Inspiring points

Reflective story from journey of life , Alam terkembang jadi guru

paradox the poor pay more (orang miskin membayar lebih)

rich-people-and-poor-people1

Tanpa disadari, secara tidak langsung orang2 miskin akan membayar lebih banyak (daripada orang kaya) , sebuah paradox dari seorang teman yg lama tinggal di luar negeri, dulu bagi saya spt susah utk dimengerti, harusnya orang miskin kan, membayar lebih murah ?

Setelah lama tinggal di negeri gurun pasir yg makmur ini, sy baru bisa memahaminya.Dengan segala kelengkapan infrastrukur dan fasilitas publik, kita sebagai anggota masyarakat terlayani dg baik dan itu semua gratis sama sekali.

Mulai dari contoh sederhana saja; dari parkir mobil, memasuki fasilitas umum, sampai urusan ke toilet semuanya gratis.Begitu juga pelayanan2 publik lainnya, orang bisa menikmatinya dg gratis atau kalau ada pun dg biaya murah.

Teringat dulu di Bandung, baru berhenti parkir sebentar di pinggir jalan sdh datang tukang parkir sambil tersenyum minta bayaran, mau main dg keluarga ke taman umum, masuk saja sdh bayar, mau duduk tikar pun perlu bayar, lagi duduk bentar dg keluarga , tiba2 datang tukang ngamen, bayar pula dg recehan, kebelet perlu ke toilet, harus bayar pula. Itu baru urusan yg simpel utk urusan yg lebih besar pun, tambah ribet lagi dan besar bayaran nya.

perencanaan kota & Infrastruktur jalan yg tak baik, membuat banyak terjadi kemacetan di jalan, sehingga biaya transportasi meningkat krn tidak efisien dan banyak waktu terbuang percuma di jalanan.

contoh lain nya, ternyata beli mobil di negara maju, lebih murah daripada beli mobil di negara kita, karena di negara kita harga mobil (khususnya mobil kelas menengah atas) berkali lipat karena pajak yg berlipat pula. sdh mobil mahal, bayar bensin nya lebih mahal pula. Sebagai bandingan utk mobil kelas menengah, harga mobil di Abu Dhabi sini, bisa sepertiga harga mobil yg sama di Jakarta.

Kalau beli barang2 di supermarket/ mall, kita suka senang, beli barang yg murah dan bagus, tapi karena kualitas rendah, jadi cepat rusak, sehingga kita harus sering beli lagi barang2 yg sama. Padahal kalau beli yg agak mahalan tapi kualitas bagus, akan tahan lama dan kita tak perlu keluar uang lagi utk beli brg baru. Jadi beli barang murahan, secara jangka panjang jatuhnya mahal juga.

Dulu thn 80-an sy ingat ada mobil yg sangat kuat sehingga dikenal dg nama raja jalanan, mitsubishi colt T-120, laku sekali dan disenangi org banyak. Tapi karena kuat, jarang rusak, orang merasa tak perlu beli mobil baru. konon persh mobil jepang berpikir juga org berkurang beli mobil baru. aneh juga saat laku penjualan mobil tsb dihentikan dan diganti model lain nya. Setelah itu banyak mobil baru dg kualitas yg kurang baik, sehingga orang perlu sering ganti mobil baru. pabrik mobil pun senang karena nya, tapi masyarakat jadi terkuras duitnya.
Sekarang logika yg sama terjadi pada konsumsi barang2 elektronik mulai dari TV sampai gadget (smartphone), lagi2 konsumen dikuras duitnya, oleh produsen dg bujuk rayuan iklan yg begitu membius, utk selalu membeli produk2 baru,padahal nilai tambahnya tidak penting2 amat.

Dan banyak perbandingan2 lain nya, yg kalau sy pikir2, ternyata di negara yg kurang maju, secara relatif orang2 akan mengeluarkan biaya yg lebih besar daripada orang2 di negara yg maju ( fasilitas & layanan umum nya baik)

teringat dulu, dokter di negara kita royal sekali memberikan obat, sedikit sakit diberi antibiotik, sedikit sakit diberi obat2 lain nya (sdh jadi rahasia umum, dokter jadi “agen perahan” nya persh farmasi juga). Obat yg diberikan pun sering dg dosis berlebihan, sehingga tubuh jadi imun/kebal, sehingga kemudian saat sakit lagi, akan perlu obat yg lebih kuat lagi.
Di negara maju, dokter sangat hati memberi obat, kalau sakit2 sedikit disuruh istirahat dan kalaupun perlu, diberi obat dg dosis rendah saja. Dg demikian kemampuan antibody tubuh tetap terjaga dg baik.

paradox, “the poor pay more” , yg bisa diartikan orang yg tinggal di negara miskin membayar lebih banyak daripada orang yg tinggal di negara kaya, benar ada nya pada bbrp kondisi.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on 05/09/2015 by in Blogroll.
%d bloggers like this: