya tanya membaca adalah kemampuan umum yg diajarkan di sekolah, apa perlunya lagi mengajarkan kemampuan membaca dan menulis tsb ?

Ternyata menarik yg dikatakan Gola Gong, bahwa membaca & menulis, kemampuan literasi yg dimaksudkan ialah kemampuan dasar manusia untuk bisa memahami sesuatu dg baik, mengembangkan persepsi tersendiri dari yg ia fahami tersebut, menyampaikan nya (menulis) dan kemudian mewujudkan nya dalam sebuah tindakan nyata. Kira2 mirip dg tahapan era informasi ; Data – Information – knowledge – action, dimana data/informasi baik berupa buku, alam yg ada disekitar kita, atau tingkah laku orang lain, berusaha difahami dg baik. Bila diandaikan makanan, informasi “dikunyah” dg baik, dari sana bisa didapatkan pemahaman (knowledge) dan penghayatan yg kemudian menjadi dasar tindakan (action) seorang manusia.  Jadi budaya membaca / literasi  adalah sebuah proses yg lengkap, tak sekedar membaca menyerap informasi belaka, tapi lebih dalam lagi.

Betapa penting nya membaca, sehingga perintah pertama pada nabi Muhammad yg dinyatakan dalam kitab suci al Qur’an, ialah Iqra artinya “Baca lah”, yg bermakna tak sekedar membaca, tapi lebih pada proses pemahaman dan penghayatan, tentang diri kita sendiri dan alam sekitar dengan segala kehidupan dan prosesnya. Orang Minang menyatakan nya dalam pepatah “ Alam terkembang jadi guru”, betapa alam yg terkembang, segala sesuatu di sekitar kita, tumbuhan, binatang, orang lain, masyarakat, bahkan diri kita sendiri, adalah bagaikan guru yg bisa kita ambil pelajaran dari nya. Dan proses itu semua berjalan timbal balik dan aktif. Manusia lah yg harus aktif mencari pengetahuan/ ilmu untuk memahami nya, bukan sekedar proses pasif, disuapi informasi.

Data BPS (2006) menunjukkan, orang Indonesia yang membaca untuk mendapatkan informasi baru 23,5 persen dari total penduduk. Sedangkan yang menonton televisi sebanyak 85,9 persen dan mendengarkan radio  40,3 persen.  Data itu menunjukkan bahwa masyarakat Indonesia kita lebih suka mendapatkan informasi dari media elektronik, terutama televisi. Masyarakat kita berlaku sebagai “pembaca pasif” yang mendapatkan informasi dengan tenang mengunyah renyah segala persepsi yang dikemukakan di televisi. Sehingga persepsi yang ada dalam masyarakat, selalu berdasarkan persepsi dari televisi. Fenomena itu disebutkan peneliti Ignas Kleden sebagai kelisanan sekunder (secondary orality). Budaya kelisanan sekunder tersebut menggambarkan bahwa kemampuan baca-tulis tidak terlalu dibutuhkan karena sumber informasi lebih bersifat audio-visual. Karena dalam budaya kapitalis, manusia dianggap sebagai factor produksi, menjadi pekerja dan pada sisi lain adalah konsumen penikmat produk dan jasa  belaka. Sungguh sebuah degradasi /penurunan dari hakekat penciptaan manusia menjadi sekedar komoditas ekonomi.

Dengan kemajuan teknologi informasi  & komunikasi saat ini, dimana internet dan alat komunikasi semacam hand phone/smart phone telah menjadi budaya baru, ternyata kemampuan membaca tak meningkat juga. Karena walau informasi bertambah banyak, tapi informasi tak bisa di olah jadi knowledge / pengetahuan yang berharga karena ia tak punya skill mengolah informasi tersebut. Informasi yg terlalu berlimpah seperti informasi dari internet dan social network semacam facebook, malah membuat manusia kewalahan menampungnya.  Kemajuan teknologi yg tak diimbangi dg kemajuan kemampuan membaca perkembangan jaman, tak memberikan dampak besar untuk kemajuan hidupnya dan akhirnya hanya membuat orang2 terjebak jagi konsumen penikmat informasi belaka. Anekdot sederhananya, bagai orang mengeluarkan uang banyak membeli smart phone yg canggih, namun hanya digunakan untuk keperluan2 sepele belaka. Hal tersebut bisa dianalogikan bagai orang yg membeli mobil mewah Ferrari, tapi digunakan untuk mengangkut pasir bangunan dari sungai.

Banyak juga orang yg bisa membaca tapi sebenarnya rabun baca, semisal di suatu tempat ada tulisan dilarang parkir tapi tetap saja memarkir kendaraan nya disana, ada tulisan di larang masuk, tapi tetap saja masuk. Pada bungkus rokok ada tulisan rokok merusak tubuh, menimbulkan penyakit, tapi tetap saja orang2 merokok, tak mempedulikan tulisan peringatan tersebut. Contoh lain ialah saat ada orang lain sedang berbicara, telinganya mendengar, tapi jarinya sibuk mengetik sms di hand phone nya. Dan banyak contoh2 lain nya yg menggambarkan betapa  orang sebenarnya tahu tapi seperti tak tahu, tak mau tahu, hakikatnya ia belum bisa benar benar “membaca”.  Hal itu semua menggambarkan betapa kemampuan membaca dalam makna yg lebih hakiki, bukan sekedar membaca tulisan belaka, adalah sebuah kemampuan dasar manusia yg penting.  Kalau kita belajar dari sejarah, para tokoh besar peradaban dunia, adalah orang yg banyak membaca, mempunyai budaya literasi yg kuat.

Gola Gong menyatakan  bahwa, membaca menjadi kebutuhan kita sebagai bangsa. “Dulu kita punya semboyan merdeka atau mati. Sekarang kita harus memiliki semboyan membaca atau mati. Karena satu-satunya jalan untuk kita bisa bertahan sebagai bangsa bila kita memiliki pengetahuan. Pengetahuan itu diperoleh dengan membaca. Sama dengan para pejuang negeri ini, mereka sangat gemar membaca. Soekarno, Syafrudin Prawiranegara, Mohammad Hatta dan lainnya memiliki budaya literasi yang sangat tinggi,” katanya.

Hakikat membaca seperti yg dimaksud dg perintah membaca dalam al Qur’an tsb, dan juga membaca alam, dalam pepatah alam terkembang jadi guru, adalah jauh lebih bermakna lagi,. Lebih dari sekedar membaca tulisan yg kita fahami selama ini dari sekolah. Bisa memahami makna yg tersurat maupun yg tersirat dari sebuah tulisan. bisa memahami maksud terselubung dari suatu gejala alam atau tingkah laku masyarakat.

Dalam dunia yg penuh kompetisi seperti saat ini, kemampuan membaca sangatlah penting, semisal ; Pemain catur , bisa membaca langkah2 lawan nya, ia bisa membaca dua langkah ke depan. Ahli politik, pandai membaca situaasi negara dan tindakan2 lawan politik nya. Pebisnis atau diplomat ulung, bisa membaca karakter ucapan dan tingkahlaku lawan nya dan berbagai contoh kemampuan membaca lain nya.

Kemampuan2 itu semua, dimulai dari hal kecil, yaitu membaca buku yang kemudian meningkat sampai membaca hal2 yg lebih besar, spt membaca body language  (bahasa tubuh), membaca gelagat masyarakat, membaca gejala alam, membaca rahasia2 alam sampai membaca hakikat penciptaan manusia dan alam ini dimana pada ujungnya kita bisa memahami hakikat kehidupan ini.

Orang yg telah mempunyai kemampuan membaca dengan baik, memiliki kemampuan menyerap makna tersurat dan tersirat, bisa memahami struktur sebuah system dengan baik, akan mempunyai kemampuan berpikir yg terstruktur pula untuk menyampaikan pendapatnya, baik dalam bentuk verbal ataupun tulisan. Kemampuan membaca dan menulis tersebut, menjadi kelengkapan dari kemampuan literasi dari seorang manusia. Masyarakat yg memiliki budaya literasi yg baik, pandai membaca dan menulis, akan menjadi masyarakat yg maju.

Produk tulisan, dalam berbagai bentuknya, mulai dari sekedar sms, status di facebook, email, tulisan di Koran, sampai berbentuk sebuah buku, adalah perwujudan ide dan pikiran manusia yg bisa menjadi pelajaran bagi orang lain. Seperti buku yg akan terus memberi manfaat bagi orang banyak, walau penulis bersangkutan telah meninggal dunia. Penulisan sebuah buku adalah juga sebentuk amal jariyah, kebaikan social yg terus memberi manfaat bagi masyarakat banyak.

Sekolah sebagai lembaga pendidikan juga mengajarkan membaca dan menulis, tapi sayang lebih pada sisi pasif, dimana manusia seolah2 “disuapi” , “di-isi” informasi yg akhirnya bersifat hapalan atau pengetahuan dasar saja, tanpa bisa memahami esensi dari ilmu yg disampaikan. Lebih jauh lagi logika kapitalisme telah menjadikan sekolah, menjadi institusi bisnis, bagai “pabrik pengetahuan” yg menghasilkan para tenaga kerja untuk memutarkan roda2 perangkat  bisnis (pabrik, toko, jasa dll ).

Realita dunia saat ini yang cenderung kapitalis telah membuat masyarakat materialis ( kesenangan materi) dan hedonis ( mencari kenikmatan) , telah membuat kegiatan membaca dan menulis menjadi kegiatan yg tak popular, tak begitu disukai. Mulai dari anak2, orang muda sampai dewasa secara umum lebih terpikat untuk menjadi pembaca pasif, menjadi konsumen informasi dan hiburan, mulai dari koran, televisi sampai internet.

Langkah2 nyata utk meningkatkan budaya literasi, budaya membaca dan menulis pada masyarakat, seperti yg digiatkan oleh Gola Gong dengan komunitas Rumah Dunia nya, adalah sebuah langkah nyata untuk mencerdaskan masyarakat, mengembangkan karakter manusia seutuhnya, menambahkan pengetahuan yg tak didapatkan di bangku sekolah. Komunitas membaca rumah dunia telah menginspirasi tumbuhnya taman bacaan masyarakat di berbagai tempat di negeri ini. Telah melahirkan banyak penulis2 baru yang dengan karya tulisan yg mencerahkan masyarakat, baik pada tulisan2 di Koran, majalah atau buku2 yg diterbitkan. 

Marilah kita dukung langkah nyata pencerdasan bangsa tersebut yg akan memberi kebaikan bagi kita semua dan anak2 cucu kita kelak. Insya Allah semua ini  adalah juga amal jariyah yg kebaikan nya akan terus mengalir sepanjang masa, amien

14 comments on “Membaca dunia, mencerahkan masyarakat

  1. Wahyudin
    28/12/2011

    Tulisan yang mantap Pak Hendra, sayang ada yang terlewat dalam pembahasan.

    Sayang tidak ada data mengenai pertumbuhan blog di Indonesia. Padahal menurut pengamatan saya secara sekilas, kegiatan blogging mulai mendapat tempat di masyarakat. Website macam detik, kompas, dsb menyediakan kanal khusus blog untuk bersaing dengan website khusus blog. Istilahnya, citizen journalism.

    Jadi walaupun kegiatan menulis buku masih kurang, tapi sepertinya kegiatan menulis blog sudah cukup menggembirakan di masyarakat Indonesia. Dan saya setuju dengan pendapat “tidak akan bisa menulis orang yang malas membaca….”

    Wahyudin Palwono,
    Doha, Qatar

    • hdmessa
      29/12/2011

      terima kasih mas Wahyudin, komentar dan masukan nya ,

      saya kira, benar juga, dunia menulis di dunia maya, spt blog , cukup berkembang di negeri kita, namun memang belum ada yg menganalisa nya lebih jauh.

      utk ke depan dg perkembangan teknologi, dunia menulis di internet, spt blog, e-book dll, akan jadi fenomena umum , patut kita persiapkan dari sekarang

      salam

  2. Awaludin
    28/12/2011

    bagus dra,

    memang kita butuh input yang baik sebanyak-banyak nya dalam waktu yang singkat (percepatan), input bisa dari membaca: quran, hadits, buku2 dan lain-lain’ , mendengar : berita radio dll, melihat : tv dan lain-lain,
    lebih baiknya berjamaah sehingga kita bisa cerita, saling memberi input sehingga waktu yang diperlukan lebih sedikit dibanding jika dilakukan seorang diri

    mudah2an kita bisa saling memberi input dari ilmu yang kita dapat, saya berharap di forum ini, tujuan akhir kita bukan cuma di dunia ini saja, tapi insya Allah sampai di akherat kelak kita berjumpa lagi seperti dilukiskan dalam QS An Nisaa’ ayat 69, jangan sampai cuma teman di dunia dan di akhirat tidak jadi teman lagi seperti dilukiskan dalam QS Az Zukhruf ayat 67 ( mudah2an tidak terjadi pada kita semua)

    wassalam,
    Awaludin
    Burkino Faso, West Africa

    • hdmessa
      29/12/2011

      insya Allah, Awal

      itulah berkah nya silaturahmi

      amien

  3. Fajar
    28/12/2011

    denger cerita yg ikutan seminarnya.. katanya beliau bener2 inspiratif.. ‘hanya’ dengan 1 tangan.. tapi beliau punya mimpi menggenggam dunia..

    subhanallah..


    Ahmad Fajar Firdaus
    Abu Dhabi

  4. Seno
    28/12/2011

    Ada analis yang bilang kalau masyarakat kita itu meloncat dari budaya berbicara / tutur ke budaya nonton (TV, bioskop, DVD, dll), meloncati budaya membaca …

    Wallahu’alam bishshowab.
    Wassalam.

    (Seno Pradono)
    Jakarta

    • hdmessa
      29/12/2011

      yah, begitulah realita masyarakat kita mas Seno,
      tapi masih bisa kita mensiasati nya

      salam

  5. Wiska
    28/12/2011

    Wah jaman SMA dulu, Balada si Roy itu bacaan favorit.

    Betul kang jaman sekarang kelihatannya budaya membaca masih belum terasah, yang banyak baru budaya mengeja (membaca tapi belum bisa mentadabburi). Seperti meskipun aturan dan rambu sudah banyak tapi orang bisa belum nangkep juga.

    Wizhka
    Bandung

    • hdmessa
      29/12/2011

      betul Wiska,
      kita harus terus belajar, termasuk belajar “membaca”

      salam

  6. www.keluargapengarang.wordpress.com
    29/12/2011

    Alam takambang jadi guru…
    Insya Allah

    ROAD TO MEKKAH.
    Ketika saya dibawa Akang Bagja dan sahabat lainnya di Ruwais, Abu Dhabi, UEA ke perbatasan Saudi, menggelegaklah kerinduan baitullah. Ada 3 judul buku melintas di benak. Judul pertama “Honeymoon Backpacker” dan kedua “Spiritual Journey” dan “Road to Mekkah”. Ketiga buku itu, alhamdulillah, bergerak sendiri mencari penerbit. Allah akan bekerja secara misterius, tapi masuk akal. Rumah Dunia sekarang relatif mudah saya tangani. Ada relawan dan para supporter yang hebat. Sudah bisa saya lepas. Perjalanan itu dimulai tanggal 18 Maret 2012. Saya dan Tias Tatanka akan memulai langkah awal dari niat yang besar; ke Mekkah! Rutenya Batam (21 – 22 mart) – S’pore (23-24 Mart)- KL (25-28 mart)- Bangkok (28-31 Maret) – Muskat (1 – 4 April) – Dubai (5–10 april) – Abu Dhabi (11-15 April)- Ruwais (16-21 april ) Mekkah dan Medinah (22-30 April)- Qatar (1 – 4 mei). Dan pulang 5 Mei. Doain lancar, diberi kesehatan dan kemudahan.

    Gol a Gong
    keluarga pengarang,
    Serang, Banten

    • hdmessa
      29/12/2011

      subhanallah, niat yg mulia kang Hery,
      alhamdulillah, silaturahmi ke kampung gurun pasir kami membawa berkah.

      dg senang hati, kami akan men support dari sini
      semoga diberi kemudahan niat mulia kang Hery dan keluarga , amien

      salam baktos

  7. nency
    01/05/2015

    sangat setuju dg tulisan diatas. mhn ijin share u perpust rumah pelangi gresik, boleh kah?

    • hdmessa
      02/05/2015

      terima kasih kunjungan nya,

      silahkan dg senang hati ibu Nency

      salam

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on 28/12/2011 by in Essay - concept.
%d bloggers like this: