Inspiring points

Reflective story from journey of life , Alam terkembang jadi guru

Dangdut, sengsara membawa nikmat

Sudah lama tak naik bis antarkota, karena tak dapat bis patas AC akhirnya naik bis ekonomi dg suasana khas “grass root” (kalangan bawah). Spt biasa pengamen masuk, tukang jualan dan musik di bis nya pun khas “dangdut koplo pantura”. 
Menyimak lagu2 nya sy perhatikan semuanya bercerita ttg penderitaan hidup yg menyebar aura negatif, mulai dari “gubuk derita”, sakitnya tuh disini, pengemis cinta, asmara terpendam, kutunggu janda mu, sengsara membawa nikmat, terlilit hutang, penganten kelabu dll, gitar pengamen pun bertuliskan “lavender madezu”, ( laki2 penuh derita, masa depan suram), ia pun ngamen dg wajah memelas dan maksa penumpang utk ngasih duit, baju yg dipakainya pun bertuliskan “broken home-broken love”. Tambahan lagi video dangdut koplo di bis bernuansa sensualitas yg secara psikologis membangkitkan “basic instinct” otak bawah sadar, bisa membuat otak rasional jadi “beku” (kurang cerdas)

Dari semua hal tsb saya menangkap suasana batin yg negatif ttg penderitaan hidup kaum kalangan ekonomi bawah/dhuafa yg tak hanya kurang secara materi, tapi juga miskin secara mentalitas (spt miskin cinta) 😣, namun menariknya hal itu semua masih bisa dinyanyikan, penderitaan hidup yg dramatis mungkin bisa jadi semacam “psychological release” dari masalah hidup mereka, tapi sebenarnya tak menyelesaikan masalah.

Saya kira ini adalah salah satu karakter khas budaya kita dimana penderitaan diungkapkan terbuka di dramatisir utk dapat simpati. 

Sebagai bandingan ada budaya yg berbeda dlm hal tsb, spt yg saya amati dlm budaya Arab, masalah & derita kehidupan adalah aib yg tak baik disampaikan terbuka, hanya utk kluarga dekat saja. 

Pengalaman sy bergaul dg org2 di Abu Dhabi tak pernah mereka cerita masalah2 pribadi mereka, di koran & TV jarang sekali berita2 negatif ditampilkan, jarang sy dengar lagu2 ttg penderitaan hidup yg didramatisir. 

Tapi sebaliknya kalau berita baik, keberhasilan disebar luaskan, mereka suka bagi2 hadiah atau ngundang acara spt makan2 dll. Ini semua bagai menyebar aura positif.

Masing2 bangsa memiliki karakter budaya tersendiri, tapi menurut sy pribadi mengumbar berita negatif, memelas ttg penderitaan diri dll tak menyelesaikan masalah malah menyebar aura negatif pada org banyak, bahkan bagai tak yakin Allah akan menolong kita. Aura negatif tak menyelesaikan masalah, malah bisa membuat tubuh jadi sakit.

Mari mulai kita rubah dg membangun budaya positif, selalu bersangka baik dan yakin Allah akan menolong hamba Nya yg berusaha keras. Masalah2 pribadi marilah kita simpan dlm lingkup terbatas saja kluarga & kerabat dan utamanya minta tolong pada Allah swt, dg aura positive tsb kita akan memiliki semangat tinggi, badan sehat utk menyelesaikan masalah2 hidup ini. Bismillah

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on 03/09/2016 by in Uncategorized.
%d bloggers like this: