Inspiring points

Reflective story from journey of life , Alam terkembang jadi guru

Candu bola yg bagai agama

di kantor ada ketemu kontraktor project, orang Italia, sambil makan siang kita pun ngobrol2. Kontraktor ini namanya Mario berasal dari kota Milan, tahu ia dari Milan, saya jadi teringat dg klub sepakbola dari sana, Inter milan & AC Milan, saya pun tanya dia ttg hal tsb, kita semua tahu Itali adalah negara penggila sepakbola pula.

Menarik juga jawaban nya, yah ia senang sepakbola, jadi fans juga, istilahnya “milanesi” tapi sdh bbrp tahun ini ia bilang mencoba utk menjauh dari dunia sepakbola dan ia bilang skarang jadi lebih bebas, wah menarik juga, sy tanya kenapa ?

Mario pun bercerita, di negaranya, khususnya di kotanya Milan, sepakbola sdh seperti agama, tiap akhir pekan sdh seperti jadi kewajiban org2 pergi ke stadion bola, mulai dari anak kecil sampai kakek2 bahkan wanita ikut pula. pergi ke stadion bahkan menjadi lebih penting daripada pergi ke gereja sekalipun katanya yg malah mulai sepi. Nonton bola ke stadion tak murah juga tiketnya dan harus punya kartu khusus juga dari kantor polisi semacam “surat kelakuan baik” di tempat kita, utk mencegah holigans, tapi tetap saja sering terjadi perkelahian antar fans. 

Penggemar bola keluar biaya banyak pula, karena tak hanya pergi ke stadion di kotanya, mereka pun pergi nonton bola ke kota lain atau bahkan negara lain, kalau tim nya pergi tanding ke sana, sampai nabung segala utk bisa spt itu.

Kalau hari senin, dimana2 orang2 baik di tempat kerja, di pasar, di sekolah dll, orang ngumpul pasti ngomongin bola, hasil pertandingan kemarin ( sabtu-minggu) , klu ada yg tak bicara ttg bola, seolah2 ia spt terasing dari pergaulan. Banyak dari mereka bertaruh/judi juga dari pertandingan sepakbola tsb.

Mario bilang, hal tsb baginya sdh keterlaluan seolah2 hidup ini hanya sepakbola saja, uang pun habis, utk bola, tak punya tabungan, ia pun jadi jenuh/bosan dg kondisi tsb.Setelah bekerja di luar Italia, ia pun bisa terbebas dari kondisi spt itu (tergila2 dg sepakbola spt di negerinya)

Dan sekarang ia bilang, senang sekali sdh tak jadi fans lagi, sdh terbebas dari ritual weekend utk datang ke stadion bola mendukung tim nya, paling ia hanya baca berita hasil pertandingan saja. Ia merasa bisa menikmati warna kehidupan yg lebih beragam, waktunya bisa digunakan utk hal lain, tak terkungkung oleh dunia sepakbola saja

Menarik juga mendengar cerita nya, betapa olahraga spt sepakbola yg sebenarnya bagus utk kesehatan, sosialisasi, tapi kalau berlebihan bahkan sdh jadi spt agama, malah akan mengaburkan makna kehidupan itu sendiri. Kehidupan adalah anugerah dari Tuhan yg harus kita manfaatkan sebaik mungkin, karena hidup ini hanya sekali, semoga hidup kita semua penuh berkah dan kebahagiaan.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on 04/09/2016 by in Uncategorized.
%d bloggers like this: