Inspiring points

Reflective story from journey of life , Alam terkembang jadi guru

Melihat dengan kacamata orang lain, hambat kemajuan

We learn something from everyone who passes through our lives.. Some lessons are painful, some are painless.. but, all are priceless

Pelajaran dari negeri gurun pasir

Daerah sekitar tepian pantai Abu Dhabi, sekitar jalanan corniche dan Abu dhabi marina, adalah tempat biasa nongkrong, jalan jalan anak2 muda Abu Dhabi di sore hari, mobil2 mewah berseliweran. Saat mobil di parkir dan anak muda pengemudinya keluar kita akan kaget melihatnya, karena mereka memakai jubah serban pakaian khas nya, terdengar pula music khas timur tengah dari tape mobil, sungguh suatu pemandangan yg kontras & unik,  antara simbol kemewahan jaman modern dg symbol budaya lokal masyarakat setempat.

Bayangkan misalnya hal yang sama terjadi di kota besar Indonesia, semisal Bandung, ada anak muda jalan jalan sore bawa mobil mewah, tapi dengan pakaian tradisional lengkap dg sarung dan ikat kepalanya, Terus tape mobil nya menyetel lagu2 tradisional sunda pula, mungkin orang2 akan heran sambil senyum2 melihatnya, mungkin lagi dianggap sedang ada shooting film si kabayan di tengah kota, hal yang aneh.

Sebagian anak2 muda kita dan orang Indonesia umumnya, seringkali merasa rendah diri kalau memakai symbol budaya nya sendiri dan baru merasa bangga, kalau menggunakan simbol2 kehidupan modern dari negeri barat, seperti pakaian, musik, cara bicara dan gaya hidup lain nya. Namun berbeda dengan apa yg saya lihat di Abu Dhabi tersebut, anak mudanya bangga dengan jati diri nya, dan begitulah juga umumnya saya lihat penduduk asli setempat, mereka bangga dg identitas dirinya, cerita di atas hanya contoh kecil saja, kita akan bisa menemukan pola yg sama pada banyak tampilan budaya dan gaya hidup lain nya.

Dari cerita tersebut kita bisa melihat betapa mulai lunturnya kebanggaan akan identitas budaya sendiri pada sebagian bangsa kita. Rasa percaya diri, kebanggaan atas identitas budaya sendiri, adalah gambaran dari kuatnya jati diri suatu bangsa yang menjadi modal yang besar untuk kemajuan suatu bangsa.

Melanjutkan cerita ttg kota Abu dhabi, ibukota Negara UAE, adalah kota besar dengan dengan tata kota yg teratur rapih, bersih, jalanan besar teratur dengan bangunan2 tinggi, dengan fasilitas umum yang lengkap dan tanaman hijau di mana2, kita serasa sedang berada di kota2 negara maju, taak serasa berada di negeri gurun pasir.  Sebelum sampai kesini, begitu tahu ini adalah negeri kaya minyak, saya sudah membayangkan sebelumnya di jalanan kota Abu Dhabi, kita akan banyak menemukan gedung2 tinggi dengan lambang perusahaan minyak kelas dunia. Sebagaimana biasa kita temui di jalanan utama kota Jakarta, dimana banyak gedung tinggi milik perusahaan multinasional yg beroperasi di Indonesia. Selain itu jalanan Jakarta penuh dengan iklan produk2 asing, seolah olah kita bagaikan tamu di rumah sendiri.

melewati jalanan utama, seperti jalan Corniche di sepanjang pinggir pantai, yang banyak gedung2 tingginya, area ini menjadi semacam land mark kota Abu Dhabi. Banyak gedung2 tinggi menjulang dengan berbagai arsitek uniknya, namun tak saya temukan satupun logo besar perusahaan minyak asing disana. Yang tampak besar adalah gedung2 tinggi dengan logo Adnoc, perusahaan minyak Negara Abu Dhabi dan berbagai perusahaan Negara & perusahaan lokal besar lain nya. Menarik juga, tak saya temukan gedung2 besar kantor pemerintah, kantor pemerintah justru berada di tempat lain yang tampak tak begitu besar gedungnya, dibanding gedung2 perusahaan negara tersebut. Selain itu pemandangan yg khas juga di kota ini, ialah banyak kita temukan gambar besar Syekh Zayed, mendiang pendiri Negara UAE, yg dicintai rakyatnya. Jarang pula kita temui iklan2 besar produk2 asing spt biasa kita temui di Jakarta. Suasana kota yg khas dengan dominasi lokal yg kuat, mereka benar2 menjadi tuan rumah di negeri nya sendiri. Kekuatan ekonomi negara bisa dikata didominasi oleh perusahaan negara dan perusahaan swasta besar milik penduduk aseli setempat, sehingga keuntungan usaha akan kembali ke negara bersangkutan. Hal tersebut berbeda dengan situasi ekonomi makro di negeri kita dimana kekuatan ekonomi asing begitu dominan.

Abu Dhabi view

Ngobrol2 dengan teman sekerja yang tinggal dan besar di kota ini, saya akhirnya bisa mengerti mengapa seperti itu suasana kota nya. Abu Dhabi dan kota2 di negara UAE lain nya, dibangun dengan kemandirian nya. Para pimpinan negeri yg dinamai Emir, biasa digelari Syekh membangun negerinya dengan perhitungan yg matang dan visi jauh ke depan. Mendiang Syekh Zayed, pendiri negara UAE, adalah tokoh utama dibalik kemajuan itu semua. Kota ini, yang setengah abad yang lalu, sebelum ditemukan minyak hanyalah kampung nelayan kecil, pencari mutiara. Setelah minyak ditemukan negeri ini maju pesat. Sungguh beruntung mereka memiliki pemimpin yang bagus, adil, mementingkan kemakmuran rakyat & negeri nya serta bervisi jauh ke depan.

Dalam pengelolaan kekayaan negara, seperti pengelolaan minyak dan gas, mereka mengaturnya dengan cara yg menguntungkan negara. Perusahaan asing diundang untuk mengeksplorasi hasil alam tersebut, tapi mayoritas saham tetap dimiliki perusahaan negara. Jadi utk tiap konsesi migas, dibuat perusahaan baru, patungan dari perusahaan asing dengan perusahaan negara, perusahaan asing tak bisa mendominasi, perusahaan negara tetap menjadi pihak yg dominan. Karena itulah lebih banyak ditemui gedung2 besar milik perusahaan patungan tersebut, tak banyak kita temui kantor besar perusahaan asing, yang ada biasanya hanya kantor perwakilan saja. Karena negara sebagai pemilik saham mayoritas, maka keuntungan pun akan lebih banyak masuk ke negara.

Itulah bedanya dengan negeri kita, dimana pengelolaan kekayaan negara semisal konsesi minyak, diberikan ke perusahaan asing dan negara hanya menerima bagian hasil saja. Tak jauh beda dengan pola masyarakat agraris, dimana lahan garapan diberikan pada orang lain, sedangkan pemilik lahan tinggal menerima bagian hasil saja, yang dalam dunia pertanian dikenal dg istilah paruhan atau bagi hasil.

Nampaknya pola tersebut terbawa dalam pengelolaan hasil alam yang pada akhirnya menguntungkan pihak asing, karena keuntungan banyak pergi ke luar negeri. Saat hasil alam habis, semisal kondisi minyak saat ini, negara sebagai pemilik, bagaikan hanya bisa gigit jari saja. Menurut pendapat saya, mengapa negara UAE dan negara arab lainnya, bisa mengelola kekayaan alam nya dengan lebih menguntungkan mereka, karena memang latar belakang budaya sebagian mereka adalah budaya  pedagang yang pola pikir negosiasi dagang nya lebih tajam, beda dengan kita yg berlatar belakang agraris, yang dalam realita sering kita temui, tidak begitu kuat dalam negosiasi pengelolaan kekayaan alam negara.

Karena negara memiliki peran mayoritas, maka keuntungan pun banyak masuk ke negara. Keuntungan2 itulah yg digunakan untuk membangun negeri mereka. Syekh Zayed pendiri negara tsb, sungguh seorang pemimpin yg baik, adil, peduli pada rakyatnya dan bervisi jauh ke depan. Keuntungan hasil alam banyak digunakan untuk membangun infrastruktur seperti jalanan, sarana umum, sekolah , rumah sakit dll. Karena itulah negeri ini yang baru 40 tahun merdeka ini maju pesat. Sebagai bandingan tak semua negara kaya sumber alam lain nya, bisa maju, malah sebaliknya rakyatnya masih menderita, antara lain karena mereka tak memiliki pemimpin yang  baik, yg sebagian cenderung korup, hanya memperkaya diri dan keluarganya saja. Negara seperti itu sudah mengalamai kerugian karena keuntungan kekayaan alam nya lebih banyak pergi ke luar negeri, banyak pula terjadi  konflik politik, sehingga rakyat banyak tetap menderita, Negara tak maju. Pemimpin negara yg baik, adil, cerdas, bervisi jauh ke depan, seperti Syekh Zayed adalah sebuah karunia besar negeri ini.

Sukarno – Hatta & pasal 33 UUD 45

Kalau kita bandingkan dengan sejarah negeri kita, sebenarnya sejak awal kemerdekaan kita telah memiliki modal dasar yg kuat, yaitu pemimpin besar dwitunggal Sukarno – Hatta dan landasannya berupa pancasila dan UUD 45. Kalau kita menyimak lagi UUD 45 pasal 33, jelas sekali dinyatakan bahwa ; Cabang-cabang produksi yang penting bagi negara dan yang menguasai hajat hidup orang banyak dikuasai oleh negara.serta  Bumi dan air dan kekayaan alam yang terkandung didalamnya dikuasai oleh negara dan dipergunakan untuk sebesar-besar kemakmuran rakyat.

Apa yg saya lihat di negeri UAE ini, prakteknya hampir mirip dg prinsip pasal 33 UUD 45 tsb, betapa kekayaan alam dikuasai Negara dan digunakan untuk kemakmuran rakyatnya. Cobalah bayangkan seandainya model kepemimpinan yg kuat dan berdaulat seperti Sukarno – Hatta di awal kemerdekaan, terus berlanjut sampai saat ini dengan menggunakan acuan pasal 33 UUD 45 tersebut.  Saya kira negara kita akan lebih maju dan kaya lagi dibanding negara2 lain nya.

Satu hikmah pelajaran dari negeri gurun pasir ini yang patut kita renungkan, selain bagaimana mengelola kekayaan alam ialah bagaimana sebuah negara bisa mandiri dan berdaulat, bisa membangun jati diri bangsa yang kuat, memiliki keunggulan tersendiri dibanding yang lain nya, suatu hal yg penting dalam persaingan dunia yg kompetitif seperti saat ini. Kemandirian dalam bertindak, berencana dan mengatur negerinya sendiri dengan cakap dan memiliki harga diri yang  kuat, adalah sebuah kemutlakan bagi sebuah negara yg ingin maju.

Langkah awal negeri kita, saat dipimpin Sukarno – Hatta dulu, adalah sebuah langkah awal yg bagus. Sukarno-Hatta ingin mengembangkan kemandirian bangsa, antara lain dengan penguasaan kekayaan alam dan ekonomi secara umum oleh negara, banyak usaha telah dilakukan antara lain menasionalisasi perusahaan asing dan mengembangkan potensi2 kekuatan ekonomi bangsa untuk mandiri, bung Karno, yang saat itu mengenalkan konsep Berdikari, Berdiri di atas kaki sendiri.

Namun lika liku perjalanan sejarah bangsa bercerita lain. Semenjak perubahan pemerintahan di tahun 1966, arahan pengelolaan negara pun seperti berubah haluan jauh sekali.Konsep kemandirian ekonomi seperti telah luntur, berganti dengan model baru, dimana peran luar negeri begitu kuat. Tampak berkurang kedaulatan negara dalam menentukan arah pengelolaan kekayaan alam. Tidak lagi bisa sejalan dengan semangat pasal 33 UUD 45, dimana kekayaan alam adalah untuk memberi kemakmuran bagi rakyat banyak. Negeri kita bagai terkungkung dalam sebuah jebakan kusut yg susah untuk diuraikan. Bukan hanya dalam hal ekonomi, dalam berbagai hal lain nya, seperti pendidikan, kebudayaan dan lain, tampak ketidakmandirian tersebut. Kondisi seperti itu, bagaikan terus berlangsung sampai saat ini. Mengenai kondisi tersebut ada orang yang coba menggambarkan nya dengan pepatah melayu lama, yaitu bagaikan tikus yg mati kelaparan (walau berada) di lumbung padi.

Kembali kepada cerita dari negeri gurun pasir diatas, ada 2 hal utama untuk kemajuan sebuah bangsa/negara. Yaitu sebuah negara yang memiliki pemimpin yg hebat dan memiliki kemandirian. Kemandirian antara lain tampak pada kuatnya jati diri bangsa, kuatnya rasa percaya diri dan kemandirian dalam berpikir, kreatif dan cerdas.  Mengapa jati diri dan kemandirian bangsa seperti tergerus sepanjang perjalanan sejarah bangsa, ini menjadi sebuah pertanyaan besar yang kita semua  perlu mencari jawaban dan solusinya. Saya coba menguraikan secara sederhana mengenai hal tersebut, pada tulisan selanjutnya, mudah2an bisa sedikit menyingkapkannya dan kita bersama bisa mencari solusinya.

 Follower are the looser

Waktu masa kecil di Bandung dulu, satu hal yg berkesan saat pergi ke keramaian pasar, ialah melihat tukang obat atau tukang sulap yg suka menggelar atraksi2 aneh, tenaga dalam atau unjuk kedigdayaan  yang menarik. Biasanya sebelum mulai, ia akan bilang, “punten dulur saguru saelmu, tong ngaganggu nya”, artinya dalam bahasa sunda, mohon untuk saudara seguru seilmu jangan mengganggu. Karena atraksi uniknya spt memasukkan besi ke dalam tubuh dll, bisa gagal kalau ada org lain yg punya ilmu yang sama, seperguruan silat atau lebih tinggi ilmunya mengganggu atraksinya tersebut.

Ungkapan,   “satu guru satu ilmu jangan saling ganggu”, dikenal juga dalam cerita komik dunia persilatan yg biasa saya baca waktu remaja dulu,  maknanya ialah para pesilat dari satu perguruan memiliki ilmu yg sama, tahu taktik dan rahasia jurus2 nya, mereka saling tahu. Karena itu biasanya para pesilat yg senior kemudian mengembangkan jurus2 tersendiri yg tak didapat dari guru nya, ia berguru ke tempat lain dan meramu berbagai jurus2 silat menjadi jurus2 baru. Sehingga ia bisa menjadi pesilat yang  jagoan tak terkalahkan, biasanya jadi guru besar melanjutkan kepemimpinan perguruan silat dari gurunya, atau  bahkan mengembangkan perguruan tersendiri atau.

Analoginya ialah, bahwa prestasi atau kemenangan dalam sebuah persaingan bisa diraih bila kita memiliki suatu kelebihan yg tak dimiliki orang lain.Kalau istilah silat ia memiliki senjata dan jurus rahasia sendiri yg tak terkalahkan, keunggulan diri yg tak dimiliki pihak lain. Kalau kita menggunakan ilmu atau jurus punya orang lain, bagaimana pun kita akan bisa dikalahkan oleh mereka yg pertama kali mengembangkan ilmu/jurus tersebut yang pasti lebih tahu, lebih mahir dan telah maju beberapa langkah mengembangkan ilmu2 baru.

Kalau hanya mengikuti orang lain kita akan susah untuk menang, begitu pula halnya dalam peperangan, kalau kita berperang menggunakan senjata orang lain, kita pasti akan terkalahkan oleh pihak yg membuat dan mengembangkan senjata tersebut yang sudah pasti  selangkah lebih maju dalam bagaimana menggunakan nya, dan tetap akan menyimpan kemampuan rahasia senjata tersebut, tak dijual ada pihak lain. 

Ada sebuah cerita menarik mengenai betapa kita tak bisa menang kalau menggunakan senjata yang dikembangkan pihak lain dalam peperangan. Pada tahun 2003 ada sebuah peristiwa menghebohkan dalam dunia penerbangan Indonesia, yang beritanya dimuat pada beberapa media massa  (majalah Angkasa, detik.com dll ) dikenal dengan nama peristiwa udara di atas pulau Bawean, Jawa Timur.

Pada tanggal 3 juli 2003, radar Angkatan Udara Republik Indonesia menemukan beberapa pesawat terbang militer dari negara lain melakukan terbang manuver di atas langit kedaulatan negara RI di atas laut Jawa dekat pulau Bawean, Jawa Timur, tanpa melakukan pemberitahukan secara resmi dan juga dianggap mengganggu keamanan penerbangan sipil. Berdasar identifikasi diketahui bahwa pesawat tersebut ialah pesawat tempur F-18 Hornet milik angkatan udara negara lain.. Sesuai prosedur pertahanan udara, maka pangkalan AU mengirimkan 2 pesawat F-16 fighting falcon untuk melakukan identifikasi dan tindakan pertahanan udara.

Saat pesawat F-16 tersebut mendekati pesawat F-18 dengan serta merta fungsi senjata pesawat F-16 terkunci ( function locked jammed by other ). Bagaikan pertempuran tak seimbang pesawat F-16 seperti kehilangan kemampuan maneuver perang nya, hampir terjadi dog fight ( perang di udara ) antara pesawat tempur tersebut. Untung akhirnya komunikasi langsung bisa dilakukan dan kesalahfahaman tersebut bisa diselesaikan dengan baik dan tidak terjadi insiden yang lebih fatal.

Secara logika sederhana, negara produsen peralatan militer, praktis telah mengetahui keunggulan dan kelemahan  dari produk-produk militernya yang dijual ke negara-negara lain, tak terkecuali pesawat jet tempur F-16 tersebut yang sama2 berasal dari negara yang sama dengan pesawat F-18 tsb. Walau bagaimana pun kita sebagai pihak pembeli, tak akan bisa mengalahkan pihak lain dengan senjata yg berasal dari mereka (negara pembuat) yang pasti akan punya kemampuan senjata yg lebih handal lagi, selalu selangkah di depan. Tak akan terjadi seperti kata istilah kita, “senjata makan tuan”.

Kembali ke cerita saudara seguru seilmu diawal tadi, kalau berasal dari satu perguruan, walau bagaimana pun junior tak bisa mengalahkan seniornya, begitu pula senjata yg dijual pada negara lain tak bisa mengalahkan senjata yg sama dari negara pembuatnya.

Hikmahnya ialah bahwa pengikut walau bagaimana pun akan menjadi pihak yg kalah, tak akan bisa maju, selalu tertinggal selangkah di belakang, antara lain karena ia tak memiliki kemandirian dan keunggulan kompetitif ( competitive advantage )

glass donkey

 Pola pikir yang mengekor

Sebuah negara yang cenderung menjadi pengikut dari negara lain nya, cenderung untuk mengikuti pula dalam berbagai hal, seperti misalnya dalam bidang pendidikan. 

Coba tanya anak2 kita di sekolah yg belajar ilmu pengetahuan alam, ia akan hapal para penemu2 dari luar negeri, tapi sedikit sekali yg tahu mengenai pak Mujahir yg menemukan ikan mujair atau pak mukibat yg mengembangkan tanaman singkong mukibat, pak Djamari & Nitisemito, orang Kudus yg pertama kali menemukan rokok kretek sebagai sarana pengobatan dan berbagai penemuan spesifik orang Indonesia lain nya. Sejak di bangku sekolah, kita telah terdidik untuk lebih mengenal orang lain, negara lain daripada negara sendiri.

Orang2 pintar yang merancang pendidikan di negeri pun, merancang pendidikan seperti apa yg mereka pelajari dari dunia barat, sehingga mulai dari sekolah pun anak2 indonesia sudah diajar berpikir dengan pola pikir yang tak aseli Indonesia, seperti apa yang tampak pada materi2 pelajaran dari SD sampai perguruan tinggi.Coba lihat buku textbook mahasiswa di perguruan tinggi, kebanyakan adalah terjemahan dari buku2 di Negara barat. Jarang sekali rasanya ada muatan pendidikan yg benar2 kreasi orang Indonesia sendiri. Muatan pendidikan yang berasal dari alam Indonesia sendiri (kecerdasan lokal). Sekolah tak banyak memberi banyak kesempatan pada anak didik untuk mengembangkan dirinya sendiri sesuai potensi alamiahnya sebagai orang Indonesia.

Kita tak diajar menjadi diri sendiri, mengembangkan kemampuan sendiri, tapi anak didik sejak kecil bagaikan dijajalkan pengetahuan2 dari luar, cobalah tengok pelajaran spt sains atau ekonomi. Memang banyak hal berharga yang bisa kita pelajari dari barat, tapi tak selalu harus dengan menghilangkan apa yg ada pada diri kita dan alam Indonesia.

Bukan hanya dari sekarang, sejak perguruan tinggi dikenalkan di Indonesia oleh belanda awal abad 20 , semisal Techische Hogeschool ( yg kemudian jadi ITB ), orang2 indonesia diajarkan ilmu yang berhubungan dengan keperluan belanda spt jalan utk pabrik2 gula, ilmu pengairan utk mengairi perkebunan2 besar belanda, bukan irigasi utk sawah2 org Indonesia,ilmu bangunan utk membangun bangunan2 besar keperluan belanda,bukan nya ilmu membuat rumah2 org Indonesia. Demikian keluhan bung Karno saat ia sekolah di  TH saat itu, yang langsung ia  sampaikan pada dosen2 nya, sebagaimana tertulis pada buku biografinya. Apa yang dikhawatirkan bung Karno hampir seabad yang lampau ternyata sampai sekarang tak banyak berubah.

Sungguh mengenaskan pula melihat betapa pendidikan saat ini, bagaikan mengabdi kepentingan ekonomi semata, dimana niat orangtua menyekolahkan anaknya adalah demi mendapatkan materi pada satu sisi, dan pada sisi lain, adalah mudah bekerja, yang dalam bahasa kapitalis adalah sekolah sebagai sumber pasokan sumber daya manusia, untuk memutar roda2 usaha bisnis kapitalis. Untuk hal tersebut maka tujuan menghalalkan cara, sehingga banyak kita dengar banyak terjadi kecurangan dalam ujian atau praktek penggunaan uang untuk bisa masuk ke sekolah tertentu. Moralitas sebagai salah satu pilar pendidikan manusia telah tergadaikan pula.

Bahwa pola pendidikan di Indonesia cenderung membuat kita menjadi pengikut, tak bisa jadi diri sendiri, tak bisa bebas mengemukakan pendapatnya sendiri, terasa sekali saat saya bekerja di luar negeri. Secara penguasaan teknik orang2 indonesia ahli dalam berbagai bidang, tapi kita seringkali kalah dengan bangsa lain karena kita tak bisa mengemukakan pendapat /berargumen dengan baik , kita bisa bekerja dengan baik dan patuh pada aturan, tapi saat diminta mengembangkan ide sendiri atau menyampaikan pendapatnya sendiri, susah sekali. Hal itu terjadi karena dalam pendidikan kita memang sejak kecil kita tak diajar untuk berkembang menjadi diri kita sendiri dan menyampaikan pendapatnya. Pendidikan kita cenderung mendidik kita jadi pekerja yang patuh.

Salah satu contoh bagus, mengenai pola pendidikan yang dikembangkan berdasarkan jati diri bangsa dan mengembangkan metode yang khas pula, ialah Santiniketan, lembaga pendidikan di India, yg dikembangkan oleh Rabindranat Tagore, salah seorang tokoh besar negara India. Dan terbukti kemudian, lulusan lembaga pendidikan menjadi orang2 yg berhasil di berbagai bidang, mulai dari seniman,pengusaha, politisi sampai ilmuwan peraih nobel. Di Indonesia, Lendo Novo, alumni ITB telah mempelopori pendirian sekolah alternatif yang dinamai Sekolah Alam di beberapa kota Indonesia. Sekolah alam dikembangkan dengan pendekatan belajar yang berbeda dari sekolah pada umumnya dengan mengembangkan metode pendidikan khas Indonesia yang berakar dari konsep “Alam terkembang jadi guru”, sebuah filsafat hidup budaya Minangkabau.

Para arsitek /ahli bangunan kita yg menuntut ilmu dengan ilmu bangunan dan perancangan kota dari negara2 maju, yg beriklim sub tropis, mereka akan membuat bangunan/gedung dg pola pikir org2 yg hidup di negara sub tropis pula , sehingga akhirnya banyak kita temui pola2 bangunan dan perancangan kota yg sebenarnya tak begitu nyaman/sesuai dengan tempat beriklim tropis spt Indonesia.

Muatan pendidikan yang tidak khas Indonesia dan bernuansa luar tersebut,membuat anak didik, berpresepsi, melihat dengan cara pandang orang lain pula, mereka bagaikan orang yang melihat dengan kacamata orang lain, tidak jadi orang yang mandiri, namun cenderung menjadi pengikut. Dan lebih jauh lagi, membuat kaburnya jati diri sebagai bangsa Indonesia, cenderung mengikut jati diri dan budaya bangsa lain. Bila telah menyeluruh jadi pengikut, maka seseorang tak sekedar melihat dengan kacamata orang lain, tapi lebih jauh lagi, ia menjadi bagaikan orang yang berpikir dengan kepala orang lain.

 Jebakan ketergantungan dari negara maju

Selain dalam bidang pendidikan. Berkurangnya kemandirian bangsa juga terjadi karena  program pembangunan di Indonesia selama ini yang banyak menggunakan pola bantuan dari luar negeri, yang mana mau tidak mau terikut pula kepentingan lain dibalik bantuan tersebut

Pada project 2 pembangunan dimana pendanaan dan konsultan nya berasal dari luar negeri. Seringkali apa yg dibuat, tak sesuai dengan apa yg sebenarnya dibutuhkan oleh rakyat banyak, tapi lebih pada apa yg ada pada pikiran pembuat keputusan dan konsultan dari luar negeri tsb. Saya pernah mengalami sendiri saat dulu banyak mengerjakan project2 pemerintah yang berasalkan dari program bantuan luar negeri yang sebenarnya banyak titipan terselubung untuk kepentingan negara bersangkutan.

Semisal ada dana bantuan untuk pembangunan jalan tol dari negara tertentu, tanpa disadari, hal tersebut membuka pasaran yg lebih banyak lagi utk mobil2 mewah yg baru terasa enaknya saat berlari kencang di jalan tol, kalau lewat di jalanan macet berlobang tak terasa keunggulan nya. Contoh lain ada dana bantuan dari negara tertentu untuk pembangunan sistem kelistrikan, biasanya ada ketentuan bahwa produk2 listriknya harus dibeli dari negara pemberi dana tersebut.

Jadi sebenarnya pola membangun dengan dana bantuan asing,membuat negara kita bagai tersandera kepentingan pihak lain, sehingga tujuan utama pembangunan untuk kepentingan rakyat banyak, akan terabaikan. Sistem transportasi massal seperti kereta api, sebenarnya adalah pola transportasi yg efektif, murah dan melayani rakyat banyak, namun seperti terabaikan dan terkalahkan oleh pembangunan jalan raya,semisal jalan tol. Dengan memahami logika membangun dg hutang kita bisa memahami, bahwa negara asing enggan untuk membantu pembangunan sistem transportasi kereta api, karena imbal balik keuntungan untuk negara mereka tak banyak.

Para ahli ekonomi yang merancang kerangka makro ekonomi negara kita, terjebak pula dalam pola pikir orang lain (negara lain) bahwa membangun negara harus dengan berhutang, sesuai kaedah ekonomi makro kapitalis yang dipelajari di bangku2 kuliah di negara2 maju, dimana rumus kemajuan bangsa ialah saving & investasi, dan investasi didapat dari hutang. Ada sebuah logika yang menjebak bahwa dengan semakin banyak berhutang artinya negara tersebut makin dipercaya. Sehingga akhirnya sampai sekarang negara kita bagaikan negara yang tertawan dalam belitan hutang negara2 maju. kita tak bisa bebas merdeka mengatur urusan rumah kita sendiri

Bukan hanya dari skala makro seperti negara, dalam skala mikro bagaimana kita mengatur keluarga rumah tangga kita sendiri saja, kita pun sering tak bisa bebas bertindak pula sesuai apa keinginan kita.  Semisal di rumah kita , acara2 televisi atau internet, yang kebanyakan adalah produk budaya pop negara maju, bagaikan telah “merampas” anak2 dari didikan orang tuanya. Anak2 berperilaku berdasarkan apa yg dilihatnya dari TV, bukan berdasar didikan orang tuanya.

Jebakan konsumerisme yang kita temui di mana2, mulai dari tengah jalan sampai ke tengah rumah kita ( lewat TV) juga telah meracuni sampai alam bawah sadar kita, telah membuat banyak dari kita ( terutama wanita dan anak2 )  bagaikan menjadi tawanan pula karena mereka  terbujuk membeli barang2 yang sebenarnya tak begitu dibutuhkan atau membeli barang2 secara berlebih2an. Dan barang2 yg tersebut adalah produk2 dari negara maju yang terpaksa dibeli dengan harga mahal oleh penduduk negara berkembang. Pada sisi lain negara maju telah membeli bahan baku dari negara2 berkembang tersebut dengan harga yang murah. Jadi ada semacam imbal balik yang tak seimbang yang secara jangka panjang akan membuat negara berkembang yang kaya alam nya seperti Indonesia susah untuk jadi negara maju. Hal tersebut tak dialami Indonesia, tapi juga negara2 berkembang lain nya. Kalau mau kita telusuri lagi, itu semua bagai lingkaran setan yg tak ada ujungnya.

Dalam bidang kesehatan, para tenaga medis mulai dari dokter sampai perawat yg terdidik dalam pengobatan modern, tak lagi faham mengenai pengobatan tradisional alami khas Indonesia, sehingga pengobatan yg diberikan adalah berdasarkan dengan menggunakan obat2an yg sebagian besar adalah produk pabrik2 farmasi negara maju. Obat2an modern yg diberikan sejak bayi baru lahir sampai orang tua, telah membuat semacam ketergantungan medis pada perusahaan besar farmasi dunia.

Ada beberapa penelitian yang menunjukkan bahwa ada beberapa obat2an modern yg memberi dampak ketergantungan yang negative, bahkan menyebabkan kekebalan pada beberapa virus penyakit, dan kita tak bisa mengobatinya kecuali terngantung lagi pada pabrik obat di negara2 maju tersebut. Padahal alam Indonesia kaya dengan obat2 alami dan orang2 Indonesia jaman dulu telah mengembangkan berbagai cara pengobatan tradisional berdasarkan tumbuhan2 obat khas Indonesia yang sebenarnya lebih manjur dan tidak menyebabkan ketergantungan. Namun semua orang seperti telah melupakan nya, antara lain dimulai karena di sekolah2 kedokteran dan perawat tak diajarkan lagi metode pengobatan khas tradisional Indonesia tersebut.

Ada beberapa ahli kesehatan seperti dokter Hembing dan dokter Handrawan Nadesul yang menganjurkan untuk kembali menggunakan obat2an herbal yg alami dan mengurangi penggunaan obat2an modern. Dan terbukti efektif dalam menjaga kesehatan dan menyembuhkan berbagai penyakit. Kecurigaan adanya kolaborasi antara bisnis besar farmasi dunia dengan para dokter, dimana obat2an tertentu dianjurkan pada pasien, telah membuat masyarakat sebagai pengguna obat, seperti tak punya pilihan dan cenderung bisa terjebak pada ketergantungan pada obat2an tertentu. Pada skala besarnya, dari sisi kesehatan negara2 berkembang tergantung pada pabrik2 farmasi dunia yg berada di negara2 maju.

Bidang lain yg membuat kurangnya kemandirian negara berkembang ialah dalam penguasaan media berita dunia, dimana opini dunia bisa tergiring pada satu sisi atas kepentingan pihak tertentu (negara maju). Lembaga2 pemberitaan, pers dunia dikuasai oleh negara2 maju, begitu pula internet yang telah jadi salah satu sarana informasi tercepat. Berita2 dunia dipasok oleh lembaga2 berita tersebut. Berkembangnya internet yang dianggap sebagai salah satu sarana kebebasan informasi , karena berbagai pihak bisa bebas menyampaikan informasi nya, namun karena penguasaan jagad internet masih berada di negara maju, maka lalu lintas internet pun bisa dikendalikan. Berita2 atau opini yang dianggap membahayakan atau tak sesuai keinginan pihak tertentu bisa diberangus, ditutup bahkan orangnya bisa dijerat hukum seperti apa yg terjadi pada kasus wikileaks. Kuatnya cengkeraman pers dunia dan berkurangnya kebebasan informasi, membuat opini dunia bisa digiring berdasar kepentingan pihak tertentu.

Kondisi seperti itu mirip seperti apa yang diceritakan penulis George Orwell, dalam novelnya “1984”, dimana ada sebuah kekuatan besar yang mengendalikan semuanya, there’s big brother that always watching & monitor you,  bagaikan ada saudara tua yang mengendalikan dan mengarahkan semua orang. Dan persepsi mengenai kebenaran pun adalah berdasarkan apa yg dinyatakan oleh big brother tersebut.

Kalau mau kita telusuri lagi, akan banyak kita temukan dalam berbagai bidang kehidupan pola2 yg sama, yang intinya telah terjadi sebuah ketergantungan yang menghambat kemajuan.  Dalam tataran individu, hal tersebut melahirkan individu2 yang cenderung menjadi pengikut saja, tak berani berkreasi, membangun kemandirian.

Hal itu semua terjadi antara lain karena kita seolah terlena untuk hanya mengikuti saja jalan orang lain (negara lain) yang memang lebih mudah daripada merambah jalan baru dan kemandirian yang penuh perjuangan dan tantangan.

Dari hukum alam kita bisa belajar bahwa makhluk hidup yg bisa survive, adalah makhluk hidup yang memiliki ketangguhan dan keunggulan. Begitu pula dalam kehidupan manusia atau kehidupan bernegara, orang atau negara yg hanya ikut ikutan hanya akan menjadi orang yg terkalahkah, follower is usually the looser, susah untuk bisa maju. Dan mereka yang bisa survive dan maju ialah bangsa yang kuat dan memiliki pemimpin yg cerdas/cerdik.

Kalau kita coba melihat perbandingan dengan negara2 lain di tataran dunia internasional, sebenarnya tak semua negara berkembang seperti itu, ada juga beberapa negara yang berhasil melepaskan diri dari jebakan tersebut dan bisa maju dan mandiri.  Negara tersebut berhasil mengembangkan jati diri bangsa kuat, ekonomi yg kuat dan punya bargaining position (posisi tawar menawar) yg kuat pula. Mereka mengembangkan berbagai strategi yg cerdas dan cerdik untuk memajukan bangsanya. Kalau disimak lagi salah satu kunci keberhasilan negara tersebut ialah mereka memiliki pemimpin yang kuat, cerdas dan visioner, jauh melihat ke depan bagaimana strategi memajukan bangsa nya. 

5. Kancil yang cerdik bisa mengalahkan yg lebih besar

Dalam cerita rakyat Indonesia ada dikenal cerita si kancil binatang kecil yang dengan kecerdikan nya bisa mengalahkan binatang yg lebih besar. Begitu pula kalau kita bercermin pada sejarah, banyak  kekuatan ( negara/bangsa) yang lebih kecil bisa mengalahkan kekuatan yang lebih besar/kuat.

Sewaktu masa kecil di Bukittinggi, Sumatera barat saya pernah mendengar sebuah cerita rakyat yg sangat popular dulu. Diceritakan bahwa dahulu kala di ranah minang ada sebuah kerajaan kecil yang subur makmur dan memiliki pemimpin yg cerdik. Pada masa tersebut juga ada sebuah kerajaan besar yang ingin memperluas daerah kekuasaan nya, antara lain ingin pula menguasai kerajaan kecil tersebut. Maka dikerahkanlah kekuatan tentara yang besar untuk menguasai daerah kerajaan kecil tersebut.

Demi mengetahui rencana penyerangan tersebut, raja dari kerajaan kecil tersebut berusaha untuk menghindari terjadinya peperangan. Ia pun menyadari kekuatan angkatan perangnya tak bisa menandingi kekuatan perang kerajaan besar tersebut, ia ingin menghindari terjadinya pertumpahan darah rakyat.

Akhirnya  raja tersebut mengajak berunding lawan nya dan mengusulkan untuk  mengadakan pertarungan binatang saja daripada banyak manusia yang mati karena nya. Alkisah, ide tersebut disetujui juga oleh raja dari kerajaan besar tersebut, dengan syarat tentara kerajaan besar ingin mengadu binatang dengan membawa banteng besar nya yg gagah perkasa. Mengetahui hal tersebut maka raja dari kerajaan kecil tersebut mencari akal bagaimana menghadapinya. Akhirnya timbullah ide bagaimana bisa mengalahkan banteng besar tersebut, yaitu dengan mengadunya dengan anak kerbau kecil. Sebuah ide yang tampak konyol tapi sebenarnya sangat cerdik. Maka dicarikanlah anak kerbau kecil yang masih menyusui, namun telah beberapa waktu lamanya dijauhkan dari induk nya, sehingga ia dalam kondisi haus, ingin bertemu induknya.

Pada saat tiba waktunya pertandingan binatang antara kedua kerajaan tersebut. Masuk lah ke gelanggang banteng besar hitam dan dengus napas dan sorot mata merah yang menakutkan, diiringi sorak sorai bala tentara di tepi gelanggang. Para tentara pun ingin tahu seperti apa binatang yg akan jadi lawan nya. Ketika yg masuk adalah anak kerbau kecil, para penonton pun heran sejenak dan kemudian terdengarlah gemuruh suara tawa terbahak2 merendahkan, mana mungkin bisa mengalahkan banteng besar dengan anak kerbau kecil..ha…ha…ha.

Saat kedua binatang tersebut sudah berada di tengah gelanggang, banteng besar pun tak menyerang malah bingung dan diam saja melihat anak kerbau kecil tersebut berlari mendekati nya masuk ke bawah perutnya. Tak disangka ternyata tiba2 perut banteng tersebut berdarah darah, ia pun lari, darahpun tumpah ke mana2, anak kerbau pun kaget dan lari pula mengejarnya. Sampai akhir cerita banteng besar itu pun mati kehabisan darah, orang2 heran kenapa perut nya berdarah, ternyata anak kerbau tersebut pada kepala nya dipasangkan pisau tajam. Anak kerbau menyangka banteng besar itu adalah induknya, sehingga ia lari ke bawah perut kerbau tersebut hendak menyusu, sambil mulutnya mencari2 puting susu, karena kerbau jantan tak ada susunya, anak kerbau mencarinya2 ke berbagai tempat di bawah perut kerbau besar, sehingga pisau tajam pun merobek2 perut banteng besar tersebut tersebut. 

Hikmah dari cerita rakyat ini ialah bahwa lawan yg besar dan kuat pun bisa dikalahkan, namun harus dengan cara yg cerdik dan tidak umum seperti siasat anak kerbau dg pisau di kepala nya tersebut.

Dalam sejarah dunia kita mengenal Alexander the great, Raja dari Macedonia, salah satu raja yang paling berkuasa di jaman dulu, menguasai banyak daerah di belahan bumi ini, memiliki kekuatan militer yang tak tersaingi, mememangkan berbagai pertempuran dengan berbagai kerajaan. Akhirnya terkalahkan saat menghadapi pasukan gajah dari sebuah kerajaan kuno di daerah India-Pakistan saat ini. Salah satu sumber kekalahan nya, selain karena tentaranya sudah lelah, ialah karena saat itulah pertama kalinya, tentara Alexander the great yg kebanyakan pasukan berkuda menghadapi pasukan perang yang menggunakan gajah. Para ahli strategi perangnya, belum terpikirkan bagaimana strategi menghadapi pasukan gajah.Tentaranya pun tak tahu bagaimana menghadapi pasukan gajah yang tak pernah ditemui sepanjang hidupnya.

Dalam cerita yunani kuno ada diceritakan ttg perang besar antara kerajaan Yunani melawan kerajaan Troya yg saat itu memiliki tentara perang yg lebih kuat. Yunani tak bisa mengalahkan Troya dengan cara perang biasa, sehingga akhirnya timbullah ide untuk pura2 mundur mengalah dan meninggalkan sebuah kuda kayu besar yang di dalamnya di isi dengan tentara. Melihat pasukan Yunani telah mundur, tanpa perasaan curiga kuda kayu tersebut diangkut oleh orang-orang Troya masuk kedalam kota. Inilah kekhilafan Troya.

Dimalam hari yang kelam, keluarlah tentara Yunani yang bersembunyi diperut kuda itu. Mereka kemudian membuka gerbang kota, sehingga pasukan Yunani yang berpura-pura mundur dalam jumlah besar, leluasa memasuki kota. Ibukota Troya akhirnya diserbu dan dijadikan lautan api dan bisa ditaklukkan.

Hikmah dari cerita tersebut ialah untuk memenangkan pertempuran atau persaingan lainnya, perlu dikembangkan strategi2 baru yg cerdik & kompetitive, sehingga pihak yg kecil sekalipun bisa mengalahkan pihak yg lebih kuat/besar.

Dalam sejarah perang Vietnam, Ho Chi Minh, pemimpin perang Vietnam saat itu menyadari bahwa kekuatan militer Amerika yang begitu kuat, tak bisa dihadapi dengan cara perang yang biasa oleh kekuatan militer Vietnam yang kalah dalam persenjataan perang. Ho Chi Minh, menemukan bahwa keunggulan tentara Vietnam, ialah bahwa mereka lebih mengenal daerahnya sendiri dan mencoba mencari apa keunggulan yg dimilikinya.  Akhirnya tentara Vietnam mengembangkan strategi perang gerilya dan berbagai siasat perang yang unik seperti membuang lubang persembunyian di bawah tanah, dll.

Kalau kita melihat sosok Ho Chi Minh, pimpinan perang Vietnam saat itu, pasti tak menyangka, sosok pemimpin yg berbadan kurus dg  jenggot & dg topi caping nya yg khas, bisa mengalahkan tentara amerika yg dikenal dg sosok tampilan tentara yg gagah.  Militer Amerika yg begitu kuat, handal, ternyata mengalami kesulitan untuk berperang melawan musuh yang bergerilya di bawah tanah tersebut. Sampai akhirnya militer Amerika pun kalah dan mundur dari medan perang Vietnam.

ho chi minh Trail

Tentara Vietnam, pimpinan Ho Chin Mhin yang sederhana, tapi bisa mengalahkan tentara Amerika yg digdaya

Strategi pertarungan dari ilustrasi cerita diatas mengandung esensi nya hampir sama, ialah bahwa dalam pertarungan kita harus mempunyai strategi yg khas,unik, tak diduga, tak diketahui oleh pihak lawan. Kita harus mengembangkan strategi tersendiri , strategi yg berasal dari keunggulan diri sendiri. Dalam bahasa manajemen modern dikenal dengan istilah keunggulan kompetitif (Competitive Advantage). Dan salah satu kunci utamanya lainnya ialah adanya seorang pemimpin besar yg hebat dan memiliki kecerdasan/kecerdikan yang tinggi pula.

Kalau kita tarik analogi pada cerita kompetisi di tatanan internasional, begitu  pula lah harusnya sebuah negara berkembang seperti Indonesia bila ingin maju. Harus membangun jati diri bangsa, mengembangkan keunggulan diri bangsa yg kompetitif, memiliki pemimpin yang hebat dan cerdas.  Kecerdasan, kecerdikan antara lain dikembangkan dari kemandirian berpikir.

 

6. Harapan masih luas terbentang

Ada pepatah mengatakan, merambah jalan baru yg penuh onak dan duri, adalah lebih berat daripada menyusuri jalan setapak yg sudah dibuat orang lain.Namun dari perjuangan berat tersebut, bisa akan ditemukan sesuatu yang lebih bernilai yang akan memberi kemajuan, daripada pengikut yang hanya ingin enaknya saja, tak mau berjuang, namun akan selalu tertinggal berada di belakang orang yg diikutinya.

Untuk bisa maju, kita haruslah menjadi manusia yg seutuhnya, memiliki jati diri yang kuat, punya prinsip hidup yg jelas, memiliki jiwa kepemimpinan dan bisa mendayagunakan akal pikiran dengan sebaik mungkin.. Kita harus berpikir dengan kreasi pikiran kita sendiri, melihat dengan persepsi kita sendiri pula, kemalasan berpikir dengan hanya mengikuti pihak lain adalah sebuah tanda kita tak bersyukur pada akal pikiran, yang merupakan anugerah terbesar dari Tuhan untuk manusia dalam menjalani hidup di dunia yg hanya sekali ini.

Kita harus bisa membebaskan diri ini dari kungkungan hedonisme dunia material yg cenderung membuat manusia terlena menikmati hidup ini. Berpikir hidup hanya untuk sekedar cari kekayaan kemudian menikmati kehidupannya sendiri dan tak mau peduli dengan orang lain, tak mau peduli dengan masyarakat dan bangsanya.

Mereka yg ingin maju, haruslah mengembangkan  karakter kepemimpinan. Kalau kita mau menghayati makna hidup ini, sesungguhnya manusia diciptakan ke dunia ini dengan maksud yg mulia pula, untuk menjadi pemimpin, sebagaimana dinyatakan dalam kitab suci Al Qur’an, surat Al Baqarah:30 , bahwa manusia diciptakan ke atas dunia ini untuk menjadi pemimpin/khalifah. Setidaknya menjadi pemimpin dirinya sendiri dalam menempuh jalan hidup ini, menjadi pemimpin di keluarganya. Dan setiap manusia sebagai pemimpin, di akhirat kelak akan diminta pertanggungjawaban terhadap kepemimpinan nya tersebut. ( Al Hadits )

Melakukan perubahan dari karakter pengikut menjadi karakter pemimpin adalah sebuah proses budaya yang perlu dilakukan secara bertahap. Karena telah tertanam pada alam bawah sadar kita,  dalam waktu yg lama, sejak masa kecil, di sekolah dan dalam kehidupan sehari hari . Tak ada kata terlambat, kita bisa memulainya dari sekarang, mulai dari kita sendiri dan keluarga. Pendidikan menjadi salah satu kunci utama dalam proses tersebut. Pendidikan dalam arti yg lebih luas tak sekedar di bangku sekolah, namun juga pendidikan dalam keluarga, pendidikan di masyarakat, pendidikan jiwa dll.

Kita perlu mengembangkan proses pembelajaran yg terintegrasi, sebuah semangat belajar yang berawal dari setiap individu, setiap orang menjadi manusia pembelajar yang belajar sepanjang hayatnya. Mengembangkan manusia yang  memiliki kemampuan membaca realita kehidupan sehari hari, bisa belajar dari alam &  realita sosial, Alam terkembang jadi guru, menurut filsafat hidup orang Minang. Manusia yg bisa mendayagunakan pikiran nya dengan sebaik mungkin, karena pikiran adalah satu anugerah terbesar dari Tuhan untuk manusia.untuk menjalani kehidupan di dunia ini.

Selama matahari masih memutari dunia ini, sekelam apapun gelap malam, mentari pagi akan tiba menyinarinya, harapan masih luas terbentang

21 comments on “Melihat dengan kacamata orang lain, hambat kemajuan

  1. Tunggal
    27/09/2013

    Dan jangan lupa dan setiap saat selalu ingat kepada Allah

    Tunggal Mardiono,
    ITB, Bandung

    • hdmessa
      27/09/2013

      terima kasih nasihat nya pak Tunggal

      salam

  2. Zamroni
    27/09/2013

    sedikit mau menambahkan pak hendra, : walaupun negara UAE bukan negara berdasarkan syariat, tapi dalam keseharian, penduduknya sangat taat menjalankan syariat, pakaian yg di gunakan juga pakaian yg di anjurkan oleh syar’i. jadi kalau mau jujur, kondura dan gutra bukanlah baju yg lahir dari budaya,

    tapi dari jaman rasullah juga sudah ada baju seperti itu, kita bisa meliat di foto2 lama ulamaa2 yang ada di indonesia, baik di sumatra maupun daerah2 lain, baju ini sudah ada sebelumnya, persoalannya adalah, indonesia cukup mudah beradaptasi dengan budaya baru/ kalau boleh di bilang kurang filter terhadap trend mode sehingga sangat mudan kehilangan jati diri. semoga berkenan.

    Zam Roni
    Ruwais, Abu Dhabi

    • hdmessa
      27/09/2013

      betul bang Zamroni
      terima kasih koment nya

      salam

  3. Akhmad
    28/09/2013

    Kang Hendra,

    Sebagai seorang profesional yang sudah cukup berpengalaman dan bekerja di negeri orang. Mohon beri masukan buat kami disini, berupa contoh, bagaimana “pendidikan di Indonesia diberi muatan pendidikan yang berasal dari alam Indonesia sendiri (kecerdasan lokal)” setidaknya dibidang yang Kang Hendra geluti, karena tentunya akan menjadi masukan yang berharga buat kami disini.

    Hatur nuhun dan salam,

    Akhmad A. Korda
    Bandung Institute of Technology
    Indonesia

    • hdmessa
      29/09/2013

      terima kasih Akhmad , komentar nya.

      baik saya coba jelaskan secara sederhana saja,

      Ilmu kalau bisa kita bagi dalam bagian ilmu pasti/eksakta dan ilmu sosial, maka ilmu eksakta, spt teknik, matematik dll, adalah tak ada hubungan dg suatu masyarakat/bangsa, jadi sama saja dan bisa digunakan utk smua orang. Tapi ilmu sosial, berhubungan sekali dg manusia/bangsa.

      Jadi kalau untuk pendidikan bidang sosial/seni, kecerdasan lokal/ local genious akan sangat penting, karena dari sana lah terbangun jati diri sebuah bangsa, disanalah kekuatan nya ( competitive advantage).

      sebagai contoh ; untuk bidang pendidikan manajemen keuangan/akuntansi misalnya, selain memberikan dasar pengelolaan keuangan berdasar kaidah modern ( eropa/amerika) , kita perlu juga memberikan pengetahuan pengelolaan keuangan yg khas Indonesia, semisal bagaimana pengelolaan keuangan/pembagian untung pada usaha rumah makan padang, dimana pegawai digaji dg sistem bagi hasil keuntungan dan koki adalah yg dapat paling besar.

      dalam manajemen persh, perlu juga diajarkan, bagaimana misalnya para pengusaha kerupuk yg kebanyakan berasal dari Cikoneng , Ciamis , mengembangkan usahanya secara bertahap dg pola kekeluargaan dan bertahap. seorang pengusaha kerupuk, awalnya adalah pegawai yg buat kerupuk, kemudian meningkat jadi penjual kerupuk, terus jadi agen penjual kerupuk, sampai akhirnya buka pabrik kerupuk sendiri di suatu tempat yg telah ditentukan, tempat yg belum ada pabrik kerupuk lain nya. Ini sebuah manajemen yg khas Indonesia, dan terbukti pengusaha kerupuk cikoneng atau tahu sumedang bisa bertahan lama, Berbeda dg para pengusaha muda lulusan perguruan tinggi yg mengembangkan usahanya dg pendekatan manajemen modern, biasa nya sebagian besar akan bangkrut dalam waktu 5 tahun.

      Contoh lain dalam bidang kedokteran, selain diajarkan ilmu pengobatan modern, perlu juga diajarkan pengobatan tradisional, yg belajar farmasi selain belajar farmasi modern, perlu juga belajar, obat2an tradisional yg berasal dari tumbuh2an. Di negeri China hal tsb telah dikembangkan dan terbukti bisa maju dan berhasil

      Itu bbrp contoh singkat saja, tapi inti nya ialah kita perlu menggali dari kearifan lokal/ kecerdasan lokal bangsa kita sendiri. Walaupun memang ada bbrp ilmu yg memang sudah ketinggalan jaman, yah memang harus ditinggalkan dan bisa mengambil ilmu baru dari dunia modern

      demikian penjelasan singkat, semoga bermanfaat

      salam
      Hendra

  4. Johan
    28/09/2013

    Tulisan yang bagus sekali. Terima kasih pak Hendra atas renungannya dari bawah pohon kurma. Kalau dahulu Sir Isaac Newton menemukan konsep gravitasi bumi ketika merenung di bawah pohon apel dan dia ketiban buah apel.

    Mudah2an pak Hendra meski tidak ketiban kurma tapi dengan tulisannya ini akan membuka mata dan fikiran kita semua (pembaca) bahwa banyak langkah kita yang perlu dikoreksi.

    Salam,

    Johan
    Abu Dhabi

    • hdmessa
      29/09/2013

      terima kasih komentar nya pak Johan

      syukur membawa manfaat

      alhamdulillah banyak hikmah di bawah pohon kurma ini,
      kurma hanya berbuah setahun sekali, saat musim panas dan angin kencang,
      hikmahnya dari tempaan alam yg keras itulah dihasilkan buah yg manis

      salam
      Hendra

  5. Heru
    29/09/2013

    Hendra,

    begitu lulus 1993, saya masuk len dan dapet proyek patungan dengan siemens utk bikin transmisi pt telkom. Dana proyek dari KFW jerman. Nilai proyek waktu itu sudah 200 M dan saya cuma kebagian 12M, maklum cuma kuli masang sajah. Aturan Orba, siemens nggak bisa masuk ke telkom kalau nggak kerjasama dgn inti, len atau lokal lain dan wajib transfer teknologi.

    Thn 1995-an, pt telkom manggil saya, ngasih proyek dan keadaan menjadi terbalik, siemens jadi subcont saya karena duit dari pt telkom sendiri.
    Setelah reformasi aturan main berubah. PT Asing dkk boleh buka pt sendiri, melenggang sendiri. Mungkin dah ratusan trilyun capex industri telko dari reformasi sampe saat ini. Nggak bisa bersaing, nggak ada kerjaan dan tak berdaya, akhirnya divisi len telko bubar, kelihatannya inti juga semakin beratz.

    Bagaimana aturan main di negara UEA bang Hendra spt contoh kasus industri telko kita tadi, mungkin ada yg bisa diceritakan buat kita2 ato anak cucu kita.

    The world is only a book, those who do not travel, read only one page.
    Selamat traveling.

    Heru Purnomo
    Bandung

    • hdmessa
      29/09/2013

      terima kasih komentar & sharing nya mas Heru,

      Menurut saya, sederhana nya ini adalah masalah bargaining power & visi melihat jauh ke depan.
      Di banding negara arab spt UAE, mereka lebih ahli dalam bargaining bisnis, harus disadari memang orang arab dari dulunya memang orang “pedagang”, kita mungkin masih kuat mental “agraris” nya, jadi seringkali lemah dalam bargaining bisnis dan sulit utk melihat jauh ke depan.

      Dengan mental agraris/ pola pikir petani, kita cenderung ingin jadi tuan tanah yg menyuruh org lain menggarap lahan dg harap dapat bagian hasil paroan, cukup mengharap komisi saja, begitu kira2 analogi sederhana nya yg tanpa sadar dipraktekan dalam bentuk lain dalam dunia bisnis modern ini, sehingga akhirnya kita bagai “dipecundangi” oleh org lain ( bangsa yg bermental pedagang).

      Menarik skali ungkapan “world is a book”, kalau dalam bhs sy, “alam terkembang jadi guru”, semoga kita smua bisa mengambil pelajaran

      salam
      Hendra

  6. Susilo
    29/09/2013

    Mantab mas Hendra,
    Thanks sharing tulisannya.. .

    Salam dari Doha,
    Susilo

    • hdmessa
      29/09/2013

      sama2 mas Susilo,

      ditunggu pula sharing cerita dari Doha, Qatar

      salam
      Hendra

  7. Subakat Hadi
    29/09/2013

    Terima kasih Mas Hendra atas sharingnya.

    Pasti ada saat saat dimana kita harus menjadi diri kita sendiri. Namun pasti ada saat-saat untuk melihat dengan kacamata orang lain.

    Seorang perias pengantin jaman sekarang tentu akan bangkrut kalau selalu merias seperti orang lain. Dia harus jadi diri sendiri. Perias pengantin jaman dulu sebaliknya, dia harus ikut pakem.

    Tapi kalau seorang mempunyai teman, musuh, atau bahkan seorang istri/suami, tentu setiap saat harus berusaha memikirkan dengan kacamata orang lain.

    Kalau orang Vietnam bukan hanya melihat dengan kaca mata orang lain, tapi bahkan menembak musuh dengan peluru kendali orang lain (SAM – Russia)

    Mudah-mudahan pandangan lain ini melengkapi.

    Rgds
    Subakat Hadi
    Jakarta

    • hdmessa
      29/09/2013

      terima kasih tambahan cerita nya pak Subakat,

      menarik sekali, perbandingan strategi perias pengantin tsb , kalau bhs modern nya, tiap2 org harus punya competitive advantage.

      saya mengambil contoh perang Vietnam, karena menarik sekali betapa tentara Vietnam yg dianggap kurang dari segi kekuatan militer dibanding militer Amerika dan bahkan dipimpin oleh seorang jendral perang yg hanyalah pria berbadan kurus ( Ho Chin Mhin), tapi bisa mengalahkan tentara Amerika yg digdaya,
      kalau ternyata mereka ada punya sumber kekuatan lain, saya kurang tahu, terima kasih tambahan cerita nya

      Mudah2an negeri kita yg selama ini dianggap kurang dalam beberapa hal (kekuatan ekonomi, finansial, teknologi dll) , juga dianggap banyak masalah, tidak membuat kita mundur patah semangat, kita harus bangkit, pantang menyerah, kita pun bisa maju dan menang..!!

      salam
      Hendra

  8. Heru
    29/09/2013

    kang Hendra,

    Sekedar tambahan cerita saja, jaman dulu harga diri bangsa kita sangat tinggi kang hendra, kerajaan terbesar islam (irak) aja takluk sama orang mongol tetapi tidak dengan kita. Utusan pertama yg datang (maaf) diiris kupingnya, kurang ajar pisan. Lha wong orang asing -kasta candala-( berada pd tingkatan paling rendah) kok tiba2 dtg minta kita tunduk sama dia.
    Terus kubilai khan marah besar dan mengirim pasukan dlm jumlah sangat besar. Tidak menguasai medan dgn baik, mreka akhirnya gatot dan pulang terbiirit-birit krn tipu muslihat raden wijaya.
    Saat itu mreka terdesak dan harus sgra balik karena sdh masuk injury time (musim pancaroba), klo tidak mreka mesti nunggu angin bertiup tahun depan (perahu layar) dan bisa2 tinggal nama sajah yg pulang. Atas kegagalan itu, pemimpin perang yg juga anaknya sang raja harus menjalani hukuman mati

    Heru
    Bandung

  9. Indra
    29/09/2013

    Tulisan yang bagus, Pak Hendra. Saya ijin share ya ke rekan-rekan lain ya.

    • hdmessa
      30/09/2013

      terima kasih apresiasi nya

      silahkan Indra
      syukur memberi manfaat

      salam

  10. Rijadi
    30/09/2013

    Dear pak Hendra ,

    Ass.wr.wb. …………salam sehat dan sukses untuk bapak dan keluarga ..

    Tertarik mengomentari blog karya Pak Hendra, …..memang betul bahwa dalam menghadapi persaingan hidup kita harus mempunyai suatu kelebihan yang tak dimiliki oleh orang lain.

    tapi kelebihan yang dimaksud tentunya tidak harus berupa materi atau indahnya fisik seseorang saja , tetapi lebih kepada moral responsibility dan pola pikir seseorang , walaupun dia seorang disability , tetapi dia mempunyai pola pikir dan motivasi untuk selalu belajar dan belajar lagi , termasuk berbagi untuk sesama,

    dengan hanya mendapat kan pendidikan terbatas , dia bisa mengembangkan suatu proses keilmuan yang dapat digunakan dan bermanfaat untuk orang banyak…………banyak contoh individu2 untuk orang sejenis ini………….tetapi bukan nya pendidikan tidak penting, …itu juga menjadi alas pilar, penunjang utama dan juga sebagai lokomotif dalam menjalankan perjalanan pengembangan diri dan keilmuan………..

    tetapi kembali kepada moral resposibity pola pikir yang santun…..kadangkala dengan bertambah dan memiliki ilmu dan pengetahuan sesorang , membawa dia kepada memanfaatkan kepentingan sesaat dan diri sendiri alias corrupt , selain itu untuk malakukan proses membodohi orang lain dengan keilmuannya yang dia miliki.

    Kadangkala kita juga sah-sah saja , melihat dan mengikuti kelebihan orang lain , tetapi tentunya kelebihan tersebut yang mnejadikan kita panutan , baik moral maupun pola pikir sehingga dengan kemampuan jati diri kita , dapat mengembangkan dan berinovasi sehingga menjadi kan kita sebagai unique person.

    Kata akhirnya adalah , proses belajar dan mengajari orang lain , tak ada habisnya sejauh hayat mengadung badan, tetapi dengan tanggung jawab moral dan pola pikir yang santun, menuju kebersamaan umat…………………amin ,

    Salam , dari kampung halaman …………(sunda ” Kampung nu aing ” ……hehehe …..kaya supporter persib aja )…

    Terimakasih

    Rijadi Tias
    Bandung

    ________

  11. Akmal
    30/09/2013

    Percikan renungan yang menarik, sanak Hendra Messa. Beruntunglah UAE
    memiliki pemimpin visioner seperti Syekh Zayed yang tak mau/tak mudah
    disetir kehendak kapitalisme global dan terus memperhatikan kepentingan
    masyarakat.

    Di Indonesia, kawasan ladang minyak atau pemukiman karyawan minyak, selalu
    menampilkan ironi langit-bumi dengan masyarakat sekitar. Di satu lokasi
    berkelimpahan fasilitas dan standar kehidupan mewah, di lokasi yang persis
    berbatasan (pemukiman warga asli) suasananya melarat terbayangkan.

    Tahun 80-an ketika masih mahasiswa, saya pernah ikut menjadi tenaga riset
    lapangan/pengumpulan data di sebuah kawasan di Sumatra yang dikenal sebagai
    daerah minyak. Luar biasa nyaman dan lengkap fasilitas yang dinikmati
    karyawan dan keluarganya di lingkungan itu. Tapi begitu keluar dari kawasan
    itu, tidak sampai ratusan meter, masih ada warga asli yang saat itu melihat
    uang Rp. 50.000 saja belum pernah. Itu baru di Sumatra, belum di kawasan
    yang lebih jauh seperti Papua.

    Sayang Syekh Zayed tak lahir di Indonesia, sehingga amanat Pasal 33 UUD
    1945 dari era ke era, dari rezim pemerintahan ke rezim pemerintahan, tak
    pernah maujud sebagai contoh nyata selain bahan seminar abadi saja.

    Wass,

    Akmal Naseri Basral
    Cibubur, Jakarta

  12. tengku oki
    11/02/2014

    alhamdulillah saya tidak sengaja menemukan tulisan ini. sangat bagus.
    teman teman saya mengatakan saya tidak punya nasionlisme karena saya memutuskan untuk pindah warga negara ke UAE.
    saya hanya merasa sudah sangat tidak nyaman tinggal di negara yang pemerintahnya terlihat seperti masih sentralistik. dan dari segi pendidikan yang cukup mahal dan kesempatan untuk mendapat universitas terbaik di negri ini tipis. sistem pendidikan sejak sd-bangku kuliah yang membuat saya lelah dengan pelajaran yang tidak ada korelasinya sama sekali dengan konsentrasi saya.

    • hdmessa
      11/02/2014

      terima kasih komentar nya pak Oki

      salam

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on 07/09/2015 by in Essay - concept.
%d bloggers like this: