Inspiring points

Reflective story from journey of life , Alam terkembang jadi guru

Lambaian manis daun kurma, kisah dari Dubai

burj_al_arab_hotel_dubai-normal

Dubai, kota megapolitan negeri gurun pasir, bagai magnet yg menarik banyak orang dari berbagai negara kerja dan tinggal disana, menurut statistic ada sekitar 200 kebangsaan yg tinggal di Dubai dan UAE secara umum, penduduk asli setempat hanya ada sekitar 20 % dari total populasi. Sehingga sudah menjadi hal yg umum pada sebuah perusahaan bekerja orang2 dari berbagai kebangsaan yang berbeda. Bagi orang2 Indonesia, selain tempat belanja, Dubai dikenal juga antara lain karena dikenal juga sebagai kota tempat transit saat orang bepergian umroh ke tanah suci, mekah medinah.

Cerita2 itulah juga yg membawa beberapa anak muda dari kota Bandung untuk bekerja disana, termasuk Agam dan Agus teman dekatnya. Agam anak muda yang senang berkelana, jadi walau kerja seadanya ia jalani saja, asal bisa bepergian ke berbagai tempat, itulah yg menghantarkan ia sampai bekerja pada sebuah agen pengiriman barang di Dubai, sudah beberapa tahun ini ia bekerja disana.

Sebagaimana halnya Dubai yg multicultur, perusahaan2 di Dubai pun, para pekerjanya berasal dari berbagai negara yang berbeda, begitu juga di perusahaan tempat Agam bekerja. Atasan Agam di bagian pengiriman barang adalah Adib al Garbi, orang Jordania yg aslinya berasal dari Palestina. Agam karena kerjanya yg rajin dan juga pandai mengaji, menjadi salah seorang karyawan kepercayaan Adib, ia sering ditugasi untuk mengurusi pekerjaan2 yang penting.

Dubai, saat musim panas spt di bulan juli ini, sungguh tak menyenangkan cuacanya, sambil melamun, Agam sering membayangkan betapa nyamannya saat di Bandung dulu, betapa cuaca sejuk sepanjang tahun.

Agam, ta’al ( kesini), terdengar Adib, kepala bagian pengiriman di perusahaan courier pengiriman barang tempat ia bekerja, memanggilnya. “Please go with Sunil, to sent that material to Supermarket in Jumeira, meet the buyer for payment, she is my cousin, her name Mina”

Agam disuruh pergi untuk menemani Sunil orang India yang  melakukan pengiriman barang ke salah satu supermarket.  Ini adalah pengiriman pertama jadi harus di urus dengan baik, karena itu ia juga meminta Agam untuk mengurus masalah pembayaran dengan menemui bagian pembelian di Supermarket tersebut, yang kebetulan masih keponakan Adib,namanya Mina.

Sebenarnya Agam agak malas untuk bepergian siang hari di musim panas ini, tapi karena sudah tugasnya ia pun berangkat walau agak berat hati.

Berdua dg Sunil, orang India bagian pengiriman barang dan si Javed, supir orang Pakistan, Agam pergi  ke sana. Jalanan tak begitu macet siang ini, sehingga ia pun bisa cepat sampai ke Supermarket yg dituju. Si Sunil mengurus penurunan barang2 ke gudang supermarket tersebut. Sedangkan Agam pergi ke kantor untuk mengurus surat2 dan pembayaran, untuk menemui bagian buyer, seperti yg diceritakan Adib tadi. wein Mina maktab ?, (di mana ruangannya Mina ? ) tanya Agam pada petugas penerima tamu, yg ada di kantor itu, ia pun menunjukkan ruangan di bagian belakang kantor tersebut

Assalamu alaikum kata Agam, saat memasuki ruangan, ia bertemu dg seorang gadis arab dg kerudung hitam nya, yang ternyata itu adalah Mina, seperti yg diceritakan Adib tadi. Menemuinya , sempat tertegun juga Agam, gadis arab dg kerudung hitam yang ditemuinya  ini begitu cantik dan menerima nya dengan ramah.

Ok, are you Agam from Dubex courier service ?.. yes kata Agam,

Thanks, paman saya Adib, sebelumnya telah menceritakan bahwa akan datang orang kesini untuk mengurus pembayaran barang yg dikirim kesini

Silahkan tunggu sebentar , saya telepon dulu bagian gudang untuk konfirmasi katanya dg bahasa inggris berlogat arab.

Sambil menunggu, Agam sempat2 curi pandang juga, wuih cantik sekali nih, keponakan nya Adib, selain itu ramah lagi orang nya.

Ia pun berbalik lagi dan berkata, It’s Ok, Agam, barang sudah sesuai,  sambil membuat catatan dan mengisi formulir penerimaan yg saya berikan, ia berkata lagi, bahwa pembayaran akan diproses melalui rekening bank perusahaan, dan mengembalikan formulir penerimaan barang sebagai tanda bukti.

Sebenarnya Agam, masih ingin duduk di ruangan tersebut,tapi karena urusan sudah selesai, dan ia sadar dalam budaya setempat, tidak sopan berlama2 bertemu dengan wanita yang bukan muhrim diluar keperluannya, jadi  Agam pun cepat2 mohon pamit utk kembali.

Ok, thanks, sent my greeting to uncle Adib katanya sambil tersenyum.

Ma’as salamah , kata Agam, terus pamit keluar ruangan untuk kembali ke mobil yg menunggu di tempat parkir.

Dalam perjalanan pulang, dalam mobil Agam melihat keluar dg pandangan kosong, tampak tersenyum senyum sendiri, Sunil yg duduk di sebelahnya heran juga ia berkata ‘ su haza Agam ? ( ada apa Agam?) , it’s nothing ( gak ada apa2 ) kata Agam.

Ternyata pertemuan nya tadi dengan Mina bagian pembelian di Supermarket tadi, begitu membekas bagi Agam, ia kagum dg gadis arab tsb. Baru sekali ini ia bertemu dg wanita arab yg ramah dan terbuka berkomunikasi. Selama ini ia tak berani mendekati wanita arab, walaupun teman kerja di kantor nya, karena ia tahu dalam budaya setempat, wanita sangat dilindungi, dan mereka pun tak terbuka pada pria. Pengalaman Agam selama ini wanita arab, tertutup dalam komunikasi, kalau pun berbicara dingin saja wajahnya. Karena itu Agam sangat heran pertama kali bertemu gadis arab yg berbeda karakternya dengan apa yg sering diceritakan orang2 selama ini, Mina orangnya lebih terbuka dan ramah.

Ada  beberapa kali lagi pengiriman barang ke Supermarket di daerah Jumeirah tsb, sehingga Agam pun jadi sering kesana. Tapi sekarang Agam tampak bersemangat datang ke sana, musim panas yg suhunya bisa sampai 45 derajat, tak jadi halangan. Adib atasan Agam, juga senang bahwa pengiriman barang , urusan pembayaran dan pengurusan administrasi lain nya, bisa lancer, ia tambah percaya dengan kerjanya Agam.

Agam nampaknya mulai kagum pada Mina, tapi ia pun sadar, mustahil baginya untuk mendekati gadis arab itu, ia hanya tambah kagum saja pada Mina dan ingin mengenal lebih jauh, ingin tahu seperti apa sih karakternya gadis arab itu ? kok tumben yah, baik jadi ternyata orang nya, tak seperti yang sering dialaminya selama ini, dimana mereka cenderung tertutup, tak terbuka dalam komunikasi, sekali waktu tampak ketus, kurang senang, pada pria Indonesia seperti dirinya ini, yang dianggapnya sama saja seperti pare, pria2 Filipina yg biasa jadi petugas kasir supermarket atau penjaga toko.

Agam cukup dekat dengan atasan nya, Adib selain karena kerjanya rajin, juga karena ia pintar ngobrol, sehingga ia pun sering ngobrol2 masalah di luar pekerjaaan, seperti saat pertandingan piala dunia, mereka sering tampak seru berdiskusi mengenai tim unggulan nya masing2.

Sekali waktu, Agam memberanikan diri berbicara pada Adib , menceritakan ttg pertemuannya dg Mina, keponakan nya yang bekerja di Supermarket Jumeirah, yang menurut Agam orangnya ramah  dan cepat kerjanya sehingga memudahkan urusan administrasi pembayaran bagi perusahaan nya.

Adib pun hanya tersenyum,   waktu saya suruh kamu ke kantornya untuk urusan pengiriman barang, memang saya pernah telepon sebelumnya, kamu akan datang ke sana, jadi sudah tahu sebelumnya.

Adib bercerita juga, bahwa  Mina, keponakan nya itu, belum lama kerja disana, baru sekitar 2 tahun, setelah lulus dari sekolahnya, ia masih perlu banyak belajar meningkatkan pengalaman kerja nya,  ia memang anak yang rajin. Ia sering juga datang dan menginap di rumah saya, karena rumah ibunya jauh di Sarjah. Ia anak yatim, jadi saya sebagai paman nya sering membantu dia juga katanya.  Memang agak jarang orang Arab bercerita  tentang keluarganya, tapi karena Adib merasa senang dengan kerja Agam, ia agak terbuka juga untuk hal2 di luar pekerjaan, seperti cerita tentang sepakbola saat piala dunia yang lalu karena kebetulan mereka senang dengan bola pula.

Perusahaan supermarket di jumeirah tsb, ternyata cukup puas dengan layanan pengiriman dari Dubex courier perusahaan tempat kerja Agam, sehingga jadi sering menggunakan jasa pengiriman tsb. Agam pun dipercaya untuk menjadi penghubung urusan bisnis dg supermarket tsb, secara tidak langsung akhirnya Agam pun jadi sering berhubungan dg Mina, keponakannya Adib al garbi, atasan nya. Agam sering kontak bertemu langsung disana saat pengiriman barang atau melalui telepon.  Karena sudah diberi tahu Adib, untuk boleh bertanya sambil belajar masalah pekerjaan, Mina pun sekali kali ada menelepon juga, untuk meminta penjelasan Agam, kalau ada masalah dalam pembayaran, sekalian tanya2 juga karena ia belum begitu berpengalaman dalam pekerjaan. Mina pun agak bisa lebih terbuka berkomunikasi karena tahu Agam, adalah bawahan paman nya, dan paman nya sendiri pernah cerita ttg Agam, orang Indonesia yg baik dan rajin bekerja.

Komunikasi diantara mereka hanya untuk urusan pekerjaan saja,  Agam tidak berani bicara hal diluar pekerjaan, karena ia tahu, hal tsb tak umum dalam budaya setempat. Sekali waktu Agam pernah  diminta datang ke rumah Adib, untuk membantu membetulkan komputernya di rumah yg terkena virus, memang Agam di kantor dikenal juga suka memperbaiki computer, sebenarnya bukan kerja utamanya tapi karena sudah hobby ngutak ngatik computer sejak dulu. Waktu di rumah tersebut, secara tak sengaja Agam bertemu juga dg Mina yg sedang mengunjungi rumah pamannya itu untuk suatu keperluan. Seperti biasa Agam pun menyapa, kaifa halak ? ( apa kabar) , kullu tamam bi khair, ( baik) jawab si Mina, sambil tersenyum malu sambil kemudian menundukkan muka dan terus pergi.

Agam tahu, di Dubai sini, ia tak bisa ngobrol2 bebas dengan wanita arab, walau teman kerja sekalipun, kalau dengan bangsa lain spt dengan pekerja wanita Philipine, yang budayanya lebih terbuka, biasa saja berkomunikasi dg mereka.  Agam mengerti,  budaya kerja disini, berbeda dengan tempat kerjanya di Bandung dulu, yang memang orangnya ramah dan terbuka dalam berkomunikasi . Agam pun ngelamun, kalau di Bandung nih, sudah saya coba dekati si Mina, tapi mustahil disini mah, gumam nya.

Entah kenapa si Agam jadi ge-er sendiri karena nya, ia tak habis pikir, ada juga yah wanita Arab yang mau berkomunikasi dengan nya dan ramah lagi. Selama ini ia mengalami bahwa mereka cenderung tertutup dan  bicara seperlunya dg mimik wajah yg kaku, spt ia biasa alami saat bertemu dg pegawai wanita setempat , saat mengurus surat2 ke kantor imigrasi.

Tapi bukan hanya karena sikapnya yang terbuka dalam berkomunikasi yg membuat Agam menjadi dekat, terutama adalah karena memang si Mina seorang wanita yg cantik, Agam terpesona karenanya.

Agam walaupun bisa dengan mudah berkomunikasi dg Mina, ia pun tahu numer Hand phone nya, tapi ia sadar, tak bisa lebih dari itu, ia tak berani melakukan pendekatan pribadi, seperti pengalaman nya saat tinggal di Bandung dulu, wanita sini, beda dg wanita di Bandung dulu pikirnya.

Saat di Bandung dulu, sebenarnya Agam pernah dekat juga dengan si Neneng, teman lama nya saat sekolah dulu. Si Neneng, anak pak Haji Undang, bandar kentang, saat di Lembang , utara kota Bandung . Mereka cukup dekat dulu, si Neneng pun senang dg Agam. Namun sayang kisah hubungan nya tak bisa berlanjut lebih jauh, karena tak direstui oleh ibunya si Neneng, setelah tahu lebih jauh ttg latar belakang si Agam, seorang anak yatim dari keluarga miskin.

Sekali waktu saat membuka account facebooknya, Agam melihat di account nya Adib, ada komentar dari Mina al Garbi, wah ini mungkin si Mina yg keponakan nya Adib itu nampaknya, tapi tak ada foto profilnya, tapi melihat namanya Agam yakin, nampaknya ini memang account nya. Iseng2 Agam pun mengirim friend request ke account tsb, sambil mengirim message juga memperkenalkan dirinya. Ditunggu beberapa hari, tak ada balasan juga, Agam  heran, nampaknya alah nih bukan account nya  si Mina yang dimaksud, Agam pun melupakan nya.

Seminggu kemudian saat membuka facebooknya, ternyata ada pesan masuk, ternyata dari si Mina dan benar itu account dia. Dia bilang maaf seminggu ini tak membuka facebook karena ada kesibukan keluarga, selain itu dia pun agak ragu ttg account nya Agam, tapi setelah coba dilihat lagi, ternyata benar, Mina pun meng accept friend request nya Agam. Melihatnya senang sekali si Agam, wuih, mau juga dia jadi friend di faceboook. Ternyata dia orangnya tidak sombong dan mau berteman dg pria Indonesia spt sy ini, walaupun hanya di facebook , tak masalah. Akhirnya Agam pun sekali2 berkomunikasi juga melalui dunia maya tsb, lumayan lah daripada susah untuk bicara langsung, karena masih dianggap tak biasa dalam budaya setempat. Tapi Agam agak heran, karena saat melihat2 facebooknya, tak ada foto diri si Mina satu pun, yg ada hanya tulisan2 arab, karikatur, atau tulisan2 arab yg memuat hadits dan ayaat2 qur’an.  Agam jadi ingat mas Yudi teman nya yg lama tinggal disini, bercerita bahwa untuk orang arab, khususnya wanita, tak biasa mereka memampangkan foto dirinya, masih dianggap sebagai aib atau tabu. Tapi tak apalah yg penting ia sekarang bisa bertemu di dunia maya dg si Mina.

Agam tinggal di tempat kost di daerah Karama Dubai, salah satu kawasan yang banyak juga tinggal org Indonesia tinggal disana. Ia tinggal dg kang Dadang orang Bandung juga yg bekerja sebagai juru masak di salah satu hotel di Dubai. Melihat sikap si Agam yg agak aneh sekarang ini, karena suka membuka laptopnya secara sembunyi2.

Dadang pun bertanya, ada apa nih Gam, kok beda sekarang ?
Gak ada apa2 kang, kata Agam.
Yang benar nih kata Dadang ?

Akhirnya Agam pun bercerita ttg pertemuan nya dg wanita Arab yang bekerja di salah satu pelanggan perusahaan pengiriman barang nya.

Ah, Agam kamu ada ada saja, kata Dadang. Berani2 nya ngobrol2 dg gadis arab, mustahil atuh, mana mungkin ia suka dengan orang2 spt kita ini, kata Dadang sambil tertawa.

Kang Dadang, saya juga ngerti ini teh mustahil, tapi entah kenapa saya jadi begitu kagum pada dia, baru sekarang saya bertemu ada gadis arab yg baik dan ramah spt itu, geulis pisan deui.

Agam, cerita ttg tampilan fisik Mina, wah Dang, kalau kamu ketemu pasti jatuh hati juga deh, penampilan nya cantik sekali, hidung mancung, matanya biru, dagu lancip, tinggi semampai, berkulit putih spt bule dll, pokoknya mah edun lah, kalau datang ke Indonesia, mungkin dia sudah bisa jadi bintang film, kata Agam bersemangat, sambil tersenyum.

Dadang, hanya tersenyum2 saja, coba membayangkan nya, tentang gadis arab yg membuat si Agam jadi kasmaran spt ini.

wah gawat kamu Gam, berani2 nya naksir sama gadis Arab,padahal dia nya mah, belum tentu mau sama kamu, mungkin dia mah biasa saja, nggak ada perasaan apa2 sama kamu. ge-er saja itu mah namanya, bertepuk sebelah tangan, kasihan deh lu..:-)), katanya sambil tertawa

yang benar ajah Gam, mana ada orang Arab kulitnya bule, kan yg kita kenal selama ini org2 Arab, kulitnya agak gelap ataupun putih tak ada yg bule kulitnya spt org eropa, kata Dadang heran .

“kang Dadang, masih ingat kan mas  Yudi, org kita yg kerja di persh minyak, itu tuh yg biasa bareng kita main futsal, ia pernah cerita, bahwa orang2 di Jazirah arab sini, ada 2 macam kulitnya, yg agak gelap dari bagian selatan spt Yaman, Oman, Saudi , sedangkan di bagian utara spt Palestine, Jordan, Lebanon , Syria, Irak, kulitnya putih. nah si Mina ini orang Jordania, sedangkan aslinya berasal dari Palestina, spt paman nya Adib bos saya di kantor.

ooh gitu yah, baru ngerti juga saya sekarang, gumam Dadang, sambil termanggu2 menyimak penjelasan si Agam. Pantesan kalau di hotel saya suka lihat ada orang2 yg kulitnya spt bule, tapi ngomong arab, berarti mereka orang2 dari negara2 tsb.

Dan juga orang2 arab dari belahan utara tersebut, karena secara historis adalah tempat perlintasan berbagai peradaban dunia, berhubungan dengan banyak bangsa, sehingga mereka relative lebih terbuka dalam berkomunikasi, walau antara pria dan wanita sekalipun, berbeda dg negara Arab bagian selatan yg cenderung masih tertutup dan konservatif.

Agam melanjutkan, satu hal yg cukup mengherankan baginya, ialah bahwa ternyata ada juga wanita cantik tapi tidak sombong.

Agam bercerita, Kang Dadang, pengalaman saya sejak masa kecil di sekolah dulu sampai di tempat kerja, perempuan yang cantik itu biasanya sombong, judes lagi. Mungkin karena sejak kecil, anak perempuan cantik suka jadi incaran, diganggu anak laki2,  begitu pula sampai ia tumbuh besar. Gadis2 cantik akan jadi pusat perhatian para pemuda, sehingga mereka pun jadi cenderung sombong pada laki2.

Agam berkata, karena itulah sejak dari dulu juga ia tak percaya diri untuk mendekati anak2 perempuan yang cantik saat masa kecilnya dulu, ia sering merasa diremehkan wanita, sehingga dulu ia pun cenderung jadi suka rendah diri bertemu wanita.

Ah yang benar Agam, menurut saya, kamu te h kasep juga (tampan) , masak gak ada perempuan yg mau sama kamu sejak dulu ?

He…he…he, terima kasih kang Dadang, ada yg memuji saya, tapi walau bagaimana pun tampan juga, jaman sekarang mah, perempuan pada pada lihat materi dan penampilan nya, payah jaman sekarang mah, gadis2 pada matere semua. Latar belakang saya dari keluarga miskin, tak bisa membeli semua penampilan spt itu, pakaian saya biasa2 saja, kemana2, naik angkot, mana ada gadis yg mau dg pemuda kere spt itu,, kata Agam sambil tersenyum kecut.

Ha..ha.ha.., Dadang pun tertawa terbahak2, kasihan juga dengar cerita mu ini.

Agam berpikir, mungkin itulah bedanya anak perempuan arab disini, dg di negeri kita. Disini sejak kecil mereka sudah dilindungi keluarganya, sekolah pun pisah ada sekolah laki2 dan sekolah perempuan. Jarang saya perhatikan mereka pacaran, kalau pun mau menikah, mereka dicarikan jodoh oleh orang tuanya, masih konservatif dibanding negeri kita. Namun karena itulah perempuan sini, walau cantik sekalipun, sejak kecil jarang diganggu oleh anak2 laki2 lain nya. Tidak jadi pusat perhatian

Dadang bertanya lagi pada si Agam, Gam, kalau memang kamu tahu mustahil, bisa mendekati si Mina  terus ngapain kok kamu masih suka ngelamunin dia ?, apa guna nya ?

Yah itulah kang Dadang, saya juga gak ngerti, pokoknya mah saya kagum berat sama dia, peduli amat deh dia juga gak suka pada saya.

Kang Dadang akhirnya bisa memahami, nampaknya si Agam ini pemuda yg minder, karena dari dulu suka direndahkan oleh wanita, sehingga saat bertemu ada wanita yg begitu baik padanya, ia pun jadi tersanjung.

Dadang berkata pada Agam , Agam bukanya dulu si Agus teman mu pernah bercerita, bahwa saat di Bandung dulu, katanya kamu pernah punya pacar juga ?

Ohh, tahu juga kang Dadang cerita tb, tapi itu mah sudah jadi cerita lama, suka sakit kalau mengingatnya kembali

Lho kenapa Gam ?

Ya, dulu saya pernah dekat dg salah seorang teman saya waktu mengaji dulu, namanya si Neneng, anaknya baik, soleh lagi. Ia senang juga dengan saya, tapi sayang ibunya tak mengijinkan saya dekat dengan anaknya, begitu tahu saya berasal dari keluarga yg miskin, hmm, sedih lah mengingatnya.

Agam, itu mah sudah biasa dalam hidup ini, saya juga pernah beberapa kali mengalaminya, begitulah kehidupan penuh perjuangan dan belum tentu sesuatu yang sangat  kita inginkan, akan baik juga bagi kita, mudah2 an kamu akan dapat ganti yg lebih baik lagi.

Betul kang Dadang, mudah2an si Mina gadis arab itu bisa jadi ganti nya, kata Agam sambil bercanda.

Ah , kamu mah ada2 saja Agam, sudah saya bilang, mustahil gadis arab itu mau sama kita2 ini. Disini mah anak muda gak biasa ada yg pacaran, untuk pernikahan dirancang oleh orangtua, persetujuan antar keluarga, mana mau keluarganya punya menantu orang perantauan dari jauh seperti kita2 ini, kata Dadang sambil tertawa.

Sudah lah lupakan saja gadis arab itu, kalau mau, saya bisa kenalkan kamu dg beberapa kenalan saya, wanita2 Indonesia yg jadi karyawan hotel dan restoran di Dubai sini, mau nggak ?

Agam pun hanya termanggu, tak bisa menjawab, bayangan si Mina begitu kuat masuk dalam angan2 nya.

Kang Dadang pun coba menasihat si Agam.

Agam, masih ingat kan, saat kita menghadiri pengajian warga Indonesia disini 2 bulan yg lalu, penceramah saat itu bercerita ttg akhirat, tentang siksa neraka dan kenikmatan surga. Betapa enak dan bahagianya kalau bisa masuk ke Surga, dimana tempatnya indah, banyak taman sungai yg mengalir, kebun buah2an dan juga ada bidadari surga yang cantik dan baik hati.

Itu bidadari jauh lebih cantik daripada si Mina yg kamu ceritakan itu. Jadi walau di dunia ini kamu tak bisa mendapatkan wanita cantik yang baik hati, insya Allah di akhirat kelak kamu bisa mendapatkan nya, bahkan jauh lebih cantik dari apa yg bisa kita bayangkan.

Agam pun hanya bisa terpana, mendengar nasihat kang Dadang….

(bersambung pada episode selanjutnya )

2 comments on “Lambaian manis daun kurma, kisah dari Dubai

  1. delilah
    26/10/2014

    Assalam kang, sy mau tny tntg bbrp hal pntg yg nnti akn brpengaruh pd khidupan saya. Bolehkah sy mnta izin utk dpt mngirimkan akang email?. Trmksh sblmny kang, wassalan

    • hdmessa
      27/10/2014

      wa alaikum salam,

      silahkan kirim pesan ke email saya [hdmessa@yahoo.com]

      salam

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on 23/07/2014 by in Inspiration story.
%d bloggers like this: