Inspiring points

Reflective story from journey of life , Alam terkembang jadi guru

senda gurau yang menyengsarakan

smile2Bergaul dg orang berbagai bangsa, dan juga mendengar komentar dari bangsa lain mengenai kebiasaan bangsa kita, membuat kita bisa jadi lebih memahami karakter bangsa sendiri. Dalam komunikasi interpersonal, bangsa kita dikenal ramah, murah senyum, suka bercanda dan senang untuk berkumpul.

Karakter terbiasa bersikap santai dan suka bercanda, mungkin karena efek lingkungan kita berada di alam tropis yg nyaman dan memiliki ikatan sosial yg kuat (terbiasa berkelompok) , sehingga komunikasi dalam kelompok cukup intens. Bercanda, kelakar, adalah bumbu pembicaraan yg renyak. Ada teman dari bangsa lain yg bilang , betapa kalau orang Indonesia, berkumpul ,ngobrol bersama, tampak sangat akrab, banyak tawanya.

Saya pernah pula ikut kumpul2 dg orang2 dari bangsa lain, memang terasa ada yg beda dg gaya kumpul2 mereka, ada juga tawa canda nya, tapi tak berlebihan, bahkan dalam ukuran kita sekedar canda yg kering (garing nggak seru). Pada sebagian bangsa, tertawa terbahak2, bisa dianggap tindakan yg tidak sopan.

Begitu juga kalau berbicara, kebiasaan kita, kalau bicara selalu dibarengi dg senyum atau tawa2 kecil ( tawa cengengesan), walaupun utk pembicaraan yg serius.Dalam budaya kita itu adalah bagian dari kesopanan. Beda dg bangsa lain yg memang kalau dalam pertemuan resmi akan serius dan baru pada acara kumpul2 informal ada canda tawanya pula. Sekali waktu saya pernah dinasihati oleh teman dari bangsa lain, bahwa kalau sedang berbicara formal, boleh saja tersenyum, tapi jangan terlalu banyak sambil tertawa ringan (tawa cengengesan), karena dianggap tak serius, tidak etis oleh bangsa lain.

Sebagai ilustrasi pengalaman saya di tempat kerja, biasa ada pertemuan rutin/rapat. Saat kerja di pabrik ada istilah operation morning meeting ( pertemuan rutin operasi di pagi hari ) . Waktu kerja di sebuah pabrik di Bandung dulu, morning meeting adalah moment yg sangat menyenangkan, karena selalu diisi dg tawa canda, bahkan sambil saling ledek2 an dg bahasa kasar, tapi semua org senang saja karena ditanggapi dg guyon juga. Namun seringkali tak efektif juga karena isi pembicaraan sering melenceng kemana2. Sebagai bandingan saat kerja di timur tengah sini, dimana pekerjanya berasal dari berbagai bangsa, suasana operation morning meeting nya berbeda sekali. Komunikasi berlangsung serius, rapatnya singkat saja, focus, ada juga obrolan ringan dan senyum, tapi singkat saja dan tak sampai berlebih2an.

Contoh perbandingan lain, misalnya dalam acara resmi, semisal ceramah agama di Indonesia dg ceramah agama di negeri timur tengah sini, di Indonesia kita terbiasa dengar ceramah yg dibumbui dg guyon dan canda. Sebagai bandingan di timur tengah sini tak pernah saya alami hal tsb, penceramah serius sepanjang pembicaraan, ada sekali2 penceramahnya senyum juga, tapi tak pernah sengaja bercanda mengundang tawa. Menurut saya bercanda dalam ceramah keagamaan bukan tindakan yg tepat, tidak pada tempatnya.

Bergaul dg orang berbagai bangsa, berbagai karakter, akhirnya saya harus bisa pula menempatkan perilaku pada tempat yg pas pula. Saat berkumpul dg teman2 Indonesia, kita bisa ngobrol bebas bercanda spt biasa, tapi saat bertemu, berbicara dg orang2 dari negara lain, kita harus menyesuaikan sikap juga, kita harus bisa menunjukkan karakter dan perilaku yg baik, karena akan membawa nama bangsa kita sendiri di hadapan orang lain.

Sejak kecil saya tinggal dan besar di bandung, alam priangan yg nyaman dan orang2 nya ramah dan suka bercanda. Saya bisa merasakan sendiri betapa nikmatnya berkumpul sambil bercanda ( heureuy, ngabodor), saat berkumpul dg teman2, tawa canda adalah bumbu pembicaraan yg enak. Kalau ngomong tak ada candanya , dianggap garing (kering) atau bahkan bisa disangka sombong. Sampai saat bekerja, semisal rapat atau pertemuan resmi dg pejabat pemerintah sekalipun canda tawa selalu ada. Dipikir2 memang bahagia sekali orang yg tinggal di tanah priangan yg alamnya indah sejuk, makanan nya enak, orang2 nya pun kasep dan geulis pula..:-))

Dalam obrolan dg teman2 akrab, karena saking akrabnya, seringkali ada tawa canda yang berlebihan, seperti memberikan sebutan yg jelek, berkata2 kasar dll, yang karena pada teman sendiri dianggap biasa saja. Ada juga kebiasaan becanda dengan memulai perbincangan dg kata2 kasar yg dijadikan guyonan, namun lama kelamaan jadi kebiasaan, masuk dalam pikiran bawah sadar.

Waktu kecil saya tinggal di daerah marjinal perkampungan padat kota Bandung, teman2 masa kecil saya adalah anak2 kaum marjinal, sekali2 suka ikut2an juga kalau ada ngumpul2 dg tukang beca, supir, ojek dll. Saya ingat2, ada sebuah kebiasaan yg unik yaitu becanda yg kelebihan, selain mengundang tawa, juga menjelekkan2 orang lain bahkan teman sendiri ( hereuy ngajongklok keun istilah bahasa sunda nya ) . Kalau ada teman nya yg maju, semisal ada tukang ojek yg rajin cari penumpang, sehingga dapat dapat banyak penumpang, malah suka di olok2 oleh teman nya , spt di omongin , “kok rajin amat sih kerja nya” , bagi2 yang lain dong ”. Ini semacam perangkap kemajuan, dimana pada kalangan marjinal tsb, ada orang yg mulai maju, berhasil seperti di olok2, seperti dapat kekangan agar kembali lagi ke kelompok nya yg marjinal. Sehingga kelompok tsb susah maju. Ini adalah sebuah perilaku kelompok yg jelek pada masyarakat marjinal, karena menghambat kemajuan.

Di masyarkat marjinal, bahkan di sekolah sekali pun anak yg pintar, jadi bahan olokan , tersisih dari pergaulan kebanyakan anak murid yg kurang prestasi akademisnya. Saya merasakan sendiri hal tsb dimana kebanyakan teman saya adalah anak2 yg kurang secara akademis dan agak malas juga. Kalau ujian dapat nilai yang bagus, sedangkan sebagian besar teman2 lain nilainya jelek, mereka malah mengolok2, “ngapain pintar2 amat sih”, anak kecil pun seperti saya dimasa itu, merasa disisihkan dari teman2 nya. Sehingga saat itu, agar masih masuk dalam pergaulan , dianggap solider oleh teman, akhirnya saat ujian, jawaban saya salah2kan, sehingga nilai ujian tak tinggi2 amat, karena nilai raport jelek orangtua pun sempat marah. Sampai akhirnya timbul kesadaran (mungkin semacam hidayah), “ngapain yah berbuat spt itu, padahal orang tua, sudah capek2 membiayai saya untuk sekolah”. Akhirnya saya pun merubah diri, tak mempedulikan lagi teman2 yg menghambat kemajuan tsb, lebih mementingkan harapan orang tua. Soal2 ujian2 pun saya jawab dengan sebaik mungkin, sehingga nilai raport pun bagus. Namun teman2 dekat bahkan guru pun jadi heran, kok bisa2 nya ini anak yg dulu rangking di raport nya jelek, tiba2 jadi juara kelas, bahkan dapat nilai terbaik di sekolah tsb ?

Alhamdulilah saya berhasil keluar dari jebakan kekangan masyarakat marjinal tsb. Sehingga dari SD dan SMP yg marjinal, sampai akhirnya saya bisa masuk SMA terbaik di Jawa barat, sampai pula kuliah di perguruan tinggi terbaik di negeri ini. Sehingga sepanjang perjalanan mencari ilmu tsb, saya punya teman mulai dari masyarakat marjinal strata paling bawah, sampai strata masyarakat atas.

Kembali ke pembicaraan mengenai canda tawa, bercanda dg olok2 an jelek, bahkan kata2 kasar, yg awalnya dianggap sebagai keakraban akhirnya jadi kebiasaan jelek yg melekat pada karakter org2 tsb. Karakter tsb biasa saya temui pada masyarakat marjinal kota besar. Begitu pula kebiasaan canda, tawa lama kelamaan jadi kebiasaan yg sebenarnya memberi efek negative juga, karena tanpa disadari membuat kita memandang kehidupan ini dg sudut pandang canda tawa pula, kita susah untuk bisa serius menghadapi hidup ini. Bercanda dengan mengolok2 orang lain karena tampilan fisiknya semisal memberi panggilan khas pada orang lain tapi warna kulitnya atau karena kecacatan fisik nya, adalah tindakan yg tidak etis dan menyakiti hati orang lain. Tanpa kita sadari hal tsb jadi kebiasaan pada pertemanan di masa kecil yang awalnya berniat untuk sekedar bercanda, tapi akhirnya jadi kelewatan.

Berbicara, memanggil teman dg ujaran kata2 kasar yg awalnya sekedar guyonan, akhirnya jadi kebiasaan, dan kata tsb, selalu jadi kosa kata standar kalau ngobrol dg tman2 nya. semisal kata2; a*j*ng, g*bl*g , j*nc*k, dll. Saat remaja dulu, dimana teman2 sy adalah dari kalangan marjinal di perkampungan kota besar, akhirnya jadi kebiasaan untuk ngobrol dg kata2 tsb, bahkan tak afdol, kurang gaul, rasanya kalau ngomong tanpa ada kata2 tsb, jadi kosa kata dasar, dan itu jadi kebiasaan saya juga. Suatu saat di sekolah sedang bermain dengan teman, kata2 kotor tsb tanpa sadar terucapkan, ternyata ada guru yg sedang lewat disana, akhirnya saya pun dipanggil dan langsung dihukum ditempat dg hukuman fisik yg keras, sakit dan juga malu sekali dilihat teman2. Tapi Alhamdulillah setelah itu hilanglah kebiasaan ngomong jelek tsb. Saya sangat berterima kasih sekali pada beliau yg dg disiplin keras mendidik muridnya saat itu.
( Jaman sekarang nampaknya tapi tak bisa lagi guru memberi hukuman keras spt itu pada muridnya , karena bila ada guru yg bertindak spt itu, bisa mendapat pengaduan hukum, padahal sebenarnya ada bagusnya juga, tindakan disiplin keras untuk anak2 murid di sekolah , karena memberikan efek jera yg cepat )

Bercanda memang ada bagusnya juga, karena sesulit apapun permasalahan yg dihadapi dihadapi dg ringan pula (canda), awalnya bagus utk mengurangi stress, tapi karena tak serius, masalah tsb tak bisa diselesaikan dg baik, jadi masalah yg berlarut2, sehingga akhirnya stress berlanjut. Pada posisi spt itu timbullah sifat negative lain nya, mencari alasan spt menyalahkan orang lain, menyalahkan keadaan, dan ujung2 putus asa merasa Tuhan pun membantu dia…

Saya perhatikan di masyarakat terutama anak2 muda, ada kebiasaan jelek yg tak disadari, semisal saat ada teman yg terjatuh di jalan, terpeleset atau kena musibah ringan lain nya, spt jatuh dari sepeda motor, bukan nya dibantuin, tapi malah ditertawakan, di olok2, lebih parah sampai ada yg bilang “ syukurin lu”. Bayangkan bahkan kata syukur yg bermakna positif pun, jadi punya makna negative karenanya, jadi terbalik logika, orang celaka yg harusnya dibantu, malah ditertawakan. Senda gurau sinis yg menjelek2an, merendahkan orang lain, adalah sebuah kebiasaan jelek juga.

Bahkan ada pula bercanda yg tidak pada tempatnya, semisal pada masyarakat terkena musibah, semisal kena musibah banjir, masih ada juga orang yg menjadikan nya sebagai bahan canda, mungkin dia berpikir itu bisa meringankan beban orang yg berduka, tapi tetap saja bukan tindakan yg etis, bahkan bisa menyakiti perasaan orang yg berduka.

Dalam realita kehidupan saat ini kita banyak menghadapi masalah. Saat ada masalah, banyak timbul ide utk menghadapinya disamping menyalahkan pihak lain. Namun kemudian susah utk mewujudkan nya, kemudian seperti sampai ke jalan buntu, sampai akhirnya terlupakan. Nanti baru teringat bila masalah yg sama terulang lagi. Banyak orang akhirnya jadi pesimis dan apatis terhadap berbagai permasalahan tersebut, sehingga daripada mencari solusi perbaikannya, akhirnya malah dijadikan bahan candaan, dalam budaya hal tsb berkembang menjadi komedi satire.

Melihat betapa berbagai permasalahan yg menimpa bangsa kita spt tak henti2 nya, namun juga berulang terjadi, tak ada solusinya, saya berpendapat hal tsb terjadi karena kita tak bisa serius pula menghadapinya. Para pembuat pembuat keputusan berkilah dg berbagai alasan dan menyalahkan hal2 yg lain, pada sisi lain sebagian masyarakat jadi apatis dan tindakan anarkis jadi solusi yg sebenarnya tak menyelesaikan masalah.

Tanpa disadari, kebiasaan bercanda, tidak serius jadi masuk dalam pikiran alam bawah sadar kita, sehingga semua nya dihadapi dg cara spt itu. Sampai hal yg prinsip seperti bagaimana mensikapi hidup ini, kita hadapi secara santai dan spt bercanda saja. Seperti ada ungkapan hidup ini hanya panggung sandiwara yg diwarnai canda tawa dan juga tangis sedih, sehingga kehidupan dilalui apa adanya saja. Padahal manusia diturunkan ke dunia ini oleh Allah dg maksud yg mulia, bukan sekedar bercanda. Sehingga kehidupan pun harus dijalani dengan serius pula. Akan ada konsekwensi yg serius pula setelah kematian kelak ( pahala dan dosa di akhirat ).

Pada sebagian orang bahkan  untuk urusan yg penting, semisal hal keagamaan/ urusan akhirat dihadapi dengan tidak serius pula, sehingga agama pun bisa jadi seperti mainan belaka. Semisal ada orang yang berpenampilan orang yang taat beribadah, tapi pada saat lain berkelakuan tidak baik, ada juga orang yang tampak sering beribadah, beramal, tapi pada sisi lain berbuat dosa dan maksiat pula, kebiasaan jelek nya tak berubah. Memang Allah Maha Pengasih dan Maha Penyayang, tapi kalau orang berbuat dosa, kesalahan, tetap saja akan diberi ganjaran perbuatan dosanya, tak ada main2 dalam pahala dan dosa. Orang sadar dari kesalahan kemudian bertobat berbuat kebaikan, tapi kemudian berbuat dosa lagi, bertobat lagi dan begitu berulang, dengan harapan Allah yg Maha Pemaaf akan mengampuni kesalahan nya, adalah bagai orang bercanda dg kehidupan. Kelak ia baru sadar, saat tak bisa bercanda lagi di neraka.

Untuk hal2 yg memang penting dan prinsip dalam hidup ini, kita harus serius pula menghadapinya, semisal dalam kehidupan beragama, sudah saatnya kita hentikan kebiasaan bercanda berlebihan dalam ceramah keagamaan karena walau menyenangkan pendengar, tapi sebenarnya tidak memberi peningkatan pemahaman keagamaan, sehingga dakwah keagamaan tak ubahnya bagai hiburan belaka. Hal2 yg prinsip seperti bagaimana menjalani hidup ini, menghadapi kematian, hari akhirat, kita harus benar2 serius mempersiapkan nya,

Setiap bangsa memiliki karakternya tersendiri dan bagi kita orang Indonesia, keramahan, senyuman, tawa, canda, adalah bagian dari karakter bangsa kita yg tetap dijaga tak dihilangkan. Hanya perlu hal itu semua disesuaikan di tempat yg tepat pula.

Senyum, tawa, bercanda adalah hal yang baik dan alami pada setiap manusia. Tersenyum, tertawa adalah tanda orang yang senang dan bahagia, bersyukur atas nikmat yg kita peroleh. Senyuman pun akan menyenangkan hati orang lain yang bertemu dg kita. Yang harus dijaga ialah kita harus bisa menempatkan nya dimana kita perlu tertawa dan dimana pula kita perlu serius, jangan campur aduk.

Rasulullah yg mulia pun sekali waktu ada tersenyum pula dan bersenda gurau dengan keluarga nya. Namun pada saat2 yg lain beliau sangat serius menghadapinya.
Ada beberapa hadist nabi yg bisa menjelaskan tawa canda yg baik.

Hadits nabi yg diriwayatkan oleh Aisyah RA. ‘Aku belum pernah melihat Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam tertawa terbahak-bahak hingga kelihatan lidahnya, namun beliau hanya tersenyum”

Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu menceritakan, para sahabat bertanya kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam : “Wahai, Rasulullah! Apakah engkau juga bersenda gurau bersama kami?”
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab: Betul, hanya saja aku selalu berkata benar.

Ada kalanya kita mengalami kelesuan dan ketegangan setelah menjalani kesibukan. Atau muncul rasa jenuh dengan berbagai rutinitas dan kesibukan sehari-hari. Dalam kondisi seperti ini, kita membutuhkan penyegaran dan bercanda. Kadang kala kita bercanda dengan keluarga atau dengan sahabat. Hal ini merupakan sesuatu yang sangat manusiawi dan dibolehkan. Begitu pula Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam juga melakukannya. Jika kita ingin melakukannya, maka harus memperhatikan beberapa hal yang penting dalam bercanda, sbb ;

1. Meluruskan Tujuan.
Yaitu bercanda untuk menghilangkan kepenatan, rasa bosan dan lesu, serta menyegarkan suasana dengan canda yang dibolehkan. Sehingga kita bisa memperoleh gairah baru dalam melakukan hal-hal yang bermanfaat.

2. Jangan Melewati Batas.
Sebagian orang sering kebablasan dalam bercanda hingga melanggar norma-norma. Dia mempunyai maksud buruk dalam bercanda, sehingga bisa menjatuhkan wibawa dan martabatnya di hadapan manusia. Orang-orang akan memandangnya rendah, karena ia telah menjatuhkan martabatnya sendiri dan tidak menjaga wibawanya. Terlalu banyak bercanda akan menjatuhkan wibawa seseorang.

3. Jangan Bercanda Dengan Orang Yang Tidak Suka Bercanda.
Terkadang ada orang yang bercanda dengan seseorang yang tidak suka bercanda, atau tidak suka dengan canda orang tersebut. Hal itu akan menimbulkan akibat buruk. Oleh karena itu, lihatlah dengan siapa kita hendak bercanda.

4. Jangan Bercanda Dalam Perkara-Perkara Yang Serius.
Ada beberapa kondisi yang tidak sepatutnya bagi kita untuk bercanda. Misalnya dalam majelis penguasa, majelis ilmu, majelis hakim, ketika memberikan persaksian, dan lain sebagainya.

5. Hindari Bercanda Dengan Aksi Dan Kata-Kata Yang Buruk.

6. Hindari bercanda atau bersenda gurau dalam perkara yang tidak baik, seperti ;
– Bercanda untuk menakut-nakuti orang lain
– Berdusta saat bercanda.
– Melecehkan tampilan fisik seseorang
– Melecehkan sekelompok orang tertentu.
– Canda yang berisi tuduhan dan fitnah terhadap orang lain.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on 31/01/2013 by in Essay - concept.
%d bloggers like this: