Inspiring points

Reflective story from journey of life , Alam terkembang jadi guru

Angsa hitam & kapal nabi Nuh

Black-Swans0511blog

Dalam kehidupan ini seringkali ada hal yang tak terduga terjadi tiba tiba dan menimbulkan dampak yang sangat besar, semisal kejadian bencana alam atau krisis kehidupan lain nya. Nassim Taleb seorang ahli keuangan, yang mencoba memahami fenomena tersebut dengan mengembangkan sebuah teori yg dikenal dengan istilah Black Swan Theory.

Mengapa disebut teori Black swan ( Angsa hitam),ialah karena selama ini orang berpendapat bahwa semua angsa berwarna putih dan baru kemudian ditemukan ternyata ada juga angsa yg berwarna hitam, sebuah kemusykilan yg jadi kenyataan.

Teori Angsa Hitam ini jadi salah satu dasar kajian baru dalam ilmu dalam manajemen resiko, berbagai metode dan teori baru dikembangkan untuk menghadapi kondisi tak terduga seperti itu. Ada sebuah ide menarik, bahwa untuk menghadapi hal yang terduga, tak bisa dihadapi dengan cara yang normal, tapi harus dihadapi dengan cara tak terduga pula.

Dari sejarah peradaban manusia, kita bisa belajar dari pengalaman nabi Nuh yang terkenal  dengan kisah beliau yang membuat kapal besar di atas bukit dan mengumpulkan manusia & binatang. Sebuah tindakan tak terduga yang dianggap tak masuk akal.

Tapi ternyata tindakan tersebut terbukti efektif sekali, saat banjir besar, kejadian yang tak pernah diduga2 sebelumnya terjadi, kapal tersebut menjadi penyelamat kehidupan.

Nabi Nuh melakukan itu semua adalah berdasarkan petunjuk dari Allah, Tuhan Yang Maha Tahu akan segala hal, termasuk hal yang terduga sekalipun.

Manusia terbatas pengetahuan nya, untuk hal2 yg normal terjadi, kita punya pengetahuan dan pengalaman menghadapinya, tapi manusia belum tentu bisa untuk menghadapi berbagai hal yang terduga dalam perjalanan kehidupan ini.

Mohonlah selalu petunjuk pada  Allah, swt,  yang Maha Tahu segala sesuatu, wallahu a’lam, Allah lebih tahu segala sesuatu, subhanallah Maha Suci Allah.

10 comments on “Angsa hitam & kapal nabi Nuh

  1. Evy
    27/01/2014

    Waah bagus artikelnya. Tentang Manajemen dan spiritual.

    Ini adalah wujud keseimbangan otak kiri dan kanan, bung Hendra.

    Merenung tidak sama dengan melamun. Melamun adalah pikiran hampa.
    Sebuah renungan berbuah inspirasi dan berakhir jadi hikmah.

    Mungkin begitu ya

    Salam

    Evy
    Jakarta

  2. Ibnu
    27/01/2014

    kang Hendra, saya sudah sempat kirim tulisan dg ide yg hampir sama tahun lalu bahwa kepemimpinan saat ini adalah kepemimpinan yang memiliki leadership dan mitigasi seperti halnya nabi Nuh.

    tapi nggak dimuat oleh koran nya hehehe…

    Salam.
    Ibnu Utama
    Jakarta

  3. Oyin
    28/01/2014

    just share: teori angsa hitam menjadi input pada teori “kebetulan
    kebetulan yg bukan kebetulan” dan hal ini sdh pernah ada di cerita
    Nabi Musa As. dan Nabi Khidhir As.

    copas dari http://safurhabibi. blogspot. com/2010/ 12/kisah- nabi-musa- yang-belajar- kepada.html

    Kisah Nabi Musa yang ‘belajar”; kepada Nabi Khidir

    Suatu hari Nabi Musa As. berpidato di hadapan kaumnya yaitu Bani
    Israil. Nabi Musa As. menyampaikan nasihat yang melunakkan hati dan
    membuat air mata bercucuran. Begitulah para Nabi manakala mereka
    memberi nasihat. Nasihat mereka melunakkan hati yang keras dan melecut
    jiwa yang malas. Hal itu karena hati dan jiwa mereka dipenuhi dengan
    rasa takut dan cinta kepada Allah Swt. Mereka diberi kemampuan untuk
    menjelaskan dan dikaruniai dengan ilmu yang banyak.

    Banyak orang ketika mereka mendengar orasi dari para orator ulung
    sampai terkagum-kagum. Terlebih jika mereka adalah Nabi-Nabi Allah.
    Setelah Nabi Musa As. menyelesaikan khutbahnya, dia diikuti oleh
    seorang laki-laki yang meninggalkan tempat perkumpulan. Laki-laki ini
    bertanya kepada Nabi Musa As., “Apakah di bumi ini terdapat orang yang
    lebih alim darimu?” Nabi Musa As. menjawab, “Tidak. ”

    Nabi Musa As. adalah salah seorang Rasul yang mulia. Dia termasuk dari
    lima Rasul yang digelari Ulul Azmi. Nabi Musa As. menempati urutan
    ketiga diantara para Nabi dan Rasul yang mendapat gelar Ulul Azmi.
    Nabi Ibrahim As. berada di urutan kedua dan Nabi Muhammad Saw. di
    urutan pertama. Nabi Musa As. adalah Kalimullah (Nabi yang berbincang
    dengan Allah). Allah Swt. memberinya kitab Taurat yang berisikan
    cahaya dan petunjuk. Allah Swt. mengajarkannya banyak ilmu. Akan
    tetapi, seberapapun tingginya ilmu seorang hamba, dia haruslah tetap
    bertawadhu kepada Tuhannya. Jika dia ditanya dengan pertanyaan seperti
    itu, semestinya dia menjawab, “Wallahu a’lam.” Seberapa pun ilmu yang
    dimiliki oleh seseorang tetaplah tidak ada bandingannya dibandingkan
    dengan ilmunya Allah Swt.

    Allah Swt. mencela Nabi Musa As. yang tidak mengembalikan ilmu
    kepada-Nya. Allah Swt. mewahyukan kepadanya, “Ada, ada yang lebih alim
    darimu. Aku mempunyai seorang hamba di tempat bertemunya dua laut. Dia
    memiliki ilmu yang tidak kamu miliki.” Manakala Nabi Musa As. menyimak
    hal itu, dia pun bertekad ingin menemui hamba shalih tersebut untuk
    menimba ilmu darinya. Nabi Musa memohon kepada Allah Swt. agar
    menunjukkan tempat keberadaannya. Allah Swt. memberitahu bahwa dia
    berada di tempat bertemunya dua laut. Allah Swt. memerintahkan Nabi
    Musa As. supaya membawa serta ikan yang telah mati. Musa akan
    menemukan hamba shalih itu di tempat di mana Allah Swt. menghidupkan
    ikan itu. Nabi Musa As. berjalan dengan seorang pemuda temannya menuju
    tempat bertemunya dua laut.

    Dia meminta kepada si pemuda agar memberitahu jika ikan itu hidup.
    Keduanya sampai di sebuah batu di pantai. Nabi Musa As. berbaring di
    balik batu untuk beristirahat karena perjalanan panjang yang
    membuatnya letih. Di tempat itulah ikan itu bergerak- gerak di dalam
    keranjang. Dengan kodrat Allah Swt. ia hidup, melompat ke laut,
    membuat jalan yang terlihat jelas. Maka airnya berbentuk seperti
    pusaran, dan Allah Swt. menahan laju air dari ikan tersebut.
    Si pemuda melihat ikan yang hidup itu, tetapi dia tidak

    menyampaikannya kepada Nabi Musa As. karena dia sedang tidur. Setelah
    terbangun, dia lupa menyampaikan perkara ikan tersebut kepada Nabi
    Musa As. Pemuda itu belum teringat kecuali setelah keduanya pergi dari
    tempat itu. Pada hari itu dan pada malam itu keduanya terus berjalan.
    Pada hari berikutnya, ketika waktu makan siang telah tiba, Nabi Musa
    As. meminta pemuda itu untuk menghidangkan makan siang mereka berdua.
    Makanan mengingatkan pemuda itu kepada ikan, maka dia pun menyampaikan
    perkara ikan tersebut kepada Nabi Musa As. Ikan itu telah lompat pada
    saat keduanya beristirahat di batu kemarin. Perjalanan keduanya cukup
    mudah. Keduanya melewati tempat yang ditentukan, hingga kelelahan.
    Nabi Musa As. dan temannya berjalan berbalik menyusuri jejak semula
    yang telah mereka lalui, demi menuju ke batu tempat mereka
    beristirahat. Laki-laki yang dicari oleh Nabi Musa As. berada di sana
    di tempat di mana ikan itu lepas. Sampailah keduanya di batu itu.
    Keduanya mendapati seorang hamba shalih sedang berbaring di atas tanah
    yang hijau tertutup oleh kain, ujungnya di bawah kakinya dan ujung
    lainnya di bawah kepalanya.

    Nabi Musa As. langsung memberi salam, “Assalamu&# 39;alaikum. ” Sepertinya
    daerah itu adalah daerah kafir. Oleh karenanya, hamba shalih tersebut
    merasa sangat aneh mendengar salam di daerah itu. Dia menjawab, “Dari
    mana salam di bumiku.” Kemudian hamba shalih itu bertanya siapa Musa.
    Nabi Musa As. memperkenalkan diri sekaligus menyampaikan maksud
    kedatangannya. Dia datang untuk menyertainya dan belajar ilmu yang
    berguna darinya.

    Hamba shalih itu berkata mengingkari perjalanan Nabi Musa As. kepada
    dirinya, “Apa kamu tidak merasa cukup dengan apa yang ada dalam kitab
    Taurat dan kamu diberi wahyu?” Kemudian hamba shalih itu menyampaikan
    bahwa ilmu mereka berdua berbeda, walaupun sumber keduanya adalah
    satu. Hanya saja, masing-masing mempunyai ilmu yang berbeda yang Allah
    Swt. khususkan untuknya. “Wahai Musa, sesungguhnya aku memiliki ilmu
    yang Allah ajarkan kepadaku yang tidak kamu ketahui. Kamu juga
    mempunyai ilmu yang Allah ajarkan kepadamu yang tidak Allah ajarkan
    kepadaku.”

    Nabi Musa As. meminta agar diizinkan untuk menyertainya dan
    mengikutinya. Dia menjawab, “Kamu tidak akan bisa bersabar bersamaku.”
    Nabi Musa As. pun berjanji akan sabar dengan izin dan kehendak Allah
    Swt. Hamba shalih itu mensyaratkan atas Nabi Musa As. agar tidak
    bertanya tentang sesuatu sampai dia sendiri yang nanti akan
    menjelaskan dan menerangkannya.

    Nabi Musa As. dan Nabi Khidhir As. berjalan di pantai. Keduanya hendak
    menyeberang ke pantai yang lain, dan mendapatkan perahu kecil yang
    akan menyeberangkan para penumpang di antara kedua pantai. Orang-orang
    sudah mengenal hamba shalih itu, maka mereka menyeberangkannya bersama
    dengan Nabi Musa As. ke pantai seberang secara gratis.

    Nabi Musa As. dan Nabi Khidhir As. melihat seekor burung yang hinggap
    di pinggir perahu. Burung itu mematok air dari laut sekali, maka hamba
    shalih berkata kepada Nabi Musa As., “Demi Allah, ilmumu dan ilmuku
    dibandingkan dengan ilmu Allah hanyalah seperti yang dipatokkan burung
    itu dengan paruhnya dari air laut.”

    Ketika keduanya berada di atas perahu, Nabi Musa As. dikejutkan oleh
    Nabi Khidhir yang mencopot sebuah papan kayu dari perahu itu dan
    menancapkan patok padanya. Nabi Musa As. lupa akan janjinya, dengan
    cepat dia mengingkari.

    Pengrusakan di bumi adalah kejahatan, yang lebih jahat jika dilakukan
    kepada orang yang memiliki jasa kepadanya, “Mengapa kamu melubangi
    perahu itu yang akibatnya kamu menenggelamkan penumpangnya?
    Sesungguhnya kamu telah berbuat suatu kesalahan besar.” (QS. Al-Kahfi:
    71). Di sini hamba shalih itu mengingatkan Musa akan janjinya,
    “Bukankah aku telah berkata, ‘Sesungguhnya kamu sekali-kali tidak akan
    sabar bersama denganku.” (QS. Al-Kahfi: 72). Pertanyaan Nabi Musa As.
    yang pertama ini dikarenakan dia lupa, sebagaimana hal itu dijelaskan
    oleh Rasulullah Saw.

    Nabi Musa As. dan Nabi Khidhir terus berjalan. Nabi Musa As.
    dikejutkan oleh Nabi Khidhir yang menangkap anak kecil yang sehat dan
    lincah. Nabi Khidhir menidurkan dan menyembelihnya, memenggal
    kepalanya. Di sini Nabi Musa As. tidak sanggup untuk bersabar terhadap
    apa yang dilihatnya. Dengan tangkas dia mengingkari, sementara dia
    menyadari janji yang diputuskannya. “Mengapa kamu membunuh jiwa yang
    bersih, bukan karena dia membunuh orang lain? Sesungguhnya kamu telah
    melakukan sesuatu yang munkar.” (QS. Al-Kahfi: 74)

    Pengingkaran Nabi Musa As. dijawab oleh hamba shalih itu dengan
    pengingkaran, “Bukankah sudah aku katakan bahwa sesungguhnya kamu
    tidak akan dapat bersabar bersamaku?” (QS. Al-Kahfi: 75)
    Di sini Nabi Musa berhadapan dengan kenyataan yang sebenarnya, bahwa
    dia tidak mampu berjalan menyertai laki-laki ini lebih lama lagi. Nabi
    Musa tidak kuasa melihat perbuatan seperti ini dan diam. Hal ini
    kembali kepada dua perkara. Pertama, tabiat Nabi Musa. Nabi Musa
    dengan jiwa kepemimpinan yang dimilikinya sudah terbiasa menimbang
    segala sesuatu yang dilihatnya. Dia tidak terbiasa diam jika
    menyaksikan sesuatu yang tidak diridhainya.

    Dan kedua, dalam syariat Nabi Musa, pembunuhan seorang anak adalah
    sesuatu kejahatan. Bagaimana mungkin Nabi Musa tidak mengingkarinya,
    siapa pun pelakunya. Dalam hal ini Musa mengakui kepada hamba shalih
    tersebut. Musa memohon kesempatan yang ketiga dan yang terakhir. Jika
    sesudahnya Nabi Musa bertanya, maka dia berhak untuk meninggalkannya.
    Keduanya lantas berjalan, hingga tibalah di sebuah desa yang
    penduduknya pelit. Nabi Musa dan Nabi Khidhir meminta kepada mereka
    hak bertamu. Namun mereka berdua hanya mendapatkan penolakan dari
    mereka. Walaupun demikian, Nabi Khidhir memperbaiki tembok di desa itu
    yang miring dan hampir roboh. Ini perkara yang aneh. Mereka menolak
    menerima keduanya sebagai tamu, tapi hamba shalih ini memperbaiki
    tembok mereka dengan gratis.

    Di sini Nabi Musa As. memilih berpisah. Hal ini ditunjukkan oleh
    pertanyaan Nabi Musa As. kepada hamba shalih tentang alasan dia
    memperbaiki tembok secara gratis, padahal tembok itu dimiliki oleh
    kaum yang menolak mereka.

    Seandainya Nabi Musa As. bersabar menyertai hamba shalih ini, niscaya
    kita bisa mengetahui banyak keajaiban dan keunikan yang terjadi
    padanya. Akan tetapi Nabi Musa As. memilih berpisah setelah hamba
    shalih ini menerangkan tafsir dari perbuatannya dan rahasia yang
    terkandung dari perilaku yang dilakukannya. Dan perkara ini tercantum
    dalam surat Al-Kahfi.

    Adapun tiga hikmah yang ada dibalik tiga kejadian yang ‘diajarkan&# 39;
    oleh Nabi Khidir kepada Nabi Musa adalah :

    Kejadian pertama adalah ketika Nabi Khidir menghancurkan perahu yang
    mereka tumpangi karena perahu itu dimiliki oleh seorang yang miskin
    dan di daerah itu tinggallah seorang raja yang suka merampas perahu
    miliki rakyatnya. Ini sesuai dengan firman Allah Swt. “Adapun bahtera
    itu adalah kepunyaan orang-orang miskin yang bekerja di laut, dan aku
    bertujuan merusakkan bahtera itu, karena di hadapan mereka ada seorang
    raja yang merampas tiap-tiap bahtera.” (QS Al-Kahfi: 79)

    Kejadian yang kedua adalah ketika Nabi Khidir menjelaskan bahwa beliau
    membunuh seorang anak karena kedua orang tuanya adalah pasangan yang
    beriman dan jika anak ini menjadi dewasa dapat mendorong bapak dan
    ibunya menjadi orang yang sesat dan kufur. Kematian anak ini
    digantikan dengan anak yang shalih dan lebih mengasihi kedua
    bapak-ibunya hingga ke anak cucunya. Ini sesuai dengan firman Allah
    Swt. “Dan adapun anak itu maka kedua orang tuanya adalah orang-orang
    mukmin, dan kami khawatir bahwa dia akan mendorong kedua orang tuanya
    itu kepada kesesatan dan kekafiran. Dan kami menghendaki, supaya Tuhan
    mereka mengganti bagi mereka dengan anak lain yang lebih baik
    kesuciannya dari anaknya itu dan lebih dalam kasih sayangnya (kepada
    ibu bapaknya).” (QS Al-Kahfi: 80-81)

    Kejadian yang ketiga (terakhir) adalah dimana Nabi Khidir menjelaskan
    bahwa rumah yang dinding diperbaiki itu adalah milik dua orang kakak
    beradik yatim yang tinggal di kota tersebut. Didalam rumah tersebut
    tersimpan harta benda yang ditujukan untuk mereka berdua. Ayah kedua
    kakak beradik telah meninggal dunia dan merupakan seorang yang shalih.
    Jika tembok rumah tersebut runtuh, maka bisa dipastikan bahwa harta
    yang tersimpan tersebut akan ditemukan oleh orang-orang di kota itu
    yang sebagian besar masih menyembah berhala, sedangkan kedua kakak
    beradik tersebut masih cukup kecil untuk dapat mengelola peninggalan
    harta ayahnya. Ini sesuai dengan firman Allah Swt. “Adapun dinding
    rumah itu adalah kepunyaan dua orang anak yatim di kota itu, dan di
    bawahnya ada harta benda simpanan bagi mereka berdua, sedang ayahnya
    adalah seorang yang saleh, maka Tuhanmu menghendaki agar supaya mereka
    sampai kepada kedewasaannya dan mengeluarkan simpanannya itu, sebagai
    rahmat dari Tuhanmu; dan bukanlah aku melakukannya itu menurut
    kemauanku sendiri. Demikian itu adalah tujuan perbuatan-perbuatan yang
    kamu tidak dapat sabar terhadapnya” . (QS Al-Kahfi: 82)

    Akhirnya Nabi Musa As. sadar hikmah dari setiap perbuatan yang telah
    dikerjakan Nabi Khidir. Akhirnya mengerti pula Nabi Musa dan merasa
    amat bersyukur karena telah dipertemukan oleh Allah dengan seorang
    hamba Allah yang shalih yang dapat mengajarkan kepadanya ilmu yang
    tidak dapat dituntut atau dipelajari yaitu ilmu laduni. Ilmu ini
    diberikan oleh Allah SWT kepada siapa saja yang dikehendaki- Nya. Nabi
    Khidir yang bertindak sebagai seorang guru banyak memberikan nasihat
    dan menyampaikan ilmu seperti yang diminta oleh Nabi Musa as. dan Nabi
    Musa menerima nasihat tersebut dengan penuh rasa gembira.

    salam dari tepian hutan raya djuanda, dan dinginnya pagi ini

    oyin kasymir
    Bandung

    • hdmessa
      28/01/2014

      terima kasih sharing nya Oyin
      menarik sekali analogi dg cerita nabi Musa & nabi Khidir tsb

      salam

  4. Johan
    28/01/2014

    Kang Hendra Messa, hatur nuhun sharingnya.
    “Hitam” sering dicaci, disalahkan…
    Bahkan dicurigai
    Namun acapkali digandrungi, jadi trend….
    Ada budak hitam yg legam,
    Ada teori angsa hitam,
    Ada kambing hitam,
    Ada kuda hitam,
    Ada noda hitam,
    Lalu dunia hitam
    Katanya hitam di atas putih,
    Dengan penglihatan menggunakan kaca mata hitam
    Karena saat ada kematian dikenakan pakaian hitam,
    Bersama para pejabat yg naik mobil hitam
    Rambut memang sama hitam, tetapi …..
    Harus hati-hati terhadap kemusyrikan karena ia datangnya bagai semut hitam yang berjalan di atas batu hitam di malam kelam………
    Awas jangan tersedot lubang hitam
    Mari, sekarang langit sedang mendung dengan awannya yg hitam
    Karena hujan tidak bisa dibendung oleh ksatria baja hitam…..

    Wassalam
    Johan
    Bandung

    • hdmessa
      28/01/2014

      terima kasih bang Johan, koment nya
      menarik sekali

      salam

  5. Lendo
    28/01/2014

    mas Hendra,

    sebagian besar orang kreatif di dunia selalu berpikir yang berbeda dengan orang umum. mereka kerap dianggap sebagai orang-orang aneh alias alien.

    tidak mudah menjadi orang aneh di dunia kebanyakan (umum). mereka layaknya seperti orang-orang yang tersisihkan. kemampuan mereka bertahan hidup lebih banyak di topang oleh keyakinannya (believer),

    jika keyakinannya terwujud mereka akan menjadi orang yang sangat terkenal, tetapi jika keyakinannya tidak atau belum terwujud mereka dianggap sebagai sang pemimpi ( dreamer). jalan hidup mereka sangat terjal dan mendaki.

    narasi Nabi Nuh sangat mewakili orang-orang kreatif yang keyakinannya terwujud. it’s a good story telling.

    salam hangat,
    lendo novo, sobatbumi
    Jakarta

    • hdmessa
      28/01/2014

      betul bang Lendo, tapi justru dari orang2 spt itulah yg membuat warna dalam sejarah peradaban manusia

      salut utk usaha bang Lendo yg penuh kreatifitas & ide2 segar, spt sekolah alam, sobat bumi dll
      sukses selalu

      salam

  6. Cahyo
    28/01/2014

    Nassem Thaleb si pengarang Black Swan adalah orang yang meramalkan krisis 2008 di AS yang berimbas ke seluruh dunia.
    Bukunya agak sulit dimengerti. Perlu dibaca berkali-kali baru agak paham

    Cahyo Purnomo
    Abu Dhabi

    • hdmessa
      28/01/2014

      terima kasih pak Cahyo, sharing nya,

      memang agak sulit memahami buku nya, tapi kalau dilihat secara mendasar, sebenarnya idenya berawal dari hal yg sederhana

      salam
      HM

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on 27/01/2014 by in Essay - concept.
%d bloggers like this: