siang terik tengah hari, ku istirahat sejenak di bawah pohon kurma di tepi gurun pasir coklat datar membentang ini. Angin kering dari gurun pasir, membuaiku saat duduk istirahat di bawah pohon kurma, sampai membuatku terlelap sejenak..
Saat terbangun, takjub sekali kulihat pemandangan aneh, hamparan gurun pasir dinaungi awan mendung, bagaikan hendak turun hujan besar seperti biasa turun di bandung selatan dulu. Dari arah hamparan gurun pasir tampak berdatangan semua penghuni kebun binatang negeri subur gemah ripah loh jinawi, mulai dari ; kecoa,… tikus, ular, kancil , katak penjilat, kambing hitam, dan sekumpulan binatang lain nya, sampai terakhir yg kulihat ikut merayap pula buaya dan cicak. Aneh sekali binatang negeri tropis tersebut hadir kesini ? , teman baik ku unta yg jujur dan baik hati heran pula karena nya.
Tambah heran lagi sang unta saat melihat semua binatang tersebut saling bertarung diantara mereka, tambah tak mengerti lagi sang unta saat cecak bisa melawan buaya , “haza mustahil” gumam sang unta
Kemudian berhembus lah angin kencang yang menguak awan gelap sedikit demi sedikit, angin dingin yang penuh kerinduan dari kebun teh gunung Malabar, yang sengaja datang dari tempat jauh, membawa kabar angin, “the real people power, will be coming”.
“but, just wait”, as the camel said,
waiting until when ?, and is really that the “real people” who will be coming ? , not someone with the mask. Because only the real people who can defeated the animal power.
By nature, animal power more strong than people power, only by the pure heart & clean thinking, human more valuable than animal
semoga Allah swt, selalu melimpahkan keberkahan dan keselamatan bagi negeri subur makmur, gemah ripah loh jinawi
Filed under: poetry | 6 Comments »

Masa muda awal kita menapaki kehidupan dewasa, kata sebagian orang adalah saatnya mimpi mimpi tentang kehidupan ini mulai bersemi. Masa muda saya lewati di kota Bandung, kota yg begitu berkesan bagi banyak orang, dan di kota ini pula lah , mimpi2 itu mulai bersemi. Segala macam mimpi berseliweran di dalam kepala ini, mulai dari mimpi yg sederhana saja, semisal ingin punya sepeda, sampai mimpi yg hiperbolik, semisal Persib, klub sepakbola kebanggaan orang Bandung bisa jadi juara dunia, sampai kota ini menjadi kota kelas dunia dg segala kenyamanan hidup dan kehebatan nya, sampai misalnya bisa juga dipakai untuk ritual duniawi semisal menjadi tempat penyelenggaraan balap mobil ep-wan ( Grand prix F-1 ), seperti kota Monte Carlo, montreal atau Singapura ( baca < http://hdmessa.wordpress.com/2008/03/25/balapan-ep-wan-di-bandung/ ).
Pagi ini terasa berbeda dengan pagi sebelumnya, tak biasanya di gurun pasir ini saya menemukan ada kabut tebal di pagi hari, kabut yg menutupi sebagian pohon2 kurma dan hamparan gurun pasir, Ruwais, Abu Dhabi. Kata seorang teman ini adalah gejala alam biasa menandakan perubahan musim dari musim panas menuju musim dingin. Memang terasa bulan September ini suhu mulai turun tak sepanas bulan2 sebelumnya, dimana bulan juli agustus puncak musim panas, suhu bisa sampai sekitar 40 derajat di siang hari, tapi saat musim dingin, desember suhu cukup dingin sekitar 10-15 derajat, cukup ekstrim juga perbedaan nya.
Empat puluh tahun lamanya, umat nabi musa mengembara tak tentu arah, di gurun pasir Sinai, ujung utara jazirah arab, jaman dahulu kala. Empat puluh hari lamanya nabi Musa berada di gunung Sinai, mendapatkan perintah dari Tuhan. Di gua hira di pebukitan gurun pasir, dekat Mekah, pada usia empat puluh tahun, nabi Muhammad, menerima wahyu pertamanya.
Alkisah di sebuah pesantren tua di lereng gunung berkabut. Sang kiai, hendak mencari pemimpin baru. Sang Kiai merasa dirinya yang sudah tua, tak cukup kuat lagi mengurus pesantrennya. Ia hendak mundur sebagai pemimpin pesantren dan memberi kesempatan pada santri nya yang lebih muda untuk memimpin pesantren tersebut.
Alkisah, seorang pertapa tua, sedang dalam perjalanan pulang ke tempat pertapaan nya di tengah kebun teh di lereng gunung malabar Bandung selatan. Ia naik kendaraan yg dikemudian seorang anak muda. Jalan dari kota Bandung menuju kota Pangalengan di lereng gunung malabar, adalah jalan pegunungan bertepikan lembah dalam, penuh kelokan dan tanjakan, cukup melelahkan berkendaraan melewatinya, tapi keindahan alam sekitarnya dan udara yg segar membuat resah hati jadi sirna.
Alkisah, seorang ilmuwan yang dikenal banyak ilmunya tapi angkuh, pergi menyeberang ke sebuah tempat di seberang danau yg cukup luas, menaiki sebuah perahu sampan kecil. Di atas perahu kecil tersebut ia berdua saja dengan tukang perahu yang mendayung perahunya.
Alkisah di sebuah pesantren, 2 orang santri yg telah selesai mengikuti pendidikan
Di gurun pasir yg gersang ini, hujan adalah kejadian langka, dalam setahun hanya terjadi beberapa hari, dan itu pun hanya berupa hujan gerimis.. Tapi beberapa hari belakangan ini, daerah gurun pasir Abu Dhabi dan sekitar UAE lain nya, dilanda hujan deras.
Selepas perjalanan panjang,
Angin gurun berhembus membelai dedauan pelepah pohon kurma,
Pancaran sinar mentari pagi yang menyelinap dari balik celah bukit sekitar kawah gunung wayang,
Saat musim penghujan, perkebunan teh di lereng gunung malabar, yg berada di ketinggian 1700 m dpl, sering tertutup kabut. Pemandangan alam yg penuh warna warni saat musim kemarau; merah merekah bunga dadap di tengah hamparan hijau kebun teh yg jauh terhampar sampai ke lereng gunung yg membiru tua, kemudian bersambung dg langit biru cerah bertabur awan halus. di jalanan yg membelah hamparan hijau kebun teh menjulang tinggi pohon2 mahoni yg telah tegak disana sejak jaman penjajahan belanda dulu. 


