Inspiring points

Reflective story from journey of life , Alam terkembang jadi guru

Kisah Industrialisasi dan  kaum petani yang terpinggirkan


Sambil menunggu kendaraan di pinggir jalan saya sempat ngobrol2 dg pemulung tua yg sedang istirahat juga di pinggir jalan.
H : kumaha damang ? ( bagaimana kabarnya )
P : sae ( baik)
sambil lihat karung barang bekas nya, saya tanya ,
H : mang kalau sehari, bisa dapat berapa kilo ?
P : beda2 pak, biasanya sekitar 10-15 kilo sehari nya
H : berapa duit itu pak ?
P : sekitar 15 sampai 20 ribu sehari pak. Kalau banyak dapat botol aqua,lumayan dapatnya
H : Apa cukup duit segitu utk sehari2 ?
P : yah, lumayan lah pak, di cukup2 kan, katanya sambil menghirup dalam2 rokok nya.
H : Kalau untuk beli rokok, sehari berapa duit mang ?
P: Beli rokok yg murah saja rp 6 ribu sebungkus, asal bisa ngebul saja
H : Dari sisa beli rokok, berarti tinggal sedikit juga utk keperluan sehari2 di rumah ?
P : yah dicukup-2in saja pak, seadanya , katanya sambil mengisap lagi dalam2 rokoknya, seperti menikmati sekali
 
Saya terdiam sejenak, tak bisa membayangkan ada seorang kepala keluarga yg sehari2 penghasilanya sekitar Rp 15 ribu, setengahnya habis utk beli rokok, dan sisa sekitar 9 ribu utk keperluan anak istri di rumah, apa bisa cukup ?
Tapi terbukti ia telah menjalani hidup seperti itu sekian lama nya, istri dan anak2 nya masih bisa hidup, entah bagaimana cara nya


Untuk ukuran kita, akan banyak bertanya, bagaimana utk biaya makan sehari2, tempat tinggal, sekolah anak, berobat, dll. Entah seperti apa mereka hidup nya, sungguh mengkhawatirkan sekali, dan banyak orang seperti mereka di sekitar kita.
Satu hal lain yg saya pelajari, betapa kecanduan rokok, menambah kesengsaraan hidupnya, walau hisapan dalam rokok, bagi sang pemulung itu, adalah bagaikan sebuah kemewahan hidup yg sangat dinikmati, namun betapa biaya hidup anak istrinya telah tersita oleh biaya kecanduan rokok tsb.
 
Mobil belum datang juga, saya lanjut ngobrol2 dengan si mang pemulung.
 
H : mang, tinggal dimana ?
P : itu pak dekat sana, sambil menunjuk daerah perkampungan di pinggir kawasan industry
H : ngontrak atau rumah sendiri pak ?
P : Rumah sendiri pak, itu tanah saya sendiri, sebenarnya dulu saya punya kebun dan sawah, tapi semuanya terpaksa dijual karena disuruh kepala desa, yang kemudian jadi kawasan industry ini, katanya sambil menunjuk kawasan industry tempat saya kerja.
H : dijual berapa dulu pak
P : murah saja pak , 30 tahun lalu, harganya seribu rupiah per meter
H : murah amat
P : yah, terpaksa dijual pak, karena disuruh kepala desa, bukan hanya saya tapi orang sekampung terpaksa menjual tanah ladang dan sawah nya, akhirnya pada beli tanah di tempat lain yg sekarang saya tempati saat ini, berada di pinggir kawasan industry.
H : saya bisa membayangkan betapa ada ketimpangan yg sangat, saat penduduk asli menjual tanahnya dg murah ( rp 1,000 per meter) dan kemudian pengelola kawasan menjualnya pada industry dg harga puluhan ribu US dolar per meter, belum lagi ada tenant fee yg biayanya ratusan ribu USD juga per tahun.

Sungguh menyedihkan nasib si bapak ini, petani penduduk asli tempat ini yg dulu punya sawah dan ladang, akhirnya kampung nya tergusur utk pembangunan kawasan industry. Saat industry telah maju mereka penduduk asli setempat akhirnya jadi masyarakat marjinal yg terpinggirkan. Menjadi pemulung, buka warung nasi, jadi tukang ojek, kalaupun kerja jadi security atau petugas cleaning service/gardening yg kerjanya memotong rumput di pabrik2, padahal dulunya itulah sawah dan ladang nya. Kehidupan mereka tambah menderita lagi karena mereka sering mendapat dampak pencemaran lingkungan, asap bau dari pabrik, sampah2, pencemaran sungai, kebisingan, banjir dll.


Cerita masyarakat petani yg terpinggirkan karena industrialisasi, sungguh sebuah cerita yg umum terjadi di berbagai tempat, kita seperti tak bisa berbuat banyak, dan sudah menganggap ini semua sebuah kenyataan yang harus diterima.

Sebagai praktisi di dunia industri, lulusan teknik Industri – ITB, pertanyaan tersebut selalu menggugah perasaan saya. Kakek nenek saya adalah juga para petani seperti mereka. Apakah sudah takdirnya generasi pelanjut keluarga petani yg masuk ke dunia industri, akhirnya hanya menjadi bagai sekrup kecil dari mesin besar industry kapitalis, tak bisa berbuat apa2 ?


Saya jadi teringat pengalaman saya sebelumnya sempat bekerja di dunia industry migas di Abu Dhabi dulu. Sama di sana juga di samping kawasan industry ada penduduk setempat, kalau disana di samping kawasan industry di tengah gurun pasir, penduduk sekitarnya adalah para petani kurma dan pengembala unta. Saat industry dibangun, dengan kebijakan pemerintah setempat, mereka diberi kesempatan kerja di industry, walau dg dasar keahlian yg seadanya mereka diberi kesempatan kerja dan kesempatan belajar. 

Para pekerja asing spt saya yg bekerja disana, salah satu tugasnya adalah mendidik pekerja2 dari orang2 setempat itu. Pemerintah UAE/Abu dhabi, punya kebijakan yg sangat memihak penduduknya. Pekerja dari penduduk setempat dapat gaji 2 kali para pekerja asing, walau dg pendidikan dan keahlian yg kurang, tugas pekerja asing lah mendidik mereka. Itulah yg saya kerjakan hampir 7 tahun kerja disana, saat pekerja setempat telah memiliki keahlian, saatnya tugas saya selesai dan kembali ke tanah air.
Saya tahu sendiri, mereka kurang keahlian dan pengalaman, kadangkala sikap kerjanya pun kurang, tapi mereka mau belajar dan rajin kerja. Anak2 petani kurma dan pengembala unta itu pun setelah sekian lama, hidupnya tambah makmur, dapat gaji besar dari industry ataupun jadi pengusaha yg mensuplai kebutuhan2 industri. Unta nya tambah banyak, kebun kurma nya tambah luas, anak2 mereka tambah makmur hidupnya. 

Saat saya biasa bepergian ke gurun pasir, saya sering menemui pemuda setempat mengembalakan untanya dg menggunakan2 mobil2 mewah, spt Toyota lexus, Mitsubishi pajero, jeep wrangler, hummer dll. Unik sekali melihat pemuda2 emirati dg pakaian tradisional mereka tetap dg hoby dan aktivitas budaya orang gurun pasir seperti mengembala unta, menjelajah gurun pasir atau menengok kebun kurma nya dengan menggunakan mobil2 jip mewah, peralatan teknologi tinggi. Dari dalam mobil terdengar musik2 khas gurun pasir, perpaduan unik antara budaya setempat yg tak luntur dg teknologi modern. Mereka memiliki kebanggaan akan budaya nya dan menjadi tuan di negeri sendiri.

Nasib mereka berbeda jauh dg nasib anak2 keluarga petani di negeri kita yg tambah miskin karena industrialisasi. Mengapa hal ini bisa terjadi ?


Kalau berkaca pada pengalaman di Abu Dhabi, saya lihat kuncinya ialah pada kebijakan pemimpin Negara. Syeikh emirate Abu Dhabi, yg jadi pemimpin Negara UAE, Syeikh Zayed adalah pemimpin yg sangat hebat, memiliki visi jauh ke depan dan mengutamakan kemakmuran rakyat nya. Ia pemimpin yg ulung pandai bernegosiasi dg perusahaan minyak asing yg datang ke Negara nya. Sehingga kekayaan alam negara berupa minyak dan gas, walau diolah oleh perusahaan asing, tapi mereka semua tetap tunduk pada ketentuan dan rencana dari pemimpin Negara. Beda dengan cerita para pemimpin di Negara kaya sumber alam lain nya yg bisa di dikte oleh perusahaan2 kelas dunia.

Ada cerita menarik mengenai sejarah kepemimpinan Negara UAE, sebenarnya dulu yg jadi raja ( syeikh) adalah syeikh Syahbut, anak tertua, tapi dia dianggap kurang handal, kurang bisa jadi pemimpin dengan baik. Akhirnya bersepakatlah para syeikh pemimpin kepala suku disana, untuk memberhentikan Syeikh Sahbut dan menunjuk pemimpin baru yg lebih cakap mengelola negera, yaitu Syeikh Zayed, adik dari syeikh Syahbut.
Syeikh Zayed Al Nahyan yang jadi pemimpin UAE hampir 40 tahun lama nya, beliau lah pemimpin yg membawa kemajuan Negara UAE dan kemakmuran rakyatnya. Kebijakan nya yg sangat populis memakmurkan rakyatnya, bahkan menyediakan rezeki pula bagi para pekerja dari 150 kebangsaan dari seantero dunia yg kerja disana, termasuk saya dan para pekerja2 dari Indonesia yg bertahun2 dapat pula cipratan rizki dari negeri gurun pasir ini.

Salah satu kebijakan yg saya lihat langsung, ialah bagaimana ia bisa pula membawa kemakmuran bagi para penduduk di sekitar kawasan explorasi dan industry hulu migas, seperti tempat kerja saya dulu. Beliau berhasil mentransformasikan para keluarga peladang kurma, pengembala unta dan juga nelayan, bisa maju pula dan hidup layak, saat kekayaan migas dan industry pengolahan nya berkembang di Negara nya.

Inilah salah satu kunci yg menjadi pembeda dg sejarah perubahan hidup kaum petani di negeri kita yg malah terpinggirkan hidupnya oleh proses industrialisasi.
 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on 22/03/2017 by in Blogroll.
%d bloggers like this: