Inspiring points

Reflective story from journey of life , Alam terkembang jadi guru

Kisah saudagar pasar baru Bandung, pengusaha pribumi yang meredup

(Foto bersama saat lebaran thn 1895, keluarga saudagar pasar baru, Bandung.)

Saat silaturahmi idul fitri saya sempat menghadiri silaturahmi keluarga besar dari pihak istri yang adalah keturunan salah satu keluarga besar Pasar baru Bandung, komunitas saudagar kaya pribumi yg mendominasi bisnis kota Bandung di abad ke-19.

Almarhum mertua pernah bercerita saat itu betapa kaya nya para pengusaha pribumi yg menguasai perdagangan komoditas saat itu (hasil pertanian, perkebunan, kain dll) dan memiliki aset di tengah kota Bandung mulai dari toko, pabrik & rumah di arah selatan stasiun Bandung sampai ke kebun & pesawahan di sekitar Tegalega saat itu (pusat kota saat ini). Saat itu orang2 WNI keturunan yg tinggal di daerah pecinan Andir masih miskin dg ciri khas kepala botak rambut dikepang & makan bubur. Puncak kejayaan pengusaha pribumi Bandung ini ialah thn 1906 saat mereka mendirikan kongsi “Himpoenan Saoedara” (kemudian jadi bank HS 1906).

Mereka menguasai perdagangan hasil bumi spt kopi, tembakau, beras, perabotan rumah tangga. Bisnis pakaian spt batik dll dikuasai pedagang pasar baru yg berasal dari Pekalongan & Cirebon, pabriknya berlokasi di Majalaya yg menjadi salah satu cikal bakal industri tekstil Indonesia. Ada juga para pedagang yg berasal dari Palembang yg namanya diabadikan pada bbrp jalan sekitar pasar baru, spt, ence Azis dll. Di sekitar pasar baru ada juga pedagang keturunan arab yg diabadikan jadi nama jalan spt jln Alketeri, Tamim. Pengusaha keturunan Cina yg waktu itu masih skala kecil berkumpul di daerah sekitar Cibadak.

Ada sebuah kebiasaan yg unik saat itu, bahwa para pengusaha tersebut saling menikahkan anaknya dengan anak pengusaha lain di daeras pasar baru tsb, sehingga terjalin lah kekerabatan yang meluas disana yang membuat kokohnya kekerabatan para pengusaha tersebut.


( acara pernikahan keluarga pasar baru, makan bersama di beranda depan rumah besar yg juga merangkap toko)

Salah seorang saudagar pasar baru yg terkenal lain nya ialah haji Sanusi, suami ibu Inggit sebelum menikah dg bung Karno. Di rumah haji Sanusi inilah bung Karno, tinggal/kost saat kuliah di TH ( ITB) saat itu. Pasangan haji Sanusi & ibu Inggit adalah orang terkenal saat itu, haji Sanusi saudagar kaya dan ibu Inggit salah seorang mojang priangan paling cantik di masa nya.

Dulu saya pernah silaturahmi ke rumah keluarga haji Sapi’ie di jln Dulatip. Haji Sapi’ie adalah saudagar tembakau saat itu, rumah nya besar & antik, saat masuk ke dalam rumah interior dan ornamen nya sungguh indah dan kokoh tahan lama. Ngobrol2 katanya barang2 tsb langsung di import dari Eropa saat itu. Di depan rumah tsb ada rumah keluarga Abdul manan Ingie, pengusaha kain dan perintis peci, peci yg dipakai bung Karno adalah produksi dari sana. Tahun 1930-an, Abdulmanan sudah punya mobil, mungkin orang pribumi pertama yg punya mobil, saat itu orang yg punya sepeda ontel atau delman saja sudah dianggap orang kaya.


(Ornamen rumah keluarga Sapi’ie jalan Dulatip)

Setelah berjaya selama sekitar 4-5 generasi, sekitar tahun 1960-an,  akhirnya bisnis mereka mulai meredup, anak-cucu mereka tak bisa melanjutkan estafet bisnis ini. Mereka kalah bersaing dg pengusaha keturunan yg makin maju. warisan aset tanah di tengah kota Bandung yang sangat strategis, habis dijual kepada para pengusaha WNI keturunan yg dulunya org tua mereka adalah org2 miskin yang tinggal di sekitar rumah2 besar saat keluarga pribumi pasar baru berjaya, dunia berbalik setelah seabad berlalu. 

Hanya beberapa keturunan keluarga pasar baru yg bisnisnya masih eksis sampai saat ini, salah satu nya keluarga Panigoro (Medco grup) . Perkumpulan Himpunan Saudara 1906 yg kantor pusat nya dekat alun2 Bandung, kemudian berubah jadi Bank HS 1906, namun tak berkembang maju sehingga sebagian saham dijual, kemudian jadi Bank Saudara dan terakhir masuk investor Korea jadi bank Woori Saudara.

Menjadi sebuah pertanyaan menarik mengapa komunitas pengusaha pribumi ini tak bisa bertahan lama ?

Mengapa anak cucunya tak bisa melanjutkan nya ?

Mengapa pengusaha pribumi Bandung ini tak bisa berlanjut lama semisal pengusaha dari daerah Minang, Bugis dll, yg kehandalan bisnisnya terus bertahan sampai kini ?

Mengapa cikal bakal bisnis mereka tak bisa besar mendunia semisal para keluarga bisnis org yahudi spt keluarga Rotschild, Rockefeller yg bertahan lama semakin berkembang sampai menguasai bisnis & politik dunia.

Dan setumpuk pertanyaan lain nya, yang tak mudah mencari jawaban nya ?

Berikut beberapa hal yg bisa menjelaskan fenomena kemunduran bisnis tsb ;

1-Kemampuan & semangat kegigihan bisnis tidak diturunkan dg baik. Orang tua suka terlalu memanjakan anak2 nya, tidak diajarkan hidup hemat & disiplin. Mereka kehilangan “fighting spirit” utk bisnis, kurang gigih , cepat putus asa.Sebagai bandingan pada pengusaha keturunan, sejak kecil anaknya dididik bisnis, suruh jaga toko dan diajarkan hidup sederhana.

2- Masuk nya logika agraris ( kaum petani) pada kalangan pedagang. Petani logikanya lebih sederhana dibanding pedagang yg harus berpikir panjang jauh ke depan. ” Punya harta banyak yg cukup untuk tujuh turunan”, sehingga anak cucunya merasa nyaman (comfort zone area), gak perlu kerja keras, karena kekayaan sudah terjamin. Sehingga lama kelamaan bisnis tak kuat menghadapi persaingan bisnis yg makin maju, sehingga mundur. Ada pemeo klasik mengenai keluarga pengusaha kaya dg logika pola agraris ini; “kakeknya merintis usaha, bapaknya mengembangkan, anaknya hidup foya2, cucu nya membangkrutkan usaha”

3- Anak2 pedagang terpengaruh oleh logika kaum priyayi; hidup terpandang (status), hidup enak, gak usah usaha keras dll, sehingga banyak dari anak2 pengusaha tsb masuk sekolah Belanda saat itu dengan niat agar bisa jadi pegawai/ ambtenar. Jadi pengusaha dianggap kurang bergengsi daripada jadi pegawai. Sehingga akhirnya perusahaan2 pribumi tsb jadi mundur saat orangtuanya meninggal, karena tak ada generasi penerus, yg sudah enak jadi pegawai saja, tinggal ngantor tiap hari, dijamin tiap bulan dapat gaji.

Perubahan politik negara memberi pengaruh juga, mereka berkembang saat di jaman penjajahan Belanda, tapi malah menurun usaha nya, saat Indonesia merdeka. Perubahan rejim pemerintahan sejak jaman bung karno, jaman orba pak Harto sampai sekarang perubahan pemerintahan dg segala aturan birokrasi nya memberi pengaruh pula. Saat Indonesia merdeka, dimana banyak dibutuhkan pegawai2 baru orang Indonesia menggantikan orang2 Belanda yg pulang. Membuat banyak kalangan pribumi memilih jadi pegawai daripada meneruskan bisnis orang tuanya. Ini salah satu faktor penyebab kemunduran juga.

Ada cerita menarik dari orang2 tua dulu, justru di jaman Belanda mereka bisa bisnis dg cara yg lurus & elegan, cara bisnis yg halal, pemerintah Belanda punya aturan bisnis yg jelas & adil, namun justru setelah merdeka, banyak terjadi praktek2 bisnis yg tidak jujur, haram, seperti penyuapan, persaingan bisnis yg tidak sehat, kongkalikong pengusaha & pejabat dll. Sehingga anak keturunan saudagar pasar baru tsb yg punya idealisme tinggi menganggap bisnis sebagai hal yg “kotor”, sehingga lebih memilih jadi pegawai saja yg dianggap lebih “bersih”.

4- Konflik internal keluarga. Karena anak2 nya tak sempat dididik khusus untuk mengembangkan usaha nya, sehingga bisnis tidak berkembang sedangkan anggota keluarga membesar (anak cucu), sehingga anak2 nya malah bertengkar rebutan warisan bapak nya. Konflik keluarga karena masalah warisan ini begitu melemahkan usaha. Sebagai jalan singkat agar tidak ribut terus akhirnya diputuskan asset usaha keluarga dijual dg harga murah pada pengusaha keturunan, yang penting ada uang yg bisa dibagikan agar keluarga tidak ribut terus. Uang warisan habis dibagi, asset bisnis sudah habis juga. Anak cucunya hanya jadi pekerja saja setelah itu, bisa jadi ia hanya pekerja rendahan di perusahaan orang lain yg dulu membeli asset2 kakeknya 😔

Demikian penjelasan singkat yang mungkin sedikit bisa menjelaskan fenomena kemunduran bisnis ini.

Semoga tulisan ini bermanfaat untuk membangkitkan kembali semangat kewirausahaan kita semua, agar bisa jadi tuan di negeri nya sendiri yg kaya raya alam nya ini. janganlah sampai seperti kata pepatah ” tikus mati kelaparan di lumbung padi”

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on 03/09/2016 by in Uncategorized.
%d bloggers like this: