Inspiring points

Reflective story from journey of life , Alam terkembang jadi guru

Rencana hidup setengah jalan

Oman_Musandam_drive_travel_review_Janine_Strong_2

Anak kecil, biasanya suka mendapat pertanyaan umum seperti ini ; “dek, nanti kalau sudah besar mau jadi apa ?,. Apa yg dilihat dan dirasakan sekitarnya, semisal profesi kerja ayahnya, ataupun profesi2 lain yg menarik baginya, akan jadi bayangan yg menarik bagi anak2. Ada yg ingin jadi dokter, insinyur, seniman, tentara dll. Sebuah pertanyaan sederhana yg seperti basa basi saja, tapi akan kuat dalam ingatan anak, mau jadi apa ia kelak dan secara tidak langsung akan menjadi arahan cita2 hidupnya kelak.

Saat manusia menapaki usia pertengahan jalan kehidupan, sekitar usia 40-an, sebagian besar telah mencapai kemapanan hidupnya, dalam arti bisa memenuhi kebutuhan hidup diri dan keluarganya. Namun ada pula sebagian orang yg masih mengalami perjuangan hidup yang berat, susah untuk bisa memenuhi kebutuhan hidupnya, bahkan ada sebagian yg penuh penderitaan hidupnya dalam usia tersebut.

Pada usia2 dewasa tersebut, profesi, pekerjaan  yang dijalaninya , tak selalu sama dengan apa yg dibayangkan di masa kecil dulu, tapi setidaknya ia telah bisa menghidupi diri dan keluarganya. Perjalanan hidup manusia, sejak menjalani  masa kanak2, sekolah, berkeluarga sampai masa bekerja, adalah perjalanan berliku yang seringkali tak terduga, berbeda dengan apa yg telah direncanakan sebelumnya.

Di masa kecil saya berada di lingkungan masyarakat yang marjinal, teman2 main saya adalah anak2 kalangan bawah, anak tukang becak, supir, pegawai rendahan, pedagang kaki lima sampai anak preman pasar dll. Pada masyarakat marjinal spt itu, cita2 hidupnya adalah bisa hidup menyenangkan seperti  kehidupan  orang2 kaya yg biasa mereka lihat di kompleks perumahan mewah atau kesenangan dan kemewahan hidup orang kaya, selebritis yang biasa mereka lihat di TV. Masih teringat si Adun, teman saya anak tukang becak, cita2 nya adalah jadi supir bis kota, yang menurutnya lebih hebat daripada bapaknya yg hanya tukang becak, sebuah pola pikir yang  sederhana.

Itulah cita2 terpendam yg  terbawa saat bersekolah. Orangtua berharap anaknya bisa sekolah sampai sekolah yang tinggi, bisa dapat kerja yang memberikan gaji besar, sehingga nanti bisa jadi orang kaya. Itulah typical cita2 orang miskin atau masyarakat marjinal secara umum. Alhamdulillah saya sempat pula sampai ke salah satu perguruan tinggi terbaik di negeri ini, ternyata  sebagian besar mahasiswa pun cita2 nya tak jauh dari masyarakat marjinal tsb, seperti dinyatakan dalam cita2 simbolik ; nanti setelah lulus kuliah, bisa kerja dengan gaji besar, punya rumah mewah, mobil mewah , istri cantik , typical impian hedonis miskin. Jadi menurut saya  sebagian besar orang mulai dari anak2 dari keluarga miskin sampai anak2 orang kaya di perguruan tinggi terbaik sekalipun, masih terkungkung dalam pola pikir duniawi, jadi orang kaya yang adalah tipikal pola berpikir orang miskin, bermental miskin , “poor people mind”.

Setelah tinggal di negeri kaya minyak Abu Dhabi ini saya banyak bertemu dengan orang berbagai bangsa, dari sana saya bisa merasakan pola pikir yg berbeda dalam memandang hidup ini. Pola pikir kehidupan kita, ternyata hampir sama dengan pola pikir orang2 dari negara berkembang lain nya, seperti Philipine, India, Bangladesh, Nigeria dll.  Secara umum orang2 dari negara berkembang/miskin bercita2 ingin hidup seperti orang2 di negeri maju/kaya. Sedangkan orang2 dari negara2 maju, seperti negara2 Eropa, mereka memiliki cita2 hidup yg selangkah lebih maju lagi, karena pencapaikan kebutuhan hidup cukup bagi mereka tak sulit, sehingga mereka memimpikan cita2 kehidupan yang lebih tinggi lagi. Semisal si Hans, teman saya orang Swedia, cita2nya adalah ingin bepergian keliling dunia.

Seperti cerita saya sebelumnya betapa anak2 dari keluarga miskin, bercita2 ingin hidup seperti anak2 orang kaya, begitu lah pula orang2 dari negeri berkembang/miskin, bercita2 ingin meraih kehidupan seperti orang2 di negeri kaya, hal yg wajar saja. Pada sisi lain, orang2 dari  negeri kaya yg kehidupan nya telah makmur, bisa berpikir selangkah lebih maju, karena pencapaian hidup cukup baginya mudah saja, maka mereka akan membuat perencanaan yg lebih tinggi lagi, bagai berjalan lebih satu langkah.

Tampak seperti hal sederhana saja melihat perbandingan bagaimana orang2 memandang rencana hidupnya, tapi dari sana saya melihat betapa hal tersebut telah menjadi sebuah cara pandang yang menentukan arah kehidupan seorang manusia.

Saat usia 40-an, dimana sebagian orang telah mencapai kecukupan hidup, apa yg dicita2kan waktu kecil telah tercapai, terus mau ngapain lagi hidup ini ?, apa lagi rencana hidup selanjutnya. Bila ditanya apa rencananya di masa tua kelak, sebagian orang dewasa akan enggan untuk memikirkan nya, karena kalau bisa ingin muda selalu.

Saya perhatikan sebagian besar orang2 yg telah mencapai kehidupan yang mapan, akan cenderung untuk ingin menikmati hidup ini. “Just enjoying your life”, kata Benoni teman saya orang Italy, yang cita2 setelah bekerja, ialah berlibur keliling dunia. Tiap tahun ia telah membuat jadwal ke negeri mana saja ia akan pergi. Menarik juga, saat liburan musim panas, si Vijay teman saya  dari India, berencana ingin jalan2 ke Eropa, tapi si Gary teman saya orang Inggris, rencana liburan nya malah ingin pergi ke Kenya, Afrika.

Pola hidup, bekerja mencari uang kemudian dihambur2 kan untuk menikmati hidup, jalan2 keliling dunia, begitulah yg terus berputar tiap tahun, sampai masa tuanya kelak. Bahkan ada yang menulis buku “100 things you must done before die”, seratus hal yang harus anda lakukan sebelum mati. Secara umum itu adalah pola hidup yang hedonis ( mencari kesenangan hidup).

 Orang miskin ingin hidup seperti orang kaya, Orang kaya ingin menikmati hidup ini sepuasnya ( pola pikir hedonis), saya jadi merenung, sebenarnya apa yg dicari dalam hidup ini ?

Saya jadi teringat dengan nasihat guru ngaji  saat masa kecil di Bandung dulu, yang memberi nasihat dlm bahasa sunda, “cik jang, hirup te h ulah ngeun “hardolin” ( dahar- modol- ulin) wungkul teu beda jeung ucing “ Artinya dalam bahasa Indonesia, kira2 wahai anak2 janganlah kamu hidup hanya sekedar main, makan, buang air saja, tak beda jauh dengan binatang seperti kucing. Manusia makhluk yg mulia, lebih mulia dari binatang, hidupnya harus lebih bermakna daripada sekedar cari makan saja.

Menjalani hidup untuk sekedar mencari makan (bisa hidup layak), adalah bagaikan membuat rencana hidup setengah jalan, karena hidup layak yg dicita2kan , biasanya akan teraih pada usia dewasa sekitar usia 40 atau 50-an. Setelah itu semua tercapai, serasa tak ada lagi cita2 dalam hidup ini, sehingga biasanya orang hanya tinggal ingin menikmati hidup ini, menghabiskan sisa usia hidupnya.

Dalam pola pikir kamus manusia yg sekuler, memang sesederhana itu saja hidup ini. Manusia yang atheis, tak percaya Tuhan, lebih sederhana lagi, karena tak percaya pada kematian dan tak ada pengadilan Tuhan yang akan mengadili perbuatan baik dan buruk manusia. Sehingga tujuan hidupnya hanya mencari kenikmatan semata ( hedonis) tak peduli bagaimana caranya, halal haram disikat saja, merugikan atau merusak orang lain tak dipedulikan.

Socrates, ahli filsafat Yunani kuno, berkata “The unexamined life is not worth living”, hidup yang tak di perjuang kan (direncanakan), bukanlah hidup yg bermakna. Manusia diciptakan Allah, hadir menjalani hidup di dunia ini pastilah dengan tujuan yg mulia, hidup ini harus bermakna. Bagaimana menjalani nya, manusia diberi anugerah yg lebih dari makhluk lain nya yaitu akal pikiran, dengan akal itulah manusia berpikir, merencanakan hidupnya.

Pesan kehidupan dari Tuhan yg diturunkan lewat para nabi, Agama, adalah tuntunan hidup, bagaimana menjalani hidup ini dengan bermakna, karena kehidupan pun tak hanya di dunia ini, tapi ada kehidupan lain setelah mati di akhirat kelak. Dengan akal pikiran dan tuntunan agama itulah kita membuat rencana hidup ini, rencana bagaimana bisa hidup layak, untuk diri dan keluarga dan juga rencana selanjutnya, apa lagi yg perlu di lakukan dalam kehidupan ini. Sebagai orang beragama kita pun yakin ada kehidupan setelah mati kelak, kehidupan di akhirat, kita harus membuat rencana pula, untuk kehidupan di akhirat kelak. Meraih kebahagiaan hidup di dunia dan akhirat adalah tujuan utamanya.

Setiap individu mempunyai peran tersendiri dalam kehidupan yg dijalaninya. Nabi Muhammad berkata, “Manusia terbaik, ialah manusia yang banyak memberi manfaat bagi orang lain” (Al Hadits). Jadi selain dalam tujuan pencapaian individu dan keluarganya, manusia memiliki pula peran sosial, memberi kebaikan bagi masyarakatnya. Memberi manfaat bagi orang lain, tak sekedar untuk diri sendiri, adalah salah satu rencana kehidupan pula. Dalam masyarakat barat yg memiliki kaidah hidup yang sekuler dan individualis, hal tersebut tidak jadi tujuan utama, walau banyak juga orang memiliki niat mulia berbuat kebaikan untuk orang banyak, dikenal dengan istilah Philantrophis, orang dermawan.

Tujuan hidup hanya untuk mencari penghidupan (mencari “makan”) dan kemudian sisa hidup digunakan untuk sekedar menikmati kehidupan dan hanya memikirkan diri sendiri ( individualis), tak peduli pada orang lain, adalah bagai orang yang membuat perencanaan hidup setengah jalan saja, karena setengah jalan lagi tak direncanakan, tapi hanya dilalui apa ada nya.

Dengan kesadaran, bawah manusia ditakdirkan hidup di dunia ini dengan tujuan yg mulia, masing2 orang memiliki peran sosial dalam hidupnya. Untuk menggapai hidup yg penuh makna, kita harus membuat perencanaan hidup sepenuh jalan kehidupan, untuk menempuh jalan kehidupan di dunia ini sampai masa tua kelak dan berlanjut dengan kehidupan akhirat, setelah melewati gerbang kematian.

Dan untuk itu kita harus membuat perencanaan hidup yang penuh pula, sampai tujuan akhir, bukan yang setengah jalan.

وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنْسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ

“Tidaklah Aku menciptakan jin dan manusia melainkan agar mereka beribadah kepada-Ku.” (QS. Adz-Dzariyaat [51]: 56)

أَفَحَسِبْتُمْ أَنَّمَا خَلَقْنَاكُمْ عَبَثًا وَأَنَّكُمْ إِلَيْنَا لَا تُرْجَعُونَ

“Maka apakah kamu mengira, bahwa sesungguhnya Kami menciptakan kamu secara main-main (saja), dan bahwa kamu tidak akan dikembalikan kepada Kami?” (QS. Al Mukminun [23]: 115)

“Dan tiadalah kehidupan dunia ini melainkan senda gurau dan main-main belaka. Dan sesungguhnya akhirat itulah yang sebenarnya kehidupan, kalau mereka mengetahui.” (QS. Al-Ankabut ayat 64)

7 comments on “Rencana hidup setengah jalan

  1. Pidekso
    10/01/2014

    Benar sekali, kang Hendra…..
    dan kalau tak salah -menurut guru ngaji saya- orang yang kaya adalah orang yang paling banyak berbagi

    Pidekso
    Bandung

  2. Dadan
    10/01/2014

    Janten emut Cibangkong, Bandung, Ndra

    Pesantren Darul Hidayah ,Ajengan Memed

    Mudah2-an almarhum dipasihan tempat terbaik disisi-Nya.

    Hatur nuhun
    Dadan,
    Bogor

  3. Sukandar
    10/01/2014

    terima kasih kang
    malah ada yg lebih parah, sudah hardolin , darmaji lagi
    dahar lima mayar hiji , saat di warung yang di makan lima, tapi saat bayar,hanya satu saja )

    leres kang Hendra,
    malah aya nu parah deui, tos hardolin, darmaji deui,,he..he.he he

    Sukandar
    Pangalengan

  4. Wahyudi
    10/01/2014

    Mungkin menarik kalau dimasukkan faktor berikut ini sebagai bahan perenungan Kang Hendra:

    jaman masyarakat agraris, belum ada orang punya mind-set pensiun
    namun ketika jaman industri, banyak orang jadi pegawai, mulailah orang mempunyai mind-set pensiun
    bekerja keras ketika masih kuat, untuk akhirnya pensiun menikmati hidup
    mungkin itulah awalnya orang punya mind-set hedonis
    bersenang-senang di masa tua
    lalu muncullah buku-buku di tahun 90-an
    menawarkan mind-set yang lebih hedonis lagi…. pensiun dini !
    banyak yang bercita-cita untuk berhenti bekerja di usia 40-an dan berharap bisa bersenang-senang lebih awal
    tentunya ada syaratnya, harus sudah kaya raya sehingga uangnya bisa dipakai untuk bersenang-senang sampai akhir hayat

    kalau kita setback ke jaman Nabi
    tidak pernah ada Nabi yang mempunyai usia pensiun
    semuanya “bekerja” sampai akhir hayat
    tidak ada konsep week-end, holiday, etc

    agak bergeser sedikit
    saya ambil contoh Nabi Muhammad SAW
    dari kecil tinggal di Mekah, tanah kelahiran, tanah tumpah darah
    sesekali pernah pergi bisnis ke luar negeri tetapi kembali ke tanah kelahiran
    tahu-tahu di usia 53 tahun malah hijrah ke Madinah
    bayangkan hal tsb terjadi pada kita, dari kecil tinggal di satu tempat,
    apa yang kita pikirkan di usia 53?

    paling-paling kita berpikir, di mana akan menghabiskan sisa usia setelah pensiun.
    mungkin malah sudah membeli tanah kuburan dan berwasiat minta dimakamkan di lokasi tertentu.

    usia 53 . usia yang dianggap “hampir habis” di masyarakat industri
    kira-kira, apakah kita akan mengambil keputusan besar untuk hidup kita di usia 50-an nanti?

    jangan-jangan karena kita sendiri yang berpikir, bahwa di satu titik usia, kita tidak akan bermanfaat lagi…
    makanya kita memilih untuk “yang enak-enak” saja….

    Wahyudi Palwono
    Doha, Qatar

  5. Mukhlis
    10/01/2014

    Setuju hendra….
    membuat hidup bermakna bagi diri dan keluarga mungkin sudah dicapai setidaknya pada saat kemapanan fisik dan finansial tercapai….
    membuat hidup bermakna bagi orang lain dan alam semesta mungkin harus menjadi next destination…
    jadi kalau orang bilang ” enjoy your life” kita mungkin hrs bertanya ke diri
    “make your life worthy and meaningful”…

    Mukhlis Hasbi
    Jakarta

  6. tasya
    14/01/2014

    Makasih Hendra, atas taushiyahnya…

    Saya baca ketika akan memulai bekerja pagi hari ini.., ternyata begitu banyak sisi lain kehidupan yang selama ini (mungkin) luput dari amatan saya, karena kesibukan dengan dinamika hidup.
    Hidup memang tidak dapat diprediksi, semua mengalir kadang tanpa dapat dikendalikan oleh pikiran, perasaan apalagi tindakan.
    Kadang, apa yang kita upayakan total dalam kehidupan ini, beresultat sama sekali berbeda dengan apa yang kita peroleh…
    Persoalannya kemudian adalah, apakah kita mampu mensyukuri atau bersabar dengan apa yang kita peroleh, whatever…

    Kita memang bukan Nabi atau para sahabat atau sahabiyah, tapi pola tersebut memang seharusnya menjadi model, itulah yang sangat sulit untuk dijalankan, karena terlalu banyaknya variabel dalam hidup ini (mungkin sekedar apologize…)

    Whatever Ndra..siapapun, apapun, bagaimanapun dan dimanapun kita dengan realita kita masing – masing saling support dalam menjalani hidup ini menjadi sangat bermakna (QS Al Ashr), menjadi sesuatu yang buat saya sangat berharga, di tengah perjalanan setengah lebih kehidupan ini….

    Makasih Hendra, salam buat keluarga, happy forever for u, family and all…
    Makasih Ya Allah buat pemaknaan pagi hari ini…

    Best Regards
    Tasya
    Bandung

    • hdmessa
      15/01/2014

      sama2,
      terima kasih komentar & sharing nya Tasya,

      Apapun jalan hidup yg kita jalani, selama masih dalam lindungan dan petunjuk Allah swt, insya Allah dalam kebenaran,

      manusia hanya berencana, Allah lah yg menentukan nya

      salam utk keluarga

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on 10/01/2014 by in Contemplation.
%d bloggers like this: