Inspiring points

Reflective story from journey of life , Alam terkembang jadi guru

Kesadaran moralitas di pusaran kapitalis

Image

Goldman Sachs, adalah salah satu perusahaan keuangan terbesar dunia yg selamat dari krisis finansial 2008. Perusahaan yang berusia lebih 143 tahun. Bekerja disana adalah cita2 banyak org di dunia barat sana. Beberapa waktu yg lalu salah seorang  direktur nya, Greg Smith mengundurkan diri, setelah 12 tahun bekerja di perusahaan tersebut.  Sebenarnya hal yg biasa saja, tapi kemudian menjadi berita heboh dimana saat resign ia menjelaskan alasan ia keluar dengan membuat sebuah tulisan yg dimuat di media massa Amerika , judul tulisan nya, Why I am leave Goldman Sach.

Dalam tulisan tsb, Smith menyampaikan alasan ia mengundurkan diri, karena ia merasa setelah lama kerja disana, ia menyadari   betapa perusahaan tsb,  pada hakekatnya hanya mencari keuntungan semata, bahkan dg cara yg bisa merugikan client / customer nya ( para investor ) , istilah kasarnya ia menganggap perusahaan tempat ia bekerja selama ini sebagai tak bermoral, sebuah alasan resign yg unik, karena  hakikatnya semua org tahu, lembaga bisnis keuangan, spt bank, investment banking , pialang saham, dll. pada dasarnya adalah perusahaan kapitalis murni yg memang tujuan nya mencari untung sebanyak mungkin, standard moral adalah hal yg dianggap sebagai kosmetik perusahaan belaka, semua org tahu hal tsb.

Biasanya org yg sudah punya jabatan tinggi, punya kekayaan banyak , tak peduli bagaimana ia bisa kaya, ia dan keluarganya akan menggunakan kekayaan nya utk menikmati kehidupannya, dan melupakan org lain. Apakah ada org yg dirugikan, org miskin, sengsara, dll, tak mau peduli amat bagi mereka, this is life istilahnya. Jarang sekali ada org yg sdh sukses , jabatan tinggi & kaya, apalagi kerja di salah satu perusahaan kapitalis terbesar dunia, mau jujur mengakui kesalahan moral sistem kapitalis . Rekan  kerja nya ada yg berkomentar sinis, bahwa ia salah masuk tempat kerja, kalau mau bercerita tentang moralitas, harusnya masuk kerja ke yayasan amal, bukan ke perusahaan, karena hakikatnya perusahaan hanya untuk mencari keuntungan belaka.

Dari cerita Greg Smith ini, kita bisa belajar, betapa sebenarnya memang perusahaan kapitalis dan perusahaan2 pada umumnya memang didirikan untuk mencari keuntungan semata, entah dg bagaimana pun caranya, semacam logika politik Machiavelli di dunia kerja. Orang2 yg berada di dalamnya,  para pekerja yg menggerakkan roda2 perusahaan hanyalah baut2 kecil yg harus taat dg aturan perusahaan. Dengan itulah pekerja dibayar, kesadaran moralitas adalah hal lain, yg cukup disimpan di rumah saja, demikian kira2 logikanya.

Dalam pola pikir sekuler, yg mengkotakkan cara berpikir kehidupan, mencari uang, kekuasaan dan proses duniawi lain nya adalah hal yg terpisah dari moralitas, religious dan hal2 keagamaan. Hal itulah yg dianut oleh konsep kapitalis yg menjadi acuan dasar perusahaan2 pada umumnya di dunia ini. Logika sekuler memisahkan realita kehidupan dg nilai moral, telah ditanamkan sejak awal di bangku sekolah, yg dalam logika kapitalis adalah bagai persemaian awal para tenaga kerja yg kelak akan menggerakkan roda2 perusahaan kapitalis.

Saya teringat waktu kuliah dulu (itebe), di kampus suka ada recruitment dari berbagai perusahaan multinational besar Indonesia di bidang, migas, tambang, bank, otomotif dll. Teman2 berebut utk mendaftar ikut test recruitment tsb. Saya sering lewat tempat test tsb, tapi masih belum bisa memahami ngapain yah org2 para berebut kerja disana. Saya tak tertarik sama sekali mendaftarkan diri untuk ikut test recruitment tsb dan lebih memilih aktif di kegiatan social ( LSM ) selepas lulus kuliah.

Pola pikir anak muda yg masih idealis saat itu, sering bertanya2 dalam hati, ngapain yah sekolah tinggi2 dari bangku sd sampai bisa masuk ke sekolah paling top di negeri  ini, akhirnya hanya jadi budak perusahaan kapitalis juga ?,  hanya sekedar jadi sekrup baut belaka ?. padahal orangtu2 kita membiaya sekolah anaknya dari hasil tani, sawah, ladang, dagang negeri tercinta, tapi  ujung2 nya jadi sekrup perusahaan kapitalis juga, yang menyedot habis kekayaan negeri kita ?.   Sempat terpikir juga, anak2 di suruh sekolah untuk cari ilmu atau cari uang ?

Waktu jaman idealis dulu, pendapat2 polos tersebut dianggap naif, dan ditertawakan oleh teman2 kuliah lain nya. Wah Hendra, jangan sok idealis lah, semua orang juga butuh makan, butuh kerjaan, syukur lah dapat kesempatan bagus untuk bisa bekerja di perusahaan dg gaji besar, bayangkan di luar sana banyak org yg tak seberuntung kamu…

Saat ini setelah hampir 20 tahun berlalu dari masa kuliah, ternyata tak salah dugaan saya, teman2 yg dulu mentertawakan saya , mulai menyadari pula, betapa perusahaan2 multinasional kapitalis asing, hanya menyedot kekayaan alam negeri tercinta dg menggunakan anak2 negeri pula yg dijadikan sekrup baut belaka.

Saat usia mulai menempuh setengah jalan kehidupan, usia paruh baya, kita akan mulai mempunyai kesadaran yg lain, sadar ttg kehidupan ini, pikiran tak penuh dg urusan mencari uang dan kepuasan hidup belaka, betapa ada hal lain yg lebih bermakna dalam hidup ini. Moralitas, tujuan hidup  dan hakikat kehidupan telah menjadi sesuatu yg harus direnungi dg baik. Mungkin kesadaran itulah yg  timbul pada diri Greg Smith, yg telah mencapai salah satu posisi puncak pada perusahaan kapitalis dunia, salah satu cita2 anak2 muda di bangku kuliah.

Dalam dunia saat ini yg penuh dg warna materialis, kapitalis, hedonis , betapa karena himpitan uang orang menggadaikan idealism dan moralitas. Agama sebagai acuan hidup ini harus bisa memberikan arahan nya, Kesadaran moral agama harus mulai ditanamkanpada anak2 sejak di rumah, sejak di bangku sekolah. Membangkitkan kesadaran holistic/menyeluruh ttg kehidupan ini, kesadaran bahwa hidup tak melulu mencari materi belaka,  betapa mulia nya kehidupan ini, sebuah kesempatan dari sang Maha Pencipta untuk berbuat yg terbaik.

This life is one & the only one of your opportunity, do the best for your life.

source : The New York Times, Opinion Edition

http://www.nytimes.com/2012/03/14/opinion/why-i-am-leaving-goldman-sachs.html?_r=1

11 comments on “Kesadaran moralitas di pusaran kapitalis

  1. Riza
    19/03/2012

    Jadi inget film Justin Timberlake berjudul In Time,
    Dimana suatu saat nanti manusia hanya menjadi mesin produksi yang sudah ditentukan waktu nilai ekonomisnya (dimana saat itu currency yang berlaku adalah umur manusia), dan pada saat nilai ekonomisnya habis maka selesai juga umur orang tersebut.

    Dan statement seseorang di film tersebut kira-kira begini: Setiap satu orang kaya, maka dibutuhkan beberapa orang yang harus support untuk berproduksi memenuhi kebutuhan si Kaya (jadi baut). Begitu pula apabila si kaya semakin ingin berumur panjang, maka harus ada beberapa orang yang mati pada saat itu, otherwise keseimbangan bumi akan terganggu.

    Itulah konsep kapitalis, dimana 1 orang kaya (pemegang kapital) harus didukung oleh ratusan bahkan ribuan orang yang bekerja, berproduksi untuk memenuhi kebutuhan si kaya, benar-benar konsep master & slave jaman modern. Uang dijadikan alat dan mekanisme untuk melegitimasi posisi si kaya dan posisi supportnya (baut).

    Maka daripada itu adanya konsep sosialis dimana pada intinya kekayaan seseorang dibatasi dan didistibusikan kepada orang banyak sehingga jarak antara master dan slave tidak begitu kentara. Namun tetap konsep sosial tidak menjawab ketidakadilan sistem master & slave.

    Mungkin bila konsep Islam yang menyatakan seluruh orang adalah sama dihadapan Allah, dan yang membedakan hanya pada amal-ibadahnya bisa dianalogikan dalam kehidupan adalah semua orang adalah sama, yang membedakan hanya pada peran dan tanggung jawabnya.

    Regards,
    Riza Wazdi
    Hongkong

  2. Nasir
    19/03/2012

    kang Hendra,

    saya sangat terkesan atas tulisan tulisan nya

    semoga saja kita2 ini mendapatkan rejeki yang berkah …………. memang kita2 sementara ini masih bekerja dengan perusahaan orang lain (para kapitalis)

    moga2 kita suatu saat nanti tdk seperti itu. harta kekayaan kita bisa bermanfaat buat orang lain…………………….

    terimakasih.

    salam,
    Nasir

  3. Deddy
    19/03/2012

    Ass. Wr. Wb.
    Hatur nuhun Kang Hendra,
    saya juga bagian dari sekrup/bautnya perusahaan kapitalis.
    pengen usaha sendiri belum mampu.
    Do’akan saja ya kang…

    Deddy,
    Jakarta

  4. Lubeck
    19/03/2012

    jika memang kapitalis itu suka mencari untung sebanyak-banyaknya dan tidak bermoral spt ditulis dibawah , lalu mengapa kok ada banyak filantropis dunia yg notabene jg kapitalis bilyuner dan rela menyumbangkan hampir sebagian besar kekayaannya utk yayasan sosial spt bill gates, buffet dll.. Apa benar kapitalis tdk punya atau sdh tercabut sense moralitas-nya?

    mungkin spy lebih fair menilai kapitalis, anda perlu membedakan mana kapitalis yg memang di-ganjar kekayaan karena sukses berkompetisi dalam melayani customer sebaik-baiknya dan mana kapitalis yg kaya krn kroni dng penguasa atau mendapat privilege sistem monopoli..

    klo soal Goldman Sach, jika benar sinyalemen Greg Smith itu, maka tinggal tunggu waktu saja Goldman S ditinggal lari customer2xnya. Dan ini tentunya suatu benefit besar buat kompetitornya utk melayani customer lbh baik lagi..

    dan terakhir, sifat greedy itu melekat di-pribadi manusia lho. Jadi baik itu kapitalis ataupun sosialis, komunis, kaum agamais bahkan pancasilais juga memiliki sifat greedy ini. lihat saja sejarah sdh membuktikan hal ini.

    peace,
    lubeck
    Jakarta

  5. Bambang
    19/03/2012

    Saya kebetulan kenal pribadi dengan George Soros, bilyuner yang suka menyumbang kegiatan sosial.
    Dia juga berpandangan ada kesalahan fatal dengan sistem kapitalis saat ini yang dikatakannya telah dikuasai para “free market fundamentalists” .

    Dia pun terlibat upaya membenahi sistem ini tapi sambil berbenah dia ikut “main” untuk menang dan menggunakan kekayaanya untuk upaya pembenahan dan pemberdayaan kalangan tertindas dimana pun di dunia.

    Bambang Harimurty
    Tempo,
    Jakarta

  6. Irwan
    19/03/2012

    Terus terang mengenai Soros saya tidak percaya ketulusannya (cerdik tapi menjebak kalau kita tidak kritis).

    1. Berbeda dengan Gates, Buffet dll yang punya produk konkrit. Bisnis utama Soros kan menggoreng persepsi, memindah wealth kesana-kemari. Secara agregat barang/utility dunia tidak bertambah. Disini saja sudah muncul problem etis.
    2. Billionaire lain mendapat uang dari orang kaya. Kalau kemudian mereka philantopic bolehlah dipersamakan dengan Robin Hood: Rob the rich, give to the poor. Spekulan mata uang bekerja dengan menohok ekonomi keseluruhan. Rob everybody, give (some) to the poor. Bagaimana etikanya nih ?

    Diluar itu, tindakan altruistik para individu tsb adalah prakarsa pribadi. Bukan built-in dalam kapitalisme itu sendiri. Ketika memikirkan keadilan sosial, membuang/memaki kapitalisme sama kelirunya dengan mengandalkan/memuji kapitalisme. Salah alamat.

    Keadilan sosial diwujudkan melalui mekanisme lain. Dan kalau Soros yg bicara: salah orang, karena dia bukan bagian dari mekanisme itu.

    Nah disinilah kita bisa menjadi galau. Cemas apa sebenarnya arti kata “dikuasai”
    itu.

    Salam
    Irwan Tampubolon
    Jakarta

  7. Iman
    19/03/2012

    Kalau mas Soros itu mau jadi robin hood di pasar saham sekunder.
    Mengapa dia tidak HARAM kan saja seluruh perdagangan derivatif yg tujuannya sangat jelas mencari keuntungan sebesar2nya dari memperdagangkan sesuatu yg mgkn ada, mgkn tidak.

    Cukuplah hari ini para pialang berdagang saham primer dan sekunder sj tanpa perlu goreng-gorengan data/financial report palsu hanya utk mengenyangkan para spekulan dan memiskinkan mayoritas masyarakat yg tak pernah tahu apa itu pasar bursa.

    +iman+
    Menata Hati, Mengasah Minda

    Jakarta

  8. Bambang
    19/03/2012

    Seperti saya sampaikan, George Soros sendiri yakin bisnis Wall Street itu tidak benar, tidak bermoral dan harus dibenahi secara drastis. Namun untuk membenahi itu dia merasa perlu sumber daya besar. Karena keahliannya adalah memenangkan permainan di WS, maka ia pun bermain dan keuntungannya ia gunakan
    untuk upayanya membenahi apa yang dianggapnya keliru di WS bahkan di seluruh dunia.

    Betul ia bisa jadi seperti Robin Hood, mengambil dari yang kaya untuk
    membantu yang miskin.
    Tapi bukankah ini lebih mulia dari kebanyakan elite kita
    yang asik mengambil hak si miskin untuk dibagikan pada yang kaya?

    Bambang
    Jakarta

  9. Herawan
    20/03/2012

    Sekedar menambahkan , Michael Moore dalam film dokumenternya , ” Capitalism: a love story”.
    Sangat satir memandang kapitalisme amerika, ” bahwa rakyat amerika diajarkan untuk berhutang”, semua orang bisa kaya!

    Kalau meminjam istilah gordon grecko dalam film wall street : ” Diberkatilah mereka yang kaya dan hinalah yang malas, yang miskin , bukan kah semakin kaya, kita semakin mentasbihkan Tuhan, ” In god we trust” setiap kita melihat lembaran dolar.

    Kapitalis tidak memakmurkan semua rakyat amerika tapi buat segelintir orang ,

    99 persen buat 1 persen !
    Kata michael dengan geram.

    Wass,

    Herawan
    Jakarta

  10. Wiska
    20/03/2012

    Kapitalis adalah pendukung kapitalisme. Adapun kapitalisme dan
    sosialisme dan sistem ekonomi lainnya berputar pada masalah siapa yang
    memiliki modal dan alat produksi. Maka biasanya kapitalisme dikaitkan
    pada kepemilikan modal serta alat produksi oleh perseorangan,
    sedangkan sosialisme dikaitkan dengan kepemilikan modal serta alat
    produksi secara kolektif.

    Maka sekarang kalau ada perusahaan besar yang go publik yang mayoritas
    sahamnya dimiliki publik maka ini praktek kapitalisme atau sosialisme
    ?

    Pun kapitalisme (dengan ciri kepemilikan modal serta alat produksi
    oleh perseorangan) itu banyak macamnya :
    – Pada sistem monarki, modal serta alat produksi dikuasai pribadi raja
    – Pada sistem feodal, modal serta alat produksi dikuasai para
    bangsawan atau tuan tanah secara pribadi
    – Pada sistem korporasi, modal serta alat produksi dikuasai pemilik
    perusahaan-perusaha an
    dsb

    Kapitalisme sering dikaitkan dengan liberalisme atau sistem pasar
    bebas, dimana pengaruh negara diminimalisir. Padahal hakikat
    kapitalisme itu pada kepemilikan modal dan alat produksinya, bukan
    pada pengaruh negara. Kalau misalnya andaikan saja pengaruh negara
    diminimalisir, tapi modal dan alat produksi dikuasai publik secara
    merata melalui koperasi-koperasi (katakanlah budayanya memang begitu),
    maka ya tidak terlalu tepat dikatakan sebagai praktek kapitalisme
    juga.

    Hanya saja ketika pengaruh negara diminimalisir (dalam liberalisme) ,
    lantas orang cenderung bebas berbuat seenaknya. Karena kadung
    kapitalisme diidentikkan dengan liberalisme, maka kapitalisme kena
    getah.

    Amerika dalam jaman Bush itu menganut liberalisme seluas-luasnya,
    meminimalisir kontrol negara. Karena minim kontrol maka banyak yang
    lepas kontrol, akibatnya banyak penipu dan lintah darat berkeliaran.
    Disini kambing hitamnya sebenarnya liberalisme.

    Kalau dalam Islam, dasarnya adalah Tauhid. Jadi modal serta alat
    produksi itu hakikatnya milik Allah semata. Tapi syari’atnya bisa
    dititipkan, tidak masalah mau itu menjadi titipan pribadi perseorangan
    atau kolektif. Jadi dibilang kapitalisme atau sosialisme tidak tepat
    benar. Tapi mau itu titipan pribadi atau kolektif, batasannya ialah
    harus dimanfaatkan di jalan Allah, jadi nggak bisa digunakan seenaknya
    semaunya. Karena manusia itu adalah khalifah Allah sekaligus hamba
    Allah yang memiliki tugas menjalankan amanat Allah yang akan dimintai
    pertanggung jawaban. Itu koridornya, yakni syari’at berlandaskan
    Tauhid bukan asas manfaat dalam kacamata materi duniawi, apalagi untuk
    kesenangan semena-mena belaka.

    = Wizh =

  11. Nova
    17/08/2016

    Mas, terus pekerjaan yang Anda anggap “tidak kapitalis” dan “paling benar” yang mana? Bertani di sawah / ladang milik sendiri atau jadi guru / dosen? Lah, kalo org tidak berbakat dan tidak punya passion di bidang – bidang tersebut bagaimana? Berdagang pun sangat mungkin Anda cap sebagai kapitalis karena tujuan utamanya jelas adalah mencari keuntungan.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on 19/03/2012 by in Essay - concept.
%d bloggers like this: